NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ranting Rapuh yang Disangka Kayu Besi

Pintu rumah kontrakan tertutup dengan bunyi debaman yang tumpul. Keheningan yang ditinggalkan Bu Ratna terasa jauh lebih memekakkan telinga daripada suara petir yang menyambar di langit luar. Arini berdiri kaku di tengah ruang tamu sempit itu, telapak tangannya masih menempel di pipi kanannya yang terasa panas dan berdenyut akibat tamparan sang ibu.

Di atas lantai meja makan, amplop cokelat tebal berlogo emas 'R.P' tergeletak membisu, menjadi saksi bisu atas pertumpahan emosi yang baru saja menghancurkan sisa-sisa kehangatan keluarga yang tersisa.

Napas Arini memburu pendek-pendek. Alih-alih meresapi rasa bersalah atau memikirkan ibunya yang berjalan seorang diri di bawah rintik hujan membawa koper kecilnya, gelombang amarah justru mendominasi seluruh kewarasannya. Ia merasa dikeroyok oleh keadaan—dipermalukan oleh kemiskinan, dikekang oleh prinsip-prinsip kuno ibunya, dan dihina oleh kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan angan-angan tingginya.

"Kalian semua tidak mengerti..." desis Arini pada udara kosong, air mata geram menetes di pipinya, bukan karena penyesalan, melainkan karena frustrasi. "Kalian hanya ingin aku hidup menderita seperti kalian! Aku tidak mau! Aku berhak bahagia dengan caraku sendiri!"

Dengan gerakan kasar, Arini menyambar amplop cokelat di atas meja. Ia merobek bagian atasnya dengan tergesa-gesa dan mengeluarkan isi di dalamnya. Sebuah brosur eksklusif berisi penawaran apartemen mewah penthouses di kawasan segitiga emas ibu kota, lengkap dengan katalog interior bergaya Eropa modern dan selembar kartu undangan VIP bertuliskan nama Rian Pratama untuk sebuah acara gala bisnis malam akhir pekan nanti.

Di bawah brosur itu, terselip sebuah kunci kamar hotel bintang lima di pusat kota beserta catatan kecil bertuliskan tangan:

“Tempat ini selalu siap kapan pun kamu ingin melepaskan penat dari duniamu yang bising. Istirahatlah dengan nyaman, primadona-ku. — R.”

Kunci kamar hotel mewah itu berkilau diterpa cahaya lampu ruangan. Seketika, amarah di dada Arini surut, digantikan oleh kebas yang memabukkan. Sentuhan kemewahan itu bekerja bagaikan obat bius yang meninabobokan nuraninya. Ia memegang kunci dingin itu erat-erat di dalam genggamannya, seolah benda itulah satu-satunya tiket penyelamat yang akan membawanya keluar dari lorong kemelaratan menuju istana impian.

Tanpa membuang waktu, Arini melangkah menuju kamar tidur. Ia mengabaikan cucian piring yang menumpuk di sink dapur dan debu yang berserakan di lantai bekas jejak kaki ibunya. Di depan lemari pakaian yang reyot, ia menarik keluar tas jinjing terbaiknya, lalu mulai memasukkan beberapa helai pakaian pilihannya secara sembarangan. Ia telah mengambil sebuah keputusan besar yang melintasi garis batas akhir: malam ini, ia tidak akan menunggu Dimas pulang. Ia akan meninggalkan rumah petak terkutuk ini dan menyambut dunia baru yang dijanjikan oleh Rian.

Sementara itu, puluhan kilometer dari tempat Arini merangkai rencana pengkhianatannya, di sebuah bengkel sparepart yang bising dan berbau pekat cairan oli, Dimas sedang berjuang merampungkan pekerjaan terakhirnya hari itu.

Keringat mengucur deras dari pelipisnya, membasahi alis dan mengalir ke ujung dagunya. Kedua tangan pria itu hitam oleh noda gemuk mesin, kuku-kukunya legam, dan otot-otot lengannya menegang keras menahan beban blok transmisi truk yang sedang ia perbaiki bersama seorang rekan seniornya.

"Udah, Dim, istirahat dulu sebentar. Jam sepuluh malam lewat begini, badanmu juga butuh napas," tegur Pak Joko, pemilik bengkel, sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin kepada Dimas.

Dimas melepaskan kunci pas di tangannya dengan bunyi dentang logam yang nyaring. Ia meluruskan punggungnya yang terasa kaku bagaikan dahan kering, lalu menerima botol air itu dengan tangan yang gemetar kelelahan.

"Terima kasih, Pak," ucap Dimas parau. Ia meneguk air mineral itu dengan cepat, meredakan kerongkongannya yang terasa kering seperti terbakar debu besi.

"Kamu kelihatan pucat banget seminggu ini, Dim. Ada masalah rumah tangga? Ibumu kemarin sempat cerita lewat telepon ke istri saya, katanya dia kepikiran kamu terus di kota," ucap Pak Joko dengan nada prihatin, menepuk bahu Dimas yang basah oleh peluh.

Dimas tersenyum tipis, senyuman yang menyembunyikan kepedihan mendalam di balik garis bibirnya. "Ah, tidak apa-apa, Pak. Namanya juga rumah tangga awal-awal, wajar kalau ada penyesuaian. Arini cuma lagi butuh waktu buat terbiasa dengan ritme hidup kita sekarang. Nanti juga baik sendiri."

Pak Joko menghela napas panjang, menatap lurus ke mata Dimas yang menyiratkan ketulusan luar biasa namun juga kesepian yang teramat pekat. "Kamu terlalu sabar, Dim. Laki-laki boleh sabar menghadapi ujian hidup, tapi jangan sampai kesabaran itu malah dimanfaatkan oleh orang yang tidak tahu cara menghargai keringatmu. Hati-hati... perempuan kalau sudah silau sama kilau permata palsu, jalannya bisa sesat."

Kata-kata Pak Joko menghujam pelan di lubuk hati Dimas. Ada desiran dingin yang tidak nyaman melintas di dadanya, tetapi ia buru-buru menepisnya. Ia menggelengkan kepala pelan, menolak berprasangka buruk kepada istri yang sangat dicintainya itu.

"Arini bukan perempuan seperti itu, Pak. Dia cuma gengsi sama temen-temannya. Jati dirinya baik, kok," bela Dimas, mencoba meyakinkan diri sendiri di tengah keraguan yang mulai menggerogoti jiwanya.

Setelah berpamitan dan menerima upah lembar harian sebesar seratus lima puluh ribu rupiah—uang yang langsung ia masukkan ke dalam saku celananya dengan niat dibelikan buah kesukaan Arini esok hari—Dimas melangkah meninggalkan bengkel.

Malam semakin larut. Rintik hujan telah mereda, menyisakan genangan air di sepanjang jalan aspal yang memantulkan pendar lampu neon kota. Dengan mengendarai sepeda motor bebek tuanya yang berisik, Dimas membelah jalanan sepi menuju rumah kontrakannya. Di dalam dadanya, meskipun lelah luar biasa mendera fisik, tersimpan secercah kehangatan kecil: harapan bahwa setibanya di rumah, meskipun larut, ia bisa melihat lampu teras menyala dan istrinya menyambutnya dengan secangkir teh hangat, melupakan pertengkaran-pertengkaran kecil mereka sebelumnya.

Namun, harapan sederhana itu musnah seketika ia memasuki halaman gang sempit rumahnya.

Dari kejauhan, rumah petak nomor empat itu tampak gelap gulita. Tidak ada cahaya lampu bohlam teras yang menyala. Suasana di depan pintu terlihat kosong, sunyi, dan dingin.

Jantung Dimas berdegup kencang secara tidak wajar. Ia mematikan mesin motor tuanya, membiarkan suaranya mati mendadak, lalu melangkah tergesa-gesa menaiki anak tangga teras.

"Arini...?" panggil Dimas sambil mendorong daun pintu kayu yang ternyata tidak terkunci rapat. Kitik... pintu terbuka lebar.

Dimas meraba dinding, menekan saklar lampu ruang tamu. Terang seketika menyiram ruangan yang tampak hampa. Tidak ada suara televisi, tidak ada wangi masakan, tidak ada bayangan istrinya di balik tirai dapur.

"Arini!" panggil Dimas lebih keras, kepanikannya mulai mencuat. Ia berlari kecil memeriksa kamar tidur.

Kamar itu kosong. Kasur tampak berantakan tanpa seprai yang rapi. Lemari pakaian terbuka lebar, memperlihatkan beberapa gantungan kosong dan deretan pakaian Arini yang lenyap sebagian besar. Di atas meja rias, tidak ada lagi botol-botol kosmetik murah milik istrinya.

Kaki Dimas terasa lemas seketika. Ia jatuh berlutut di samping tempat tidur, pandangannya menerawang kosong menatap lantai semen dingin. Di atas meja nakas kecil, terselip selembar kertas robekan buku catatan yang ditinggalkan Arini.

Dengan tangan bergetar hebat, Dimas meraih kertas itu dan membacanya di bawah temaram lampu kamar:

"Mas Dimas, maafkan aku. Jangan cari aku lagi. Aku pergi untuk mencari kehidupan yang pantas untukku. Rumah ini sudah tidak punya masa depan buat kita. Terima kasih atas semuanya selama ini."

Huruf demi huruf di atas kertas itu berputar di depan mata Dimas, berubah menjadi kabut hitam yang menyesakkan dada. Dunia seolah runtuh menimpa pundaknya tanpa suara. Pria itu tidak bisa berteriak; suaranya tercekat di tenggorokan, tertahan oleh gelombang rasa sakit yang begitu dahsyat hingga membuatnya membeku bagaikan patung batu di atas lantai kamar yang kosong.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!