"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Hampir pukul dua belas malam ketika Jena akhirnya sampai di rumah. Begitu turun dari taksi, ia langsung memanggil satpam untuk membukakan gerbang.
Ia berjalan menuju rumah. Lampu teras masih menyala karena tak pernah dimatikan saat malam. Untung ia punya kunci rumah, jadi pulang jam berapa pun, tak takut di kunciin. Ruang tamu gelap, begitu pun dengan ruangan lain.
Tidak ada suara Papa. Tidak ada Mama yang menunggu dengan wajah penuh pertanyaan.
Jena mengembuskan napas lega. "Syukurlah..." Ia naik ke lantai atas, lalu masuk ke kamarnya.
Malam ini ia benar-benar tidak ingin mendengar satu kata pun tentang Angga, tentang makan malam, apalagi pernikahan.
Begitu sampai di kamar, Jena langsung menjatuhkan tubuh ke kasur. Entah kenapa, pikirannya malah kembali pada obrolannya dengan Budi di angkringan.
Tawa mereka, candaan receh, dan suasana sederhana yang justru membuatnya merasa nyaman. Jena tersenyum kecil sebelum akhirnya tertidur.
Pagi harinya, suara pintu kamarnya dibuka dengan keras.
"Jena!"
Jena yang masih setengah sadar langsung terbangun.
"Apaan sih, Pa?"
Papa berdiri di ambang pintu dengan wajah merah menahan emosi.
"Kamu pikir perbuatan kamu semalam itu lucu?"
Jena langsung duduk. "Maksud Papa?"
"Masih nanya! Kamu meninggalkan acara makan malam begitu saja!"
"Oh, itu." Jena menguap. Tak ada ekspresi menyesal apalagi bersalah di wajahnya. "Dari awalkan aku sudah bilang, aku gak mau."
Suara Papa meninggi, ia masuk ke dalam. "Kamu bikin Papa malu!"
"Aku gak suka sama Angga, Pah. Aku juga gak nyaman disana."
"Kalau nggak nyaman, kamu bisa bicara baik-baik. Bukan malah kabur seperti anak kecil!"
Jena mulai kesal. "Emang kalau aku ngomong baik-baik, bakalan diizinin pulang sama Papa? Enggak kan? Aku sudah bilang dari awal, aku nggak mau dikenalin!"
"Tapi kamu tetap datang."
"Karena Mama maksa!"
"Jadi karena dipaksa, kamu boleh mempermalukan Papa?"
Jena terdiam.
Papa menunjuknya dengan wajah kecewa. "Papa sudah bertahun-tahun membangun hubungan baik dengan keluarga Pak Dani. Dan gara-gara kamu, Papa kehilangan muka."
"Papa ngerti gak, gimana perasaanku kemarin disana? Aku ngerasa seperti alat pertukaran bisnis, Pah. Aku ngerasa kalau tujuan perjodohan ini, semata-mata hanya untuk bisnis, bukan karena Papa peduli dengan masa depanku, kebahagiaanku."
"Jangan kurang ajar! Papa nggak pernah bilang kamu bagian dari bisnis. Papa cuma ingin kamu dapat jodoh yang terbaik."
"Jodoh itu yang ngatur Tuhan, bukan Papa." Jena mendengus. "Lagian ini hidup Jena, jadi Papa gak berhak ngatur."
Andika menghela napas kasar. "Papa cuma ingin yang terbaik."
"Aku yang paling tahu apa yang terbaik buat aku." Jena balas menatap Papanya.
Suasana kamar mendadak hening.
Jena menarik napas panjang. "Aku nggak mau menikah dengan Angga, titik."
"Baik kalau begitu, itu artinya, kamu memilih Dion."
"PAH!" teriak Jena.
Asri yang beru menaiki beberapa anak tangga, mempercepat langkah mendengar teriakan Jena.
"Keputusan Papa gak bisa diganggu gugat." Andika menatap Jena tajam.
"Kalian berdua, bisa gak sih, kalau bicara jangan teriak, jangan pakai otot. Bisakan, bicara baik-baik," ujar Asri.
"Dia udah mempermalukan Papa." Rahang Andika mengeras.
"Papa mau jodohin aku sama Dion Mah, ponakannya si lakor."
Asri langsung mendelik tajam. "Gila kamu, Mas!"
"Papa udah ngasih pilihan, tapi karena dia nolak Angga, jadi pilihannya tinggal Dion."
"Ada banyak laki-laki di dunia, kenapa harus ponakan ja lang itu? Mama gak setuju!" Asri siap menantang suaminya kali ini.
Andika membuang muka, mendengus kesal. Ponsel di tangannya berdering, apa panggilan masuk dari Juwita.
"Hallo, Ta."
Asri yang ada di sampingnya mendengus mendengar suaminya menyebut nama istri mudanya.
"Iya, habis ini aku pulang."
"DIA MAU KAWIN LAGI!" teriak Jena.
Andika kaget, tiba-tiba Jena sudah berdiri di sampingnya.
"Dia mau menikah dengan wanita yang seumuran anaknya," lanjut Jena.
"JENA!" Andika melotot, buru-buru ia mematikan sambungan telepon.
"Kenapa Pah?" Jena tersenyum puas. "Papa ngotot nyuruh aku nikah, itu artinya, Papa setuju dengan syarat yang aku ajukan. Kalau Papa masih nekat nyuruh aku nikah, baiklah. Kita nikah sama-sama."
Asri yang ada diantara mereka bingung. "Ada apa ini sebenarnya?"
"Papa mau aku suruh nikah sama Aline, Mah."
"Hah!" Asri syok.
"Hitung-hitung bantu janda dan anak yatim."
Andika mendengus, lalu pergi. Disini dibikin pusing oleh Jena, di rumah nanti, Juwita pasti ngomel gara-gara ucapan Jena tadi.
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭
G bakal selingkuh karena dia udah lama suka sama kamu.
Mau g yah si Jenna????