Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Javier Yang Licik
Perlahan, kelopak mata Yoselin terbuka. Kesadarannya terkumpul secara bertahap, menggantikan kantuk berat yang sempat menyelimutinya. Namun, rasa hangat yang melingkupi tubuhnya serta aroma harum woody-spicy maskulin yang sangat pekat di sekitarnya seketika membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
Saat matanya terbuka sempurna, Yoselin tersentak kaget sampai napasnya tertahan.
Ia sedang berbaring di atas tempat tidur king size, dan di sampingnya, lengan kekar Javier melingkar begitu erat di pinggangnya. Wajah tampan sang CEO hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya, membiarkan hembusan napas hangat pria itu menerpa kulit pipinya.
Kepanikan dan kejengkolan luar biasa seketika meledak di dalam dada Yoselin.
Brak!
Tanpa berpikir panjang, Yoselin mengumpulkan seluruh tenaganya dan mendorong tubuh besar Javier sekuat tenaga.
"Aaghh!"
Javier yang masih setengah tertidur dan tidak siap menerima dorongan brutal itu seketika terguling dan jatuh tersungkur dari atas tempat tidur ke lantai marmer yang dingin. Suara dentuman keras terdengar memecah keheningan kamar, disusul erangan kesakitan dari sang CEO.
"Aduh... Sakit sekali..." rintih Javier memegangi pinggang dan bahunya seraya meringis di lantai.
Yoselin bergegas bangun, duduk di tepi ranjang dengan raut wajah memerah penuh amarah. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya menatap nyalang ke arah Javier yang masih tergeletak di bawah.
"Pak Javier! Apa-apaan Anda ini?!" bentak Yoselin dengan nada suara tinggi dan napas memburu.
"Apa yang sudah Anda lakukan pada saya saat saya tertidur, hah?! Anda memanfaatkan kesempatan dan melakukan hal buruk pada saya, kan?!"
Javier perlahan duduk di lantai, mengusap bahunya yang terbentur. Bukannya marah atau membalas bentakan itu dengan keangkuhannya yang biasa, raut wajah tampan Javier seketika berubah. Sepasang mata abu-abunya menatap Yoselin dengan pandangan yang amat sendu, sayu, dan penuh rasa teraniaya.
Javier mendesah pelan, menatap Yoselin seolah-olah wanita itulah yang baru saja melakukan kejahatan besar padanya.
"Yoselin... Tega sekali kamu menuduhku seperti itu," bisik Javier dengan suara yang sengaja dibuat serak, lemah, dan bergetar.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu tega sekali mendorong pria sakit yang baru pulih ini sampai jatuh ke lantai?"
Yoselin tertawa sinis, tidak mempan dengan reaksi dramatis itu. "Jangan memutarbalikkan fakta, Pak Javier! Jelas-jelas tadi saya terbangun dalam pelukan Anda di atas ranjang ini! Padahal seingat saya, saya tertidur di sofa ruang tamu!"
Javier memegang dadanya seraya menggelengkan kepala perlahan, memasang raut wajah sangat cemas dan terluka atas tuduhan Yoselin.
"Kamu benar-benar lupa atau pura-pura amnesia, Yoselin?" pukas Javier dengan akal bulusnya yang mulai bekerja licik.
"Tadi itu kamu sendiri yang datang merayap ke kamar ini! Kamu menghampiriku di atas ranjang dan memaksaku untuk memelukmu!"
Mata Yoselin membelalak lebar sampai hampir melompat keluar. "Apa?! Saya?! Memaksa Anda memeluk saya?!"
"Iya, Yoselin!" tekan Javier mantap, wajahnya terlihat sangat meyakinkan seolah-olah ia adalah korban sebenarnya.
"Aku ini sedang sakit, tubuhku masih lemas dan kepalaku masih pening. Tadi aku sudah menolakmu baik-baik. Aku bilang, Yoselin, jangan begini, aku sedang tidak berdaya. Tapi kamu malah marah-marah!"
Yoselin membeku di tempatnya, lidahnya mendadak kelu mendengarkan kebohongan tingkat tinggi yang diluncurkan oleh pria di hadapannya.
"Mana mungkin saya melakukan hal gila dan memalukan seperti itu?!" seru Yoselin histeris, menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah tidak percaya.
"Jangan mengada-ada, Pak Javier! Otak Anda sepertinya konslet karena demam tinggi!"
"Aku tidak mengada-ada!" balas Javier tanpa mengedipkan mata, bahkan menambahkan bumbu cerita yang makin tidak masuk akal.
"Kamu bahkan mengancamku, Yoselin! Kamu bilang kalau aku tidak mau memelukmu saat kamu tidur, kamu bakal memasukkan racun ke dalam obat penurun panasku berikutnya! Ya Tuhan, aku takut sekali! Karena ancaman racun itulah aku terpaksa mengalah dan membiarkanmu tidur di dalam pelukanku!"
Yoselin sampai menepuk jidatnya sendiri mendengar cerita mengarang bebas dari sang CEO. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak punya kemaluan!
"Meracuni Anda?!" maki Yoselin dengan wajah memerah menahan kekesalan yang siap meledak.
"Pak Javier, cerita Anda itu sangat tidak masuk akal dan konyol! Saya datang ke sini untuk menolong Anda, merawat Anda, bukan untuk mengancam meracuni atau memaksa dipeluk! Anda pikir saya wanita tidak berpendidikan yang suka memaksa pria?!"
Javier perlahan bangkit berdiri dari lantai dengan gerakan yang sengaja dibuat sangat lemah dan tertatih-tatih. Ia memegang pinggangnya seraya meringis pelan, menatap Yoselin dengan raut wajah paling tidak berdaya yang pernah ada.
"Lihatlah diriku sekarang, Yoselin..." gumam Javier lirih, menunjuk tubuhnya sendiri.
"Aku ini cuma pria sakit yang lemah, tidak berdaya, dan baru saja pulih dari demam tinggi. Mana mungkin pria yang bahkan tidak sanggup mengangkat gelas sendiri ini punya tenaga untuk memindahkanmu dari sofa ke ranjang, apalagi berbuat buruk padamu?"
Yoselin bersedekap dada, menatap Javier dengan pandangan penuh rasa skeptis dan jijik atas akting luar biasa itu.
"Oh, jadi Anda mau bilang kalau saya yang memindahkan diri saya sendiri dari sofa ke kamar Anda, begitu?" sindir Yoselin dengan senyuman miring yang penuh kegetiran.
"Bisa jadi kamu mengigau dan berjalan dalam tidur karena terlalu merindukanku," sahut Javier santai tanpa rasa bersalah sedikit pun, melangkah pelan mendekati tepi ranjang.
"Yang jelas, fakta bahwa kamu berada di ranjangku dan menindih tanganku sepanjang tidur siang tadi adalah kenyataan. Dan sekarang, setelah aku mengorbankan tanganku sampai pegal demi jadi bantalmu, kamu malah mendorongku ke lantai sampai pinggangku mau patah."
Yoselin mengacak rambutnya frustrasi, merasa kepalanya ingin pecah menghadapi kebohongan bertubi-tubi dari Javier.
"Cukup, Pak Javier! Cukup!" bentak Yoselin seraya bangkit berdiri dari ranjang.
"Saya tidak mau dengar lagi dongeng bohong Anda! Berhenti bersikap sok teraniaya dan memutarbalikkan fakta! Anda dan asisten Anda itu sama saja, benar-benar manipulatif dan licik!"
Javier hanya menaikkan sebelah alisnya, mengamati Yoselin yang sibuk merapikan pakaian dan menyambar tas kerjanya di atas meja nakas.
"Mau ke mana, Yoselin?" tanya Javier tenang, intonasi suaranya mendadak berubah santai kembali tanpa ada jejak kelemahan buatan tadi.
"Saya mau pulang!" pukas Yoselin tegas dan galak.
"Tugas saya merawat pria lemah tidak berdaya seperti Anda sudah selesai! Panas Anda sudah turun, dan akal bulus Anda sudah bekerja sangat normal untuk memfitnah saya! Jadi tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tinggal di penthouse gila ini!"
Melihat Yoselin yang benar-benar siap melangkah pergi, senyuman miring yang sangat tipis dan sarat akan dominasi kembali terukir di bibir Javier. Akal bulusnya untuk membuat Yoselin tetap berada di jangkauannya tidak pernah habis.
Javier sengaja memegang dahinya kembali seraya memejamkan mata erat-erat, merosotkan tubuhnya sedikit ke tepi ranjang seolah-olah rasa pening mendadak menghantam kepalanya lagi.
"Aaghh... Kepalaku..." ringis Javier pelan, suaranya kembali terdengar menyedihkan.
"Pandanganku mendadak kabur lagi... Sepertinya efek obatnya sudah habis..."
Langkah Yoselin yang baru saja sampai di depan pintu kamar seketika terhenti kaku. Ia menoleh ke belakang, menatap Javier yang sedang memegangi kepalanya dengan raut wajah kesakitan.
Yoselin menggertakkan giginya erat-erat, mengepalkan tangan di sisi tubuhnya seraya menatap sang CEO dengan tatapan membunuh.
"Pak Javier..." desis Yoselin tajam dari ambang pintu.
"Jika dalam tiga detik Anda tidak menghentikan akting murahan itu, saya bersumpah akan benar-benar meracuni obat Anda berikutnya!"
Javier perlahan membuka sebelah matanya, menatap Yoselin seraya tersenyum lebar tanpa beban. Kebohongannya terbongkar sepenuhnya, namun sang CEO justru terlihat sangat menikmati setiap detik amukan dari wanita pujaannya.
"Ancaman yang sangat manis, Sayang," terkekeh Javier pelan, menatap Yoselin dengan binar mata penuh obsesi yang tak lagi disembunyikan.
Bersambung...