NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Bos baru

"HAH?!"

Teriakan Fajar nyaris membuat kaca jendela ruang direktur itu bergetar. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar menatap Sinta.

"Kenapa langsung dinaikin sejauh ini?!" protes Fajar dengan raut horor.

"Karena ini perintah mutlak dari Bapak Direktur Utama. Kamu mau membantah, Mas Fajar?" jawab Sinta dengan nada datarnya yang mematikan.

Fajar menelan ludah dengan susah payah, lalu tertawa getir. "Hahaha… mana mungkin! Gue ini cuma karyawan biasa, Mbak Sinta. Gak punya kekuasaan sebesar itu buat ngelawan titah pemegang saham utama."

"Untung kamu sadar diri," balas Sinta seraya merapikan dokumen di tangannya. "Ya sudah, saya mau pergi mengurusi divisi lain. Sebagai Kepala Cabang Pemasaran yang baru, saya ingatkan: jangan ceroboh. Persiapkan keberangkatanmu."

Fajar menegakkan tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga, memberi hormat ala kadarnya. "Siap, 86!"

Keluar dari ruangan direktur, Fajar berjalan gontai menyusuri koridor divisi. Bahunya merosot turun seolah baru saja memikul karung beras lima puluh kilogram. Ia menghela napas panjang berulang kali.

Melihat temannya berjalan menunduk lesu, Bayu yang masih standby di mejanya langsung menggeser kursi rodanya mendekat.

"Jar… lo kenapa tadi di dalem? Muka lo udah kayak orang abis divonis hukuman gantung," tegur Bayu penasaran.

Fajar menjatuhkan tubuhnya ke kursi empuknya, menatap kosong ke arah layar monitor. "Hmm… gue dipromosikan, Bay. Jadi Kepala Cabang Pemasaran."

Mata Bayu seketika berbinar terang. "Wah, gila! Itu mah berita bagus dong! Terus kenapa lo bete gitu mukanya? Bukannya nanti gaji lo naik, dapet tunjangan, fasilitas enak?"

"Bukan masalah gajinya, Bay!" rengek Fajar frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Terus masalahnya apa?"

"Masalahnya, gue ditempatin di cabang baru. Di pedalaman Kalimantan Timur! Jauh dari peradaban, jauh dari lo, dan yang paling parah… jauh dari Bu Direktur. Ini mah bukan promosi, tapi pengasingan! Tugasnya bakal tambah rumit nanti karena gue harus ngebangun semuanya dari nol."

Bayu menahan tawanya, menepuk bahu Fajar dengan rasa prihatin yang jelas-jelas dibuat-buat. "Ya… itu derita lo, Jar. Sebagai teman yang baik, gue cuma bisa doain. Gue gabisa ngapa-ngapain buat nolongin lo kali ini."

Fajar mendengus sebal, menyingkirkan tangan Bayu dari bahunya. "Hmm… oke lah. Karena instruksinya gue berangkat lusa, gue harus cabut duluan buat beres-beres dan nyusun rencana rekrut orang di sana."

"Hati-hati di jalan, Jar. Jangan sampai lo dimakan buaya rawa di sana!" ledek Bayu sambil nyengir.

"Iye, sialan lo!" Fajar melambaikan tangan, meraih tasnya, dan segera meninggalkan kantor itu dengan perasaan campur aduk.

Dua hari kemudian, hari keberangkatan pun tiba.

Pagi-pagi buta, Fajar sudah berdiri di depan kosannya dengan koper besar dan ransel penuh berkas.

"Hmm… enaknya urus transportasi gimana, ya?" gumam Fajar sambil mengecek ponselnya. "Oh iya, gue pesan taksi online dulu ke bandara. Lokasi yang disampaikan kemarin kalau gak salah bener-bener di pedalaman Kalimantan Timur, jadi perjalanannya bakal panjang banget."

Fajar duduk di kursi tunggu teras kosnya sembari bermain HP untuk membunuh waktu. Setelah taksi datang, ia bangkit dari tempat duduk, mengangkat kopernya ke bagasi, dan bersiap berangkat.

Fajar meletakkan pantatnya di jok belakang taksi. Kendaraan itu pun mulai melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai macet. Sepanjang jalan menuju bandara, Fajar sesekali melihat pemandangan gedung tinggi dari balik kaca jendela agar tidak bosan, meresapi sisa-sisa peradaban kota metropolitan yang akan segera ia tinggalkan.

Perjalanan itu benar-benar menguras fisik. Dari Jakarta, ia harus terbang selama beberapa jam, kemudian dilanjutkan dengan menyewa mobil travel yang melaju membelah jalanan berbatu dan bergelombang.

Menjelang sore, mobil travel itu akhirnya berhenti di sebuah distrik kecil yang cukup ramai. Di sanalah letak ruko yang baru saja disewa oleh perusahaan sebagai kantor cabang sementara.

Banyak sekali orang lokal yang beraktivitas di sekitar area tersebut. Fajar turun dari mobil, meregangkan otot punggungnya yang kaku. Sebelum benar-benar masuk ke area ruko, Fajar melihat ada sekelompok pemuda yang berkumpul di warung kopi sebelah kantor. Dari gaya pakaiannya yang membawa map cokelat, mereka tampaknya adalah para calon pelamar kerja yang sedang menunggu panggilan.

Sifat penasaran Fajar muncul. Ia sengaja berdiri agak menyamping di balik tiang teras, menajamkan pendengarannya untuk menguping.

"Hei, katanya bos baru dari Jakarta itu dateng hari ini," ucap seorang pemuda berambut gondrong.

"Iya kah? Menurut lu, wajahnya gimana? Sangar kah orangnya?" balas temannya.

"Gue denger dari orang logistik yang nyampe duluan, wajahnya biasa aja. Malah kelihatan agak cupu sih kata mereka. Jadi gue agak ragu, gak berharap banyak sama kepemimpinannya."

"Hahaha, iyakah? Kalau cupu gitu, ayo kita taruhan. Berapa lama kira-kira orang kota manja itu bakal betah bertahan di sini?"

Di balik tiang, mata Fajar langsung melotot. Urat di dahinya berkedut.

Belum apa-apa, harga diri gue sebagai Kepala Cabang udah diinjek-injek! batin Fajar dengan gemas.

Draf Bagian Tengah dan Penutup sudah saya terima, Chef! Sesuai permintaan, judul bab telah disesuaikan menjadi "Bos Baru".

Untuk memastikan bab ini terasa padat, masuk akal, dan total keseluruhannya tembus 1000+ kata, saya memperkaya adegan perkenalan Fajar dengan para pelamar lokal, mendetailkan suasana rapat strategi di ruko yang panas, dan memperkuat unsur komedi dari kesalahpahaman niat Fajar. Motivasi utamanya yang ternyata cuma takut diamuk Kirana (dan Bapaknya) benar-benar jadi punchline yang pas banget di akhir!

Berikut adalah hasil polesan untuk Bagian Tengah dan Penutup, menyambung langsung dari adegan Fajar menguping di warung kopi:

Mendengar taruhan konyol dari para pemuda lokal itu, telinga Fajar terasa panas. Gak mau harga dirinya hancur berantakan di hari pertama, Fajar merapikan kerah kemejanya, menarik napas panjang untuk memompa dada, lalu melangkah keluar dari balik tiang dengan gaya sesejuk mungkin.

"Ehem!" deham Fajar cukup keras, membuat sekelompok pemuda berwajah garang itu serempak menoleh ke arahnya.

Fajar berjalan mendekat dengan tatapan lurus dan postur tegap. "Halo, semuanya. Perkenalkan, nama saya Fajar. Saya adalah Kepala Cabang Pemasaran yang baru dari pusat," ucap Fajar dengan suara yang sengaja dibuat sedikit lebih berat. "Mulai hari ini, kalian yang terpilih akan menjadi tim saya. Dan saya harap, kalian siap mengikuti instruksi saya. Tidak ada waktu untuk main-main."

Ketiga pemuda yang tadi asyik bergosip langsung gelagapan. Wajah mereka pucat pasi. Pemuda berambut gondrong yang tadi paling keras suaranya buru-buru berdiri tegap, nyaris menumpahkan es teh manisnya, lalu memberikan hormat kaku.

"E-eh... s-siap! Oke, Bos!" jawabnya terbata-bata, merutuki nasibnya yang tertangkap basah menggunjing atasan.

"Jadi... kita mau ngapain sekarang, Bos?" tanya pemuda lain yang memakai topi terbalik, mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung.

Fajar menatap ruko di belakangnya yang masih tampak berdebu. "Sebelum mulai kerja lapangan, aku mau lihat data. Tolong ambilkan laporan target penjualan dan pemetaan wilayah yang sudah disiapin oleh tim logistik atau perwakilan pusat sebelumnya."

"Siap, Bos! Sebentar!" Pemuda bertopi itu langsung berlari cepat ke dalam ruko, membongkar beberapa tumpukan kardus di meja depan, lalu kembali membawa sebuah map plastik tebal yang sedikit berdebu. "Nih, Bos laporannya."

Fajar menerima map itu, menepuk debunya sedikit, dan mulai membuka halaman pertamanya. Ia mengangguk-angguk kecil dengan gaya profesional. "Ok, mari kita lihat apa yang kita hadapi di sini..."

Mata Fajar bergerak cepat membaca deretan angka dan grafik. "Hmm... bagus banget rincian wilayahnya. Sangat detail." Ia membalik halaman berikutnya, mencari angka keramat yang menjadi KPI-nya. "Kalau begitu, untuk kuartal pertama di distrik ini, kita ditargetkan akan menjual berapa produk?"

Pemuda berambut gondrong menelan ludah. "Hmm... kata orang dari pusat yang survei bulan lalu, target minimal untuk cabang baru ini adalah seribu produk di bulan pertama, Bos."

Mata Fajar otomatis membelalak. Mulutnya setengah terbuka. "APAA?! Seribu produk?! Wah, banyak banget gila! Di tempat yang jumlah pohonnya lebih banyak dari jumlah rumah ini, gue disuruh jual seribu unit?!" batin Fajar menjerit histeris. Otaknya serasa mau meledak.

Namun, ia buru-buru mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat panik. Ia berdeham pelan, menormalkan suaranya. "Seribu, ya? Cukup menantang. Selanjutnya, kalian sudah menyusun strategi promosi lokalnya? Pendekatan seperti apa yang cocok untuk warga di sini?"

Ketiga pemuda itu saling bertatapan kosong, lalu menggeleng serempak dengan wajah tanpa dosa. "Belum ada, Bos. Kami kan cuma nunggu instruksi dari Jakarta."

Fajar menghela napas panjang, namun ia memaklumi hal itu. Toh, ia sendiri juga mendadak naik jabatan menjadi kepala cabang dalam kurun waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Ia sama butanya dengan mereka. Tapi sebagai leader, ia harus memutar otak untuk tidak mengacaukannya.

"Yaudah," putus Fajar tegas. Ia menunjuk ke arah ruko. "Semuanya masuk ke dalam. Kita mulai rapat perdana kita di distrik kecil ini sekarang juga. Kalau kita gak punya strategi, kita buat hari ini juga."

Di dalam ruko yang hanya diterangi dua lampu neon dan didinginkan oleh satu kipas angin gantung yang berbunyi berderit, rapat darurat pun dimulai.

Fajar memimpin di depan sebuah papan tulis putih usang yang baru saja dilap. Ia meminta para calon bawahannya itu untuk duduk melingkar dan menjelaskan segala hal tentang karakteristik warga lokal. Mereka menjelaskan bahwa warga lebih suka pendekatan langsung, promo cicilan, dan sangat percaya pada rekomendasi tokoh adat atau tetua desa. Fajar mendengarkan dengan saksama, mencatat setiap poin penting yang dirasa bagus untuk mengejar target gilanya.

Setelah mendengar masukan mereka, Fajar bangun dari duduknya. Ia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, mengambil spidol hitam, dan mulai merumuskan rencananya.

Tangannya bergerak cepat di atas papan tulis, mulai dari menghitung sisa produk yang ada di gudang logistik, menetapkan penyesuaian harga jual yang masuk akal dengan daya beli masyarakat pedalaman, menghitung margin keuntungan di setiap penjualan agar laporan keuangannya tetap hijau, hingga memetakan minat dan kebutuhan para pelanggan di berbagai desa sekitar.

Keringat membasahi dahi dan punggung kemeja Fajar. Ruangan itu terasa panas, tetapi panas di dalam kepalanya jauh lebih menyiksa. Setiap keputusan yang ia ambil di papan tulis itu membawa kekhawatiran besar baginya. Ini adalah tanggung jawab pertamanya memegang kendali penuh atas sebuah cabang.

Di dalam hatinya, Fajar terus merapalkan doa. Ia sangat berharap pekerjaannya kali ini tidak gagal. Bukan sekadar demi jenjang kariernya, tapi karena kalau ia gagal memenuhi target seribu produk ini, Fajar bisa langsung 'dieksekusi' secara massal. Ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh pacarnya yang perfeksionis—sang Bu Direktur—dan tentu saja, ia akan langsung dicoret dari daftar calon menantu oleh Bapak Direktur Utama!

"Oke, jadi ini blueprint kita untuk minggu pertama. Ada pertanyaan?" tanya Fajar sambil menutup spidolnya, napasnya sedikit terengah.

Semua bawahannya menggeleng dengan tatapan kagum. "Jelas, Bos!"

"Bagus. Kalau begitu, rapat hari ini selesai. Kalian boleh pulang dan siapkan energi untuk besok pagi," tutup Fajar, merasa tulang-tulangnya nyaris rontok.

Setelah menyelesaikan beberapa berkas tambahan, Fajar mengunci pintu ruko dan pamit pada bawahannya yang kebetulan masih nongkrong di teras.

"Duluan ya, semuanya," pamit Fajar.

"Siap! Hati-hati di jalan, Bos!" balas mereka serempak, melambai balik sembari tersenyum tipis penuh hormat.

Sepeninggal Fajar, ketiga pemuda itu kembali bergosip. Namun kali ini, nadanya sama sekali berbeda. Mereka tidak menduga bahwa bos barunya yang dikira 'manja' dan 'cupu' itu ternyata berusaha keras merumuskan strategi matang untuk tidak gagal, meski ini baru hari pertamanya menginjakkan kaki di tanah berdebu ini.

"Gila, Bos Fajar totalitas banget kerjanya, ya. Sampai keringetan gitu ngitungin target," bisik pemuda berambut gondrong dengan takjub.

"Iya, gue kira dia bakal merintah doang. Eh, ternyata dia rela mikir bareng kita. Kalau bosnya dedikasi tinggi gini, pasti nanti kita bakal sering dikasih bonus atau insentif nih!" sahut temannya dengan penuh harap. Mereka mengira, semua keringat dan komunikasi intens tadi adalah bentuk kepedulian bosnya terhadap kesejahteraan dan solusi untuk tim.

Tapi, mereka tentu saja tidak tahu fakta sebenarnya.

Fajar memeras otak dan berkeringat dingin bukan karena ia adalah atasan super teladan yang mengejar bonus perusahaan. Melainkan, murni karena pria itu tidak mau mengecewakan, apalagi sampai diamuk oleh pacarnya yang menakutkan di Jakarta sana, Kirana.

“Semoga Ayah mertua dan Kirana puas ngelihat laporan ini… amanin nyawa dulu, baru amanin target,” batin Fajar yang kini berjalan menyusuri jalanan desa menuju penginapannya dengan langkah gontai.

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!