NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 STASIUN TUGU, YOGYAKARTA

Suara gesekan roda besi kereta dengan rel yang melengking panjang, disusul oleh hentakan pelan yang membuat gerbong bergoyang, akhirnya membangunkan Wira dari tidur ayam-ayamannya.

Ia membuka mata dengan enggan.

Lehernya terasa kaku sebelah akibat posisi tidur yang salah di kursi kelas eksekutif yang sebenarnya cukup nyaman itu. Namun, senyaman apa pun fasilitas yang diberikan ayahnya, bagi Wira, perjalanan ini tak ubahnya seperti perjalanan menuju penjara.

Melalui pengeras suara gerbong, alunan musik instrumental bernuansa gamelan Jawa terdengar mengalun pelan, disusul oleh suara empuk seorang wanita yang mengumumkan bahwa Kereta Api Taksaka dari Jakarta telah tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta.

Wira mendengus kasar. Ia melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. Pukul tujuh pagi.

Matahari sudah bersinar terang benderang menembus kaca jendela kereta, menyilaukan mata dan langsung terasa menyengat kulit. Berbeda jauh dengan udara pagi kota Bogor yang biasanya masih diselimuti kabut tipis dan hawa dingin yang menusuk tulang. Di sini, sinar matahari seolah tak punya saringan.

Dengan gerakan malas, pemuda berusia 17 tahun itu bangkit dari kursinya.

Ia membuka kompartemen atas dan menarik koper hitamnya dengan kasar, nyaris membuat koper itu menimpa kepala seorang penumpang bapak-bapak di kursi seberang.

Bukannya meminta maaf, Wira hanya melengos, memasang wajah ditekuk sedalam-dalamnya.

Sesuai instruksi mutlak ayahnya sebelum berangkat, Wira diharuskan memakai seragam SMA barunya langsung dari kereta. Tujuannya agar sesampainya di rumah Bude Ning nanti, ia bisa langsung difoto sebagai bukti bahwa 'Si Anak Nakal' sudah siap bersekolah, atau bahkan langsung diantar ke sekolah barunya hari itu juga jika jadwal memungkinkan.

Namun, Wira tentu saja tidak akan menurut begitu saja.

Sebagai bentuk pemberontakan kecil-kecilan, ia sengaja mengeluarkan ujung seragam putihnya dari celana abu-abunya. Tiga kancing teratas kemeja itu dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaus oblong hitam di baliknya. Dasinya ia jejalkan asal-asalan ke dalam saku celana, dan rambut yang sedikit ikal yang mulai sedikit gondrong dibiarkan berantakan tanpa sentuhan sisir.

Jika ia harus dihukum di kota ini, ia akan memastikan semua orang tahu bahwa ia tidak datang dengan suka rela.

Pintu gerbong terbuka otomatis.

Wira melangkah keluar, dan detik itu juga, udara panas dan lengket khas kota dataran rendah langsung menampar wajahnya. Ia memicingkan mata, menghirup udara lambat-lambat. Aroma besi rel berpadu dengan wangi samar tembakau dan sesuatu yang manis—mungkin aroma gudeg atau panganan lokal dari kedai-kedai di sekitar peron.

Ia menyeret kopernya di atas lantai peron berbatu bata ekspos. Roda kopernya berderit berisik, memecah ketenangan pagi.

Sambil berjalan menuju pintu keluar, mata Wira menyapu sekeliling. Kesan pertamanya tentang kota ini langsung terbentuk dalam hitungan detik.

Lambat. Semua orang bergerak seolah mereka memiliki sisa waktu seratus tahun untuk hidup.

Penumpang yang turun tidak ada yang berdesak-desakan. Orang-orang berjalan santai, saling melempar senyum, dan berbicara dengan intonasi yang begitu rendah dan mendayu-dayu hingga terdengar seperti orang bergumam.

Di stasiun KRL di Jabodetabek, jam segini orang sudah saling sikut dan berlarian mengejar gerbong seperti dikejar rentenir.

Tapi di sini?

Waktu seakan membeku.

"Bade dipunbektakaken kopernipun, Mas?" (Mau dibantu saya bawakan kopernya, Mas?)

Sebuah suara pria paruh baya tiba-tiba menginterupsi lamunan Wira. Seorang porter stasiun berseragam biru dengan kerutan dalam di sudut mata tersenyum ramah kepadanya. Wajahnya memancarkan ketulusan yang membuat Wira justru merasa aneh.

"Hah?? Apa, Pak??" balas Wira ketus, keningnya berkerut karena tidak mengerti satu patah kata pun yang diucapkan bapak itu.

"Mau dibawakan kopernya, Mas?" ulang si porter, kali ini menggunakan bahasa Indonesia dengan logat Jawa yang kental, senyumnya tidak luntur sedikit pun meski mendapat respons yang kurang menyenangkan.

"Nggak usah! Saya bisa sendiri!" jawab Wira judes, lalu kembali menyeret kopernya dengan langkah dipercepat, meninggalkan porter itu yang hanya mengangguk sopan sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Wira menggerutu dalam hati.

"Orang sini kenapa sih? Udah dijawab ketus masih aja senyum sambil nunduk-nunduk. Lemah banget!" batin Wira.

Dalam kamusnya, orang yang terlalu sopan adalah orang yang gampang diinjak-injak.

Dan kesan Wira tentang Jogja semakin merosot tajam.

Kota ini terlalu sopan, terlalu lambat, dan membosankan.

Cocok untuk tempat pensiun, bukan untuk anak muda yang darahnya sedang mendidih seperti dirinya.

Sesampainya di Pintu Keluar Timur yang mengarah ke Jalan Mangkubumi, Wira berdiri di tepi jalan sambil mengedarkan pandangan.

Ayahnya bilang akan ada orang suruhan Bude Ning yang menjemputnya.

Dan benar saja, tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pria berumur sekitar 50-an, mengenakan kemeja batik rapi dan peci hitam yang sedikit miring, berdiri memegang selembar karton bertuliskan: WIRA AJI PRATAMA.

Wira menghampiri pria itu dengan langkah diseret.

"Nunggu orang yang namanya Wira?" tanyanya tanpa basa-basi, menunjuk karton itu.

Pria itu terkesiap pelan, matanya berbinar lega. Ia buru-buru menurunkan kartonnya dan menunduk hormat.

"Oh, inggih! Sugeng enjang, Den Wira. Kulo Tris, sopiripun Bu Ning. Waaah, sampun ageng sanget nggih Den Wira sekarang," (Oh, iya! Selamat datang, Mas Wira. Saya Tris, sopirnya Bu Ning. Waaah, sudah besar banget ya Mas Wira sekarang.) sapanya panjang lebar dengan nada yang begitu ramah dan santun, seolah Wira adalah pangeran yang baru pulang dari medan perang.

Wira bergidik geli mendengar panggilan 'Den' yang disematkan padanya. "Nggak usah panggil Den segala, Pak. Wira aja. Mobilnya di mana? Panas nih!"

Pak Tris mengangguk, sama sekali tidak tersinggung dengan nada bicara Wira yang tidak sopan. Ia dengan sigap mengambil alih koper dari tangan Wira.

"Inggih, Den... eh, Mas Wira. Mobilipun wonten mriko. Mari, sumonggo saya bawakan kopernya."

Wira mengikuti langkah Pak Tris menuju sebuah mobil Kijang kapsul tahun dua ribuan awal yang diparkir rapi. Meski mobil tua, bodinya sangat mengkilap, menandakan perawatan yang luar biasa telaten.

Pak Tris membukakan pintu penumpang belakang untuk Wira, tapi Wira malah membuka pintu depan sebelah kemudi dan menjatuhkan tubuhnya di jok penumpang.

Pak Tris hanya tersenyum maklum, menutup bagasi, lalu masuk ke kursi kemudi.

Mobil mulai bergerak lambat meninggalkan area stasiun. AC mobil yang sudah berumur itu berhembus pelan, tidak cukup kuat untuk mendinginkan kepala Wira yang sudah panas sejak kemarin.

Ia menatap ke luar jendela. Kendaraan tidak terlalu padat, namun jalanan dipenuhi oleh becak, sepeda onthel, dan beberapa andong yang berjalan santai di tepi jalan.

Satu menit berlalu.

Lima menit berlalu.

Jarum spidometer mobil Pak Tris tidak pernah melewati angka 40 kilometer per jam.

Wira mulai mengetuk-ngetukkan jarinya ke dashboard dengan tidak sabar. Matanya menatap tajam ke depan. Ada sebuah becak kosong yang mengayuh pelan tepat di depan mobil mereka, dan Pak Tris tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyalip atau setidaknya membunyikan klakson.

"Pak Tris!" tegur Wira, nadanya menahan kesal.

"Dalem, Mas Wira? Ada yang bisa dibantu?" sahut Pak Tris lembut tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke jalan.

"Bisa ngebut dikit nggak sih, Pak?! Kita jalan di bawah 40 dari tadi. Itu becak di depan di-klakson aja atau disalip, lambat banget!"

Pak Tris terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat bijaksana dan sama sekali tidak mengandung nada mengejek.

"Alon-alon waton kelakon, Mas Wira. Biar lambat asal selamat. Di Jogja mboten sah kesusu. Ndak perlu buru-buru. Becak di depan itu rezekinya hari ini mungkin jalannya memang pelan. Kalau kita klakson, kasihan bapaknya kaget. Sabar mawon nggih."

Jawaban itu membuat rahang Wira mengeras. Ia bersedekap dada, menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan kasar.

Sabar.

Satu kata yang paling ia benci di dunia ini.

Ia memejamkan mata, merutuki nasibnya. Kota ini benar-benar antitesis dari dirinya.

Jika ayahnya berpikir udara santai Jogja dan nasihat-nasihat 'alon-alon waton kelakon' ini bisa menjinakkannya, maka ayahnya salah besar. Wira justru merasa jiwa pemberontaknya semakin terpancing.

"Lihat aja..." batin Wira seraya membuka mata, menatap pantulan wajahnya yang masam di kaca jendela mobil.

"Bakal gue balikkan kota yang ngebosenin ini! Nggak ada yang bisa ngatur-ngatur gue di sini!"

Mobil Kijang tua itu pun perlahan berbelok menuju kawasan perkampungan tua di dekat Keraton, membawa Wira semakin dekat dengan gerbang 'penjara' Bude Ning.

Dan tanpa ia sadari, semakin dekat menuju takdir pertemuannya dengan seseorang yang akan menjungkirbalikkan seluruh prinsip kesombongannya.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!