Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
Di sebuah sekte yang berdiri di tengah pegunungan, ratusan pendekar telah memenuhi halaman utama. Tatapan mereka tertuju pada satu sosok yang berdiri sendirian di tengah kerumunan.
Sosok itu benar-benar berbeda dari manusia biasa. Tubuhnya sangat besar, jauh lebih tinggi daripada manusia normal. Kedua bahunya juga lebar dan otot-otot besar memenuhi hampir seluruh tubuhnya. Namun, yang paling mengerikan adalah kulitnya yang berwarna ungu. Penampilannya itu membuat sosok tersebut terlihat seperti monster yang keluar dari legenda kuno.
Pada pinggang pria itu tergantung dua pedang hitam yang memancarkan aura yang dingin. Aura itu membuat beberapa pendekar yang berdiri tidak jauh darinya tanpa sadar menggenggam senjata mereka dengan lebih erat.
Sosok bertubuh monster itu bernama Sha Nuo. Namanya sudah lama dikenal di dunia persilatan. Bukan karena ia berasal dari sekte besar atau memiliki garis keturunan terkenal, melainkan karena satu alasan sederhana, tidak ada manusia lain yang memiliki tubuh seperti dirinya.
Sejak pertama kali muncul di dunia persilatan, Sha Nuo telah menjadi sosok yang membuat banyak orang merasa takut. Sebagian menyebutnya monster, sebagian lainnya menyebutnya siluman, sedangkan beberapa pendekar bahkan menganggapnya sebagai iblis yang seharusnya tidak pernah dilahirkan.
Berbagai cacian terus keluar dari mulut para pendekar yang saat ini sedang mengepung Sha Nuo.
"Monster!"
"Siluman!"
"Iblis sialan! Berani sekali kau datang ke tempat kami!"
"Jangan berpikir kami akan membiarkan makhluk sepertimu hidup!"
Wajah para pendekar itu dipenuhi kemarahan dan kebencian, seolah-olah hanya dengan melihat wujud Sha Nuo saja sudah cukup untuk membuat mereka ingin membunuhnya. Beberapa bahkan menunjuk langsung ke arahnya sambil melontarkan kata-kata makian yang semakin kasar.
Namun, Sha Nuo hanya berdiri diam. Ia tidak membalas satu pun hinaan tersebut. Tatapannya tetap tenang, seakan semua kata-kata itu sudah terlalu sering ia dengar sampai tidak lagi mampu melukainya.
Setelah membiarkan mereka berbicara cukup lama, Sha Nuo akhirnya mengangkat wajahnya. Kedua tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang yang tergantung di pinggangnya.
"Kalau sudah selesai bicara, mari kita mulai."
Begitu mendengar perkataannya, suasana di halaman sekte itu seketika berubah. Seorang pendekar yang berdiri paling depan langsung berteriak.
"Serang!"
Puluhan pendekar bergerak secara bersamaan. Suara langkah kaki mereka mengguncang halaman, sementara berbagai macam senjata diarahkan kepada Sha Nuo dari segala penjuru.
Namun, Sha Nuo sama sekali tidak mundur. Dengan gerakan cepat, ia menarik kedua pedang hitam dari pinggangnya. Tubuh besarnya kemudian melesat ke depan, membuat beberapa pendekar yang berada di jalurnya bahkan tidak sempat bereaksi.
Salah seorang pendekar mencoba menebas kepalanya, tetapi Sha Nuo menundukkan tubuh sambil menghindari serangan tersebut. Ia kemudian menghantam dada lawannya dengan bahunya. Suara benturan keras terdengar ketika tubuh pendekar itu terpental beberapa meter.
Pada saat yang sama, pedang hitam di tangan kanan Sha Nuo bergerak cepat dan menebas seorang pendekar lain yang mencoba menyerang dari samping. Gerakannya tidak hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya yang luar biasa, tetapi juga didukung oleh ilmu bela diri yang telah ditempanya selama bertahun-tahun.
Pertarungan pun berlangsung sengit. Dua pedang hitam di tangan Sha Nuo bergerak tanpa henti, terkadang menebas, menangkis, menusuk, lalu kembali bergerak mencari celah. Tubuhnya yang besar ternyata sama sekali tidak membuat pergerakannya lambat.
Setiap kali seorang pendekar mencoba mendekat, Sha Nuo selalu mampu menemukan cara untuk menghadapi mereka. Satu demi satu lawannya jatuh di tangannya.
Namun, jumlah lawan yang dihadapi Sha Nuo terlalu banyak. Mereka bukan pendekar biasa dan sebagian besar memiliki kekuatan yang cukup tinggi.
Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin banyak luka yang muncul di tubuh Sha Nuo. Darah mengalir dari bahunya, lalu terdapat juga luka panjang di bagian dadanya, bahkan salah satu kakinya mulai terluka cukup parah.
Napasnya juga menjadi semakin berat. Meskipun demikian, sebagian besar lawannya telah tumbang dan hanya beberapa orang yang masih mampu berdiri.
Akhirnya, pertarungan untuk sementara berhenti. Para pendekar yang masih hidup berdiri dengan napas berat sambil menatap Sha Nuo dari kejauhan. Sha Nuo sendiri masih menggenggam kedua pedangnya, tetapi kondisinya tidak lebih baik.
Darah menetes dari beberapa bagian tubuhnya, sementara kedua matanya tetap menatap lawan-lawannya dengan tenang. Tidak ada seorang pun yang bergerak. Kedua pihak seakan sedang menunggu siapa yang akan mengambil langkah pertama.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari kejauhan.
"Nuo gege!"
Mata Sha Nuo langsung membesar. Suara tersebut begitu familiar baginya.
Ia perlahan menoleh dan melihat seorang perempuan berlari menuju halaman pertarungan. Perempuan itu memiliki wajah cantik dengan rambut panjang yang bergerak mengikuti langkahnya.
Namun, bukan kecantikannya yang membuat jantung Sha Nuo seolah berhenti berdetak. Ia jelas mengenal perempuan itu. Itu adalah Ye Lian.
Ye Lian adalah perempuan yang selama ini ia cintai. Perempuan yang selalu ingin ia dekati, tetapi tidak pernah berani ia mengungkapkan perasaannya.
Sejak dahulu, Sha Nuo selalu merasa malu dengan tubuhnya sendiri. Ia takut jika Ye Lian mengetahui bahwa dirinya menyimpan perasaan kepadanya, perempuan itu juga akan melihat dirinya seperti orang-orang lain. Oleh karena itu, meskipun berkali-kali mendapatkan kesempatan untuk berbicara lebih dekat dengannya, Sha Nuo selalu memilih untuk menyembunyikan perasaannya.
Kini Ye Lian berada di hadapannya. Wajah perempuan itu terlihat panik setelah melihat kondisi Sha Nuo yang penuh luka. Ia bergerak ke arah Sha Nuo.
"Nuo gege! Kau terluka!"
Tatapan Sha Nuo tertuju kepada Ye Lian. Justru melihat perempuan yang selama ini ia cintai datang mendekatinya membuatnya lebih panik daripada ketika menghadapi banyak pendekar sekaligus.
Ia bahkan tanpa sadar maju satu langkah.
"Jangan mendekat!"
Ye Lian menghentikan langkahnya.
"Kenapa?"
Sha Nuo menundukkan wajahnya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tetapi luka di tubuhnya terlalu jelas untuk disembunyikan. Ia juga ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pantas membuat Ye Lian khawatir, tetapi ia tidak mampu mengucapkannya.
Ye Lian justru berbalik menghadap para pendekar yang menjadi lawan Sha Nuo.
"Berhenti! Jangan bertarung lagi!"
Beberapa pendekar saling bertukar pandangan sebelum salah seorang dari mereka menjawab dengan keras.
"Ye Lian, minggirlah! Orang itu adalah monster! Dia telah membunuh begitu banyak orang!"
Ye Lian menggelengkan kepalanya. Wajahnya menunjukkan kemarahan.
"Sha Nuo bukan monster!"
Semua orang terdiam.
Ye Lian kemudian menatap mereka dengan tegas.
"Dia adalah orang yang baik."
Sha Nuo membeku.
Selama hidupnya, ia sudah mendengar begitu banyak kata tentang dirinya. Monster, siluman, iblis, makhluk terkutuk dan berbagai hinaan lainnya. Namun ucapan Ye Lian barusan, benar-benar melegakan hatinya.
Sha Nuo menatap Ye Lian dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia bahkan hampir lupa bahwa dirinya sedang berada di tengah pertarungan.
Ye Lian kemudian kembali berjalan mendekatinya, membuat Sha Nuo semakin panik.
"Lian’er, jangan mendekat."
Namun Ye Lian tidak berhenti.
"Nuo gege..."
Sha Nuo mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin mengatakan agar Ye Lian menjauh darinya, tetapi hatinya justru ingin perempuan itu terus mendekat. Konflik perasaan itu membuatnya tidak mampu bergerak.
Sha Nuo tiba-tiba melihat sesuatu di belakang Ye Lian. Tatapannya langsung berubah.
Seorang pendekar yang sebelumnya terbaring ternyata masih hidup. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, pria itu bangkit dan mengangkat pedangnya.
Sha Nuo langsung mengingatkan.
“Lian’er, menyingkir!”
Namun terlambat. Kilatan pedang melesat dari belakang Ye Lian.
Srak!!!
Tubuh Ye Lian tertusuk dari belakang. Wajahnya tampak kesakitan.
Teriakan Sha Nuo langsung mengguncang seluruh halaman.
"Lian’er!"
Ia langsung bergerak sekuat tenaga.
Kini, ketenangan yang selama ini berada di wajahnya menghilang sepenuhnya. Matanya dipenuhi kepanikan.
Ia tidak lagi memikirkan luka di tubuhnya, tidak lagi memikirkan para pendekar yang menghalangi jalannya. Satu-satunya hal yang ada di dalam pikirannya hanyalah Ye Lian.
Sha Nuo nampak khawatir.
"Lian’er!"
"Ah!"
...********...
Tiba-tiba saja Sha Nuo terbangun. Tubuhnya langsung terduduk dengan napas tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara keringat dingin membasahi wajahnya.
Ia menatap sekeliling dengan mata yang masih dipenuhi kepanikan. Tidak ada sekte, tidak ada ratusan pendekar, tidak ada halaman yang dipenuhi darah, dan tidak ada Ye Lian. Hanya sebuah ruangan sunyi yang diterangi cahaya redup.
Sha Nuo terdiam cukup lama sambil mencoba mengatur napasnya. Perlahan, pandangannya turun menuju kedua tangannya. Ia mengangkat tangan kanannya dan memperhatikannya dengan saksama.
Tangan itu terlihat normal, tidak berwarna ungu lagi. Kini tangannya itu tidak lagi dipenuhi otot yang berlebihan. Hanya tangan manusia biasa.
Sha Nuo mengepalkan tangannya perlahan. Tatapannya berubah menjadi kosong ketika menyadari bahwa semua kejadian tadi hanyalah mimpi. Namun, baginya mimpi itu terasa terlalu nyata.
Sudah begitu lama waktu berlalu dan masa lalu itu seharusnya sudah terkubur. Akan tetapi wajah Ye Lian masih terus muncul dalam tidurnya.
Sha Nuo menundukkan kepalanya. Tangannya kemudian perlahan menyentuh wajahnya sendiri, wajah manusia yang berbeda dengan wajah di masa lalunya.
Ia pernah membunuh banyak orang. Ia bahkan pernah menghadapi pendekar yang lebih kuat darinya. Namun, untuk mengucapkan tiga kata sederhana kepada Ye Lian, ia tidak pernah memiliki keberanian untuk melakukannya.
“Aku mencintaimu.”
Kalimat itu tidak pernah sampai ke telinga Ye Lian.
...*******...
Penampilan Sha Nuo di masa lalu
Penampilan Sha Nuo masa ini
jgn buat penasaraan