Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagunan Tua Di Pinggir Desa
BAB 4
Pagi hari di Desa Kertajaya dimulai dengan suara kokok ayam jantan yang bersahutan, disusul deru motor bebek tua tetangga kos yang dipaksa menyala dengan selaan berkali-kali. Di kamar nomor empat, Raka sudah berdiri sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, meregangkan otot-otot bahunya yang masih terasa sedikit kaku akibat karung-karung gabah kemarin sore.
Di sampingnya, Bayu sedang sibuk mengikat tali sepatu kanvasnya yang sudah jebol di bagian kelingking, sementara Dimas masih duduk di tepi kasur sambil menguap lebar, matanya menerawang menatap bungkus kopi saset kosong di atas meja.
"Hari penentuan sisa uang kos, Bung," kata Raka sambil mengenakan jaket parasutnya yang warnanya sudah mulai pudar. "Kalau kita tidak segera bergerak sekarang, ancaman Bu Ratna mau ngangkut kasur kita bukan lagi sekadar candaan malam jumat."
"Tenang, Kapten," balas Bayu dengan nada sok optimis, berdiri sambil menepuk-nepuk saku celananya yang kosong melompong. "Misi hari ini jelas: menyusuri bangunan tua keluarga almarhum Pak Harun di ujung dusun timur, mengecek inventaris rongsokan berharga, dan menyelamatkan eksistensi kasur kita dari tangan besi Bu Ratna."
"Jangan lupa bawa karung bekas beras sama tali rafia," tambah Dimas santai sambil mengambil seutas tali rafia merah yang tergeletak di pojok kamar. "Siapa tahu di sana ada tumpukan besi tua atau potongan pipa tembaga. Lumayan kalau dijual ke tukang loak dekat pasar."
Rencana itu matang tanpa perdebatan panjang. Dengan modal keyakinan penuh dan perut yang baru diisi segelas teh tawar hangat, ketiga pemuda itu menyalakan motor bebek kesayangan mereka motor tua berplat nomor hitam yang kalau digas suaranya mirip helikopter mau jatuh lalu membelah jalanan aspal Desa Kertajaya menuju ujung dusun timur.
Suasana di dusun timur terasa jauh lebih lengang dibandingkan area sekitar pasar atau balai desa. Rumah-rumah warga di sini mulai berjarak agak jauh, diselingi hamparan kebun singkong, rumpun pohon bambu yang daunnya bergesekan ditiup angin pagi, serta jalanan berbatu kerikil yang membuat goncangan motor terasa sampai ke tulang punggung.
Sekitar sepuluh menit berkendara, motor Raka melambat, lalu berhenti tepat di tepi jalan setapak yang dikelilingi pagar tembok setinggi dada orang dewasa yang sebagian catnya sudah mengelupas ditumbuhi lumut hijau. Di balik pagar tembok itu, berdirilah bangunan yang dimaksud: rumah tua peninggalan keluarga almarhum Pak Harun.
Dari luar, bangunan itu tampak besar untuk ukuran pedesaan. Arsitekturnya bergaya era tahun 80-an dengan pilar-pilar kokoh di teras depan, jendela kaca nako yang sebagian kacanya sudah pecah, dan atap genting tanah liat yang tertutup timbunan daun kering serta lumut tebal. Halaman depannya ditumbuhi rumput liar setinggi lutut dan beberapa pohon mangga besar yang membuat suasana sekitar terasa teduh, namun menyimpan kesan sunyi yang cukup pekat.
Raka mematikan mesin motor, lalu menurunkan standar. Mereka bertiga turun dan berdiri di depan gerbang besi berkarat yang tidak terkunci hanya diselot dari dalam dengan rantai kendor.
"Wah..." Bayu bersiul pelan, matanya menatap tajam ke dalam kompleks halaman rumah tua itu. "Dari luar kelihatan angker, tapi kalau dilihat dari sudut pandang ekonomi... ini surga tersembunyi buat pencari besi tua."
"Jangan asal sebut surga, Bay," bisik Dimas sambil melangkah mendekati gerbang, mendorongnya pelan hingga terbuka dengan derit engsel tua yang nyaring. Kreeeet... "Ini namanya lokasi investigasi kelayakan aset."
Raka memimpin jalan masuk lebih dulu. Langkah kaki mereka menginjak hamparan daun kering yang bergemerisik pelan di atas tanah. Begitu menapaki teras depan, aroma khas rumah tua langsung menyeruak campuran antara debu tebal, kayu jati tua yang lembab, dan bau tanah basah setelah semalam dihembus angin malam.
Pintu utama rumah itu tidak terkunci rapat. Daun pintu kayu jati berukuran besar itu terbuka sedikit, hanya menyisakan celah selebar setengah meter yang menampilkan kegelapan samar di ruang tamu bagian dalam.
"Tuh kan, bener kata Bu Rini kemarin," bisik Bayu, mendekatkan wajahnya ke celah pintu sambil menelan ludah. "Pintunya emang tidak dikunci rapat. Padahal kata warga sekitar, kunci aslinya dipegang pihak kelurahan. Jangan-jangan semalam ada makhluk halus yang iseng main dorong-dorongan pintu."
"Sudahlah, Bay, jangan mulai bikin cerita horor pagi-pagi," tukas Raka, meski dalam hatinya dia sendiri juga merasakan bulu kuduknya meremang tipis. "Bisa jadi angin kencang kemarin malam yang bikin selot kendornya lepas. Ayo kita masuk, cek bagian dalam. Kalau ada kusen jendela atau daun pintu kayu jati yang sudah copot, kita angkut separuhnya."
Dengan hati-hati, Raka mendorong daun pintu utama lebih lebar. Cahaya matahari pagi langsung menerobos masuk, menyinari ruangan tamu yang luas namun berdebu tebal. Perabotan lama seperti sofa usang berbalut kain bludru yang sudah robek, meja kayu besar yang dipenuhi sarang laba-laba, serta lemari bufet kaca kosong tampak tersusun bisu di dalam ruangan.
Mereka bertiga berpencar pelan-pelan. Bayu memeriksa sudut ruangan dekat jendela depan, Dimas mengamati bagian dinding yang catnya mengelupas, sedangkan Raka melangkah lebih ke dalam, menuju lorong gelap yang menghubungkan ruang tamu dengan bagian belakang rumah.
"Hei, ke sini sebentar!" panggil Raka dengan suara tertahan dari ujung lorong.
Bayu dan Dimas langsung bergegas menyusul. Begitu mereka tiba di dekat Raka, mata mereka menangkap sebuah ruangan agak luas di bagian tengah rumah semacam ruang keluarga atau ruang baca tertutup yang memiliki jendela besar menghadap kebun belakang.
Di tengah ruangan itu, tidak ada barang mewah. Hanya ada sebuah meja kayu tua berukuran sedang dan beberapa tumpukan buku bersampul tebal yang sudah berdebu di lantai.
Namun, bukan tumpukan buku itu yang membuat Raka berhenti mendadak.
Di dekat meja tersebut, udara di dalam ruangan mendadak terasa berbeda. Suhunya turun beberapa derajat dalam hitungan detik, membuat napas mereka bertiga mengepul tipis. Belum sempat Raka memperingatkan kedua temannya, sebuah suara gemerincing halus terdengar berdenging di udara, disusul hembusan angin aneh yang membawa bau wangi melati bercampur aroma dupa lembut, mengusir bau debu tua di ruangan itu secara misterius.
Bayu terpekik tertahan, refleks mencengkeram lengan Dimas erat-erat sambil memundurkan langkahnya. "Woi! Kamu cium bau itu nggak?! Perasaan tadi kita masuk baunya debu lapuk, kok mendadak jadi wangi kembang tujuh rupa?!"
Dimas tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam ke arah sudut ruangan dekat meja kayu, di mana partikel-partikel debu di udara mendadak berputar-putar pelan membentuk pusaran kecil yang berkilau keperakan.
Raka berdiri paling depan, menahan napasnya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang bukan lagi karena memikirkan cicilan uang kos atau ancaman Bu Ratna, melainkan karena instingnya memperingatkan bahwa apa pun yang sedang terjadi di depan mereka saat ini sama sekali bukan urusan dunia manusia.