Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Es
Aris menghantamkan seluruh berat tubuhnya ke kisi-kisi besi ventilasi, lalu melompat turun langsung di belakang brankas dinding beton. Wali Kota Marunda menjatuhkan berkas sertifikat yang hendak dimasukkannya ke dalam mesin penghancur kertas.
Dia berbalik dengan wajah pucat, matanya menatap Aris yang sudah berdiri dalam posisi siap tembak. "Angkat tangan Anda, Tuan Wali Kota!" gertak Aris. Moncong pistol revolver kaliber di tangan kanannya terkunci tepat di antara kedua mata sang orang nomor satu di Marunda itu.
"Sandiwara anggaran dan suap berdarah Anda sejak tahun 1959 resmi berakhir malam ini."Drs. Mulya yang terbaring sekarat di atas meja stainless steel hanya bisa mengerang lirih, memandangi sang detektif dengan tatapan pasrah.
Wali Kota perlahan mengangkat kedua tangannya, namun seringai licik tiba-tiba muncul di bibirnya. "Kau pikir kau bisa menahanku begitu saja, Aris? Tanpa catatan suap di dalam brankas ini, kau hanyalah seorang detektif pembangkang yang masuk tanpa izin ke properti pribadi."
"Catatan itu tidak akan ke mana-mana," sahut Aris. Tangan kirinya meraba saku jaket kulit cokelatnya, mengeluarkan kunci tua Kamar 204 yang ternyata memiliki pola gerigi ganda yang persis sama dengan lubang kunci brankas besi peninggalan keluarga Hadiningrat di dinding tersebut.
Ir. Anwar bukan hanya menyimpan kunci kamar hotel, melainkan kunci akses tunggal menuju hulu ledak seluruh korporasi hitam kota. Melihat kunci itu berada di tangan Aris, runtuhlah sisa-sisa keberanian Wali Kota.
Namun, tepat ketika Aris hendak melangkah maju untuk memborgolnya, suara klik dari pintu baja tebal ruang pendingin.
Seseorang di luar sana baru saja memutar tuas pengunci dari luar, bersiap mengunci mereka bertiga hidup-hidup di dalam ruangan beku dengan suhu yang terus menurun drastis.
Aris mengabaikan pintu baja di belakangnya. Dia tahu pintu itu terlalu tebal untuk ditembus peluru kaliber, dalam hitungan detik.
Taruhannya sekarang adalah waktu dan bukti. Dengan gerakan taktis, dia menancapkan kunci kuningan tua bermata ganda itu ke lubang kunci brankas keluarga Hadiningrat. KREEK. Pola geriginya cocok sempurna.
Pintu tebal brankas itu terbuka, Di dalamnya, tersusun rapi tiga bundel catatan kas suap 1959 asli bersama rekaman pita kaset audio magnetik hitam era 80-an yang diberi label rahasia: Dana Taktis Balai Kota.
"Jangan sentuh itu!" teriak Wali Kota, mencoba menerjang maju demi merebut dokumen tersebut. DOR! Aris melepaskan satu tembakan ke arah lantai tepat di depan kaki Wali Kota.
Percikan api dan serpihan semen membuat orang nomor satu di Marunda itu melompat mundur ketakutan, kembali mengangkat tangannya.
Aris mengambil seluruh berkas berharga itu dan menyembunyikannya di balik jaket kulit cokelatnya yang tebal. BUM! Suara pintu baja di belakang mereka berdentum keras.
Tuas pengunci eksternal berputar dari luar. Detik berikutnya, suara dengung mesin kompresor pendingin di langit-langit berputar dua kali lebih kencang.
Uap putih pekat yang sangat dingin mulai menyembur keluar dari pipa-pipa besi, menurunkan suhu ruangan secara drastis menuju minus lima belas derajat. Drs. Mulya yang sekarat di atas meja stainless steel mulai kejang-kejang, tubuhnya membiru dengan cepat akibat hipotermia ekstrem.
Wali Kota sendiri mulai gemetar, memeluk tubuhnya sendiri sambil merosot di sudut dinding. Aris memijat pelipisnya yang terluka. Hawa dingin yang menusuk tulang mulai memperlambat gerak motorik jarinya.
Senter National besi penyok di tangannya berkedip redup. Dia terjebak di dalam peti mati es bersama dua arsitek Makar di Balai Kota Marunda. Pilihan untuk bertahan hidup kini semakin menyempit sebelum paru-parunya membeku total.