Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : MUAL DI PAGI HARI
Huek.
Huek.
Perut Bintang terasa melilit sakit. Air liurnya terasa sangat pahit dan asam bercampur sungguh tak enak.
Ibu Bintang yang mendengar langsung bangun dan menyalakan lampu.
"Bintang? Kamu kenapa, Nduk? Mual?"
Bintang memegang perutnya. Keringat dingin keluar.
"Perutku sakit sekali, Bu... melilit, perih banget... asam juga rasa mulutku"
Pak Hardiman ikut terbangun, panik lihat anaknya muntah-muntah di kamar mandi tapi tidak ada yang keluar, hanya air liur pahit.
"Kamu ada telat haid berapa hari, Nduk?" Tanya Ibu Bintang dengan mata berbinar, berharap.
Bintang menggeleng lemah. "Gak tau, Bu. Aku gak ngitung. Tapi perutku perih..."
Pak Hardiman yang lebih realistis langsung ambil HP.
"Jangan mikir hamil dulu, Bu. Mungkin dia Stres. Telepon Angkasa sekarang."
Jam 5 pagi, HP Angkasa berdering. Nama: Ayah Mertua.
Angkasa yang memang tidak tidur semalaman langsung angkat.
"Halo, Yah? Bintang? Bintang kenapa?" Angkasa sudah bisa menebak, ayah mertuanya menelponnya pasti karena Bintang.
"Bintang mual-mual dari subuh, Sa. Perutnya perih. Kayaknya maag akutnya kumat. Kamu bisa kesini sekarang?"
Tanpa mandi, tanpa ganti baju, Angkasa langsung ngebut dari rumahnya ke Laweyan. Di jalan, otaknya kemana-mana.
"Mual? maag, sejak kapan Bintang punya penyakit itu. Atau dia telat haid? Bukankah susunan plastik pembalut masih rapi dan penuh saja di toilet. Jangan-jangan... jangan-jangan Bintang hamil?" Begitu monolog Angkasa.
Dua Setengah jam kemudian, Angkasa sampai dengan napas ngos-ngosan. Langsung masuk kamar. Bintang pucat, terbaring lemas di pangkuan Ibunya.
"Tang..."
Bintang hanya melirik, masih ngambek, tapi perutnya lebih sakit dari ngambeknya. Sehingga pasrah saja Angkasa akan menggendongnya ke mobil. Tetapi di tahan ibuny. Agar Bintang berganti pakaian terlebih dahulu sebelum pergi.
Pak Hardiman menarik tangan Angkasa keluar kamar.
"Sa, sini dulu."
Di ruang tengah, Pak Hardiman duduk berhadapan dengan Angkasa.
"Sa, Ayah gak mau ikut campur rumah tangga kalian. Tapi Ayah mau tanya. Bintang bilang kamu bohong soal warung bakmi itu?"
Angkasa menunduk. "Iya, Yah. Maaf."
"Kenapa bohong? Kenapa gak jujur aja sama istri?"
Angkasa diam lama. Lalu cerita pelan, tentang amanah Samudra, tentang Damar yang manggil dia Ayah Angit karena rindu sosok Ayah.
Pak Hardiman menghela napas panjang.
"Sa, niat kamu baik. Ayah paham. Tapi caramu salah. Kamu pikir dengan bohong kamu jaga perasaan Bintang? Justru kamu bikin Bintang stres sampai sakit begini. Lihat anak Ayah muntah-muntah karena mikirin kamu terus."
Angkasa semakin menunduk.
"Perempuan itu, Sa, kalau belum dikasih anak, hatinya sensitif. Dia lihat kamu jadi Ayah buat anak orang lain, ya jelas dia hancur. Harusnya kamu ajak dia, bukan kamu tinggalin dia tidur terus kamu pergi sendiri."
"Iya, Yah... aku salah..."
"Anter Bintang ke klinik sekarang. Setelah itu, bawa pulang istrimu. Selesaikan di rumah kalian, bukan di rumah Ayah. Ayah kasih dia ke kamu bukan untuk dibikin sakati. Tapi kembalikan saja pada ayah, kalau sudah tidak bisa membahagiakannya." Cukup keras kata-kata Hardiman pada Angkasa pagi itu.
Angkasa mengangguk, matanya merah.
Di dalam, Bintang sudah agak mendingan setelah minum air hangat. Angkasa masuk, berjongkok di depan Bintang, tanpa malu di depan mertuanya, ia genggam tangan Bintang.
"Tang, maaf. Aku salah. Ayo kita ke klinik dulu ya. Abis itu kita pulang. Kita ngobrol di rumah."
Bintang mau menolak, tapi Ibu Bintang mengelus punggungnya.
"Pulang ya, Nduk. Ibumu juga gak tega liat kamu sakit di sini. Periksa dan berobat yang benar."
Akhirnya Bintang mengangguk pelan.
Angkasa menggendong Bintang pelan ke mobil. Pak Hardiman dan istrinya hanya mengantar sampai teras, berdoa semoga kali ini mereka benar-benar hadapi, bukan kabur lagi.
Bersambung
Oke readers... Gimana? Hamil gak
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......