"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Langkah Pertama di Taman Belakang
Matahari sore yang mulai meredup menyebarkan warna jingga keemasan di atas rerumputan hijau taman belakang kediaman Dewangga. Udara tidak lagi sebersih di kampung halaman Nayara, namun angin sepoi-sepoi yang berembus di antara pepohonan palem cukup memberikan ketenangan.
Di salah satu sudut taman yang dekat dengan kolam ikan, Naya sedang duduk bersimpuh di atas matras anyaman kecil. Blus tunik pastelnya sengaja digulung hingga ke siku, dan celana kain hitamnya sedikit kotor oleh remahan tanah humus. Di sebelahnya, Kenzie duduk dengan semangat yang meluap-luap. Bocah itu mengenakan apron kain kecil bermotif dinosaurus, lengkap dengan sekop plastik merah di tangan kanannya.
Sejak badai demam tinggi beberapa hari lalu, Naya menyadari Kenzie menjadi lebih penakut dan enggan keluar rumah. Untuk mengalihkan trauma psikologis bocah itu dari jarum suntik dan obat-obatan, Naya memutuskan untuk mengambil kendali penuh atas aktivitas sorenya—menjauhkannya dari gawai dan bimbingan belajar yang kaku.
"Nah, sekarang Kenzie buat lubang kecil di dalam pot ini pelan-pelan ya. Pakai sekopnya," tuntun Naya lembut, suaranya mengalun tenang, menyatu dengan gemericik air kolam.
"Satu lubang saja, Mama?" tanya Kenzie, mendongak dengan wajah yang sudah tercoreng sedikit tanah hitam di pipi kanannya.
"Iya, satu saja yang dalam. Biar rumah untuk benih bunganya nyaman," jawab Naya dengan senyuman tulus.
Kenzie mulai menggali dengan antusias. Ketika jemari kecilnya menyentuh tanah yang basah, ia sempat berjengit ragu. "Mama, tanganku kotor. Nanti Oma marah tidak?"
Naya terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang sangat renyah dan menenangkan. Ia meraih tangan Kenzie, membiarkan jemarinya sendiri ikut terlumuri tanah.
"Tidak akan, Sayang. Kotor karena belajar mencintai tanaman itu hal yang baik. Nanti setelah selesai, kita bisa cuci tangan bersama sampai bersih. Menanam itu seperti merawat kehidupan, Kenzie. Kita harus menyentuhnya dengan tulus," ucap Naya dengan pembawaan tenang yang menghanyutkan, menanamkan nilai-nilai hidup sederhana di balik kemegahan tembok Dewangga.
Kenzie mengangguk paham, ketakutannya menguap digantikan rasa bangga. Ia memasukkan beberapa benih bunga matahari ke dalam lubang tanah, lalu menutupnya kembali dengan sangat hati-hati seperti sedang menyelimuti bayi.
***
Di lantai dua, pintu kaca balkon ruang kerja terbuka. Arka melangkah keluar setelah menyelesaikan panggilan konferensi internasional yang menguras pikirannya. Ia melonggarkan dasinya, berniat mencari udara segar. Namun, pandangan matanya langsung tertuju pada sudut taman belakang.
Arka bersedekap di pagar pembatas balkon, menatap ke bawah.
Di sana, ia melihat pemandangan yang belum pernah terjadi selama empat tahun Kenzie hidup. Anaknya, yang biasanya selalu dipaksa memakai pakaian bermerek yang bersih dan duduk belajar membaca di dalam ruangan ber-AC bersama pengasuh mahal, kini sedang tertawa lepas dengan tangan yang penuh lumpur tanah.
Dan di samping anaknya, ada Nayara.
Arka menatap lekat-lekat garis wajah Naya dari ketinggian. Angin sore menerbangkan beberapa helai rambut wanita itu yang tidak terikat sempurna. Ada aura keibuan yang sangat kuat, teduh, dan begitu damai terpancar dari diri Naya. Sikap Naya yang kuat dan tegas saat menghadapi Mirna atau Clarissa, sore ini meleleh sempurna menjadi kelembutan murni tanpa batas untuk Kenzie. Kontras itu ... begitu memukau di mata Arka. Dunia bisnisnya yang kaku, penuh intrik, dan selalu menuntut kesempurnaan terasa sangat jauh dan tidak berarti dibandingkan dengan kedamaian di bawah sana.
"Papa! Papa lihat ke bawah!"
Suara lengkingan riang Kenzie memecah lamunan Arka. Bocah itu mendongak, melompat-lompat kecil sambil melambaikan sekop plastiknya ke arah balkon.
"Papa, lihat! Kenzie habis menanam pohon bunga sama Mama!" teriak Kenzie dengan wajah penuh kebanggaan, memamerkan pot kecil di depannya. "Nanti bunganya bisa tumbuh tinggi seperti Papa!"
Arka tersenyum—sebuah senyuman hangat yang murni, yang meluluhkan wajah kakunya. Ia melambaikan tangannya balik. "Hebat, Jagoan. Jangan lupa disiram air!"
Naya ikut mendongak, menatap Arka yang berdiri di balkon atas. Pandangan mata mereka bertemu di udara sore yang hangat. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Naya, ia hanya memberikan sebuah anggukan pelan yang anggun dan senyuman tipis yang sangat tenang menghanyutkan. Tatapan mata bulat Naya yang jernih seolah menyampaikan pesan bahwa anaknya aman di bawah penjagaannya.
Debaran aneh yang sempat Arka sangkal tempo hari di kamar tidur kini kembali mengetuk dadanya dengan lebih keras. Jantungnya berdegup dengan ritme yang janggal. Arka memegang dadanya sendiri, merasa tak berdaya menghadapi pesona sunyi yang dipancarkan oleh istri kontraknya.
"Aku harus turun," gumam Arka pada dirinya sendiri, tidak bisa lagi menahan dorongan kuat di hatinya untuk mendekat pada kehangatan itu.
Arka berjalan cepat menuruni tangga utama, melintasi ruang tengah, dan melangkah keluar menuju taman belakang. Begitu sepatunya menginjak rumput, Kenzie langsung berlari kencang dan menubruk kaki Arka, meninggalkan noda tanah hitam di celana kain mahal milik papanya.
"Papa, lihat tangan Kenzie! Banyak tanahnya!" ucap Kenzie tertawa.
"Iya, Papa lihat," Arka berlutut, mengabaikan celananya yang kotor—hal yang dulu sangat ia hindari. Ia mengusap hidung Kenzie yang juga terkena tanah. "Kamu tidak takut kotor lagi?"
"Tidak! Kata Mama, kotor karena merawat tanaman itu hebat!" sahut Kenzie meniru kalimat Naya dengan polos.
Arka mendongak, menatap Naya yang kini sedang merapikan matras anyaman dengan gerakan yang tenang dan teratur.
"Kamu mengajari anakku hal-hal baru, Naya," ujar Arka, suaranya merendah, kehilangan separuh dari kekakuannya yang biasa. "Dulu, ibuku selalu melarang Kenzie menyentuh apa pun yang ada di luar rumah karena takut kuman."
Naya menegakkan tubuhnya, menatap Arka dengan ketenangan yang menghanyutkan. "Anak kecil butuh menyentuh bumi untuk tahu bagaimana cara tumbuh menjadi manusia yang membumi, Tuan Arka. Jika dia terlalu lama disimpan di dalam kotak kaca yang steril, dia tidak akan pernah siap menghadapi badai di luar sana."
Arka tertegun mendengar filosofi hidup sederhana yang keluar dari bibir Naya. Kalimat itu terasa seperti sindiran halus untuk cara hidup keluarga Dewangga yang kaku, namun Arka tidak bisa membantah kebenarannya.
"Kamu benar," ucap Arka tulus, matanya terkunci pada manik mata jernih Naya. "Terima kasih ... karena sudah memikirkan mental Kenzie lebih dari apa yang bisa aku lakukan sebagai ayahnya."
Naya merasakan getaran kelembutan yang jujur dari suara Arka. Detak jantungnya sendiri sempat berdesir, namun dengan cepat ia menarik benteng pertahanannya kembali. Ia mengingat posisinya.
"Ini sudah bagian dari kesepakatan kita, Mas Arka," balas Naya dengan nada bicara yang kembali dikontrol dengan rapi, sengaja menyisipkan panggilan 'Mas' karena ada beberapa pelayan taman yang mulai memperhatikan mereka dari kejauhan. "Sekarang, saya mau bawa Kenzie masuk untuk mandi."
"Biar aku yang memandikannya sore ini," sela Arka cepat, mengejutkan Naya. "Kamu juga harus membersihkan dirimu, Naya. Pipi dan tunikmu ... penuh dengan tanah."
Bersambung...