NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Array yang Hancur dan Tubuh Tembaga

Bayangan abu-abu melesat di padang rumput luar Kota Awan Merah. Begitu kencang hingga angin sendiri tertinggal di belakangnya.

Lin Xuan baru saja naik ke Tingkat 7. Meridiannya yang baru terbentuk membuat kecepatannya melewati jarak lima ratus mil dari Pegunungan Abu Kematian ke gerbang kota ditempuhnya hanya dalam setengah hari.

Begitu tiba di depan Kediaman Keluarga Lin, penciumannya langsung menangkap ada yang tidak beres. Suasana terlalu tegang. Beberapa penjaga yang seharusnya berpatroli justru berkumpul di timur, arah Halaman Bambu Hijau.

Ia tidak melewati gerbang depan. Melainkan melompati tembok samping setinggi lima meter.

Di Halaman Bambu Hijau, suasana begitu mencekam.

Pintu kayu halaman sudah hancur. Di depan reruntuhannya, terpasang kubah cahaya biru yang meredup, menahan gempuran belasan penjaga.

Itu perisai pelindung yang dibeli Xiao Ya dengan seratus Batu Roh pemberian Lin Xuan.

Di dalam perisai, Xiao Ya meringkuk pucat pasi sambil menggenggam belati karatan di depan dadanya.

Air matanya mengalir deras, namun sorot matanya penuh tekad, kalau perisai itu pecah, ia lebih memilih menghunjamkan belati ke jantungnya sendiri daripada jatuh ke tangan orang-orang di luar.

Orang itu Lin Hao, anak tunggal Penatua Ketiga Lin Hai. Umurnya delapan belas tahun, berada di Kondensasi Qi Tingkat 4. Wajahnya penuh keangkuhan dan nafsu saat menatap Xiao Ya.

"Hancurkan terus! Perisai murahan ini sebentar lagi kehabisan Energi Spiritual nya!" teriak Lin Hao sambil memutar-mutar cambuk berduri di tangannya. "Ngapain kau bela tuan muda cacat yang sudah kabur itu, Xiao Ya?"

"Tuan Muda tidak kabur!" jerit Xiao Ya gemetar. "Kalau beliau keluar, kalian semua akan dihukum!"

"Menghukumku?" Lin Hao tergelak sampai memegangi perutnya. Para penjaga di sekitarnya ikut tertawa mengejek. "Hahahah, Sampah yang sudah putus meridiannya mau menghukumku? Dengar baik-baik, pelayan rendahan. Hari ini ayahku sedang berada di Aula Tetua bersama orang-orang Keluarga Zhao. Mereka akan mengangkat ayahku sebagai Kepala Keluarga Sementara, menggantikan kakek tua yang sekarat di ruang penutupan diri itu!"

Mata Xiao Ya membelalak. "Kalian... berencana memberontak?!"

"Kami hanya mengambil apa yang seharusnya jadi hak kami!" Lin Hao menyeringai buas. "Dan kau... setelah perisai ini pecah, kau akan kuseret ke kamarku. Biar kau menyesal setia pada si cacat itu. Kalau sudah bosan, kulempar kau ke barak penjaga!"

Dua penjaga Tingkat 3 maju. Qi mereka mengalir ke pedang besar, lalu menebas sekuat tenaga ke kubah biru yang mulai berkedip-kedip.

Perisai itu hancur menjadi serpihan cahaya yang lenyap di udara.

Xiao Ya menjerit putus asa. Ia memejamkan matanya, mengangkat belati karatan tinggi-tinggi dan mengarahkannya ke jantungnya sendiri.

Maafkan Xiao Ya, Tuan Muda. Xiao Ya tak bisa menyeduhkan teh lagi untuk Anda...

Sebelum ujung belati menyentuh bajunya, angin panas dahsyat menyapu halaman. Daun-daun bambu di sekitar seketika layu menguning.

Sepasang jari ramping seputih giok menjepit mata belati itu dengan mudah.

Xiao Ya membuka mata sembabnya. Napasnya seketika berhenti.

Di hadapannya berdiri seorang pemuda berjubah abu-abu. Rambut hitamnya berkibar pelan. Punggungnya yang lebar memberi rasa aman, bagai gunung yang tak tergoyahkan badai sekalipun.

"Kau berjanji menjaga tempat ini, Xiao Ya," suara itu tenang namun berwibawa, terdengar lembut di telinganya. "Kenapa kau justru hendak merusak milikku yang paling berharga... nyawamu sendiri?"

"T-Tuan Muda... Anda pulang..." Tangis Xiao Ya pecah.

Di sisi lain, Lin Hao dan belasan penjaganya mundur terkejut.

Namun begitu melihat siapa yang datang, keterkejutan itu berubah jadi tawa yang meremehkan.

"Oh, lihat siapa yang keluar dari lubang tikus. Lin Xuan. Kukira kau sudah mati membusuk. Pas sekali kau muncul. Ayahku menyuruhku mematahkan kedua kakimu dan menyeretmu ke Aula Tetua, biar kau menyaksikan sendiri pelantikannya!"

Lin Xuan melepaskan belati dari genggaman Xiao Ya, lalu perlahan memutar tubuh menghadap Lin Hao.

"Mematahkan kakiku?"

"Ya! Tangkap sampah itu!" perintah Lin Hao.

Kedua penjaga Tingkat 3 itu menyeringai kejam. Mereka melesat maju, mengayunkan pedang besar mengincar kedua lutut Lin Xuan.

Lin Xuan bahkan tak mengelak. Ia berdiri diam, membiarkan dua bilah baja berlapis Qi itu menghantam lututnya.

Benturan logam memekakkan telinga, disusul suara retakan mengerikan.

Bukan darah yang muncrat, bukan pula kaki Lin Xuan yang putus. Kedua pedang baja besar itulah yang hancur berkeping-keping. Pecahannya malah memantul dan melukai wajah kedua penjaga itu sendiri.

"A-apa?!"

Kedua penjaga itu menatap ngeri, tangan mereka gemetar mati rasa akibat pantulan senjata. Lutut Lin Xuan tidak terluka sedikit pun.

"Senjata jelek. Bahkan Qi nya lebih jelek lagi," komentar Lin Xuan dingin.

Sebelum mereka sempat mundur, tangan Lin Xuan bergerak bagai bayangan. Ia mencengkeram leher kedua penjaga besar itu, mengangkat mereka dari tanah.

"A-ampun... Tuan Muda Xuan..." rintih salah satunya, wajahnya membiru kehabisan napas.

"Pengkhianat tidak memiliki hak untuk meminta ampun."

Krak! Krak!

Sekali putaran, leher mereka patah seketika. Ia membuang kedua mayat itu ke tanah seperti membuang sampah.

Seluruh halaman terdiam. Sepuluh penjaga yang tersisa gemetar, bahkan senjata mereka hampir terlepas dari genggaman.

Wajah Lin Hao memucat. Keangkuhannya runtuh seketika. "B-bagaimana mungkin... meridianmu sudah hancur. Bubuk Peluruh Tulang itu..."

Lin Hao tidak bodoh. Ia sadar pemuda di hadapannya bukan lagi sampah yang bisa ditindas seenaknya. Dengan raungan ketakutan, ia mengerahkan seluruh Qi Tingkat 4-nya, berbalik badan, mencoba melarikan diri.

"Lari? Di depanku?"

Lin Xuan mendengus. Ia tak mengejar, hanya menjentikkan jarinya.

Seberkas cahaya biru kehijauan sebesar ujung jarum, secercah Api Teratai Bumi Terdalam melesat dari ujung jarinya. Menembus udara dan langsung menghantam punggung Lin Hao, masuk tepat ke tulang belakangnya.

Lin Hao menjerit dan jatuh ke tanah, berguling-guling menahan rasa sakit yang luar biasa. Api biru itu tak membakar kulitnya, melainkan menyusup ke meridian, membakar habis Qi dan menghancurkan seluruh saluran energinya seketika.

Tiga detik saja. Kultivasi Tingkat 4 yang selama ini dibanggakan Lin Hao musnah tak bersisa. Ia resmi menjadi cacat permanen, merasakan persis apa yang dirasakan tubuh Lin Xuan beberapa waktu lalu.

Lin Xuan berjalan santai menghampiri Lin Hao yang tergeletak sambil memuntahkan busa. Sisa para penjaga langsung berlutut bersujud, tak berani menatap.

Lin Xuan menginjak dada Lin Hao pelan, namun cukup untuk membuat pemuda itu terbatuk darah.

"Kudengar kau mau mematahkan kakiku dan menyeretku ke Aula Tetua?" Lin Xuan tersenyum mematikan. "Kebetulan sekali. Aku memang berniat ke sana. Karena kau sudah repot-repot datang menjemput..."

Ia membungkuk, mencengkeram rambut Lin Hao, lalu menyeret pemuda yang kini tak berdaya itu.

"...biarkan aku yang mengantarmu ke hadapan ayahmu."

Ia menoleh ke belakang, menatap Xiao Ya yang masih terpaku di depan pintu. "Masuklah, Xiao Ya. Kunci dari dalam. Aku hendak membersihkan rumah kita dari hama."

Dengan tubuh Lin Hao yang merintih diseret di tangan kirinya, dan aura pembunuh yang membuat udara di sekitarnya seolah mendidih, sang Kaisar Pil melangkah menuju Aula Tetua.

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!