Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Amarah
Kesegaran meresap ke dalam kulit setelah memanjakan diri dengan berendam di dalam bathtub. Tya memilih menunggu Diaz pulang dengan membaca buku di balkon menghadap pemandangan langit senja tanpa warna jingga. Berada di Jakarta dalam area premium sangat wajib disyukuri mengingat sebagian masyarakat di jam sekarang sedang berlomba berebut tempat di KRL agar bisa segera tiba di rumah.
Takdir hidup memang misteri. Selama ini Tya tak pernah berangan di luar batas nalar. Jika saat bercanda, teman-temannya berangan barangkali tukang mie ayam atau tukang siomay keliling adalah CEO yang sedang menyamar mencari calon istri, angan dan doa Tya hanya ingin bebas dari jeratan rentenir serta punya pekerjaan tetap.
Soal jodoh, santai. Ada Rizky yang ditunggunya sedang menuntut ilmu di Turki—yang berpesan 'Tunggu aku kembali'.
Ah, omong-omong soal Rizky. Kemarin Susan mengirim pesan jika ada titipan oleh-oleh dari Rizky yang diperkuat dengan foto. Tya menghela napas. Mengalihkan fokus membaca menjadi mengingat sosok laki-laki yang tampak kecewa saat terakhir kebersamaan di Bandung dengan duduk bersama di kafe.
Ky, jodoh beneran misteri ilahi. Tidak tahu kapan dia datang, siapa orangnya, bagaimana cara bertemunya. Semoga kau bertemu pendamping hidup yang baik dan setia. Sungguh aku pengen kau bahagia.
Suara ramai tawa samar terdengar ke telinga Tya. Berasal dari lantai satu di mana sang mertua sedang menerima tiga orang tamu yang merupakan teman-teman beliau. Tadi sempat bergabung menerima tamu. Tetapi tak lama kemudian berbisik pada mertuanya itu meminta izin ke kamar untuk mandi. Alasan utama adalah memberi keleluasaan pada mereka yang terlihat rindu dengan Ibu Suri.
Apa kabar Ayah Hilman ya. Udah lihat videonya belum ya.
Tiba-tiba saja alam pikiran Tya beralih disinggahi kelebat wajah Hilman Kavian. Membuat kegiatan membaca buku tema psikologi tak berlanjut lagi. Mengira-ngira. Jika tadi siang video sudah dikirim orang suruhannya Ibu, harusnya ayah mertua sudah lihat karena sudah berlalu 4 jam. Tetapi bagi seseorang yang sibuk, bisa saja jika pesan yang dikirim lewat aplikasi Whatsapp itu memang belum dibuka.
"Yang! Dimana?"
Tya menoleh sambil beranjak berdiri begitu mendengar suara Diaz. "Di balkon, Bey."
Sebelum langkah kaki melewati pintu yang terbuka lebar, lebih dulu Diaz muncul dan memeluknya. Tya mendongak dan memberi ciuman di kedua pipi dan bibir. Sudah menjadi aturan tak tertulis yang diinginkan suaminya itu setiap kali melepas pergi dan menyambut pulang. Tentunya situasional dan kondisional.
"Tamunya Ibu masih ada, Bey?"
"Ada. Tante-tante centil." Diaz masih mengunci pinggang Tya dengan belitan kedua tangannya. Setiap jam kantor selesai, yang ingin dilakukannya adalah bersegera pulang ke rumah untuk memeluk istrinya.
"Centil dari mananya. Tadi aku kenalan, mereka pada anggun."
"Khusus kalau ketemu aku, keanggunan mereka hilang berubah centil kadang genit kalau ngajak foto bersama. Actually, mereka baik kok. Ibu selektif dalam bergaul."
Tya manggut-manggut. Lalu mengikuti ajakan Diaz pergi ke kamar. Pertanyaan tentang Ayah Hilman sudah bercokol di tenggorokan. Namun, Diaz sepertinya masih lelah. Begitu membuka kemeja menyisakan kaos dalam, suaminya itu menjatuhkan punggung di sofa. Rebah dalam posisi terlentang sambil memejamkan mata.
"Abey mau minum?"
"Nanti aja. Sini, Yang." Diaz menggeser badan memepet ke sandaran sofa. Memberi ruang untuk Tya duduk.
"Ibu kan udah lempar bom pertama ya tadi siang. Aku mau tepati janji ngasih lihat video. Mau lihat sekarang?"
"Uh, suamiku cenayang. Emang aku kepo tapi tahan mulut dulu karena Abey baru pulang. Pasti capek. Karena ditawarin, mau banget lihat sekarang. Mana....mana."
"Tidak gratis. Cium dulu." Diaz memajukan bibirnya.
"Ck ck." Tya geleng-geleng kepala. Tak urung menuruti keinginan Diaz. Bunyi kecapan terdengar saat dua bibir menyatu saling memagut. Baru berhenti setelah kehabisan pasokan oksigen.
Diaz bangun. Dalam posisi duduk menyerahkan ponsel miliknya yang telah dibuka. "Ini adegan plus-plus tiga orang durjana. Semoga kuat lihatnya. Tapi kalau Ayang pengen muntah, skip aja ya."
"Muntah? kesannya menjijikan dong, Bey." Tya sudah memegang ponsel Diaz tapi masih ingin mendengar penjelasan tambahan.
"Lihat aja sendiri." Diaz memeluk Tya dari belakang sambil menyandarkan dagu di bahunya. Tidak akan ikut menonton. Hanya ingin mencari kenyamanan sambil menghirup wangi lembut tubuh sang istri.
***
Hilman paling malas membuka pesan dari nomer yang tidak dikenal. Karena dominan chat spam yang bisa mengarah pada penipuan. Maka begitu tadi selesai meeting siang, ia melewatkan membuka pesan dari nomor asing. Tenggelam di antara pesan masuk yang lain. Waktunya bersiap pulang ke rumah Selly setelah mengisi perut di restoran favoritnya ditemani Yandi, sang asisten.
"Pak, besok pagi meeting dengan Pak Martin. Sebaiknya tidak ke kantor dulu, saya yang akan ke rumah Bapak. Biar tidak terlambat ke hotelnya. Pak Martin minta on time. Dia mau lanjut flight ke Kuala Lumpur," jelas Yandi sebelum berdiri dari kursinya.
"Oke. Gitu lebih baik." Masih ada sisa cocktail di gelasnya yang kemudian Hilman teguk lagi sampai tandas.
"Saya jemput ke mana, Pak? Rumah Bu Suri ya."
"Selly. Ke rumah Selly."
"Ah, maaf. Lupa." Yandi meringis. Padahal tahu kalau sang bos sudah bercerai. Ia dan pengacara yang paling direpotkan karena Hilman sebenarnya tidak ingin cerai. Tetapi tuntutan dan bukti yang dilemparkan pengacara Suri serta tanda tangan kesepakatan cerai membuat gugatan cerai dikabulkan.
"Katanya Pak Martin akan kirim video lahan yang mau dibuat pabrik. Apa sudah ada, Pak? Katanya mau langsung dikirim ke Bapak."
"Tadi siang ada nomor tak dikenal. Aku belum buka. Itu kali ya." Hilman buru-buru membuka ponselnya yang tergeletak di samping gelas. Telunjuk menggulir mencari chat yang tengggelam. Ketemu.
"Tapi Pak Martin baru konfirmasi tadi jam empat. Bukan siang. Mungkin itu chat dari orang lain." Yandi memperhatikan wajah Hilman yang menatap layar dengan mata melotot. Tak menanggapi lagi ucapannya.
Dia lihat apa? Kayak kaget gitu.
Dada Hilman naik turun dengan cepat dengan wajah memerah serta tangan kiri mengepal kuat. Yandi sigap menghampiri. Khawatir kesehatan sang bos terganggu. "Pak, apa yang sakit."
"Kurang ajar! Berani-beraninya main di belakang." Geram Hilman yang kemudian menggebrak meja. Sontak semua mata yang berada di dalam restoran tertuju ke arahnya.
"Maaf." Yandi mewakili meminta maaf dengan menangkup kedua tangan di dada. "Pak, sebaiknya kita keluar." Keputusannya itu setelah matanya menangkap video yang tampil di layar milik Hilman saat tak sengaja tersentuh kelingkingnya. Paham penyebab kemarahan sang bos.
Hilman meminta Yandi menemaninya pulang. Ia tak bisa jika hanya berdua dengan sopir. Kepalanya sedang menggelegak. Ingin meledak.
"Pak, tahan amarah. Ingat, Bapak pernah hipertensi tinggi. Tenangkan diri dulu, Pak." Tegas Yandi. Ia sampai menepuk-nepuk bahu Hilman agar kesadaran dan akal sehat bosnya itu kembali mendominasi.
Sehat selalu 🤲🏻
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁