NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Anak Kecil Bermata Hitam

Jam 18:14.

Aku baru selesai mandi dengan air kendi. Di teras rumah panggung kakek, 15 rantang aluminium yang tadi pagi aku bagikan ke 15 rumah warga sudah berjejer rapi. Semua kosong, bersih, dicuci sampai mengkilap. Di atas setiap tutup rantang ada daun pisang yang dilipat, di dalamnya ada tulisan arang yang sama:

"TERIMA KASIH, NAK ARGA. BERTAHANLAH. JANGAN BUKA PINTU UNTUK KAMI MALAM INI."

Tulisannya gemetar. Tulisan orang tua yang ketakutan.

Aku ingat pesan Kiai Jirji, keluarga Jin Islam penjaga rumahku. Pagi tadi dia bilang, "Tuan, malam kedua adalah malam Anak-Anak. Mereka akan pakai wajah yang paling Tuan kasihan." Aku masuk ke dalam rumah, keluarga Kiai Jirji sudah siaga. Kiai Jirji di sudut utara, istrinya di selatan, tiga anaknya di timur dan barat. Mereka menempelkan telapak tangan bercahaya ke dinding kayu. Seluruh rumah dilapisi jaring cahaya putih tipis seperti kelambu.

"Tuan Arga, tutup semua jendela. Tutup celah lantai dengan kain. Jangan sisakan lubang sekecil apapun," perintah Kiai Jirji.

Aku pun lakukan, aku tutup jendela depan, jendela dapur, jendela kamar yang kemarin jebol. Aku sumbat kolong pintu dengan kain sarung kakek.

Jam dinding menunjukkan 18:33.

Azan Maghrib dari jauh tidak terdengar karena dusun ini memang tidak punya toa. Yang ada hanya hening yang memekakkan telinga. Hening yang aku sudah kenal tiga hari ini, hening tanda Jin Kafir sudah keluar dari Alas Purwo.

Lalu...

"TOK... TOK... TOK..."

Ketukan pertama.

Pelan. Sangat pelan. Dari pintu depan.

Aku dan Kiai Jirji saling pandang.

"Pak Arga... Pak Arga..."ucap suara dari luar.

Suara anak perempuan. Umur sekitar 5 tahun. Suaranya serak karena menangis lama.

"Pak Arga, ini Sinta... cucunya Pak Min..."ucap Sinta.

Sinta? Aku ingat, Pak Min pernah cerita punya cucu perempuan umur 5 tahun yang hilang di sungai dua bulan lalu. Mayatnya tidak pernah ketemu.

Aku hampir buka mulut untuk menjawab, tapi istri Kiai Jirji langsung menutup mulutku dengan tangannya yang bercahaya dan dingin.

"Jangan jawab, Tuan! Jangan sebut namanya! Kalau Tuan jawab, dia dapat izin masuk! ucap istri Kiai Jirji

Ketukan itu berubah jadi gedoran pelan.

"Pak Arga, dingin... di luar hujan... bukain pintu, Pak..."teriak suara tersebut.

Aku mengintip dari celah jendela yang sengaja aku sisakan sedikit.

Di teras, berdiri seorang anak perempuan kecil. Memakai baju daster dan baju dasternya bunga-bunga kuning, sama seperti baju yang dipakai cucu Pak Min di foto yang pernah aku lihat di rumah Pak Min. Rambutnya basah kuyup, menempel di pipi pucatnya. Dia memeluk boneka kayu kecil, boneka yang sama seperti bonekaku.

Dia menunduk. Aku tidak bisa lihat matanya.

Tanganku gatal ingin membuka pintu. Ini anak kecil kedinginan, pikirku. Kemanusiaanku memberontak.

Tapi Kiai Jirji berbisik keras, "LIHAT MATANYA, TUAN! PAKSA DIA LIHAT KE ATAS!"

Aku teriak dari dalam, dengan suara gemetar, "Coba lihat sini! Lihat saya! ucapku.

Anak itu pelan-pelan mendongak.

Dan dunia berhenti.

Matanya.

Bukan mata manusia.

Hitam. Hitam semua. Tidak ada putih, hanya bola hitam pekat mengkilap seperti kelereng hitam yang sangat besar, dan di dalam bola hitam itu aku bisa melihat pantulan wajahku sendiri yang pucat, ketakutan.

Dari mata hitam itu, menetes air hitam berbau anyir, sama seperti jejak kaki basah yang aku temukan.

Dia tersenyum. Senyumnya bukan senyum anak 5 tahun. Bibirnya robek sampai ke telinga, menunjukkan barisan gigi runcing kecil seperti gigi ikan.

"KETAHUAN YA, KAK ARGA..."ucapnya.

Dia tidak mengetuk lagi. Dia menggaruk pintu dengan kuku-kuku hitam panjangnya. "KREEK... KREEK... KREEK..."

Dan bersamaan dengan itu, dari seluruh penjuru rumah, terdengar ketukan.

"TOK... TOK... TOK TOK TOK TOK"

Bukan satu. tapi banyak. Dari bawah kolong rumah, dari atap seng, dari jendela dapur, dari dinding belakang.

Aku lari ke jendela samping dan mengintip.

Ya Allah.

Halamanku yang tadi kosong, sekarang penuh dengan anak-anak.

Ada sekitar 20 anak. Semua umur 3 sampai 8 tahun. Semua memakai baju sobek-sobek, pucat kebiruan seperti mayat yang lama di dalam air. Rambut mereka basah. Kaki mereka tidak memakai sandal, penuh lumpur hitam.

Dan semua mata mereka HITAM. Semua hitam pekat.

Mereka semua membawa sesuatu. Ada yang bawa rantang kosong, ada yang bawa piring, ada yang bawa boneka kayu, ada yang hanya membawa tangan kosong yang berlumuran lumpur.

Mereka semua mengetuk rumahku bersamaan sambil memanggil.

"Kak Arga, main yuk..."

"Kak Arga, temenin aku..."

"Kak Arga, aku kesepian di Alas..."

Itu bukan manusia. Itu Anak-Anak Alas. Arwah anak-anak yang hilang di Alas Purwo, yang jiwanya diambil Banaspati, Raja Jin Kafir, dan di jadikan prajurit kecilnya. Mereka mencari pengganti. Mereka butuh 1 anak penjaga agar mereka bisa bebas.

Kiai Jirji dan keluarganya membaca Ayat Kursi bersamaan. Suara mereka bergema. Jaring cahaya putih di dinding rumah jadi terang sekali.

Anak-anak di luar menjerit kesakitan saat mendengar ayat itu. Jeritan mereka melengking, bukan jeritan anak-anak, tapi jeritan ribuan kelelawar.

Mereka mundur dua meter dari rumah. Tapi tidak pergi. Mereka duduk. Duduk melingkar di halaman yang becek, dua puluh pasang mata hitam itu tetap menatap ke jendela tempatku mengintip. Diam, Menunggu.

Anak perempuan yang mengaku Sinta itu duduk paling depan, di depan pintu persis, sambil memeluk boneka kayunya dan terus meneteskan air hitam dari matanya.

Kiai Jirji berbisik, tubuhnya sudah sangat lelah, cahayanya berkedip-kedip mau padam.

"Tuan... mereka akan begitu sampai subuh... jangan buka pintu... jangan kasihani... sekali Tuan buka karena kasihan, Tuan akan jadi yang ke-21... mata Tuan akan jadi hitam... dan Tuan akan ikut duduk di halaman rumah penjaga baru selanjutnya... selamanya..."ucap Kiai Jirji.

Aku duduk di tengah rumah, bersandar di tiang tengah, dikelilingi keluarga Jin Islam yang melindungi ku, mendengarkan dua puluh anak kecil bermata hitam menangis dan tertawa di halaman rumahku semalaman.

Tangisan mereka yang paling menyedihkan terdengar jam 02:00 dini hari:

"Kak... kangen ibu..."

Mereka juga korban. Tapi mereka sudah bukan manusia lagi.

Dan malam itu aku mengerti, di Kampung Jin ini, rasa kasihan bisa membunuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!