Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Suara deru mesin mobil Nessa yang menjauh meninggalkan pekarangan rumah seolah menjadi peluit tanda dimulainya sebuah ujian berat bagi kewarasan Naya.
Di dalam kamarnya, Naya berdiri mematung di depan cermin. Ia telah melepaskan kaus abu-abu kebesaran milik Kafka dengan sangat enggan, lalu menggantinya dengan sweter rajut tipis berwarna krem dan celana kulot berbahan katun yang nyaman. Ia mengikat rambut panjangnya menjadi cepol longgar, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya. Naya menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan debar jantungnya yang belum juga kembali normal sejak insiden di dapur tadi pagi.
"Santai, Naya. Dia cuma mau masak pasta. Lo tinggal duduk, makan, lalu kabur lagi ke kamar. Gampang," gumam Naya menyemangati dirinya sendiri.
Namun, realita sering kali tidak semudah teori yang diucapkan di depan cermin.
Begitu Naya menuruni tangga dan melangkah ke area dapur bersih, aroma tumisan bawang putih dan minyak zaitun yang gurih langsung menyambut indera penciumannya, berpadu dengan wangi cedarwood dan mint yang menguar dari sang koki dadakan.
Kafka sedang berdiri membelakangi tangga, menghadap ke arah kompor di island table. Pria itu telah mengganti kaus olahraganya yang basah oleh keringat dengan kaus hitam bersih berlengan pendek yang pas di badan. Ia sedang mengaduk sesuatu di dalam wajan datar dengan sebelah tangan, sementara tangan kirinya memegang penjepit untuk mengecek tingkat kematangan pasta di panci sebelahnya. Gerakannya begitu luwes dan maskulin, sebuah pemandangan domestik yang anehnya terlihat sangat mengintimidasi sekaligus memabukkan.
"Butuh bantuan, Chef?" sapa Naya, mencoba terdengar sesantai mungkin saat ia mendekati meja dapur.
Kafka menoleh dari balik bahunya. Senyum tipis yang hangat langsung menghiasi wajah tampannya. "Tumben Kak Naya menawarkan diri. Biasanya paling anti masuk dapur kalau Kak Nessa sedang masak."
Naya mencibir pelan, menarik sebuah talenan bersih dan mengambil pisau dapur. "Kakakmu itu kalau masak lebih mirip orang mau perang, Kaf. Dapur bisa hancur lebur. Lagian, aku nggak enak kalau cuma duduk nunggu makanan matang. Aku bisa bantu apa?"
Kafka mematikan kompor di bawah panci rebusan pasta, lalu menunjuk ke arah seikat peterseli segar dan beberapa siung bawang putih di atas meja. "Cincang peterseli dan bawang putihnya. Agak halus, tapi jangan sampai hancur. Untuk garnish dan tambahan aroma di akhir nanti."
"Siap, laksanakan," Naya mengangguk mantap. Ia mulai memisahkan daun peterseli dari batangnya, lalu mulai mengirisnya dengan hati-hati.
Keheningan yang damai turun menyelimuti mereka, hanya diselingi oleh suara desis pelan dari wajan Kafka dan bunyi ketukan ritmis dari pisau Naya di atas talenan. Sesekali, Naya mencuri pandang ke arah Kafka. Pria itu tampak sangat fokus. Garis rahangnya mengeras, bulu matanya yang lentik menunduk menatap masakannya. Ada sesuatu yang sangat seksi dari seorang pria yang tahu persis apa yang ia lakukan di dapur.
Saking asyiknya mencuri pandang, Naya tidak menyadari bahwa jari telunjuk kirinya bergeser terlalu dekat dengan mata pisau.
"Awas, Kak."
Suara berat Kafka terdengar tepat bersamaan dengan pergerakan cepat pria itu. Sebelum Naya menyadari kesalahannya, Kafka sudah berdiri tepat di belakangnya. Pria itu mengulurkan tangan kanannya, menutupi punggung tangan Naya yang memegang pisau, sementara tangan kirinya menahan pinggang Naya agar tidak terkejut dan mundur.
Gerakan Kafka menghentikan pisau itu hanya satu milimeter dari kulit jari Naya.
Napas Naya tertahan di kerongkongan. Punggungnya kini menempel sempurna pada dada bidang Kafka yang terasa sekeras batu. Hawa panas dari tubuh pria itu meresap menembus sweter rajut Naya, menciptakan gelombang kejut yang membuat seluruh saraf di tubuh Naya meremang.
"Kalau Kakak memotongnya sambil melihat ke arahku, jari Kakak bisa ikut terpotong," bisik Kafka. Suaranya terdengar sangat dekat, bergetar tepat di telinga kiri Naya, menyapu tengkuknya yang terbuka.
"A-aku nggak ngelihatin kamu," Naya mencoba membela diri, suaranya bergetar hebat. Ia merutuki kegugupannya sendiri yang membuatnya terdengar seperti remaja yang tertangkap basah sedang menyontek.
Kafka terkekeh pelan. Getaran tawanya terasa di punggung Naya. Pria itu tidak melepaskan tangannya dari tangan Naya. Alih-alih menjauh, Kafka justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mengurung Naya sepenuhnya di antara tubuhnya dan pinggiran meja dapur.
"Pegangan pisaumu salah, Kak. Kalau seperti ini, tenaganya bertumpu pada pergelangan, bukan pada pisau. Dan jari kirimu harus ditekuk ke dalam seperti cakar, supaya mata pisau tertahan di buku jari, bukan di ujung jarimu," jelas Kafka dengan nada seorang mentor, namun dengan posisi yang sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut.
Tangan besar Kafka yang kasar namun hangat memperbaiki genggaman Naya pada gagang pisau. Jari-jari panjang pria itu menyelip di antara jemari Naya, memandu tangannya untuk bergerak naik turun dengan ritme yang benar.
Tuk. Tuk. Tuk.
Bawang putih itu tercincang sempurna. Namun Naya sama sekali tidak peduli pada bawang sialan itu. Seluruh fokusnya tersita pada debar jantungnya yang berpacu gila-gilaan, pada aroma mint dan cedarwood yang menginvasi paru-parunya, dan pada embusan napas Kafka di lehernya. Otaknya sama sekali tidak bisa memproses instruksi memasak apa pun saat punggungnya bergesekan pelan dengan dada Kafka seiring dengan gerakan tangan mereka.
"Lihat? Lebih mudah, kan?" Kafka berbisik lagi, nada suaranya turun satu oktaf menjadi geraman rendah yang sangat mematikan.
"I-iya..." Naya menelan ludah dengan susah payah. Matanya terpejam sejenak. "Kaf... udah cukup cincangnya."
Menyadari Naya yang tubuhnya menegang kaku seperti kayu, Kafka akhirnya menghentikan gerakan mereka. Pria itu melepaskan genggamannya pada tangan Naya, namun tidak langsung menarik tubuhnya mundur. Ia membiarkan dadanya menempel di punggung Naya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya mundur satu langkah, mengurai ketegangan luar biasa di antara mereka.
"Biar aku yang selesaikan. Kakak duduk saja," ucap Kafka dengan suara yang kembali normal, seolah ia tidak baru saja membuat jantung Naya nyaris meledak.
Naya segera meletakkan pisau itu dan setengah berlari menuju kursi bar, duduk dengan lutut lemas. Ia mengambil gelas air putih di atas meja dan menenggaknya rakus, berusaha mendinginkan wajahnya yang ia yakini sudah semerah kepiting rebus.
Lima belas menit kemudian, dua porsi besar Spaghetti Aglio Olio e Peperoncino dengan udang panggang tersaji di hadapan Naya. Aromanya luar biasa menggugah selera, berpadu dengan taburan peterseli dan keju parmesan di atasnya.
"Gila. Ini kelihatan kayak makanan restoran bintang lima," puji Naya tulus, matanya berbinar menatap piring di hadapannya.
Kafka yang duduk di kursi bar sebelahnya hanya tersenyum tipis. "Makanlah, mumpung masih hangat."
Naya menggulung spageti itu dengan garpunya dan menyuapkannya ke dalam mulut. Matanya terpejam seketika saat rasa gurih dari minyak zaitun, pedas dari serpihan cabai kering, dan aroma bawang putih yang kuat meledak di lidahnya. Udangnya pun sangat manis dan kenyal.
"Kaf, ini enak banget!" seru Naya takjub. Ia menoleh menatap Kafka dengan mata membulat. "Sumpah, aku nggak bohong. Kalau kamu buka restoran di Jakarta, aku bakal jadi pelanggan pertama tiap hari."
Senyum di wajah Kafka melebar, memperlihatkan lesung pipi samar yang membuat wajahnya terlihat lebih muda, mengingatkan Naya pada sosok Kafka beberapa tahun lalu, namun dengan karisma pria dewasa yang jauh lebih memikat.
"Aku tidak berniat buka restoran," jawab Kafka seraya menumpukan sikunya di atas meja, menatap Naya yang sedang makan dengan lahap. "Tapi kalau Kak Naya mau, aku bisa memasakkannya untukmu setiap hari."
Naya nyaris tersedak. Ia buru-buru meraih tisu dan mengelap sudut bibirnya, menatap Kafka dengan tatapan waspada. "Gombalan London-mu boleh juga, Kaf. Pasti banyak bule di sana yang klepek-klepek kalau kamu masakin begini tiap malam."
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Naya, lebih seperti mekanisme pertahanan diri untuk mengalihkan topik. Namun, begitu kalimat itu keluar, Naya merasa sedikit menyesal. Ada cubitan kecil di dadanya saat membayangkan Kafka memasak untuk wanita lain di apartemennya di London.
Tatapan Kafka sedikit meredup, berubah menjadi lebih serius. Pria itu meletakkan garpunya.
"Tidak ada bule. Tidak ada wanita mana pun di apartemenku di London, Kak," jawab Kafka tegas, matanya mengunci pandangan Naya. "Selama lima tahun aku di sana, tidak ada satu pun orang yang pernah mencicipi masakanku, selain diriku sendiri dan beberapa teman kelasku yang berkunjung untuk belajar kelompok."
Naya menautkan alisnya. "Masa sih? Pria setampan kamu, di negara sebebas itu, masa nggak punya pacar satupun selama lima tahun?"
"Aku sudah bilang semalam," Kafka mencondongkan tubuhnya mendekat. "Aku tidak tertarik mencari pengganti sementara. Hatiku sudah tertinggal di Jakarta sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di pesawat menuju London. Aku sibuk belajar, lulus lebih cepat, agar aku bisa segera pulang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Kalimat itu diucapkan dengan sangat tenang, namun efeknya bagaikan palu godam yang menghantam pertahanan Naya. Naya segera menundukkan kepalanya, kembali mengaduk-aduk pastanya yang sudah tersisa separuh. Ia tidak sanggup menatap mata hitam itu lebih lama. Ada ketulusan dan intensitas di sana yang terlalu nyata, terlalu besar untuk ditanggung oleh hatinya yang masih rapuh.
Setelah makan siang yang dipenuhi dengan ketegangan romantis itu selesai, hujan deras kembali mengguyur Jakarta, seolah langit sengaja mengurung mereka berdua di dalam rumah itu.
Naya membantu Kafka mencuci piring, lalu mereka pindah ke ruang keluarga. Naya duduk di sudut sofa berlapis beludru abu-abu yang empuk, menarik kedua lututnya ke depan dada, sementara Kafka duduk di ujung sofa yang lain dengan sebuah buku tebal tentang manajemen bisnis di pangkuannya. Tidak ada percakapan, hanya suara gemericik hujan yang menabrak kaca jendela besar dan suara televisi yang menyiarkan berita lokal dengan volume rendah.
Kedamaian itu terasa sangat menenangkan. Naya memejamkan mata, membiarkan suara hujan membuai kesadarannya. Terasa begitu aman. Sangat jauh berbeda dengan akhir pekannya bersama Reno yang biasanya dihabiskan dengan keributan kecil karena Reno selalu sibuk dengan pekerjaannya—yang kini Naya tahu, sebagian dari 'pekerjaan' itu adalah perselingkuhan.
Trrrt... Trrrt...
Getaran panjang dari ponsel Naya yang tergeletak di atas meja kaca memecah keheningan. Naya membuka matanya dengan malas dan mencondongkan tubuh untuk melihat layar ponselnya.
Jantung Naya seketika mencelos. Darahnya terasa membeku.
Di layar ponsel itu tertera sebuah notifikasi email masuk.
Dari: Tante Rina (Ibunda Reno) Subjek: Naya sayang, tolong angkat telepon Tante. Reno bilang kalian...
Napas Naya tertahan. Rasa mual yang sama seperti malam saat ia memergoki Reno kembali menyergap perutnya. Tante Rina. Ibunda Reno adalah wanita yang sangat baik hati dan menyayangi Naya layaknya anak perempuannya sendiri. Wanita paruh baya itu sering mengiriminya makanan, menanyakan kabarnya, dan selalu membicarakan rencana pernikahan Naya dan Reno. Membaca nama wanita itu di layar ponselnya membuat Naya dihadapkan pada realita menyakitkan lainnya: putus dari Reno berarti ia juga kehilangan keluarga pria itu yang sudah sangat dekat dengannya.
Tangan Naya gemetar saat ia meraih ponsel tersebut. Matanya mulai memanas. Rasa bersalah, sedih, dan hancur kembali melebur menjadi satu, menghancurkan ketenangan yang susah payah ia bangun sejak pagi tadi. Air mata lolos begitu saja dari sudut matanya, jatuh membasahi layar ponsel.
Kafka, yang sejak tadi hanya berpura-pura membaca namun sebenarnya memperhatikan setiap gerak-gerik Naya, segera meletakkan bukunya. Pria itu menyadari perubahan drastis pada raut wajah Naya. Kafka bangkit dari tempatnya dan berpindah duduk tepat di sebelah Naya.
Tanpa bertanya, Kafka melirik sekilas ke arah layar ponsel Naya yang menyala, menangkap nama pengirim email tersebut. Rahang Kafka mengeras, namun sorot matanya saat menatap Naya memancarkan kelembutan yang luar biasa.
Dengan gerakan yang sangat tenang, Kafka mengambil ponsel itu dari tangan Naya yang gemetar. Ia menekan tombol daya agak lama, memilih opsi Matikan Daya, dan meletakkan benda elektronik itu secara terbalik di atas meja, sejauh mungkin dari jangkauan Naya.
"Kaf... Tante Rina..." isak Naya tertahan, menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya. "Dia baik banget sama aku. Aku nggak sanggup... aku nggak sanggup ngasih tahu dia kalau anak kebanggaannya ternyata... ternyata..."
Naya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Bahunya bergetar hebat. Kenangan manis bersama keluarga Reno kini berubah menjadi belati yang menusuk-nusuk dadanya.
Kafka tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena ia tahu ucapan itu klise dan tidak berguna. Alih-alih merangkai kata-kata penenang yang kosong, Kafka menggeser duduknya hingga paha mereka bersentuhan. Pria itu mengulurkan lengannya yang kuat, merangkul bahu Naya yang bergetar, dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
Naya tidak menolak. Tubuhnya terlalu lelah untuk melawan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu lebar Kafka, membiarkan tangisnya pecah membasahi kaus hitam yang dikenakan pria itu.
Kafka melingkarkan kedua lengannya di punggung Naya, mendekapnya erat, seolah berusaha melindungi wanita itu dari seluruh rasa sakit di dunia ini. Pria itu membiarkan Naya menangis, menumpahkan segala emosinya. Tangan besar Kafka bergerak perlahan, mengelus punggung Naya dengan gerakan naik-turun yang ritmis dan penuh afeksi. Sementara itu, ibu jarinya yang lain mengusap lembut lengan atas Naya.
"Menangislah, Kak. Keluarkan semuanya hari ini," bisik Kafka, suaranya sangat pelan, nyaris terendam oleh isakan Naya dan suara derai hujan di luar jendela.
Aroma cedarwood dan kehangatan tubuh Kafka perlahan menyusup masuk, meredakan badai di dalam dada Naya. Berada di dalam pelukan pria ini terasa seperti menemukan tempat berteduh paling aman di tengah badai topan. Dada bidang Kafka yang naik turun secara teratur seolah menjadi metronom yang perlahan menstabilkan detak jantung Naya.
Setelah beberapa belas menit berlalu, isakan Naya perlahan mereda, menyisakan napas yang sesenggukan. Namun, Naya tidak menarik diri dari pelukan itu. Ia merasa terlalu nyaman, dan sejujurnya, ia tidak ingin pelukan ini berakhir.
Kafka menyandarkan dagunya dengan lembut di puncak kepala Naya. Pria itu menghela napas panjang.
"Rasa bersalahmu kepada ibunya membuktikan betapa baiknya hatimu, Kak Naya," ucap Kafka memecah keheningan, suaranya mengalun di atas kepala Naya. "Tapi kau harus ingat, kau bukan orang yang menghancurkan hubungan ini. Pria brengsek itu yang melakukannya. Kakak tidak berutang penjelasan apa pun kepada siapa pun, apalagi jika itu hanya akan melukai Kakak lebih dalam."
Naya mengangguk pelan di dalam pelukan Kafka. Hidungnya menghirup wangi maskulin kaus pria itu. "Aku tahu... cuma rasanya sakit, Kaf. Tiga tahun aku ngebangun masa depan yang nyatanya cuma fatamorgana."
Kafka mengeratkan pelukannya di pinggang Naya. Tangan kanannya perlahan naik, jemarinya yang hangat dan besar menyusup ke sela-sela rambut panjang Naya, mengusap belakang kepalanya dengan gerakan yang sangat protektif.
"Tiga tahun itu tidak sia-sia, Kak," bisik Kafka. "Itu adalah waktu yang diberikan semesta agar Kakak tahu pria seperti apa yang tidak pantas mendampingi Kakak. Waktu yang diberikan semesta untuk membuang orang yang salah..."
Kafka menjeda kalimatnya. Ia menundukkan kepalanya sedikit, memutar wajahnya hingga bibirnya secara tidak sengaja—namun penuh kelembutan—menyentuh pelipis Naya yang basah oleh air mata.
"...agar saat orang yang tepat datang, Kakak tahu bagaimana cara menghargainya," lanjut Kafka pelan, memberikan sebuah kecupan ringan dan hangat di pelipis Naya yang membuat Naya memejamkan mata, merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.
Kecupan itu begitu aman, sopan, namun memancarkan cinta yang teramat dalam.
Naya tidak tahu sudah berapa lama ia bersandar di dada Kafka, membiarkan tangan pria itu membelai rambutnya sementara di luar hujan perlahan mereda. Yang ia tahu hanyalah, saat ia memejamkan mata di dalam dekapan erat Kafka, bayangan menyakitkan tentang apartemen Reno mulai memudar, digantikan oleh aroma cedarwood dan rasa aman yang tak tergoyahkan.