NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:47.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​

​Tangan Bian sudah kotor berlepotan debu hitam. Kemeja rapi yang ia kenakan sejak keluar dari hotel kini kusut, basah oleh keringat, dan bagian lengannya digulung asal-asalan. Di sudut ruangan paviliun yang pengap, Salma duduk bersungut-sungut di atas koper besarnya yang masih terkunci. Tangan halus istri mudanya itu hanya memegang lap kusam dengan enggan, sesekali mengelap meja kecil yang berdebu sambil terus mengerucutkan bibir.

​Keheningan paviliun yang diwarnai dengusan kekesalan Salma itu mendadak dipecahkan oleh getaran dan dering nyaring dari ponsel di saku celana Bian.

​Bian menghentikan gerakan sapunya, mengusap dahi yang berpeluh dengan lengan baju, lalu merogoh ponselnya. Di layar tertera nama "Riko - Supervisor Operasional Swalayan".

​Menyadari ada hal penting dari tokunya, Bian segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

​"Halo, Riko? Ada apa?" tanya Bian dengan nada ketus, sisa emosi dari pertengkarannya dengan Salma masih tertinggal di tenggorokan.

​"Halo! Pak Bian! Selamat pagi, Pak! Aduh, maaf sekali saya mengganggu Pak Bian yang lagi libur nikah, tapi ini darurat sekali, Pak!" Suara Riko di ujung telepon terdengar sangat panik dan terengah-engah. Suasana latar belakang telepon pun terdengar bising oleh suara truk dan keributan orang dewasa.

​Kening Bian makin berkerut. "Darurat kenapa? Ada masalah apa di toko?"

​"Ini, Pak! Truk pasokan barang dari tiga distributor utamamsembako, barang pecah belah, sampai produk susumsemuanya datang berbarengan pagi ini. Tapi... tapi mereka menolak bongkar muatan, Pak!"

​Bian tersentak kecil, membetulkan posisi berdirinya. "Menolak bongkar muatan bagaimana? Biasanya kan tinggal terima barang, tanda tangan faktur, terus mereka pulang! Kenapa jadi menolak?."

​"Itu dia masalahnya, Pak Bian!" ujar Riko dengan nada makin cemas. "Sales utama sama pengemudi truknya bilang ada perubahan kebijakan mendadak dari pusat mulai jam 08.00 pagi ini. Semua faktur belanjaan kita yang biasanya dapat potongan harga khusus 25 persen, hari ini dicabut total! Harganya kembali ke tarif normal tanpa diskon satu persen pun."

​"Apa?!" pekik Bian, matanya membelalak sempurna. "Potongan harga 25 persen dicabut?! Nggak mungkin! Masalah dari mana ini?! Kita kan sudah kerja sama enam bulan dan ada kesepakatan harga khusus! Mereka tidak bisa seenaknya mengubah harga begini!"

​Salma yang duduk di atas koper seketika mendongak, menatap Bian dengan cemas saat mendengar nada suara suaminya yang mendadak meninggi.

​"Bukan cuma itu, Pak Bian!" potong Riko makin panik. "Yang paling parah, sistem kredit pembayaran tenor 60 hari kita dibatalkan semua. Orang gudang distributor bilang, mulai hari ini toko kita masuk daftar pembayaran tunai di muka (COD). Kalau kita tidak bayar lunas harga normal faktur hari ini sebelum barang diturunkan, semua barang akan dibawa balik ke gudang pusat mereka."

​Darah di tubuh Bian mendadak berdesir dingin. Wajahnya yang semula memerah akibat hawa panas paviliun, seketika pucat pasi.

​"Riko, kamu jangan main-main ya! Total faktur pasokan barang minggu ini saja mencapai ratusan juta rupiah! Kalau tidak pakai tenor 60 hari dan tanpa diskon, dari mana toko bisa bayar tunai di tempat pagi ini?!" bentak Bian, suaranya bergetar menahan kepanikan yang mulai menjalar ke dada. "Kenapa supplier itu mendadak gila begitu?."

​"Saya tidak main-main, Pak Bian! Ini saya pegang faktur barunya. Total penagihan pagi ini membengkak hampir dua kali lipat dari anggaran biasanya karena tidak ada potongan harga dan harus dibayar cash! Saya sudah debat sama orang gudangnya, tapi mereka bilang ini instruksi resmi dari jajaran direksi distributor pusat. Katanya fasilitas khusus toko kita sudah tidak berlaku lagi."

​"Gila! Ini benar-benar gila!" umpat Bian meluapkan amarah dan kebingungannya. Selama ini ia merasa begitu membanggakan kehebatannya mengelola toko, tanpa pernah menyadari bahwa fasilitas khusus yang ia nikmati selama ini sebenarnya berakar dari jaminan diam-diam Husna di belakang layar.

​"Mas... ada apa?" tanya Salma ragu-ragu, berdiri mendekati Bian yang mematung dengan ponsel masih menempel di telinga. "Kenapa wajah Mas pucat begitu? Ada masalah di toko?"

​Bian tidak menjawab pertanyaan Salma. Napasnya memburu keras, kepalanya berdenyut hebat memikirkan kekacauan mendadak ini. Dengan tangan gemetar, ia kembali bicara ke ponselnya. "Riko... tahan orang-orang supplier itu dulu. Jangan biarkan mereka bawa barangnya pergi. Saya akan coba hubungi bos-bos distributor itu langsung."

​"Tidak bisa lama-lama, Pak! Mereka cuma kasih waktu 30 menit! Kalau kas toko tidak bisa bayar tunai sekarang, stok barang kita minggu ini kosong melompong, Pak."

​Klik.

​Telepon terputus. Bian menurunkan ponselnya dengan lemas. Lututnya terasa berguncang hebat.

​Jika barang-barang itu ditarik kembali oleh distributor, rak-rak Swalayan cabang pertama akan kosong. Penjualan akan anjlok drastis, sementara beban operasional dan pembangunan cabang kedua terus berjalan. Dan yang paling mengerikan, tanpa modal bayar tunai dan tanpa diskon 25%, margin keuntungan bersih toko swalayan satu-satunya sumber penghasilan yang tersisa untuk menafkahi Salma dan gaya hidup mewahnya resmi hancur berkeping-keping detik ini juga.

​"Mas Bian! Jawab Salma, ada apa sebenarnya?!" desak Salma seraya menarik lengan kemeja Bian, suaranya mulai melengking panik melihat perubahan ekspresi suaminya yang sangat tegang.

​Bian menoleh perlahan ke arah Salma. Tatapannya kosong dan penuh tekanan. "Toko... toko kita bermasalah, Salma. Semua supplier mendadak membatalkan diskon dan minta dibayar tunai pagi ini juga. Uang kas toko tidak akan cukup..."

​Salma membelalakkan matanya, rasa panik seketika menjalar di dadanya saat menyadari sumber uang suami barunya mendadak di ambang bahaya.

​Tanpa berpikir panjang, Bian bergegas keluar dari paviliun. Rasa panik mengalahkan harga dirinya. Ia melangkah cepat menuju rumah utama, berniat meminta bantuan Husna atau setidaknya meminjam dana darurat dari simpanan keluarga yang biasa dikelola Husna.

​Salma mengekor di belakang dengan rasa penasaran dan cemas yang memuncak.

​Bian menggedor pintu kayu jati rumah utama dengan kasar. "Husna! Husna, buka pintunya. Ini Mas!"

​Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka perlahan. Husna berdiri di sana dengan keanggunan yang utuh. Setelan rumah berwarna pastel dan hijabnya yang rapi memancarkan ketenangan tingkat tinggi, sangat kontras dengan Bian yang berantakan, berkeringat, dan penuh debu.

​"Ada apa, Mas? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah?" tanya Husna dengan suara lembut tanpa raut bersalah sedikit pun.

​"Na! Swalayan Mas bermasalah besar!" kata Bian tanpa basa-basi, suaranya terengah-engah. "Semua supplier mendadak gila. Mereka mendadak mencabut potongan harga 25 persen dan minta dibayar tunai pagi ini juga! Mas tidak tahu ada kesalahan apa di sistem mereka. Na, kamu ada simpanan uang kas atau dana darurat keluarga tidak? Mas butuh ratusan juta sekarang juga untuk melunasi pasokan barang sebelum ditahan."

​Salma menyumbul dari balik punggung Bian, ikut menatap Husna dengan pandangan menuntut dan panik.

​Husna menatap Bian dengan tatapan polos yang teramat rapi. Wajahnya menampilkan raut terkejut yang sangat natural, seolah ia baru pertama kali mendengar kabar buruk tersebut.

​"Lho? Kok bisa begitu, Mas?" sahut Husna dengan nada suara prihatin namun tetap tenang. Ia menyesap sedikit teh hangat di cangkir porselennya. "Kok distributor bisa mendadak mencabut diskon dan minta bayar tunai? Apa Mas Bian ada buat kesalahan manajemen atau lupa bayar tagihan bulan lalu?"

​"Mas tidak tahu, Na! Mas selalu merasa manajemen toko lancar-lancar saja!" bentak Bian frustrasi, mengusap wajahnya yang berpeluh. "Makanya Mas minta tolong kamu sekarang! Ada simpanan uang kan? Pinjamkan dulu buat tutup lubang pagi ini."

​Husna menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah serba salah yang dibuat begitu halus.

​"Aduh, Mas... bukannya saya tidak mau bantu," ujar Husna dengan nada santai namun menohok. "Tapi kan draf perjanjian legal di notaris sudah kamu tanda tangani kemarin. 100 persen gaji, tunjangan, dan bonus resmimu sebagai manajer sudah terkunci masuk ke rekening khusus untuk masa depan dan pendidikan Devan sama Deka. Saya tidak boleh menyentuh uang itu untuk urusan bisnis."

​"Ini darurat, Husna!" potong Bian, suaranya meninggi.

​"Bisnis itu memang penuh risiko, Mas Bian," potong Husna lembut, menatap Bian dan Salma bergantian. "Lagipula, Mas kan selalu bangga bilang kalau swalayan itu bisa sukses besar murni karena keahlian dan kehebatan Mas sendiri dalam mengelola usaha. Mas juga baru saja menikah lagi dan punya Salma yang selalu mendukung Mas. Pasti pengusaha hebat seperti Mas Bian punya jalan keluar sendiri tanpa perlu bergantung pada uang saya."

​Salma yang mendengarnya langsung berseru tidak terima. "Mbak Husna! Mas Bian ini suami Mbak juga! Masa suami lagi kena musibah Mbak cuma diam saja dan beralasan uang dikunci?."

​Husna melirik Salma dengan senyuman tipis yang sangat anggun, membuat Salma seketika bungkam oleh wibawa yang dipancarkan Husna.

​"Salma," panggil Husna halus. "Tugas seorang istri muda yang anggun dan beretika kan mendampingi suami di saat senang maupun susah. Ini kesempatanmu untuk membuktikan janji manismu pada Mas Bian. Bantu suamimu berpikir dan cari jalan keluar, bukan malah menuntut saya."

​Husna kembali menatap Bian yang berdiri mematung, wajah suaminya itu hancur berkeping-keping antara rasa malu, panik, dan terdesak.

​"Saya mendoakan semoga masalah tokomu cepat selesai ya, Mas," ucap Husna sangat ramah. "Saya mau lanjut menemani Devan dan Deka belajar di dalam."

​Husna mundur satu langkah, lalu mengulas senyum tipis sebelum menutup pintu jati rumah utama dengan perlahan dan menguncinya dari dalam.

​Klek.

​Pintu tertutup rapat. Husna bersandar sejenak di balik pintu, menyunggingkan senyuman dingin paling puas dalam hidupnya. Di luar sana, Bian berdiri mematung di halaman samping yang panas terjebak dalam kehancuran bisnisnya sendiri tanpa pernah menyadari bahwa sang Ratu yang berakting polos di balik pintu itulah pemegang kendali mutlak atas kehancurannya.

1
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍
susi ana
aku geli sama istilah "niat jantan" dr Rafli..... lucu banget 😂
falea sezi
wahh uda end ternyata si bapak durjana
Noey Aprilia
Akhir tragis buat sng pngkhianat....
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
blcak areng: terima kasih Kak
total 1 replies
Muft Smoker
ceritanya seperti biasa ,,
bagus dan banyak pelajaran ny
Muft Smoker
waaah udh tamat kak ,,

yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,

terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,,
karya terbaru ny udh msuk list aq ,,
total 2 replies
Muft Smoker
kn emnk udh jdi ibu ny kak 🤭🤭😁😁🫰
T🥀007
lanjut
Nieta Poedjo
kartu hitam = black card
bukan
kartu hitam black card
Nieta Poedjo
katanya berhijab, kok ada kalimat anak rambut?
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
Muft Smoker: 👌👌👌👌😁😁😁😁
total 3 replies
Noey Aprilia
Buah ksbaran husna d msa lalu,akhrnya ktmu jg dgn kbhgiaan...
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
Noey Aprilia
Mkin meranalh nnti sng mntan...
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
Muft Smoker
semangat truuus kak ,,

lanjuut kak ,,

akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
Muft Smoker
kak sbnrnya yg kk sypa ,, Dita tita atau Devan deka ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,
Rahmawati Amma
awalnya ceritanya menarik tapi setelah aku baca sengaja loncat di bagian bab 38an aku udah malas bacanya pada hal aku ingin melihat bian menderita dan husna walaupun janda tapi berkelas dan tambah sukses tak taunya kawin lagi jadi malas baca soalnya bosan yg cerita cerai tapi kawin lagi😔😮‍💨
Rahmawati Amma
maaf thor saya ke luar dari novelmu paling malas klu ceritanya gini awalnya saya emang suka ceritanya tapi melihat babnya saya langsung berhenti ku kira ngak bakalan kawin lagi soalnya anaknya udah pada remaja tak tahunya malahan kawin lagi sama aja mantan suaminya gila s***n## kukira habis cerai dia akan menjadi lebih sukses dan menjadi janda elegan tak taunya gini ceritanya maaf thor aku keluar maaf tidak beri bintang full😔😢🙏
Muft Smoker
laki2 kayak pak Rafli 1 banding 100000000 ,, bnr2 langka ,,
Rahmawati Amma
pembalasan berkelas🤣🤣🤣
Noey Aprilia
D saat yg lain lbh suka pmer hrta dmi pujian,tp mas rafli lbih mmilih k tnah suci dmi niat yg suci jg....salut plus mkin mnghormati dia krna skapnya...
Nieta Poedjo
ooooo gitu tho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!