NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Mobil Maybach hitam mengkilap itu terlihat seperti alien yang salah mendarat di tengah Pasar Burung dan Hewan Peliharaan Jatinegara. Lantainya yang becek, bau amis yang menyengat, dan suara kicauan burung yang memekakkan telinga adalah antitesis dari dunia Arlan Dirgantara.

Namun, pintu mobil terbuka, dan Arlan melangkah keluar. Ia mengenakan setelan jas bespoke berwarna charcoal yang harganya bisa untuk membeli satu kios di pasar ini. Sepatu Oxford-nya yang mengkilap nyaris menginjak genangan air lumpur, tapi dua orang bodyguard kekar sudah sigap membentangkan karpet merah darurat dari pintu mobil hingga ke kios unggas terdekat.

"Kak Arlan, kakimu kotor!" protes Karin, yang kini mengenakan oversized hoodie berwarna kuning cerah dan celana sweatpants, terlihat seperti mahasiswi yang sedang kuliah lapangan.

"Lebih baik kakiku yang kotor daripada kau yang masuk angin," balas Arlan datar, meski tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Karin agar istrinya itu tidak terpeleset.

Di belakang mereka, Clara berdiri memegang payung besar, wajahnya datar tapi matanya memancarkan kepanikan tingkat tinggi. "Pak Arlan, setidaknya lima puluh paparazzi sudah mengepung area depan pasar. Mereka tahu kita di sini."

"Bagus," gumam Arlan. "Biarkan mereka melihat."

Karin langsung berlari kecil menuju kios unggas, mengabaikan protokol keamanan. Matanya menyapu ratusan bebek, ayam, dan burung puyuh yang berisik. Ia berhenti di depan sebuah kandang besar berisi bebek-bebek peking yang gemuk.

"Pak!" panggil Karin pada penjualnya, seorang pria paruh baya yang sedang merokok dan menatap bodyguard Arlan dengan mata melotot. "Aku mau beli bebek! Tapi yang paling buncit! Yang jalannya paling sombong!"

Penjual itu gemetar, bukan karena marah, tapi karena melihat Arlan yang berdiri di belakang Karin dengan aura membunuh. "Eh... i-iya, Nyonya. Yang paling buncit... ini, Nyonya."

Penjual itu menangkap seekor bebek jantan yang perutnya nyaris menyentuh tanah. Bebek itu menatap Karin dengan mata yang sayu, lalu bersendawa. Kwek.

"Wah!" Karin bertepuk tangan girang. "Dia sempurna! Perutnya buncit banget, kayak direktur yang baru makan uang korupsi! Aku mau yang ini! Namanya Si Koruptor!"

Arlan memijat pelipisnya. "Karin, kita tidak bisa memelihara bebek bernama Si Koruptor di rumah."

"Kenapa nggak? Nanti kalau dia berisik, aku bilang ke Kak Arlan kalau dia lagi demo minta naik gaji!" bantah Karin. Ia menoleh ke penjual. "Pak, harganya berapa? Aku bayar pakai biskuit dinosaurus boleh?"

Penjual itu menelan ludah, menatap Arlan. "G-gratis, Pak. Silakan dibawa."

Arlan mengeluarkan dompetnya, mengambil selembar uang seratus ribu, dan menyelipkannya ke saku baju penjual itu. "Ambil. Dan beli pakan terbaik untuk bebek-bebekmu."

Tiba-tiba, FLASH! FLASH! FLASH!

Puluhan kamera mulai menyala dari balik pagar kios. Para reporter dan paparazzi yang berhasil menerobos pagar keamanan mulai berteriak, mengarahkan mikrofon ke wajah Karin.

"Nyonya Karin! Benarkah Anda menggunakan ilmu hitam untuk mengontrol Pak Arlan?!"

"Nyonya, apakah bebek itu bahan untuk ritual pelet?!"

"Apakah benar Anda mengalami gangguan jiwa berat hingga harus membeli hewan di pasar becek?!"

Karin menatap para reporter itu. Ia tidak merasa takut. Di novel, tokoh asli Karin akan menangis dan berlari pulang. Tapi Karin yang sekarang? Ia tersenyum lebar, sebuah senyum yang sangat tulus dan sedikit konyol.

"Ritual? Pelet?" Karin tertawa renyah, lalu mengangkat Si Koruptor yang kini sedang mengibaskan kotoran dari bulu-bulunya. "Nggak dong! Ini buat temen makan bakso! Kalau makan bakso sendirian kan sepi, jadi aku ajak Si Koruptor. Lagian, Kak Arlan bilang kalau aku stres karena dia terlalu dingin, jadi aku butuh terapi hewan. Bebek ini kan lucu, perutnya kayak bantal!"

Seorang reporter yang kurang kerjaan mencoba mendekat. "Tapi Nyonya, audio Anda berbicara dengan tanaman—"

"Tanamannya lagi haus, Mas! Kalau Mas nggak minum tiga hari, Mas juga ngigau!" potong Karin cepat, membuat reporter itu terdiam.

Tapi pukulan terakhir datang dari Arlan.

Pria itu melangkah maju, berdiri di samping Karin. Ia tidak memakai topeng atau bersembunyi. Ia menatap para reporter dengan tatapan dingin yang mampu membekukan lautan. Tangannya yang besar terulur, lalu dengan sangat natural, ia mengambil bebek Si Koruptor dari tangan Karin dan menggendongnya di satu lengan seperti menggendong bayi, mengabaikan kotoran bebek yang menempel di jas Italia-nya.

"Dengar baik-baik," suara Arlan bergema, rendah dan mengintimidasi. "Istriku tidak butuh pelet. Dia sudah punya aku. Dan jika ada yang berpikir istriku gila karena membeli bebek di pasar becek, berarti dia belum melihat kegilaanku yang membiarkan istriku melakukan itu sambil memakai sepatu seharga satu miliar."

Para reporter terpaku. Kamera mereka terus berkedip, mengabadikan momen langka: Arlan Dirgantara, CEO terdingin di Asia, menggendong bebek gemuk dengan wajah datar, sementara istrinya yang memakai *hoodie* kuning tertawa bahagia di sebelahnya.

"Dan satu lagi," tambah Arlan, matanya menyipit tajam. "Jika aku melihat nama Vanessa atau keluarga Suwono muncul di berita ini lagi, tim hukumku tidak akan menuntut kalian. Mereka akan membeli media tempat kalian bekerja, lalu memecat kalian satu per satu. Mengerti?"

Para reporter menelan ludah serempak. "M-mengerti, Pak Arlan!"

Arlan berbalik, menggandeng tangan Karin, dan berjalan kembali ke mobil dengan Si Koruptor yang sesekali bersendawa di pelukannya.

Di dalam mobil, Karin tertawa terbahak-bahak, memeluk lututnya. "Kak Arlan! Tadi Kakak kelihatan kayak bapak-bapak yang baru kalah judi bawa pulang bebek! Lucu banget!"

Arlan menatap jas mahalnya yang kini bernoda kotoran bebek. Ia tidak merasa jijik sama sekali. Ia justru tersenyum, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat lembut. "Apakah kau puas, Nyonya Bebek?"

"Sangat puas! Tapi..."

Pintu mobil diketuk dari luar. Arlan menurunkan kaca jendela sedikit, dan wajah Dr. Julian muncul di sana, tersenyum tipis dengan seekor burung kakaktua putih bertengger di bahunya.

"Well, well," ucap Julian, matanya berbinar melihat bebek di pangkuan Arlan. "Terapi hewan ternyata lebih efektif daripada terapi seni. Arlan, kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu. Aku suka itu."

Karin menelan ludah. Gawat. Second Male Lead muncul. Dan dia bawa burung!

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!