NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. MISTERI CI SEPI

Dok... Dok... Dok...

Suara gedoran pintu yang bertalu-talu memecah keheningan malam di Desa Ci Sepi. Rahsya Adipta, seorang dokter muda berusia 28 tahun, mengerang tertahan di balik selimutnya.

Niat hati ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk Jakarta yang menyesakkan, ia justru mendapati dirinya terbangun dengan paksa pada pukul dua dini hari. Dengan langkah gontai dan rambut berantakan, Rahsya membuka pintu vilanya.

Sosok pria bermuka sangar dengan kumis tebal dan kaus singlet dekil berdiri di sana. Sebuah kolor kedodoran yang diikat tali rafia serta peci lecek yang posisinya miring ke sebelah kanan tampak nangkring di kepalanya.

"Tolong bantu saya, Dok! Sapi saya mau melahirkan!" ucap pria itu—Pak Udin—dengan nada yang lebih mirip perintah daripada permohonan. Matanya bahkan melotot hampir keluar.

Rahsya memijat pangkal hidungnya, mencoba menahan emosi yang nyaris meledak. "Sudah saya bilang berapa kali, Pak... saya ini dokter umum, bukan dokter hewan," jawabnya ketus, suaranya serak khas orang bangun tidur.

Pak Udin tidak bergeming. Ia justru melangkah maju, mempersempit jarak hingga aroma keringat dan tanah dari tubuhnya menusuk indra penciuman Rahsya.

"Tapi, Pak Rahsya! Sapi saya itu sudah mau 'brojol'! Masa Bapak tega membiarkan nyawa hilang? Tolonglah sekali ini saja, Dok!"

Rahsya menatap Pak Udin dengan saksama. Pria ini benar-benar tidak tahu waktu. Mungkin ini akibat Rahsya yang terlalu "murah hati" selama liburannya; mengobati warga yang masuk angin atau luka gores secara cuma-cuma membuat warga Ci Sepi menganggapnya sebagai "tabib ajaib" yang serba bisa, bahkan untuk urusan persalinan ternak.

"Pak, anatomi manusia dan sapi itu berbeda jauh!"

Rahsya mencoba memberi penjelasan logis, namun ia tahu itu sia-sia saat melihat raut wajah Pak Udin yang mengeras. Kumis tebalnya bahkan bergerak-gerak sebelah.

Entah itu kebiasaan Pak Udin atau memang pada dasarnya pria itu sedang mengeluarkan wajah tersangarnya. Jika saja ia punya nyali lebih besar, Rahsya ingin sekali menendang pria sangar ini keluar dari planet bumi, atau setidaknya ke luar galaksi Bima Sakti sekalian agar tidurnya tak terganggu.

Akhirnya, dengan helaan napas panjang tanda menyerah, Rahsya berbalik masuk. "Tunggu sebentar. Saya ganti baju dulu."

Setelah mengunci pintu vila dan menyambar tas medisnya—yang berisi alat-alat standar yang ia sendiri sangsi bisa berguna untuk sapi—Rahsya keluar dengan jaket tebal. Udara malam Ci Sepi menusuk tulang, menambah rasa ogah-ogahan dalam setiap langkahnya.

"Ayo cepat, Dok! Sebelum sapinya keburu mulas parah!" seru Pak Udin sambil berjalan cepat di depannya, membawa obor bambu yang cahayanya menari-nari ditiup angin malam. Tangan kirinya setia memegangi kolor yang hampir melorot.

Rahsya hanya bisa mengekor di belakang, menyeret kakinya menembus kegelapan ladang sambil merutuki keputusan liburannya yang berubah menjadi misi persalinan hewan di tengah malam buta.

"Apes bener dah," gerutu Rahsya sangat pelan, nyaris hanya berupa embusan napas.

Namun, di tengah kesunyian malam yang mencekam, telinga Pak Udin ternyata setajam silet.

Langkah kakinya yang berat mendadak berhenti. Pria bertampang kriminal itu berbalik perlahan, posisi obor bambunya diangkat tepat di depan wajah, menciptakan bayangan hitam yang menari-nari liar di fitur mukanya yang kasar. Seram, bahkan seramnya mengalahkan hantu mana pun.

"Pak Rahsya..." ucap Pak Udin dengan suara berat yang sengaja diredam, mirip adegan film horor kelas teri.

"Astagfirullah! Ngapain sih, Pak? Ngagetin aja!"

Rahsya tersentak, jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Ia refleks mundur dua langkah, hampir saja terperosok ke parit sawah.

Beruntung ia tidak mengeluarkan jurus silatnya. Mungkin jika kebablasan, ia sudah menghajar pria itu.

Pak Udin justru terkekeh, suara tawanya kering dan parau. "Habisnya, dari tadi saya dengerin Bapak kayak enggak ikhlas bantu saya."

"Sa-saya ikhlas kok, Pak," sahut Rahsya cepat, meski nuraninya menjerit protes. Ia buru-buru membenarkan letak kacamata dan tas medisnya yang miring.

"Ah, yang bener?" Pak Udin memutar tubuh, melanjutkan langkah lebarnya membelah kegelapan.

"Apa Bapak tahu cerita seram di kampung ini?" tanyanya tanpa menoleh lagi.

Rahsya menelan ludah. Meski logikanya sebagai dokter menolak takhayul, suasana malam yang dingin tetap saja membuat nyalinya sedikit menciut.

"Cerita... cerita apaan, Pak?"

"Katanya, kalau ada cowok ganteng kayak Bapak lewat sini malam-malam, suka didatengin sama hantu penunggu telaga," ucap Pak Udin dengan nada yang sangat serius, seolah itu adalah fakta medis.

Rahsya mencoba terkekeh, meski terdengar hambar. "Ah, masa sih, Pak? Emang Bapak percaya sama yang begituan? Terus... Bapak sendiri pernah enggak didatengin atau ngelihat langsung hantunya?"

Pak Udin kembali berbalik mendadak. Kali ini wajahnya tampak masam, bibirnya mencebik kecut. "Belum pernah. Dan enggak bakalan pernah kayaknya. Soalnya muka saya enggak ganteng, jadi enggak memungkinkan buat digoda hantu," gerutunya sambil mendengus, lalu kembali berjalan dengan langkah lebih cepat.

Rahsya terdiam, tidak tahu harus tertawa atau merasa kasihan pada kepercayaan diri Pak Udin yang minus itu. Namun, rasa geli itu segera menguap saat ia menyadari perjalanan mereka ternyata cukup jauh.

Vila keluarganya kini sudah tak terlihat lagi. Mereka telah melewati hamparan sawah yang basah, perkebunan jagung yang sunyi, dan kini mulai memasuki kawasan hutan jati yang pohon-pohonnya tampak seperti raksasa hitam yang mengawasi.

Dan yang terakhir, tepat di depan mereka, terhampar sebuah telaga luas yang airnya hitam pekat. Di tepiannya, berdiri kokoh sebuah pohon beringin raksasa dengan akar-akar gantung yang menjuntai seperti rambut kusut.

Seketika, bulu kuduk Rahsya meremang hebat. Udara di sekitar telaga itu terasa beberapa derajat lebih dingin. Ia mendadak teringat ucapan Pak Udin tadi. Di Desa Ci Sepi, hanya ada satu telaga. Dan mereka sedang melewatinya sekarang.

Bau amis bercampur bau busuk bangkai menguar dari sekitar tempat itu, menambah kesan horor—atau lebih tepatnya memicu mual bagi lambung Rahsya.

"Pak, nyium bau busuk enggak?" tanya Rahsya sambil terus mengelus tengkuknya.

"Hehe, saya kentut, Pak Dokter. Maaf ya. Habisnya saya tadi kebablasan kebanyakan makan jengkol."

Rahsya mendengus geli. Namun, rasa geli itu segera digantikan dengan bulu kuduknya yang mendadak terasa dingin, meremang hebat seolah ada telapak tangan es yang menempel di sana.

Rahsya tidak lagi memedulikan martabatnya sebagai dokter lulusan kota besar. Kakinya melangkah secepat kilat, nyaris berlari melewati Pak Udin tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah telaga yang gelap itu.

Matanya lurus ke depan, napasnya memburu seolah sedang dalam perlombaan jalan cepat tingkat nasional. Langkahnya begitu cepat, bahkan hampir menyamai pelari maraton dari Afrika.

Pak Udin yang melihat itu pun tak mau kalah. Bukan karena takut hantu, tetapi ia panik membayangkan sapi satu-satunya—harta paling berharga bagi seorang duda sepertinya—telanjur melahirkan tanpa bantuan. Ia pun ikut memacu langkah, membuntuti Rahsya yang sudah "balap lari" di depan.

Begitu sampai di area permukiman yang remang-remang, Rahsya terus nyelonong jalan lurus tanpa bertanya.

"Eh... eh... Pak Rahsya mau ke mana?!" teriak Pak Udin tertahan.

"Rumahnya sebelah sini, Pak!" tunjuknya ke sebuah gubuk sederhana dengan kandang bambu di sampingnya.

Rahsya mengerem mendadak. Ia berbalik pelan dengan senyum kikuk yang dipaksakan. "Oh, maaf Pak, saya terlalu fokus... sampai enggak tahu kalau ini rumah Bapak," dalihnya sambil mengusap tengkuk yang tak gatal.

"Iya enggak apa-apa, sekarang cepat, Pak!" Pak Udin menarik lengan Rahsya.

Suara lenguhan sapi yang mengejan berat mulai terdengar memilukan. "Pak, anaknya sudah hampir keluar, Pak!"

Rahsya menggaruk kepala, menatap pemandangan di depannya dengan perasaan mual yang mulai naik ke kerongkongan. "Aduh, Pak... ini beneran saya harus bantu lahirin?" tanyanya ngeri melihat cairan ketuban dan darah yang berceceran.

"Ya iyalah! Bapak sudah saya panggil jauh-jauh ke sini masa cuma suruh lihatin saja!" semprot Pak Udin tidak sabar.

Dengan pasrah, Rahsya mengangguk. Ia menarik napas dalam, merapalkan doa dalam hati, lalu mulai memakai sarung tangan karet dan masker bedah. Meski hatinya menjerit karena ini bukan pasien manusia, naluri medisnya tetap bekerja. Ia mulai memandu dan membantu menarik anak sapi yang separuh tubuhnya sudah menyembul keluar itu.

****

Beberapa menit yang penuh keringat dan bau amis itu berakhir dengan suara pluk pelan. Anak sapi itu lahir dengan selamat.

"Sudah tuh, Pak," ucap Rahsya lega.

Ia segera melepas sarung tangan yang bersimbah darah dan mencuci tangannya di pancuran bambu dekat kandang. Air dingin pegunungan sedikit menenangkan sarafnya yang tegang.

Ia menghampiri Pak Udin yang sedang mengelus induk sapinya. "Sekarang apa lagi yang harus saya bantu?"

Pak Udin menggeleng, wajah sangarnya kini dihiasi senyum lebar yang jujur—meskipun senyum itu justru membuat tampangnya terlihat dua kali lebih menakutkan di bawah sinar obor.

"Enggak ada, Pak. Makasih banyak ya sudah mau membantu saya."

"Iya, sama-sama."

Rahsya mulai membereskan stetoskop dan peralatan medisnya ke dalam tas.

Pak Udin tiba-tiba berlari masuk ke rumah, lalu kembali dengan terengah-engah. "Pak, maaf... saya cuma bisa kasih ini saja," ucapnya sambil menyodorkan sebongkah singkong raksasa yang masih lengkap dengan tanah dan batangnya.

Rahsya tertegun, sedikit syok. Ia tidak mengharapkan imbalan apa pun dari warga desa yang sederhana ini.

"Enggak usah, Pak. Saya ikhlas kok," tolaknya halus sambil bersiap melangkah pulang.

Namun, raut wajah Pak Udin mendadak berubah keras, mirip preman pasar yang sedang menagih upeti. Ia menyodorkan batang singkong itu tepat di depan dada Rahsya.

"Tolong Pak, bawa singkongnya! Saya sudah susah payah mencabutnya di kebun tadi sore. Saya juga ikhlas ngasihnya, jadi tolong diterima!" ucapnya dengan nada memaksa yang tidak bisa dibantah.

Dengan helaan napas berat, Rahsya akhirnya menyerah. "Aduh... makasih banyak, Pak. Saya pamit kalau begitu."

Rahsya memanggul batang singkong itu di pundaknya seperti seorang petani tulen. Bajunya kini benar-benar berantakan; kotor karena tanah singkong dan noda darah sapi yang menempel di jaket mahalnya. Di tengah kegelapan jalan pulang, sang dokter muda itu hanya bisa membatin betapa berwarnanya liburan "tenang" yang ia rencanakan.

Kengerian malam di Desa Ci Sepi benar-benar mencapai puncaknya. Begitu pemukiman warga menghilang dari pandangan, suasana berubah menjadi sunyi yang menekan, hanya menyisakan suara jangkrik yang sahut-menyahut. Rahsya merapatkan jaketnya yang bernoda darah, sementara pundaknya terasa pegal menyangga singkong raksasa dari Pak Udin.

"Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini dari setan-setan yang terkutuk," bisiknya gemetar.

Langkah pertamanya masih terasa aman, namun pada langkah ketiga, dadanya mulai sesak. Ia ingin berlari, tapi beban singkong dan tas medis membuatnya hanya bisa melakukan jalan cepat yang canggung. Tepat saat ia melintasi bayangan hitam pohon beringin yang menjuntai di tepi telaga...

Pluk!

Sebuah benda bulat jatuh tepat di depan kakinya. Rahsya mengerem mendadak hingga sepatunya berdecit di atas tanah. Dengan tangan gemetar, ia mengarahkan senter kecilnya ke bawah.

Cahaya lampu itu menyinari sebuah benda yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir. Itu adalah kepala manusia. Mata kepala itu terbuka, menatap tepat ke arah manik mata Rahsya yang melebar.

"To-long sa-ya..." rintihnya dengan suara parau yang mendirikan bulu roma.

"AAAAA SETAANN!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!