Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Wusss.
Angin pagi berhembus cukup kencang menyapu atap gedung SMA Garuda.
Tommy membuka pintu besi pembatas atap dengan perlahan.
Kriet.
Suara engsel pintu yang berkarat memecah keheningan di tempat yang jarang dikunjungi murid tersebut.
Di sudut atap dekat tangki air, sosok Dito terlihat sedang berdiri membelakanginya.
Tubuh anak berkacamata itu tampak gemetar meskipun udara pagi ini tidak terlalu dingin.
"Aku sudah datang, To," panggil Tommy dengan suara datarnya yang asli.
Dito membalikkan badannya dengan gerakan patah-patah dan ketakutan.
Mata jenius Tommy langsung menyipit tajam saat melihat kondisi wajah sekutunya itu.
Terdapat luka lebam kebiruan yang cukup besar di sudut bibir dan tulang pipi kanan Dito.
Kacamata tebal anak itu juga terlihat retak di bagian ujung bingkainya.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Tommy dengan nada yang seketika berubah menjadi sangat dingin.
"Maafkan aku, Tom, aku benar-benar takut," ucap Dito dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tenanglah dulu, tarik napas dan ceritakan semuanya dari awal," perintah Tommy sambil berjalan mendekat.
Dito menelan ludah dengan susah payah sebelum mulai menceritakan kejadian nahas yang menimpanya.
"Kemarin sore pas aku pulang sekolah, ada mobil van yang mencegatku di jalan sepi," cerita Dito.
"Tiga orang berpakaian preman menyeret aku masuk ke dalam mobil itu."
Mata Tommy memancarkan aura membunuh yang sangat pekat mendengar penjelasan tersebut.
"Lalu apa yang mereka inginkan darimu?" tanya Tommy memancing informasi.
"Di dalam mobil itu, ternyata ada Kak Leo dari SMA Nusantara," jawab Dito sambil menundukkan kepalanya.
"Dia bilang dia tidak percaya kalau kamu menang olimpiade cuma gara-gara gambar bintang."
Dito mengusap ujung bibirnya yang berdarah dengan lengan seragamnya.
"Dia tahu kalau aku duduk di depanmu, dan dia memaksaku untuk membocorkan rahasiamu," lanjut Dito.
"Dia memukulku karena aku bersikeras bilang kalau kamu memang orang bodoh yang kebetulan beruntung."
Tommy menghela napas panjang dan menepuk pundak Dito dengan lembut.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Dito, dan aku sangat berterima kasih," ucap Tommy tulus.
"Tapi Kak Leo mengancamku, Tom," isak Dito mulai kehilangan kendali.
"Dia bilang kalau aku tidak mencari tahu kebenaranmu dalam waktu tiga hari, dia akan membuat beasiswaku dicabut."
"Dia anak yayasan orang kaya, Tom, dia punya koneksi ke kepala sekolah kita," tambah Dito putus asa.
Otak Tommy yang memiliki IQ seratus tiga puluh satu langsung memproses semua variabel ancaman tersebut.
Leo ternyata tidak bisa menerima kekalahan akademiknya dan memilih jalur kotor menggunakan kekuasaan uang.
Anak sombong itu rupanya belum belajar dari kehancuran Bagas yang juga gemar menindas orang lemah.
"Jangan menangis lagi, Dito," ucap Tommy dengan suara yang sangat tenang namun penuh otoritas.
"Mulai detik ini, kamu tidak perlu khawatir soal beasiswamu ataupun ancaman dari Leo."
Dito mendongak menatap wajah Tommy yang tidak lagi terlihat seperti murid idiot.
"Tapi gimana caranya, Tom? Keluarganya sangat berkuasa di kota ini," ragu Dito.
"Kekuasaan mereka hanya berlaku di atas kertas yang bisa dibakar kapan saja," jawab Tommy tersenyum mematikan.
"Biar aku yang mengurus singa sombong itu, kamu cukup bersikap normal di kelas seperti biasa."
Dito menganggukkan kepalanya perlahan, merasa sedikit lega melihat keyakinan mutlak dari mata Tommy.
Drrrt. Drrrt.
Ponsel di saku celana Tommy tiba-tiba bergetar panjang.
Tommy mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah notifikasi berita terkini yang dikirimkan oleh operator beritanya.
"BREAKING NEWS: Perang Geng di Pelabuhan Utara, Polisi Siber Curigai Adanya Retasan Sinyal Palsu."
Tommy membaca tajuk utama berita itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.
Berita itu menyebutkan bahwa polisi berhasil menangkap puluhan anggota geng naga hitam dan komplotan Bos Anton tadi malam.
Namun yang menarik adalah, divisi siber kepolisian menemukan bukti bahwa keributan itu dipicu oleh sinyal palsu dari peretas bernama Blank.
"Mereka mulai menyadari permainanku rupanya," batin Tommy menganalisis situasi.
Polisi siber pasti sedang melacak sisa-sisa sinyal yang ia pancarkan ke gudang pelabuhan semalam.
Meskipun ia sudah menghapusnya, jejak digital tingkat tinggi selalu meninggalkan residu yang bisa diendus oleh ahli forensik siber.
"Ada apa, Tom? Berita buruk?" tanya Dito melihat Tommy terdiam menatap ponsel.
"Bukan apa-apa, hanya berita orang-orang bodoh yang saling pukul di jalanan," bohong Tommy sambil memasukkan kembali ponselnya.
Ting!
Suara jernih sistem tiba-tiba berbunyi di dalam kepala Tommy bersamaan dengan munculnya layar biru transparan.
[MISI GANDA TERSEDIA.]
[Misi 1: Lindungi Dito dan hancurkan pengaruh keluarga Leo dari SMA Nusantara tanpa menggunakan kekerasan fisik.]
[Misi 2: Hapus residu sinyal digital Blank di peladen kepolisian sebelum mereka menemukan lokasi aslimu di kota ini.]
[Hadiah Total: +5 Poin IQ dan +80 Poin Sistem.]
[Hukuman jika gagal: Identitas asli terbongkar dan dikeluarkan dari sekolah.]
Tommy membaca dua misi berat itu dengan senyum seringai yang tertahan.
"Waktu kita sudah habis, ayo kembali ke kelas sebelum bel masuk bunyi," ajak Tommy sambil berbalik menuju pintu atap.
"Tom," panggil Dito tiba-tiba menghentikan langkah Tommy.
"Iya?"
"Nadin dan Kevin anak OSIS menggeledah tasmu kemarin waktu kita lagi olahraga," lapor Dito dengan suara pelan.
Tommy menoleh dan tersenyum sangat lebar mendengar laporan jujur dari sekutunya itu.
"Aku sudah tahu, To, makanya aku sengaja meninggalkan buku harian konyol itu di dalam tas," jawab Tommy santai.
Dito terbelalak kaget mendengar pengakuan tersebut.
"Jadi buku itu sengaja kamu buat untuk membodohi mereka?" tanya Dito tidak percaya.
"Tentu saja, gadis pintar seperti Nadin hanya akan berhenti mencari kebenaran jika ia menemukan sebuah kegilaan," jelas Tommy.
Dito menggelengkan kepalanya pelan, merasa sangat bersyukur ia berada di pihak yang sama dengan monster manipulatif ini.
Mereka berdua lalu turun dari atap dan masuk ke dalam kelas tepat sebelum guru matematika datang.
Sepanjang pelajaran, Tommy terus memutar otaknya untuk merancang skenario kehancuran Leo.
Ia butuh sebuah skandal besar yang bisa meruntuhkan reputasi keluarga Leo secara instan dan memalukan.
"Sistem, aku butuh keahlian untuk memanipulasi pasar saham dan data keuangan tingkat tinggi," perintah Tommy di dalam hatinya.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇