NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: tamat
Genre:Penyelamat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 23

Flashback.

Sebulan sebelum Ayunda genap berumur 20 tahun, hal yang ditakutkannya pun terjadi.

Dia sengaja dimasukkan ke universitas bergengsi bukan karena belas kasih, melainkan jebakan supaya Ayunda terus bergantung pada Guntara.

Benar saja, saat memasuki semester ke empat – Serlina dan suaminya membuat kesepakatan dengan Ayunda, kalau tidak mau maka biaya pendidikan diputus. Kedua orangtuanya terancam.

Beberapa waktu lalu, Ayunda disodorkan sebagai pelicin lancarnya sebuah kontrak kerja sama. Namun dia menolak keras, melarikan diri, berakhir diultimatum, terancam putus kuliah.

Dia tetap tidak mau, sampai beberapa potret sepasang suami istri tengah bekerja di sawah, makan di gubuk, lalu berjalan pulang ke hunian sederhana – menghancurkan hatinya. Ibu Inggit, pak Basri, lagi-lagi dijadikan alat supaya Ayunda kembali tunduk.

Dalam kamar sempit yang sebenarnya gudang disekat triplek untuk tempat tidur – seorang gadis belum bisa dikatakan sepenuhnya dewasa, memeluk erat tubuhnya sendiri seraya menangis dalam diam.

“Aku gak mau jadi seperti dia, tapi juga nggak menginginkan ibu dan bapak kenapa-kenapa. Terus, cita-cita bekerja di perusahaan besar bakalan pupus kalau menolak. Aku harus apa?” rintihnya seorang diri.

Ayunda selalu menjaga diri, sangat memilih teman terlebih lawan jenis. Dia memang terlahir dari rahim wanita suka menjadi simpanan pria berharta, namun sebisa mungkin menghindari meniru seperti Nadira ningtyas.

“Ibu, bapak … Yunda takut.” Lengannya digigit kuat-kuat, dia dalam keadaan jauh dari kata baik-baik saja.

Tekanan, perlakuan semena-mena yang didapatkan selama ini, dirasa belum seberapa dibandingkan dengan mengobral diri kepada pria yang jelas sudah berumur.

Dalam keterpurukan, dan diharuskan mengambil keputusan secepatnya, satu nama hadir begitu saja – Daksa Wangsa. Pewaris tunggal Wangsa group.

Ayunda cepat-cepat menghapus lelehan air matanya. “Bagaimanapun caranya aku harus bisa mencuri nomor Daksa. Hanya dia yang lebih berkuasa daripada Guntara serta Bekti.”

Gadis cantik bertubuh langsing, berkulit halus itu mulai menyusun rencana.

Keesokan harinya, Ayunda kembali menjadi peran pengganti dilokasi syuting Vinira. Dia mendapatkan sebuah tamparan keras yang seharusnya hanya singgah di pipi.

Tentu semua itu ulah Vinira, dengan dalih biar terlihat nyata, menjiwai.

Pada saat para artis pemain film tengah istirahat, Ayunda sengaja menabrak kursi tinggi dimana bagian atas ada ponsel Vinira tengah diisi daya.

Kejadian seperti yang diinginkan pun tak terelakkan. Dia mengiba, meminta maaf seperti terdakwa, lalu berjanji mengganti layar lcd pecah.

Vinira masih belum puas, berujung Ayunda kena tongkat golf ketika sampai rumah. Sarda Guntara yang memukulnya atas aduan sang putri kesayangan.

Fisiknya remuk redam, tapi hatinya puas. Demi sebuah nomor, dia rela diperlakukan bak binatang. Masih dengan menahan sakit, menutupi bekas kejahatan, Ayunda membawa ponsel kakaknya ke sebuah counter.

Sebuah nomor asing telah disalin pada ponsel berharga murah miliknya, hasil dari bekerja sambilan menjadi pencuci piring di sebuah restoran selepas jam kuliah.

Butuh 7 kali dalam dua hari berturut-turut baru mendapatkan respon. Daksa bukan sosok mudah didekati, meskipun Ayunda kerap berpapasan saat pemuda itu bertandang ke hunian Guntara.

***

Pada sore hari, untuk pertama kalinya seorang Ayunda mendatangi kediaman laki-laki berumur 24 tahun, yang telah bergelar magister, dan sudah duduk di kursi empuk sebuah perusahaan besar milik keluarganya sebagai seorang asisten manajer pemasaran sebelum dia menjadi direktur utama.

“Apa yang kamu inginkan, sampai begitu gigih meminta pertemuan?” suaranya masih tetap sama – rendah dengan tatapan dingin, raut datar.

Gemuruh dada Ayunda seperti suara hujan deras. Ia meremas tangan yang telapaknya berkeringat. Berusaha tenang agar suara tidak bergetar dan tentu supaya meyakinkan.

“Tuan, jadikan saya kepunyaan Anda,” cicitnya tak berani menatap pemuda duduk di sebuah sofa bulat berseberangan dengannya.

Ayunda pikir, dia akan langsung diusir, paling tidak ditertawai, dianggap sinting.

Namun, tanggapan Daksa Wangsa membuatnya mendongak dan langsung bertemu tatap.

“Keuntungan apa yang saya dapatkan apabila setuju?” netranya tidak berkedip, ekspresi tetap sulit ditebak.

Si gadis kesulitan mengutarakan keinginannya. Beberapa kali menarik napas pelan. “Saya masih perawan.”

Alis kanan Daksa naik. “Hanya itu?”

Dia tahu hal yang sangat istimewa baginya, bukan apa-apa teruntuk pria berharta dan memiliki kuasa ini. Jika cuma tentang kesucian, dengan mudah didapatkan menggunakan uang.

“Saya tipe setia. Menyanggupi apapun yang Tuan inginkan. Tidak akan menuntut lebih dari apa yang diberi, dan saya ingini. Tuan ….” Ayunda turun dari kursi, bersimpuh seraya menangkupkan kedua tangan.

“Saya janji tidak akan menjadi beban, Anda. Enggan serakah, meminta lebih. Tidak juga mencampuri urusan pribadi, Tuan. Tolong saya, Tuan Daksa Wangsa,” air matanya berlomba terjun bebas.

Daksa Wangsa menatap dalam, lama, netra penuh air mata itu. Dia tidak meminta Ayunda beranjak, membiarkan sang gadis terus mengiba, berusaha meyakinkan dirinya.

“Apa kamu yakin masih terjaga? Dan apa saja syarat yang dirimu inginkan?”

.

.

Bersambung.

1
zen
⭐⭐⭐⭐⭐
Mpit Mpit
keren akuh suka
Neng Tuti
kayanya daksa udah love dari masa kecil kali ya aaah maniiss banget walaupun penub intrik dan perjuangan 😍
Neng Tuti
kayanya daksa udah love dari masa kecil kali ya aaah maniiss banget walaupun penub intrik dan perjuangan 😍
Neng Tuti
ya allah kapan bahagianya ayunda kasian kamu hu hu hu😪
Santhi Agung
luar biasa ceritanya ..suka banget ga bertele-tele
Santhi Agung
luar biasa ceritanya ..suka banget ga bertele-tele
Dini Asma Amalia
ceritanya bikin penasaran pngn tau ending nya, alur nya jg ga muter2, kereeennn
Siti Musyarofah
bagus banget ceritanya Thor
mei
cerita yg luar biasa 👍👍👍👍👍👍👍 rekomend!!!! thanks y Thor atas karyanya yg tidak pernah gagal..
mei
karma tidak pernah salah alamat
tuti raniati
Dari awal baca perasaan rasanya ngenes Thor, ceritanya bagus terimakasih bacaannya Thor
tuti raniati
sesak ...
Diana Puji Astuti
bagus cerritanya
Yuliati Soemarlina
untung mutiara sifatnya seperti dadynya
meutia candra
sumpaaaaahhh buagus ceritanya.... mengharu biru.... daksa cintanya gak kaleng2..... drum ini mah hahahah
Yuliati Soemarlina
nadira seorang ibu yg tega buang bayinya sendiri n meminra imbalan 1 M
Yuliati Soemarlina
ayunda berilah panggilan lebih sopan pd suamimu..apalagi ini udah mau punya anak..daksa..daksa aja..kamu itu tdk sopan...
Ellya Muchdiana
Ada yg jelous n posesive keterlaluan, jadinya hujan lokal, biar ga bisa jogging plus cuci mats
Imas Karmasih
rasakno pak iyan kapok🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!