Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Mobil yang di kemudikan oleh Gibran perlahan memasuki halaman rumah orang tua nya, Sarah melihat nya dari balik kacamata jendela kamar nya.
"Bu, mas Gibran sudah datang!" Sarah berkata pada bu Meri yang kebetulan saat ini ada di kamar nya.
Bu Meri berjalan mendekati jendela, dia melihat putra nya membuka pintu samping mobil nya. Seorang wanita yang terlihat lebih muda keluar dari dalam mobil, Gibran menggenggam erat tangan nya. Kedua nya berjalan memasuki rumah sambil bergandengan tangan.
"Ayo kita keluar, kita beri kejutan untuk mereka!" Ajak Bu Meri.
"Iya bu!" Jawab Sarah.
Kedua nya berjalan keluar, bu Meri berjalan lebih dahulu dengan Sarah yang mengikuti di belakang nya.
"Ibu, aku pulang!" Gibran langsung menghampiri ibu nya dan mencium tangan nya.
"Bu, perkenalkan ini Santi, istri ku!" Gibran langsung mengenal kan wanita itu pada ibu nya.
Santi berjalan mendekat, dia ingin meraih tangan bu Meri. Tapi bu Meri terlihat enggan mengulurkan tangan nya.
"Mas, seperti nya ibu mu tidak menyukai kedatangan ku!" Santi berkata dengan nada manja.
"Sarah, apa yang kau lakukan di belakang ibu? Kau menyembunyikan sesutu dari ibu?" Tanya bu Meri sambil menatap mata putra nya dengan tatapan tajam.
"Bu, maafkan aku bu. Aku memang tidak mengatakan apapun pada ibu mengenai hal ini, aku dan Santi sudah menikah. Aku menikah lagi karena Sarah tidak bisa memberi ku keturunan!" Gibran berkata pada ibu nya.
"Lalu apa dia bisa memberi mu keturunan?" Tanya Bu Meri.
"Bisa bu, ibu sudah memiliki cucu laki - laki. Usia nya sudah 7 tahun, tapi saat ini dia tidak ikut dengan kami ke kota!" Gibran menjelaskan dengan wajah berbinar.
"Apakah kau yakin bahwa anak itu adalah darah daging mu?" Tanya Bu Meri sambil melipat tangan di dada.
"Apa maksud ibu? Jelas itu anak ku, anak siapa lagi kalau bukan anak ku!" Jawab Gibran dengan percaya diri.
Berbeda dengan Santi, wajah Santi langsung berubah pias saat bu Arum menanyakan bahwa apakah benar anak itu adalah darah daging nya. Dia tampak gugup, dan bu Santi bisa melihat nya dengan jelas.
Pada saat itu juga, Gibran dan Santi menyadari bahwa Sarah masih berada di rumah ini. Sarah berdiri tidak jauh dari mereka.
"Sarah, kenapa kau masih ada di sini? Seharusnya kaubl sudah pergi dari rumah ini!" Gibran bertanya dengan perasaan kesal.
"Kenapa Sarah harus pergi, Gibran?" Bu Meri malah balik bertanya pada Gibran.
"Bu, aku dan Sarah akan segera berpisah, dan istri ku satu - satu nya hanya Santi. Aku tidak mau hidup dengan wanita mandul itu!" Gibran berkata sambil meraih tangan Santi.
Sarah tampak begitu tenang mendengar ucapan Gibran, kini dia sama sekali tidak terpancing emosi.
"Gibran, aku tidak perduli kalau ku dan Sarah mau berpisah. Tapi sampai kapan pun Sarah tidak akan pergi dari rumah ini!" Bu Meri berkata dengan tegas.
"Apa maksud ibu? Aku ini istri nya mas Gibran, dan kenapa ibu membiarkan wanita lain tinggal di rumah suami ku?" Tanya Santi dengan nada tidak suka.
"Sarah sudah ku anggap seperti putri kandung ku sendiri, jadi tidak ada satu orang pun yang bisa mengusir nya dari rumah ini!" Kembali bu Meri menegaskan.
"Tapi bu, aku akan membawa Santi dan anak ku tinggal di sini nanti. Aku tidak mau ada orang asing tinggal di rumah ku!" Gibran kembali berkata.
"Gibran, selama 10 tahun ini Sarah lah yang merawat ku. Bahkan saat aku sakit keras, Sarah lah yang membersihkan kotoran ku, sedangkan kau tahu nya hanya bersenang - senang dengan wanita ini di luar sana. Sarah memperlakukan aku seperti orang tua kandung nya sendiri, dia melakukan hal yang tidak pernah di lakukan oleh anak ku sendiri!" Bu Meri kembali berkata dengan nafas memburu.
"Bu, aku ini anak kandung ibu bukan Sarah!" Gibran tidak terima dengan ucapan Ibu nya.
"Gibran, sampai kapan pun Sarah tidak akan pergi dari rumah ini. Tidak ada yang bisa mengusir anak ku dari rumah nya sendiri!" Tegas bu Meri.
Gibran sangat geram mendengar nya, dia berjalan mendekati Sarah.
"Dasar wanita tidak tahu malu, ini rumah ku. Kota akan berpisah, jadi sebaik nya tahu diri dan pergi dari rumah!" Gibran mencekal pergelangan tangan Sarah dengan kencang.
"Lepas kan mas, sakit!" Sarah meringis kesakitan.
"Gibran, lepaskan tangan Sarah. Jika kau berani menyakiti nya maka aku tidak segan - segan melaporkan mu ke pihak yang berwajib!" Bu Meri mengancam Gibran.
Mendengar ancaman ibu nya, Gibran langsung melepaskan cekalan tangan nya pada Sarah.
"Apa maksud ibu? Dia bukan siapa - siapa di rumah ini, kenapa ibu membela nya?" Gibran tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh ibu nya.
"Sudah ibu katakan Gibran, Sarah melakukan sesuatu yang tidak bisa di lakukan oleh putra kandung ku sendiri. Aku tidak perduli sekalipun kau dan Sarah berpisah, bagi ku dia tetap lah putri ku. Dan tidak ada seorang pun yang bisa mengusir putri ku dari rumah ku sendiri!" Ujar bu Meri dengan nada yang menggebu - gebu.
"Kau benar - benar keterlaluan Sarah, kau membuat ibu ku menentang diri ku. Dasar wanita tidak tahu malu!" Gibran berkata sambil mata nya menatap Sarah dengan nyalang.
"Gibran, kembalikan uang tabungan Sarah yang kamu ambil. Itu uang pribadi nya, kau yang tidak tahu malu mengambil uang Sarah demi wanita lain!" Bu Meri berkata pada Gibran.
"I,, ibu,, a,, aku!" Gibran tanpak gugup.
"Gibran, uang sebesar 5 miliar yang kau minta dari ku adalah milik Sarah, uang untuk membeli rumah Sarah. Kembalikan uang itu, sekaligus uang perawatan rumah itu setiap bulan nya!" Bu Meri berkata pada Gibran.
"Ibu, sekarang Santi adalah istri ku. Dia lebih berhak atas uang itu, bukan Sarah!" Gibran tidak rela jika uang itu di serahkan pada Sarah.
"Gibran, istri sah mu adalah Sarah bukan Santi. Dan yang berhak atas semua itu adalah Sarah, bukan Santi!" Tegas bu Meri.
Mendengar perdebatan antara Gibran dan Ibu nya, Santi menjadi ketar - ketir. Di kampung nya dia sudah memamerkan pada semua orang, bahwa rumah nya adalah rumah yang paling megah dan mewah di rumah ini.
Jika sampai ruma itu di ambil oleh bu Meri, maka dia dan keluarga nya akan malu. Santi tidak ingin kehilangan rumah itu untuk keluarga nya.
"Mas, rumah itu milik ku. Bukan kah kau sendiri yang membangun nya untuk ku, aku tidak akan menyerahkan rumah itu pada orang lain!" Santi berkata pada Gibran.
Gibran mengusap wajah nya dengan kasar, niat nya datang kemari agar mendapatkan uang dari ibu nya. Malah berubah sebaliknya, bu Meri menagih uang rumah Sarah pada nya.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah