Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Nadhira masih menatap Bara dengan tatapan penuh rasa tidak percaya bercampur kekaguman yang mendalam.
Pemuda tampan di depannya ini baru saja menumbangkan empat preman bersenjata tanpa mengeluarkan setetes keringat pun dari dahinya.
"Kamu tadi bilang kalau kita berdua punya musuh yang sama?" tanya Nadhira memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Ya, pria sombong bernama Aris itu juga kebetulan punya masalah pribadi yang belum selesai denganku," jawab Bara dengan nada suara yang sangat tenang.
Bara menendang pelan tubuh preman bopeng yang masih pingsan di dekat kakinya agar menyingkir dari jalan keluar gang buntu tersebut.
"Ayo kita tinggalkan tempat kotor ini sebelum preman-preman rendahan ini sadar dan mulai menangis kesakitan lagi," ajak Bara sambil menunjuk ke arah jalan raya.
Nadhira menganggukkan kepalanya dengan cepat dan langsung berjalan mengikuti langkah tegap Bara dari belakang.
"Bara, sebagai tanda terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku, biarkan aku mentraktirmu minum kopi di cafe depan sana," tawar Nadhira dengan senyum manis yang sangat tulus.
Bara melirik sekilas ke arah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan wanita cantik itu, lalu tersenyum tipis.
"Tawaran minum kopi gratis dari seorang wanita secantik dirimu tentu saja tidak mungkin aku tolak," jawab Bara dengan nada bercanda yang membuat pipi Nadhira sedikit merona.
Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke dalam sebuah kedai kopi elit yang suasananya sangat tenang dan sepi dari pengunjung.
Nadhira memesan dua cangkir kopi hitam mahal dan memilih tempat duduk di sudut ruangan yang jauh dari pintu masuk.
"Jadi, apa yang sebenarnya diinginkan oleh keluarga Aristha dari perusahaanmu sampai mereka harus mengirim preman jalanan?" tanya Bara membuka percakapan sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Nadhira menghela nafas panjang dan wajah cantiknya perlahan kembali terlihat sangat lelah serta tertekan oleh beban pikiran.
"Perusahaanku bergerak di bidang produksi kosmetik dan perawatan kulit wanita berbahan dasar herbal alami," jelas Nadhira memulai ceritanya dengan suara pelan.
"Belakangan ini produk inovasi kami sangat laku di pasaran dan mulai mengancam pangsa pasar dari anak perusahaan kosmetik milik Keluarga Aristha."
Nadhira mengaduk kopinya dengan pelan menggunakan sendok kecil hingga menimbulkan suara dentingan halus yang mengisi keheningan meja mereka.
Tring! Tring!
"Aris kemudian mencoba memonopoli bahan baku herbal dari para petani di luar kota sehingga pabrikku sekarang kesulitan untuk berproduksi secara normal," lanjut wanita itu dengan nada kesal.
"Dia lalu datang membawa surat paksaan untuk membeli saham perusahaanku dengan harga yang sangat tidak masuk akal murahnya."
"Saat aku menolak tawaran liciknya itu, dia mulai bermain kotor dengan mengirim preman untuk mengintimidasiku secara fisik seperti tadi," tutup Nadhira dengan tangan yang sedikit bergetar menahan amarah.
Bara mendengarkan semua keluh kesah Nadhira itu dengan saksama tanpa menyela sedikit pun dari awal sampai akhir.
Cara kerja Aris yang suka menindas orang lemah demi keuntungannya sendiri memang sangat sesuai dengan kelakuannya saat merebut Dela kemarin siang.
"Keluarga Aristha sepertinya memang terbiasa menggunakan uang dan kekuasaan untuk menginjak-injak orang lain sesuka hati," komentar Bara sambil menyesap kopi hitamnya yang masih panas.
"Lalu apa rencanamu sekarang untuk menyelamatkan perusahaan kosmetikmu itu dari ambang kebangkrutan, Nona Nadhira?"
Nadhira tersenyum kecut dan menatap kosong ke arah permukaan meja kayu bundar di depannya.
"Sejujurnya aku sudah hampir kehabisan akal dan tenaga untuk melawan mereka sendirian, Bara."
"Para investor besarku mulai menarik dana mereka karena takut berurusan dengan keluarga Aristha yang sangat berkuasa di kota ini."
"Kalau dalam waktu satu minggu aku tidak bisa meluncurkan produk baru yang meledak di pasaran, perusahaanku pasti akan hancur lebur tanpa sisa."
Mendengar kata produk inovasi dan bahan herbal, otak Bara tiba-tiba bekerja dengan sangat cepat dan brilian.
Dia langsung teringat pada barang aneh yang dia dapatkan dari sistem daur ulang tadi pagi sebelum pergi ke pasar loak.
Sebuah bundel catatan resep pil kultivasi tingkat dasar milik seorang tetua alkemis dari Sekte Harmoni.
Bara memang sama sekali tidak bisa meracik pil gaib itu sendiri di dapur, tapi isi resep itu pasti mengandung komposisi tanaman herbal yang luar biasa khasiatnya.
Kalau resep penyembuhan dari dunia kultivasi itu bisa diadaptasi menjadi krim perawatan kulit biasa, hasilnya pasti akan sangat mengejutkan bagi kulit manusia modern.
"Nadhira, bagaimana kalau aku bilang bahwa aku punya solusi mutlak untuk menyelamatkan perusahaanmu dari kehancuran?" ucap Bara tiba-tiba dengan tatapan mata yang sangat serius.
Nadhira menatap Bara dengan kening berkerut, merasa sedikit bingung dengan ucapan pemuda yang baru saja menyelamatkan nyawanya ini.
"Solusi mutlak seperti apa yang kamu maksud, Bara?" tanya Nadhira dengan nada penasaran sekaligus ragu yang bercampur aduk.
"Kamu kan baru saja menyelamatkanku dari preman, masa kamu juga mau memberikanku suntikan dana investasi miliaran rupiah?" canda Nadhira dengan tawa kecil yang terdengar dipaksakan.
"Aku tidak akan memberimu uang tunai sepeser pun, tapi aku bisa memberimu sebuah formula resep rahasia untuk produk perawatan kulitmu," jawab Bara dengan nada yang sangat meyakinkan dan tanpa keraguan.
"Resep herbal kuno yang aku miliki ini dijamin bisa membuat kulit wanita menjadi sangat mulus, menghilangkan bekas luka, dan melawan penuaan dalam hitungan hari pemakaian."
Nadhira terdiam sejenak mendengar klaim yang terdengar terlalu berlebihan dan tidak masuk akal dari mulut Bara barusan.
"Bara, aku ini adalah seorang pengusaha kosmetik yang sudah bertahun-tahun melakukan riset mendalam tentang bahan kimia dan herbal," ucap Nadhira mencoba memberi pengertian dengan sabar.
"Tidak ada satu pun produk di dunia medis modern ini yang bisa memberikan efek ajaib secepat yang kamu katakan tadi tanpa efek samping yang berbahaya."
"Kalau memang ada produk gila seperti itu, penemunya pasti sudah dinobatkan menjadi orang terkaya di dunia sekarang."
Bara sama sekali tidak tersinggung dengan keraguan dari Nadhira, karena reaksi wanita itu adalah hal yang sangat logis dan wajar.
Bara perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap tajam langsung ke dalam mata indah Nadhira.
"Aku tidak akan meminta bayaran sepeser pun di awal darimu untuk resep berharga ini, Nadhira."
"Kamu hanya perlu membawa salinan resep dariku ini ke laboratorium milikmu dan meminta tim penelitimu untuk mengujinya sendiri."
"Kalau terbukti resepku ini palsu atau berbahaya bagi kulit, kamu boleh merobeknya dan membuangnya ke tempat sampah lalu melupakan semua omonganku hari ini."
"Tapi kalau resep ini berhasil menciptakan produk kosmetik terbaik yang pernah ada di pasaran, aku ingin pembagian keuntungan bersih sebesar lima puluh persen dari setiap penjualannya."
Bara memberikan penawaran bisnis yang sangat jelas, tegas, dan tidak bertele-tele layaknya seorang negosiator ulung kelas dunia.
Nadhira menggigit bibir bawahnya pelan sambil mempertimbangkan tawaran gila dari pria misterius di depannya ini.
Di satu sisi akal sehatnya menolak keras untuk percaya, tapi di sisi lain, aura kepercayaan diri yang memancar dari tubuh Bara membuatnya merasa terhipnotis untuk menuruti perkataannya.
Lagipula dia tidak akan menanggung kerugian finansial apa-apa jika hanya menguji coba sebuah komposisi resep baru di laboratoriumnya sendiri.
"Baiklah Bara, aku akan menerima tawaranmu dan menguji resep rahasia milikmu itu bersama kepala penelitiku besok," putus Nadhira akhirnya sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Kalau resepmu itu benar-benar berhasil menyelamatkan perusahaanku dari kehancuran, aku berjanji pasti akan langsung menyetujui pembagian keuntungan lima puluh persen itu tanpa protes."
Bara tersenyum puas mendengar persetujuan dari Nadhira yang sangat cepat dan berani mengambil risiko.
"Pilihan yang sangat cerdas Nona Nadhira, aku jamin kamu tidak akan pernah menyesali keputusan besarmu hari ini," ucap Bara sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Berikan nomor teleponmu padaku, aku akan menyalin resepnya ke dalam format digital dan mengirimkannya langsung ke ponselmu nanti malam."
Mereka berdua kemudian saling bertukar nomor telepon dan berbincang ringan tentang berbagai macam topik selama beberapa menit lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk berpisah.