Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16 — Aku Tidak Mau Sekarang
Maya membetulkan kerah Adrian sebelum mereka masuk ke rumah ibunya.
“Jangan terlalu lama lihat ponsel, ya.”
“Aku sudah matikan suara.”
Maya mengangguk. Ia tampak senang dengan jawaban itu, lalu meraih tangannya.
Makan malam keluarga biasanya berlangsung terlalu lama. Ada cerita tetangga, kabar sepupu, pertanyaan tentang bisnis, dan makanan yang terus ditambahkan ke piring bahkan setelah semua orang bilang kenyang.
Adrian membantu membawa hidangan dari dapur.
Ibu Maya tersenyum kepadanya.
“Masih rajin masak?”
“Kalau sempat, Bu.”
“Maya bilang ayam buatanmu lebih enak daripada restoran.”
Maya tertawa dari meja makan.
“Itu kalau dia nggak sok ubah resep.”
Adrian ikut tertawa. Untuk beberapa menit, ia bisa berada di sana tanpa memikirkan hal lain.
Kemudian ibu Maya mengeluarkan semangkuk sup lagi dan berkata kepada putrinya bahwa nanti, kalau sudah mulai program punya anak, sebaiknya jangan sering pulang larut setelah acara.
Sendok Adrian berhenti.
“Program?”
Maya mengambil sup.
“Ibu cuma mengingatkan.”
“Katanya kalian mau mulai tahun ini,” kata ibunya, masih tersenyum.
Adrian memandang Maya.
Istrinya tidak mengangkat kepala.
“Kami belum sepakat soal waktunya, Bu.”
Obrolan di meja terhenti. Beberapa orang menoleh kepada Adrian, menunggu Maya menjawab.
Maya meletakkan sendok.
“Kita sudah bicara.”
“Bicara, iya. Aku belum setuju.”
“Adrian.”
Ia mendengar peringatan itu. Biasanya ia akan tertawa kecil, mengatakan nanti dipikirkan, memberi keluarganya sesuatu yang cukup untuk melanjutkan makan.
Ia tidak melakukannya malam ini.
“Saya sekarang belum ingin punya anak, Bu.”
Ibu Maya menatap mereka bergantian.
“Oh. Ya, dibicarakan lagi saja.”
Percakapan dipindahkan ke pekerjaan seorang sepupu. Orang-orang berusaha terdengar biasa.
Maya terus makan. Di bawah meja, tangannya sudah lepas dari tangan Adrian.
* * *
Maya menutup pintu kamar, lalu berbalik sebelum Adrian sempat melepaskan jam tangannya.
“Sekarang ibuku pikir aku mengarang-ngarang. Kamu lihat dia setelah kamu bilang belum mau? Dia sampai nggak tahu harus memandang siapa.”
Adrian meletakkan jam di meja.
“Aku juga nggak tahu harus menjawab apa waktu dia bilang kita mau mulai tahun ini. Kapan aku setuju, May?”
“Aku cerita aku berharap tahun ini. Berharap. Aku nggak pernah bilang kamu sudah setuju.”
“Lalu kenapa waktu aku luruskan, kamu menyuruhku diam?”
Maya melepas anting. Pengaitnya tersangkut rambut, dan ia menariknya terlalu keras sampai meringis.
“Karena bisa nanti! Di mobil, di rumah, di mana saja selain di depan seluruh keluargaku.” Ia menjatuhkan anting itu ke meja rias. “Kamu cukup bilang sedang dipikirkan. Satu kalimat, Adrian. Tapi tadi kamu harus memastikan semua orang tahu istrimu ingin anak dan kamu nggak.”
Adrian merasa panas di tengkuk. Ia sudah berusaha mengatakan belum sepakat, tetapi Maya tetap memanggil namanya dengan nada peringatan, seolah tugasnya adalah menyetujui saja.
“Kalau aku mengangguk, kapan pembicaraan ini selesai? Minggu depan ditanya sudah mulai atau belum, aku mengangguk lagi? Kamu boleh minta waktu bicara, tapi jangan beri orang harapan atas namaku.”
Maya menoleh dari cermin.
“Harapan. Kedengarannya berat sekali kalau yang berharap aku.”
“May…”
“Dulu tanggal nikah juga harus kutanya. Kamu selalu belum siap. Tunggu pekerjaan, tunggu keadaan pas. Aku sampai merasa seperti orang yang mengejar laki-laki yang nggak mau denganku.”
Adrian terdiam sesaat. Dua kali mereka berpisah sebelum menikah. Ia masih ingat kunci apartemen yang ia kembalikan dan tiga minggu ketika ia yakin hubungan mereka benar-benar selesai.
Kemudian ia datang membawa makanan. Maya menangis, mereka kembali bersama, dan masalah yang membuatnya pergi tidak pernah dibicarakan sampai tuntas.
“Aku datang lagi karena ingin sama kamu,” katanya. “Aku menikahi kamu karena aku mau. Sekarang semuanya kamu ceritakan seperti aku diseret sampai ke pelaminan.”
“Aku yang menunggu selama kamu memutuskan mau kembali atau nggak.”
Maya menyeka pipinya. Adrian memalingkan wajah; ia tahu ia telah menyakitinya waktu itu. Ia juga ingat betapa sering mereka kembali baik-baik saja hanya karena salah satu berhenti membahas masalahnya.
“Aku nggak bisa lagi asal bilang iya supaya malam ini selesai, May. Kita pernah begitu. Besoknya tetap bertengkar soal yang sama.”
“Kalau begitu, jangan mengeluh aku harus bertanya!” Maya melangkah mendekat. “Kalau menunggu kamu yang mulai, sampai kapan? Aku ingin suamiku punya rencana denganku tanpa harus kutarik satu-satu dari mulutnya.”
Adrian duduk di tepi ranjang. Ia lelah, tetapi Maya masih berdiri di depannya, menunggu. Kali ini ia tidak bisa sekadar menyebut proyek atau keadaan kantor.
“Aku cuma ingin tahu kamu masih mau hidup yang sama denganku,” kata Maya.
Adrian menatap istrinya. Ia ingin mengatakan tentu, menyebut rumah mereka dan semua yang telah mereka lalui. Tetapi beberapa hari lalu ia mencium Nara. Ia bahkan masih mengingat ciuman itu ketika pulang kepada Maya.
Ia terlambat menjawab.
Maya mengangguk kecil, seperti membenarkan sesuatu yang ditakutinya.
“Nah. Begini lagi.”
“Aku sedang mencoba ngomong baik-baik.”
“Aku nggak minta kalimat yang bagus, Adrian. Jawab saja.” Ia menunggu, lalu tertawa getir. “Tadi di depan keluargaku cepat sekali kamu menjawab. Sekarang cuma ada aku, susah?”
Adrian mengusap wajah. Ia marah karena didesak, tetapi rasa bersalah membuat setiap pembelaan terasa palsu. Maya tidak tahu soal ciuman itu. Ia tidak bisa memintanya tenang seolah kecurigaannya tak beralasan.
“Aku belum mau punya anak sekarang. Aku nggak akan menjanjikannya hanya supaya kamu merasa lebih baik malam ini.”
Maya memandangnya lama.
“Aku tanya kamu masih mau hidup denganku. Kamu jawab soal anak.”
Ia mengambil bantal. Adrian buru-buru berdiri.
“Biar aku di kamar tamu.”
Maya memeluk bantal itu lebih erat.
“Tadi aku butuh kamu jaga perasaanku sedikit saja. Sekarang nggak usah repot-repot.”
Ia keluar sebelum Adrian menemukan jawaban. Laki-laki itu tetap di sisi ranjang, mendengar pintu kamar sebelah ditutup.
* * *
Setelah rumah sunyi, Adrian membuka ponsel.
Ia membuka percakapannya dengan Nara. Seusai pertemuan di kedai, ia hanya sempat menanyakan apakah perempuan itu sudah sampai. Nara menjawab singkat. Mereka belum membicarakan ciuman itu.
Adrian menatap kolom kosong.
Ia bisa menceritakan pertengkaran tadi. Ia yakin Nara akan mendengarkan. Tetapi ia tidak ingin menjadikan pertengkaran dengan Maya sebagai alasan untuk mendekatinya lagi.
Ia menutup ponsel.
Dari kamar sebelah terdengar bunyi barang digeser. Maya rupanya belum tidur juga. Adrian merasa bersalah, tetapi ia masih terlalu kesal untuk mendatangi istrinya.