NovelToon NovelToon
Istri Buruk Rupa Kesayangan Mafia

Istri Buruk Rupa Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.

​Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.

​Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.

​Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gawat!

"Gavin, bawa mobil. Kita pergi sekarang," titah sang Bos Mafia tegas.

Gavin yang mengerti situasi segera mengangguk. Dengan lembut menurunkan Lily dari gendongannya.

Bocah cilik itu berdiri sendirian di depan pintu utama, menatap sayu dan sedih ke arah punggung Rakanza, Luviana, dan Gavin yang meninggalkan mansion. Lily terdiam membisu dalam hening. Ia berbalik badan dan melihat isi rumah besar itu kembali sunyi menakutkan. Kesepian ini paling ia benci. Namun sebelum air mata Lily pecah, Julian akhirnya datang bersama seorang anak laki-laki.

"Astaghfirullah… Lily?" ucap Julian kaget.

"Kenapa menangis, Dek?" tanya bocah laki-laki itu.

"Ayah... Kakak!" Lily mengusap matanya cepat lalu memeluk kakaknya.

"Lily hali ini belhasil bicala sama Uncle Laka, tapi Uncle Laka sudah pelgi..."

"Pergi kemana?" tanya Julian penasaran.

"Pelgi bawa istilinya pindah lumah, Ayah," jawab Lily.

"Siapa yang pindah?" sahut seseorang, tak lain adalah Rafandra yang baru pulang.

"Uncle Lafa! Tau ndak? Uncle Laka punya istli!"

"Istri? Raka sudah menikah? Tidak mungkin! Kamu pasti ngarang, ya?" ucap Rafandra tidak percaya.

"Benelan tauuu! Lily ndak pelnah bohong. Tanya saja sendili Oma sama Opa," balas Lily berkacak pinggang.

Tanpa basa-basi lagi, Rafandra masuk mencari orang tuanya. Sementara Julian, ia mengajak mereka pulang.

___

Mobil hitam mewah itu membelah jalanan malam Jakarta yang lengang. Di dalam kabin, suasana terasa begitu tegang dan hening, tak ada sepatah kata pun yang terucap.

Namun di sudut kursi belakang, pikiran Rakanza justru sedang sangat berisik oleh amarahnya sendiri. Pria itu bersedekap dada sambil menatap lurus ke luar jendela dengan raut wajah datar.

"Seharusnya wanita ini berterima kasih padaku! Aku sudah pasang badan dan membelanya di depan Papi dan Mami sampai angkat kaki dari rumah!" batin pria itu menggerutu kesal.

"Atau setidaknya dia bertanya ada makanan apa untuk mengganjal perutnya, bukan malah sok kuat menahan lapar sendirian."

KRUKKK...

Suara keroncongan dari perut Luviana kembali terdengar tipis, memotong heningnya kabin mobil. Rakanza memutar kepalanya dan menatap istrinya dengan dahi berkerut tajam.

"Apa kau tidak menghabiskan bubur yang kubuatkan tadi?" tanya Rakanza dengan nada dingin.

Luviana menggeleng kecil. "Tidak... saya tidak memakannya."

"Kenapa tidak dimakan?!" potong Rakanza cepat, suaranya naik satu oktav, terdengar sangat kesal.

"Dasar bodoh!" umpat Rakanza dalam hati dengan angkuh.

"Apa dia takut ketularan penyakitku sampai tak sudi memakan masakanku? Aku sudah capek-capek berdiri di dapur buat bubur premium itu lho! Sok suci sekali!"

Sebelum Rakanza makin meluapkan emosinya, Gavin yang fokus menyetir di depan mendadak menyahut santai dari kaca spion seolah tahu isi pikiran Bosnya.

"Anu, Bos... Nyonya Muda bukannya sok jual mahal, tapi Nyonya Muda memang punya alergi kacang."

Luviana mengangguk membenarkan ucapan Gavin. "Iya, Tuan... di dalam bubur itu ada kacangnya."

"Seandainya saya tidak punya alergi, saya pasti akan menghabiskannya! Sungguh aromanya saja enak!"

Deg.

Rakanza seketika terdiam. Pria dingin itu berdeham canggung, melempar pandangannya kembali ke luar jendela. Ada rasa malu yang mendadak menyeruak di dadanya karena pikirannya sendiri yang sudah salah menuduh istrinya macam-macam. Wajah tegapnya yang mendadak tegang dan serba salah itu membuat Luviana melirik heran dari balik cadar.

Luviana baru saja ingin membuka mulut untuk bertanya, tetapi Rakanza lebih dulu merogoh saku jasnya. Dengan gerakan kasar dan acuh tak acuh, ia menyodorkan sebungkus roti cokelat kecil ke arah Luviana, roti darurat yang selalu dibawa Rakanza ketika lapar di jalan.

"Makan ini," cetus Rakanza singkat, enggan menatap mata istrinya.

Binar bahagia seketika memancar dari mata teduh Luviana. Wajahnya berseri-seri. Ia menerima roti itu dengan kedua tangannya.

"Terima kasih, Tuan Raka," ucap Luviana tulus.

Meski sebagian wajahnya tertutup, Rakanza bisa melihat dengan sangat jelas garis mata gadis itu yang menyempit indah, sebuah senyuman tulus yang entah mengapa sanggup mengusik ketenangan hatinya untuk detik itu.

Di balik kemudi, Gavin menyunggingkan senyum tipis. "Bisa perhatian juga si Bos ini, aku kira cuma tahu cara nembak orang," batin Gavin geli.

Namun, senyum Gavin langsung luntur seketika saat Rakanza berdehem berat dan kembali memamerkan gengsi setinggi langitnya.

"Jangan kegeeran," ucap Rakanza ketus seraya melirik Luviana dari sudut matanya.

"Aku membelamu di depan orang tuaku bukan karena aku perhatian padamu. Tapi ini semua demi Nenek. Aku tidak mau kau mengadu ke Nenek kalau aku tak becus menjagamu di sini."

Rakanza sengaja menjeda sejenak, menunggu respons atau ucapan rasa syukur dari istrinya. Namun, ketika Rakanza menoleh, Luviana justru sedang asik, tenang, dan nikmat mengunyah rotinya tanpa mendengarkan satu kata pun dari pidato keangkuhannya!

Kerutan kekesalan di kening Rakanza seketika bertumpuk.

"Gadis ini... benar-benar tidak tahu diri!" batinnya menjerit murka, tangannya mengepal erat di atas paha.

"Bukannya berterima kasih atau terharu, dia malah asyik makan terus?!"

Aura membunuh yang begitu pekat mendadak menguar dari tubuh Rakanza. Matanya menyorot merah penuh amarah yang siap meledak di dalam kabin mobil.

Luviana yang duduk di sebelahnya seketika tersentak. Ia menoleh dan dibuat jantungan melihat raut wajah Rakanza yang tampak seperti monster kelaparan yang siap menerkamnya hidup-hidup.

Gawat! Jika bos mafia ini mengamuk sekarang, ia bisa diturunkan di jalan tol!

Uhuk! Uhuk-uhuk! Uhuukkkkk!

Tiba-tiba Luviana memegang lehernya, terbatuk-batuk hebat dengan suara dramatis seolah-olah tersedak roti hingga sukar bernapas.

Aura amarah dan gelap di tubuh Rakanza lenyap dalam sekejap mata, berganti menjadi kepanikan.

"Hei! Kau kenapa?!" tanya Rakanza refleks menepuk pelan punggung Luviana tanpa sadar. "Gaviiiiiin! Air! Cepat ambilkan air! Dia tersedak!"

"Siap, Bos! Ini airnya!" Gavin dengan kilat menyerahkan botol air mineral ke belakang.

Rakanza menyambar botol itu, memutar tutupnya dengan cepat, lalu menyodorkannya pada Luviana.

"Cepat minum! Jangan mati di mobilku!"

Luviana menerima botol itu dan meminumnya perlahan. Di balik cadar yang menutupi wajahnya, Luviana mengulum senyum kemenangan.

Alhamdulillah, aman...

Luviana bernapas lega terbebas dari amarah sang Bos Mafia itu. Namun entah apa yang akan terjadi setelah mereka tiba di rumah baru.

*

*

Sementara itu, Luviana palsu baru saja selesai mencuci wajahnya di kamar mandi. Ia menuju meja rias dan mendudukkan dirinya di sana. Tangannya dengan telaten mengoleskan sleeping mask bernilai jutaan rupiah ke wajah mulusnya agar tampak makin glowing dan memesona keesokan harinya.

Di balik cermin besar di hadapannya, sebuah seringai licik dan penuh kebencian terukir tajam. Dalam hati, gadis itu terbahak-bahak puas. Besok, ia akan resmi menjadi menantu dari keluarga Elson yang kaya raya dan terpandang. Setelah posisi itu aman di tangannya, tak butuh waktu lama baginya untuk menghancurkan keluarga mafia itu dari dalam.

"Seandainya rencana awal lima tahun lalu tidak hancur gara-gara kebodohan anak buahku, aku pasti sudah punya senjata paling ampuh untuk meratakan keluarga Elson..." gumamnya lirih seraya menatap pantulan dirinya di cermin.

Pandangannya mendadak mengeras, kilatan dendam membara memancar jelas dari matanya. "Tapi tidak masalah. Rencana B pun berjalan sangat sempurna. Kalian harus membayar mahal atas kematian orang tuaku! Semua orang yang berhubungan dengan Elson harus mati! Dan aku akan memulainya dari pria polos itu... Rafandra."

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel mahal yang tergeletak di atas meja rias mendadak bergetar hebat. Luviana palsu meraihnya dan mengangkat panggilan tanpa nama tersebut. Si penyuara di ujung telepon tak lain adalah pengkhianat besar yang selama ini paling dicari-cari oleh Rakanza.

"Nona... gawat!" suara pria di seberang telepon terdengar panik dan terengah-engah. "Markas kita berhasil diratakan dan dihancurkan tanpa sisa oleh anak buah Rakanza! Padahal... padahal sedikit lagi kita bisa membakar habis markas utama Black Lotus di Meksiko! Beruntung saya sempat meloloskan diri dan mengamankan dokumen rahasia kita!"

BRAK!

Luviana palsu menggebrak meja riasnya dengan keras, hingga alat kosmetik di atasnya tergoncang hebat. Matanya membara, dipenuhi dendam yang begitu pekat pada pria bernama Rakanza Elson.

"Dasar tidak berguna!" umpatnya, suara tajam yang sarat ancaman. "Amankan dokumen itu dan sembunyi sampai aku memberimu perintah berikutnya!"

Ia mematikan sambungan telepon secara sepihak dan meremas ponselnya kuat-kuat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan seringai iblis yang makin melebarkan kebenciannya.

"Raka... Raka..." bisiknya dingin.

"Setelah aku selesai menghancurkan Rafandra dan membuangnya seperti sampah, giliranmu yang akan ku habisi. Pria tak tersentuh seperti mu... akan tamat secara mengenaskan di tanganku!"

...____...

Alhamdulillah sudah bab 20 nih, mohon kerjasamanya dan dukungannya, like, komen, vote dan subscribe... semoga retensinya tercapai supaya Mom Ilaa tetap lanjut di lapak ini. Terima kasih.

1
Bunda SalVa
jadinya cinta segitiga dong yah antara Rafa, Luvi dan Raka dan siapa yg akan jadi pemenang akhirnya setelah tahu kalo Luvi yg asli adalah yang pakai cadar 😄
Lala
di pake topeng itu
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
rak?
febby fadila
alhamdllah akhirnya raka sudah tau kebenarannya tinggal membongkar kebusukan putri palsu yg gila itu
febby fadila
cb saja kau hanyu gila jangan sampai kamu yg di mutilasi duluan sama raka 🤣🤣🤣
febby fadila
semoga cepat terbongkar ya thor jangan lama² dong ya
siti Syamsiar
lanjut👍
Bunda SalVa
semangat Mom 🤗🤗
Bunda SalVa
haruss dong Mom, masa kalah sama boneka Anabel 🤣🤣🤣
Adinda
aku dukung raka sama luviana asli
febby fadila
waduuuu luviana mencintai rafa tp sekarang sdah menjadi istrinya raka kakak kembarnya rafa astaga cinta segitiga
siti Syamsiar
lanjut thor👍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
harus dong
Budi Rahayu
setuju banget 😎
febby fadila
thorrr jangan lama² dong thor sumpah bikin emosi ini, 🤣🤣🤣
febby fadila
ihhhhh thor lama amat si kebongkar bikin emosi banget si sumpah,, 😡😡😡😡
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡
Lala
rafa mafia TPI bodoh ya
Anonim
🤭🤭🤭
Farida Irwanq
kak thor up lagi dong🙏
febby fadila
adduuuuuu thor gantung lagi astaga aku sampai guling² 😭😭😭😭😭😭
jangan lama ya thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!