Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : Saat Takdir Memilihku
Bughhhh!!!
Devan meninju pria di hadapan nya hingga tersungkur jatuh, Devan menghancurkan pistol yang di bawa oleh Sam hanya dengan sekali cengkraman, pistol itu hancur berserakan.
Tak lama kondisi menjadi normal kembali, orang2 yang melihat kejadian itu segera melaporkan nya ke pihak berwajib, namun Malea yang ada di sana seakan mencegah seorang yang akan menelpon polisi itu, Aneh nya seorang yang berusaha melaporkan kejadian ini, mengurungkan niat nya seperti mendapatkan bisikan dari seseorang. Suasana menjadi hening, orang-orang kembali ke tempat nya seakan tak peduli akan kejadian itu.
Devan mencengkram kerah baju sam dan berkata "Pengecut!! jika aku melihat mu lagi kau akan lenyap!" ucap Devan lalu melepaskan cengkraman nya dengan kasar.
Uhuk!!
Uhukk!!
Sam terbatuk, dia menatap ngeri ke arah Devan dia merangsek mundur berusaha berdiri, tak bergeming, dia pun berlalu pergi bersama anak buah nya. Hilma yang sedari tadi diam, shock dengan kejadian yang dia alami mulai bersuara.
"Van..terimakasih" hanya itu yang sanggup di ucapkan Hilma.
Devan berlalu pergi tanpa menghirau kan nya, Hilma sangat menyesal telah mengkhianati kekasih baik nya itu, kini hanya penyesalan dan penyesalan yang dia rasakan.
"Sebenci itu kah kamu padaku van aku tau ini memang salah ku, tapi aku hanya ingin mendapatkan maaf darimu saja van", gumam Hilma dengan deraian air mata nya.
Syafir yang ada di sebelah Hilma tertawa, tentu dia tak terlihat oleh manusia biasa. "Kini kau baru menyesali perbuatan mu! Dasar wanita tak tau diri!" ucap Syafir lalu menghilang menyusul Devan.
Devan terduduk di kursi di cafe hotel itu, dia meniknati kopi serta menyesap sebatang rokok untuk menghilangkan penat di pikiran nya, niat hati ingin berlibur menenangkan diri, tapi malah mendapat kan masalah.
"Tuan sebaik nya kau beristirahat saja" ucap Yunsi yang berada di samping nya
Devan mematikan rokok nya terlebih dahulu sebelum menjawab, "Yaa, aku hanya sedikit menyesali perbuatan Hilma, kenapa dia harus bertindak seperti itu, mengkhianati seorang pasangan bukan lah cara yang baik untuk bahagia karena keegoisan" jawab Devan
Namun tak lama Mariana datang menghampiri Devan, Devan tersenyum lalu berbincang banyak bersama ibunya itu, tentang banyak hal, Singkat cerita kini Devan sudah berada di kamar nya, begitupun Mariana ibu nya, Devan merebahkan badan nya setelah dia membersihkan diri.
"Tuan apakah membutuhkan sebuah pijatan?" tanya Malea, Devan hanya mengangguk tanpa membuka mata nya,
Malea mulai memainkan tangan nya begitu pun syafir, mereka melayani tuan nya dengan baik. Tangan Malea mulai bermain nakal dia menyentuh halus senjata Devan di balik celana, Sementara Syafir mulai mencumbu bibir merah milik Devan, sentuhan lembut dari bibir Syafir seakan menghipnotis Devan dan terbuai menikmati nya, Senjata Devan mulai menegang, Malea pun memainkan senjata milik Devan itu, dia mulai membuka celana Devan secara perlahan, Devan menikmati setiap sentuhan kedua wanita itu.
Ahh!
Desahan pelan dari Devan saat Malea mulai melumat dan mengulum senjata milik nya, Pertempuran malam yang begitu membuat Devan seakan melayang ke atas nirwana yang penuh dengan gairah, Pagi hari nya Devan mulai bersiap dia ingin mempercepat waktu liburan nya. Dia sudah berada di dalam mobil bersama Mariana ibunya, Devan ingin segera kembali, karena mood nya sudah menghilang gegara masalah yang di timbulkan mantan kekasih nya kemarin sore, Namun di tengah perjalanan Devan melihat gadis yang dia kenal, seperti sedang menunggu di sebuah halte, Devan pun menghentikan mobil nya di dekat gadis itu.
"Kenapa nak?" tanya Mariana karena Devan berhenti,
Devan lantas menoleh ke arah ibunya "Itu bu ada teman ku, mungkin dia akan pulang, sekalian kita ajak bareng aja sekalian", jawab Devan.
Mariana pun mengangguk setuju, Saat Devan turun gadis itu terkejut, karena Devan menggunakan sebuah mobil Mewah "Kau sedang menunggu siapa Vi?" tanya Devan
Gadis yang ternyata Vivi itu tersenyum lantas menjawab, "Ehh van, ini aku lagi nunggu bis, mau pulang, kamu udah nih liburan nya, keren yaa sekarang kamu udah sukses" jawab Vivi dengan senyuman manis nya.
"Yaudah barengan aja sekalian ayok" ajak Devan
Vivi menoleh ke arah mobil, dia mendapati mariana sedang menatap nya lalu tersenyum ke arah nya "Gak papa memang, kamu bareng ibu mu kan?" jawab Vivi
"Udah buruan gak usah kebanyakan mikir ayok cepet, keburu ujan nih" jawab Devan
Memang benar keadaan sudah mendung, tak ada pilihan lain karena bis yang di tunggu Vivi tak kunjung datang, Vivi dan Devan pun segera masuk kedalam mobil, vivi duduk di kursi depan. Bersama Devan, sementara sejak Awal Mariana sudah duduk di kursi belakang.
"Tante apa kabar?" tanya Vivi saat menyalami Mariana.
"tante baik, gimana kabar kamu? Loh ini Vivi kan teman Devan di gudang dulu yang sering main kerumah?" jawab Mariana saat ingat bahwa gadis di hadapan nya itu adalah Vivi teman Devan dulu.
"Aku baik juga tan, iyaa aku teman Devan di gudang waktu itu", timpal Vivi.
"Kamu makin cantik yaa vi" ucap Mariana.
Vivi tersenyum mendengar itu dan dia mengucapkan terimakasih sebagai jawaban, Devan hanya menyimak itu saja seraya fokus menyetir mobil nya, Di sepanjang jalan hanya hening, hingga tiba di depan sebuah rumah sederhana milik Vivi, dan Vivi pun segera turun dan mengucapkan terimakasih kepada Devan serta Mariana.
"Terimakasih van, tante maaf sudah merepotkan harus mengantar ku sampai depan rumah" ucap Vivi
Devan pun menjawab nya di iringi senyuman manis yang selalu membuat Vivi terbuai, seakan terhipnotis dan ingin memiliki Devan seutuhnya, Devan lekas memutar mobil nya untuk kembali ke rumah nya, Saat Vivi sampai di dalam rumah dia di cecar banyak pertanyaan oleh ibu nya saat di dalam rumah,
"Tumben kamu di antar mobil mewah, siapa tuh? Banyak duit nya gak!?" tanya sang ibu yang membuat Vivi selalu saja hera dengan sang ibu, karena dia selalu memikirkan uang dan uang, bahkan dulu sempat dekat dengan Devan namun sang ibu melarang nya karena Devan hanya seorang kurir.
"Udahlah bu aku cape, nanti aja nanya-nanya nya!" Jawab Vivi berlalu pergi ke kamar nya.
Ibu nya kesal karena tak mendapatkan jawaban dari sang anak "Huhh!! Dasar jadi anak gak guna banget, tapi bagus deh kalo dia deketin orang berduit" gumam ibu nya Vivi.
Tak tau saja siapa yang mengantar anak nya itu, jika saja dia tau yang mengantar Vivi, mungkin dia akan malu karena pernah menghina Devan dulu, karena hanya seorang pemuda miskin dan seorang kurir.