Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — Terjebak Macet
Jumat sore itu, Rangga tiba-tiba muncul di meja Kirana tepat saat gadis itu bersiap pulang, membawa map berisi dokumen yang perlu ditandatangani klien di kawasan Kemang.
"Kirana, tolong anter dokumen ini ke kantor klien di Kemang. Supirnya lagi cuti, dan saya lagi buru-buru mau ke bandara jemput tamu penting," kata Rangga, nadanya terburu-buru namun tetap terkontrol seperti biasa.
"Saya naik taksi online aja, Pak?" tanya Kirana, mengambil map itu.
"Nggak usah, pake mobil saya aja, lebih cepat.
Kunci udah saya titip ke satpam lobi," jawab Rangga, sudah setengah berjalan menuju lift.
"Nanti mobilnya taruh di parkiran biasa, kunci titip lagi ke satpam."
Kirana mengangguk, meski sedikit gugup harus menyetir mobil semahal itu—sesuatu yang dulu, di kehidupan lamanya, adalah hal biasa, namun kini terasa canggung setelah sekian lama hanya mengandalkan angkot dan ojek online.
Perjalanan menuju Kemang berjalan lancar di awal, namun begitu memasuki jam pulang kantor, jalanan Jakarta berubah menjadi lautan kendaraan yang merayap pelan. Kirana terjebak macet parah di tengah jalan, dokumen penting masih di tangan, dan jam sudah menunjukkan hampir pukul enam sore.
Di tengah kemacetan itu, ponselnya berdering.
Nama Rangga muncul di layar.
"Halo, Pak?"
"Kamu udah sampai Kemang?" suara Rangga terdengar dari seberang, dengan latar belakang suasana bandara yang ramai.
"Belum, Pak, saya masih kejebak macet parah di tengah jalan," jawab Kirana, menghela napas melihat deretan mobil yang nyaris tidak bergerak di depannya.
"Yaudah, sabar aja. Yang penting dokumennya sampai sebelum kantor klien tutup jam tujuh," Rangga berkata, nada suaranya terdengar lebih santai dari yang Kirana duga.
Hening sejenak, sebelum Rangga menambahkan, "Kamu nggak apa-apa nyetir sendirian?"
Kirana tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu, merasakan kehangatan familiar menjalar di dadanya. "Nggak apa-apa, Pak. Saya dulu juga sering nyetir sendiri kok, sebelum... ya, sebelum semuanya berubah."
"Kalau capek atau ngantuk, langsung minggir aja, jangan dipaksain," pesan Rangga, terdengar tulus khawatir meski disampaikan dengan nada yang berusaha terdengar biasa saja.
"Siap, Pak. Bapak sendiri gimana? Udah ketemu tamu pentingnya?"
"Baru mau jemput, pesawatnya delay," jawab Rangga, terdengar sedikit kesal. "Yaudah, hati-hati ya. Kabari kalau udah sampai."
Setelah hampir dua jam terjebak macet, Kirana akhirnya berhasil sampai di kantor klien tepat lima belas menit sebelum tutup, menyerahkan dokumen dengan napas terengah-engah namun lega karena berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu.
Dalam perjalanan pulang, macet kembali menghadangnya, kali ini diperparah dengan hujan rintik yang mulai turun. Kirana menghela napas panjang, menyalakan radio mobil untuk mengusir kebosanan, sesekali melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Ponselnya berdering lagi. Kali ini pesan singkat dari Rangga.
"Udah selesai anterin dokumennya? Kamu di mana sekarang?"
Kirana membalas sambil menunggu lampu merah, jarinya cepat mengetik di ponsel. "Udah, Pak. Sekarang lagi otw balik, tapi macet parah lagi. Kayaknya masih lama sampenya."
Kirana tersenyum membaca pesan itu, merasakan kehangatan yang sama seperti berkali-kali sebelumnya setiap kali Rangga menunjukkan perhatian kecil semacam itu, tanpa embel-embel formalitas atasan-bawahan yang biasa mereka jaga di kantor.
Sesampainya di resto yang dimaksud, Kirana terkejut mendapati Rangga sendiri sudah menunggu di salah satu meja, masih mengenakan jas kerjanya yang sedikit kusut, tampak lelah namun matanya langsung berbinar begitu melihat Kirana masuk.
"Pak? Saya kira Bapak masih di bandara," Kirana duduk di seberangnya, terkejut dengan kehadiran yang tidak terduga itu.
"Tamu saya udah dianter ke hotel sama tim lain. Saya pikir, daripada kamu makan sendirian abis perjalanan capek gini, mending saya temenin aja," jawab Rangga, nadanya terdengar seolah itu keputusan sederhana, meski Kirana tahu betul itu bukan hal biasa bagi seorang CEO sesibuk dirinya.
Mereka makan malam berdua dalam suasana yang jauh lebih santai dibanding biasanya, obrolan mengalir natural tentang berbagai hal—dari cerita masa kecil Kirana yang penuh kemewahan, hingga cerita Rangga tentang perjuangannya membesarkan kembali perusahaan keluarga sejak muda.
"Kamu tau nggak," kata Rangga di tengah obrolan, menatap Kirana dengan pandangan yang lebih lembut dari biasanya, "sejak kamu kerja di sini, hari-hari saya jadi terasa beda.
Lebih... hidup, mungkin istilahnya."
Kirana merasakan jantungnya berdebar kencang mendengar pengakuan itu. "Beda gimana, Pak?"
Rangga terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan seberapa jauh ia berani mengungkapkan perasaannya malam itu. "Beda kayak... akhirnya ada sesuatu yang saya tunggu-tunggu setiap hari. Sesuatu yang bikin saya nggak sabar buat bangun pagi dan ke kantor."
Kirana menahan napas, menatap Rangga yang balas menatapnya dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Suasana di antara mereka terasa begitu dekat, begitu penuh dengan kata-kata yang belum terucap, seolah keduanya sama-sama berada di ambang pengakuan yang lebih besar.
Namun sebelum salah satu dari mereka sempat melangkah lebih jauh, ponsel Rangga tiba-tiba berdering keras, memecah momen intens yang baru saja terbangun di antara mereka.
Rangga melirik layar ponselnya, alisnya berkerut melihat nama yang tertera. "Maaf, saya harus angkat ini."
ini novel saya pertama🥰🥰