Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Badai salju di perbatasan utara telah lama reda, menyisakan musim semi yang membawa angin hangat ke seluruh penjuru kekaisaran. Di gerbang utama Kediaman Valerius, derap puluhan kavaleri berat menggema merobek kesunyian pagi. Panji-panji kebesaran bergambar serigala hitam berkibar megah di atas tiang-tiang batu, menyambut kepulangan sang pahlawan besar yang membawa kemenangan telak dari medan perang.
Damian Valerius turun dari pelana kuda perangnya dengan gerakan tegap dan terkontrol. Di belakangnya, kereta kuda berlapis sutra hitam membawa Putri Mahkota Elaina Valancaster, sandera kehormatan sekaligus simbol kemenangan mutlak kekaisaran dari wilayah utara. Para pelayan istana dan kepala pengawal berbaris rapi di sepanjang halaman, membungkuk dalam-dalam menyambut kedatangan sang Jenderal Agung dengan penuh takzim.
Namun, tidak seperti biasanya, atmosfer yang menyelimuti Kediaman Valerius terasa begitu asing di kulit Damian. Ada keheningan yang jauh lebih pekat daripada sekadar sepinya benteng militer yang ditinggal penghuninya.
Ketika Damian melangkah melewati ambang pintu utama, mengantarkan Elaina ke sayap tamu terhormat dengan segala kenyamanan yang layak diterima seorang bangsawan agung, ruang demi ruang terasa begitu hampa. Kepala pelayan wanita maju dengan kepala tertunduk, melaporkan segala urusan domestik selama sang Jenderal absen berbulan-bulan.
"Semua berjalan lancar, Yang Mulia," lapor kepala pelayan dengan suara datar. "Distribusi logistik aman, dan para prajurit menjaga pos dengan disiplin."
Damian mendengarkan dengan separuh telinga. Matanya menyapu dinding-dinding batu kastil yang menjulang tinggi. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak kasat mata, namun menciptakan rongga hampa yang mengusik nuraninya. Dulu, meskipun ia tidak pernah sudi mengakui, kepulangannya ke kastil ini selalu diiringi oleh ketegangan samar—sebuah antisipasi bisu atas kehadiran seorang wanita berambut kecokelatan di balik sudut koridor, atau bayangan ketakutan yang terpancar dari manik mata hijau Aurelia yang mencoba bersembunyi dari amukannya.
Sekarang, sudut-sudut itu kosong. Tidak ada lagi sisa-sisa aroma mentega dan vanila tipis yang secara ajaib pernah merusak bau mesiu di dapur belakang. Tidak ada lagi bayangan rapuh yang mencuri-curi pandang dari balik jendela kamar utama.
Rumah itu terasa sunyi. Terlalu sunyi. Seolah-olah nyawa dari bangunan batu tua ini telah tercabut bersamaan dengan perginya sosok yang selama ini ia anggap sebagai pengganggu.
Malam bergulir lambat. Setelah memastikan Elaina dan para pengikutnya beristirahat dengan tenang di sayap timur, Damian menolak tawanan anggur malam yang disiapkan para pelayan. Ia berjalan menyusuri koridor batu yang diterangi obor redup, langkah kaki larsnya menghantam lantai marmer dengan gema yang terdengar kesepian.
Tanpa sadar, arah langkah kakinya membawanya menjauh dari ruang kerja pribadi dan sayap komando militer. Tanpa aba-aba, seolah ditarik oleh gravitasi tak kasat mata yang mengacaukan logika militernya, Damian mendapati dirinya berdiri di depan pintu kayu mahoni berat di sayap barat—pintu kamar tidur utama yang selama ini menjadi tempat peristirahatan istrinya, Aurelia.
Pintu itu tertutup rapat.
Damian berhenti tepat di ambang pintu. Jantungnya berdenyut dengan ritme yang tidak biasa—sebuah sensasi sesak yang menusuk tajam di balik tulang rusuknya. Ia mengangkat tangan bersarung kulit hitamnya, mencengkeram gagang pintu kuningan yang terasa dingin membeku.
Selama berbulan-bulan ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu hanyalah beban politik, duri dalam daging yang sewaktu-waktu harus disingkirkan demi stabilitas keluarganya. Namun kini, tatkala kamar ini berdiri kosong di hadapannya, rongga di dadanya terasa semakin melebar, menyisakan rasa penasaran beracun yang membakar kewarasannya.
Dengan tarikan napas berat, Damian mendorong pintu kayu itu terbuka.
Kriek...
Suara engsel tua berderit pelan, membiarkan cahaya temaram dari koridor menerobos masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita. Damian melangkah masuk, membiarkan indra penciumannya menangkap sisa-sisa udara di dalam kamar tersebut.
Tidak ada apa-apa. Hanya debu tipis yang menempel di atas meja rias mahoni. Lemari pakaian terbuka lebar, memperlihatkan rak-rak kosong tanpa sehelai pun gaun sutra atau jubah wol usang. Tempat tidur berukuran besar itu tertata rapi dengan seprai beludru biru tua yang dingin, menyiratkan bahwa tempat itu tidak pernah disentuh atau ditiduri selama berbulan-bulan lamanya.
Wanita itu benar-benar telah pergi. Meninggalkan benteng ini tanpa jejak, tanpa sepatah kata pun perpisahan, seolah kehadirannya selama ini hanyalah ilusi semata.
Rasa marah, penasaran, dan kehampaan bergolak menjadi satu di dalam dada Damian. Ia mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih di balik sarung kulit. Langkah kakinya membawanya mendekati meja tulis kecil di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman luar—tempat di mana Aurelia sering berdiri menatap dunia luar dengan manik mata hijau yang menyimpan sejuta misteri.
Damian menyapukan pandangannya ke atas permukaan meja kayu yang kosong. Di atas sana, di balik tumpukan kertas laporan lama yang ditinggalkan pelayan, ujung sehelai perkamen kecil menyembul keluar, terjepit di bawah sudut wadah tinta kering yang hampir terlupakan.
Alis tebal Damian bertaut tajam. Dengan gerakan lambat, ia menarik perkamen kecil itu keluar dari persembunyiannya.
Cahaya obor koridor yang masuk dari pintu terbuka memperjelas goresan tinta di atas kertas usang tersebut. Itu adalah sisa catatan harian atau coretan tangan yang tertinggal—tulis tangan Aurelia yang halus namun tegas, menuliskan bait kalimat aneh tentang kebebasan, akar pohon yang rapuh, dan aroma roti hangat di musim semi.
Jantung Damian berdegup keras. Belum sempat ia mencerna makna terselubung dari tulisan tangan tersebut, manik mata abu-abunya menangkap pantulan bayangan seseorang di cermin besar meja rias.
Bukan bayangan dirinya sendiri.
Melainkan siluet samar seorang wanita bergaun putih compang-camping yang berdiri tepat di dalam sudut gelap kamar mandi dalam—membawa sebilah pisau dapur kecil yang berkilat memantulkan cahaya obor, mengarahkan tatapan mata hijau penuh dendam tepat ke punggung sang Jenderal—
mampir diceritaku juga ya😊