NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 — Malam Ini Aku Tinggal

Nara masih memegang ponsel ketika Adrian menelepon.

Ia mengangkat tanpa berpindah dari meja lukis.

“Maya baru meneleponku.”

Adrian terdiam sesaat.

“Dia bilang apa?”

“Kamu ambil koper. Kamu mau mengakhiri pernikahan kalian.”

“Iya. Aku bilang begitu.”

Nara duduk perlahan. Sejak mendengar Maya mengatakannya, ia sudah melarang dirinya merasa lega. Tetapi mendengar Adrian mengulangi keputusan itu dengan suaranya sendiri membuat larangan tersebut gagal.

“Kamu sekarang di mana?”

“Hotel. Baru sampai.”

“Boleh aku ke sana?”

Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat memikirkan wajah Maya. Ia menahan napas, takut Adrian mengatakan ingin sendirian setelah percakapan dengan istrinya.

“Boleh. Kamu mau aku jemput?”

“Aku bawa mobil.”

Adrian mengirim nomor kamar setelah panggilan berakhir. Nara membaca pesan itu, lalu pergi mencuci tangan.

Di cermin kamar mandi, ia melihat dirinya tersenyum.

Senyum itu hilang begitu ia menyadarinya. Maya baru saja menangis di telepon. Besok hari pernikahan mereka.

Namun ketika mengambil tas, Nara tetap membawa kaus ganti.

* * *

Adrian membuka pintu sebelum Nara mengetuk untuk kedua kali.

Ia sudah berganti pakaian. Di belakangnya, koper terbuka di atas rak dan beberapa kemeja tergantung pada lemari hotel. Melihat barang-barang itu membuat keputusan yang didengar Nara lewat telepon terasa lebih nyata.

“Masuk.”

Nara meletakkan tas dekat kursi. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi Adrian sudah berdiri di depannya, tampak letih dan menunggu.

Ia memegang kedua sisi wajah laki-laki itu.

“Kamu benar-benar bilang ingin berpisah?”

“Aku bilang ingin mengakhiri pernikahan kami. Maya belum mau.”

Nara mengangguk. Ia tidak bisa mengharapkan Maya menerima malam ini juga.

“Aku tahu ini belum selesai,” kata Adrian. “Aku masih harus mengurus banyak hal dengannya.”

Nara memandang cincin di tangannya, lalu kembali menatap wajahnya.

“Aku cuma ingin dengar dari kamu.”

Ia mencium Adrian. Tidak terburu-buru, tetapi ia tidak segera menjauh ketika bibir mereka terlepas. Dahinya tetap menempel pada dahi laki-laki itu.

Adrian memeluk pinggangnya. Nara menutup mata dan membiarkan dirinya merasa senang selama beberapa detik, tanpa meminta maaf kepada siapa pun.

“Aku ingin kamu di sini,” katanya.

“Aku di sini.”

“Aku tahu.” Nara tertawa kecil, malu karena suaranya terdengar seperti hendak menangis. “Aku sudah tahu. Tapi rasanya masih aneh.”

Adrian membelai rambutnya. Ia tidak mengatakan bahwa mulai sekarang semuanya akan mudah.

Nara mengambil tasnya dan mengeluarkan kaus ganti. Adrian memperhatikan, lalu memindahkan barang-barangnya dari kursi agar tas Nara bisa diletakkan di sana.

“Kamu bawa pakaian.”

Nara mengangguk. Ia malu karena maksud kedatangannya sekarang begitu jelas, tetapi tidak berusaha menutup tas itu lagi.

“Aku ingin tinggal.”

Adrian mendekat. “Aku juga ingin kamu tinggal.”

Ia meraih tangan Nara dan menciumnya sebentar. Nara membiarkan jarinya berada dalam genggaman itu, memandang dua cincin yang masih mereka pakai. Ia belum bisa menyebut kamar ini tempat mereka pulang. Namun malam ini ia tidak perlu menghitung berapa lama lagi Adrian boleh berada di dekatnya.

“Besok kita sarapan dulu,” katanya.

Adrian tersenyum. “Iya.”

“Jangan bilang iya kalau paginya kamu sudah pesan mobil.”

“Aku nggak ke mana-mana sebelum kita makan.”

Nara tertawa kecil, lalu mendekapnya. Ia masih ingat suara Maya di telepon. Rasa bersalah itu tidak hilang, tetapi ia juga tidak ingin mengakhiri pelukan ini dan kembali ke studio sendirian.

Ketika Adrian mengajaknya duduk, Nara menarik tangannya agar tetap dekat.

“Aku belum mau jauh dari kamu.”

Adrian duduk di sampingnya. Kali ini Nara tidak menunggu ia mendekat lebih dulu.

Adrian menahan tengkuknya dan membalas ciuman itu perlahan. Nara bisa merasakan kelelahan pada tubuh lelaki tersebut, tetapi juga cara lengannya mengencang seolah baru sekarang ia berani percaya Nara benar-benar datang.

“Kamu boleh tidur kalau capek,” bisik Nara di bibirnya.

“Aku belum mau tidur.”

Jawaban itu membuat panas menjalar ke wajah Nara. Ia mencium Adrian lagi, lebih dalam, lalu bergeser hingga lututnya menyentuh paha lelaki itu. Tangan Adrian turun ke pinggangnya, berhenti di sana, menunggu. Nara mengambil tangan tersebut dan menyelipkannya ke balik kausnya sendiri.

Telapak tangannya hangat pada kulit telanjang.

Nara menarik napas tajam. Sejak meninggalkan studio, ia sudah membayangkan berada di kamar ini, tetapi kenyataan bahwa Adrian kini tidak harus melihat jam membuat keinginannya terasa jauh lebih berani.

“Aku bawa pakaian bukan cuma karena mau sarapan,” katanya.

Adrian menatapnya. Senyum kecil muncul, lalu lenyap ketika Nara menarik kaus melewati kepala. Tatapan lelaki itu turun perlahan, membuat tubuh Nara menegang oleh kesadaran bahwa dirinya benar-benar sedang dilihat.

“Na.” Suaranya menjadi lebih berat.

“Aku ingin malam ini.” Nara menyentuh kancing teratas kemejanya. “Bukan karena Maya menelepon. Bukan karena aku merasa menang. Aku ingin kamu.”

Ia membuka satu kancing, lalu satu lagi. Adrian membiarkannya sampai kemeja itu terlepas dari bahu. Baru setelah itu ia menarik Nara ke pangkuannya dan mencium lehernya.

Nara menengadah. Bibir Adrian bergerak dari bawah telinga ke tulang selangka, sementara tangannya menyusuri punggung dan menarik tubuh Nara semakin rapat. Gesekan paha mereka membuat Nara mendesah. Ia membenamkan jari ke rambut Adrian, meminta lebih tanpa perlu mengatakannya.

Adrian mengangkat wajah. “Masih ada waktu untuk menyuruhku berhenti.”

Nara menjawab dengan menciumnya dan menggerakkan pinggang di atas pahanya. Napas Adrian terputus. Tangan yang berada di punggungnya turun, meremas pinggulnya, lalu mengangkat Nara ketika lelaki itu berdiri.

Nara melingkarkan kaki di pinggangnya. Mereka hanya berjalan beberapa langkah menuju ranjang, tetapi Adrian berhenti dua kali untuk mencium bibir dan dadanya. Saat punggung Nara menyentuh seprai, kancing celananya sudah terbuka dan napas mereka sama-sama berantakan.

Adrian membungkuk di atasnya. Cincin pernikahan di tangan lelaki itu menangkap cahaya lampu. Nara menyentuhnya dengan ibu jari.

“Belum dilepas,” katanya.

Adrian menegang. “Aku bisa—”

“Bukan itu.” Nara menggeleng. “Aku tahu semuanya belum selesai. Jangan berjanji seolah malam ini langsung menghapusnya.”

Adrian menempelkan dahinya pada dahi Nara. “Aku nggak akan pura-pura.”

Nara mengangguk, kemudian menariknya kembali. Kali ini ciuman mereka lebih lapar. Pakaian yang tersisa jatuh di sisi ranjang satu per satu. Adrian menyusuri tubuhnya dengan mulut dan tangan, mengingat tempat-tempat yang membuat Nara menggeliat serta menyebut namanya dengan suara tertahan.

Ketika jari Adrian bergerak di antara pahanya, Nara mencengkeram seprai. Lelaki itu membelah bibir vaginanya yang basah, mengumpulkan cairan dengan ujung jari, lalu mengoleskannya ke klitoris. Putaran pertama membuat pinggang Nara terangkat. Dua jarinya kemudian menembus vagina, mengait ke dinding depan dan memompa perlahan sampai terdengar suara licin dari tubuh Nara.

“Jangan pelan-pelan terus,” pintanya.

Adrian mencium bagian dalam pahanya sebelum kembali naik. “Kamu yakin?”

“Iya.” Nara menarik bahunya. “Aku ingin merasakan kamu.”

Adrian memasang kondom, lalu mengarahkan penisnya ke lubang vagina Nara. Kepala penis yang tebal mendorong masuk lebih dulu, meregangkannya perlahan sebelum seluruh batang tertanam. Nara memeluk Adrian erat, merasakan setiap denyutan di dalam tubuhnya. Ketika lelaki itu mulai menarik dan menghunjam kembali, suara kecil lolos dari tenggorokan Nara pada setiap dorongan yang lebih dalam. Cairannya melapisi kondom dan menimbulkan bunyi basah di antara benturan pinggang mereka.

Tidak ada suara mesin percetakan dari lantai bawah. Tidak ada ponsel yang diletakkan dengan layar menghadap meja. Hanya bunyi napas mereka, derit halus ranjang hotel, dan namanya yang berulang kali diucapkan Adrian dekat telinga.

Nara mengangkat pinggang untuk menyambutnya. Panas berkumpul semakin rapat, membuat seluruh tubuhnya gemetar. Adrian menahan salah satu pahanya lebih tinggi dan gerakan berikutnya menyentuh titik yang membuat Nara kehilangan sisa kemampuan menahan suara.

“Di situ,” katanya terputus-putus. “Adrian, jangan berhenti.”

Lelaki itu mempertahankan iramanya sambil mengusap klitoris Nara dengan ibu jari. Vaginanya berkedut lalu mencengkeram penis Adrian berulang kali ketika orgasme akhirnya pecah. Cairan hangat mengalir dari sela tubuh mereka, membasahi pangkal kondom dan seprai. Adrian mencium bibir Nara, menelan desahan yang masih keluar, lalu menyusul beberapa saat kemudian; penisnya berdenyut kuat di dalam Nara saat cairannya memenuhi ujung kondom.

Mereka tetap berbaring berhimpitan. Setelah napasnya tenang, Adrian mengambilkan air dan kaus ganti dari tas. Nara mengenakannya, lalu kembali ke ranjang tanpa diminta.

“Besok sarapan,” katanya, menyelipkan kaki di antara kaki Adrian.

“Besok sarapan,” ulang Adrian.

Nara memejamkan mata dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, janji tentang pagi tidak terdengar seperti cara halus untuk mengakhiri malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!