Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di Atas Materai
Hening yang tercipta di ruangan VIP itu begitu pekat, sampai-sampai suara denting sendok yang jatuh di meja sebelah bisa terdengar bak dentuman meriam.
"Arka! Kamu gila, ya?!" Pak Broto akhirnya berhasil menemukan suaranya kembali.
Wajah pria paruh baya itu memerah padam, antara syok, malu, dan emosi karena calon istri mudanya mendadak disambar anak kandungnya sendiri. "Dia itu calon ibu tirimu! Kamu main sikat aja!"
"Papa lupa?" Arka merapikan lengan jasnya dengan gerakan sangat tenang. Ketenangan dingin yang makin memancing emosi lawan bicaranya.
"Gadis ini tadi bilang menolak jadi istri Papa. Dan di tempat ini, tidak ada aturan hukum atau norma agama yang melarang saya menikahi wanita yang menolak Papa."
Ibu Elara mengelus dadanya yang naik-turun. Matanya bergantian menatap Pak Broto dan Arka dengan tatapan tak percaya. Rencana awalnya mendapatkan menantu duda kaya raya mendadak berbelok menjadi dapat menantu CEO muda nan tampan yang jauh lebih kaya. Otak matrealistis ibunya langsung menghitung keuntungan.
"M-mas Arka. Eh, Nak Arka serius?" tanya Ibu Elara ragu-ragu tapi matanya berbinar.
"Saya selalu serius dengan ucapan saya, Tante," balas Arka tegas. Dia lalu berdiri dari kursinya, menatap Elara yang masih memasang cengiran tanpa dosa. "Ikut saya. Ada hal yang harus kita bicarakan secara pribadi."
Elara mengangguk cepat. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari tatapan maut Pak Broto, dia langsung menyambar tas kecilnya. "Mari Pak Broto, Ibu. Elara mau diskusi masa depan dulu sama calon suami."
"Elara! Jangan sok akrab!" amuk Pak Broto, tapi Elara sudah melenggang santai mengekor di belakang Arka.
Arka membawa Elara ke lounge eksklusif di lantai atas restoran yang jauh lebih sepi. Begitu pintu kaca tertutup rapat, aura kaku dan menekan dari Arka langsung memenuhi ruangan. Pria itu melepas kancing jas atasnya, membalikkan badan, lalu menatap Elara dengan pandangan menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu umur berapa?" tanya Arka to the point.
"Dua puluh dua, Mas. Masih segar, belum pernah kepentok utang pinjol, dan bebas dari riwayat penyakit berat," jawab Elara lugas, sambil mengambil posisi duduk di sofa kulit yang empuk.
Arka mendengus halus. Pria itu menyandarkan punggungnya di pinggir meja kerja lounge, bersedekah tangan di dada. "Kamu sadar, kan, apa yang baru saja kamu lakukan di bawah tadi? Kamu memanfaatkan saya untuk kabur dari Papa."
"Lho, kan kita saling memanfaatkan, Mas Arka!" Elara menepuk tangannya sekali.
"Mas Arka butuh tameng buat nyelametin posisi Ibu supaya nggak diduakan sama Pak Broto, dan saya butuh tameng supaya nggak dipaksa nikah sama aki-aki genit. Win-win solution, kan?"
Arka mengamati cara bicara Elara. Gadis di depannya ini terkesan ceplas-ceplos dan santai, tapi matanya memancarkan kecerdikan yang luar biasa. Dia tidak tampak takut sedikit pun pada Arka yang terkenal galak di dunia bisnis.
"Ingat satu hal," pangkas Arka dingin. "Saya menerima tawaran kamu bukan karena saya tertarik sama kamu. Ini murni untuk menyelamatkan perasaan Ibu saya di rumah."
"Iya, tau kok. Mas Arka kan CEO dingin yang cuma cinta sama angka dan grafik saham," balas Elara santai sambil mengibaskan tangan. "Tenang aja, saya nggak bakal kepelet sama Mas. Yang penting status saya aman, Ibu seneng dapet menantu kaya, dan saya bebas dari bayangan mijitin punggung Pak Broto tiap malam."
Arka memijit pangkal hidungnya yang mendadak pening. Baru lima belas menit mengenal gadis ini, kepalanya sudah terasa berdenyut.
"Pernikahan ini bakal digelar minggu depan secara tertutup," ujar Arka mulai menyusun strategi. "Dan sebelum kita sampai ke pelaminan, ada syarat dan ketentuan yang harus kamu tandatangani."
Arka mengambil ponselnya, menekan beberapa tombol cepat, lalu menyambungkannya ke sekretaris pribadinya.
"Doni, siapkan draf Prenuptial Agreement, perjanjian pra-nikah. Masukkan poin-poin tentang pemisahan harta, kewajiban menjaga nama baik Valora Group, dan masa berlaku pernikahan minimal satu tahun. Bawa ke kantor saya besok pagi."
Elara mendengarkan percakapan itu tanpa mengedip. "Wah, beneran kayak di sinetron-sinetron TV," batinnya heran.
Setelah mematikan telepon, Arka menatap Elara lagi. "Besok jam sembilan pagi, datang ke kantor saya di Valora Tower. Kalau kamu terlambat satu menit saja, penawaran ini batal dan saya akan biarkan Papa melamar kamu ulang."
Elara langsung berdiri tegak, membusungkan dada bak prajurit siap tempur. "Siap, Mas CEO! Jam delapan setengah saya udah nongkrong di depan perusahaannya Mas, sambil makan bubur ayam."
Arka hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah absurd calon istrinya itu. Dia punya firasat buruk, keputusan daruratnya malam ini mungkin akan mengacak-acak hidupnya yang selama ini sangat teratur.