Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Kecil Dimata Sang Putra
Langkah kaki Adrian yang dilapisi sepatu kulit mahal bergema tegas di atas lantai marmer nan megah. Genggaman tangan kecil Azka pada leher Adrian makin erat ketika aura dingin dan formal dari isi mansion itu menyapa indra penglihatannya.
Di ruang tamu sudah duduk Jessica bersama sang mama. Jessica memang sering ke mansion Adrian untuk mencari muka ke mama Adrian. Wanita itu tampil anggun dengan gaun desainer ternama, duduk bersanding dengan sang mama yang memegang cangkir teh porselen mahal. Namun, raut wajah hangat yang tadinya diperlihatkan Jessica seketika membeku saat matanya menangkap sosok anak kecil di dalam dekapan Adrian.
"Siapa anak kecil itu, Adrian?" tanya sang mama dengan intonasi tajam dan dingin, langsung meletakkan cangkir tehnya ke atas piring kecil hingga menimbulkan bunyi denting yang lumayan nyaring.
Jessica ikut berdiri, berpura-pura menutup mulutnya dengan raut terkejut yang dibuat-buat. "Adrian... jangan bilang anak ini yang kemarin kamu ceritakan di telepon? Kamu benar-benar membawanya ke rumah ini?"
Azka yang merasakan ketegangan dan tatapan tidak bersahabat dari kedua wanita itu langsung menyembunyikan wajah mungilnya di leher Adrian. Tubuh kecilnya sedikit bergetar takut.
Merasakan ketakutan sang putra, aura intimidasi Adrian seketika menguap pekat. Pria jangkung itu mengusap lembut punggung Azka dengan penuh kasih sayang, lalu menatap lurus ke arah mama dan Jessica dengan sepasang mata tajam yang mampu membekukan siapa pun.
"Jaga sikap kalian," pangkas Adrian dengan suara berat nan dingin yang menggema di seluruh ruang tamu. "Anak ini namanya Azka. Dia anak kandungku, cucu kandung Mama, dan calon penerus tunggal dari seluruh harta dan posisiku."
Mama Adrian seketika berdiri dari kursinya, wajah cantiknya memerah menahan amarah yang membumbung tinggi. "Adrian! Kamu sudah gila?! Bagaimana bisa kamu membawa anak dari wanita kelas bawah itu ke dalam kediaman keluarga kita?! Jessica sudah menunggu di sini, dan kamu malah mempermalukan keluarga dengan membawa anak haram?!"
Cetak!
Adrian melangkah satu langkah lebih maju. Tatapannya kini begitu menghujat hingga membuat Jessica yang berdiri di sebelah mamanya refleks mundur satu langkah karena ketakutan.
"Satu kata kasar lagi yang keluar dari mulut kalian tentang Azka atau Alea..." desis Adrian penuh ancaman berbahaya yang amat nyata, "...aku tidak akan segan-segan mencoret nama keluarga dari seluruh asetku dan mengusir siapa pun yang tidak bisa menghormati putraku dari rumah ini."
Ruang tamu yang luas itu seketika dibungkus keheningan yang mencekam. Baik sang mama maupun Jessica mendadak bungkam, menyadari sepenuhnya bahwa Adrian sama sekali tidak sedang berbuat main-main.
Adrian mengabaikan mereka dan membawa Azka ke kamarnya di lantai 2. Pintu kayu jati berukir yang kokoh itu ditutup rapat oleh Adrian, seketika memutus aura dingin dan kepalsuan dari ruang tamu bawah.
Kamar utama milik Adrian begitu luas, bernuansa abu-abu dan hitam elegan dengan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah taman belakang. Namun, kemewahan ruangan itu sama sekali tak mampu mengalihkan perhatian Adrian dari sosok kecil di dalam dekapannya.
Adrian mendudukkan Azka perlahan di atas tempat tidur berukuran king size yang sangat empuk. Bocah kecil itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap jemari kakinya yang saling bertaut.
"Paaa... Apa Nenek tidak menyukaiku? Kenapa ucapannya sama dengan teman-temanku di taman kanak-kanak?" tanya Azka polos.
Pertanyaan yang keluar dari bibir mungil itu bagaikan sembilu tajam yang langsung menghujam dan meremukkan dada Adrian. Kata anak haram dan tatapan merendahkan yang baru saja dilontarkan sang mama ternyata ditangkap dengan jelas oleh pendengaran polos Azka—mengingatkannya pada masa-masa sulit saat ia diolok-olok di sekolah sebelum sang ayah datang menyelamatkannya.
Mata tegas Adrian seketika berkaca-kaca. Hatinya mencelos membayangkan betapa berat beban mental yang harus ditanggung oleh bocah tiga setengah tahun ini akibat kesalahan masa lalunya dan keangkuhan keluarganya.
Adrian berlutut di atas karpet bulu yang tebal tepat di hadapan Azka. Pria yang ditakuti ribuan anak buahnya di dunia bawah tanah itu kini menggenggam kedua tangan kecil Azka yang gemetar, lalu mengecupnya berkali-kali dengan penuh rasa penyesalan.
"Dengar Papa, Sayang..." bisik Adrian dengan suara parau menahan gejolak emosi di dadanya. Ia mendongakkan wajah Azka lembut agar mata bulat sang putra menatap lurus ke dalam matanya.
"Azka itu anak Papa yang paling hebat, paling pintar, dan paling berharga di dunia ini. Jangan pernah dengarkan kata-kata siapa pun yang membuat Azka sedih," tutur Adrian penuh kepastian, menyapu air mata kecil yang mulai menetes di pipi cabi Azka.
"Tapi Nenek marah-marah sama Papa..." cicit Azka pelan, bibir mungilnya melengkung ke bawah.
"Nenek hanya belum kenal sama Azka," balas Adrian berusaha memberikan pengertian paling sederhana tanpa menanamkan rasa benci di hati polos putranya. "Tapi apa pun yang terjadi, ada Papa di sini. Papa yang akan selalu jaga Azka, jaga Ibu, dan tidak akan biarkan siapa pun menyakiti Azka lagi. Azka percaya sama Papa, kan?"
Azka menatap mata ayahnya yang berkaca-kaca. Di dalam sepasang mata tegas itu, Azka tak melihat sedikit pun kebohongan—hanya ada rasa sayang yang begitu besar dan perlindungan yang sangat nyata.
Bocah kecil itu mengusap air matanya dengan lengan bajunya, lalu tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Iya... Azka percaya sama Papa."
Azka langsung memajukan tubuhnya dan memeluk leher Adrian erat-erat. Adrian merengkuh tubuh mungil sang putra ke dalam dekapannya, memejamkan mata erat-erat sembari bersumpah di dalam hati: ia akan meruntuhkan siapa pun yang berani mengusik senyuman anak dan wanitanya, tak peduli meski itu adalah darah dagingnya sendiri.