NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — Babak Baru

Senin pagi setelah acara gathering, suasana kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua orang membicarakan insiden malam itu dengan berbagai versi cerita, meski kali ini simpati justru mengarah pada Kirana, bukan lagi kecurigaan seperti gosip-gosip sebelumnya.

Sandra dipanggil resmi ke ruangan HRD pagi itu, dan setelah pertemuan yang berlangsung hampir dua jam, kabar yang beredar menyebutkan bahwa Sandra mendapat surat peringatan kedua, sekaligus dipindahkan ke divisi lain yang tidak memiliki hubungan kerja langsung dengan Kirana—sebuah keputusan yang, menurut bisik-bisik kantor, sebenarnya sudah cukup ringan mengingat rekam jejak buruknya selama ini.

Kirana sendiri dipanggil terpisah, bukan untuk diinterogasi, melainkan untuk konfirmasi kronologi kejadian dari sudut pandangnya.

"Kirana, terima kasih sudah kooperatif menjelaskan semuanya," kata staf HRD yang menanganinya, tersenyum ramah. "Perusahaan sangat menghargai integritas kamu selama ini, meski sudah dua kali jadi korban fitnah."

"Terima kasih, Kak," jawab Kirana, lega akhirnya semua drama itu terselesaikan dengan cara yang adil.

Setelah keluar dari ruangan HRD, Kirana berpapasan dengan Sandra di koridor, yang tampak jauh lebih pendiam dan lesu dibanding biasanya, matanya menunduk menghindari kontak mata.

"Kak," panggil Kirana pelan, membuat Sandra berhenti melangkah, terkejut dipanggil oleh orang yang baru saja ia coba jatuhkan.

"Apa lagi?" Sandra menjawab defensif, meski nadanya jauh lebih lemah dari biasanya.

"Saya cuma mau bilang, saya nggak dendam kok sama Kakak," kata Kirana jujur, mengejutkan Sandra yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Saya paham, mungkin Kakak ngerasa terancam sama saya karena berbagai alasan. Tapi saya harap ke depannya kita bisa kerja dengan lebih baik, meski di divisi berbeda."

Sandra terdiam cukup lama, ekspresinya berubah-ubah antara terkejut, malu, dan akhirnya menyesal. "Kenapa kamu baik banget sih? Padahal aku udah nyusahin kamu berkali-kali."

"Karena saya juga pernah ada di titik terendah dalam hidup, Kak," jawab Kirana, tersenyum tipis, mengingat kembali masa-masa sulitnya setelah kehilangan orang tua dan seluruh kemewahan yang dulu ia miliki. "Saya tahu rasanya susah banget kalau harus berjuang sendirian tanpa ada yang ngerti. Saya nggak mau jadi bagian dari orang yang bikin hidup Kakak makin susah."

Sandra menunduk, matanya berkaca-kaca menahan haru yang tidak terduga. "Makasih, Kirana. Maaf ya, buat semuanya."

"Sama-sama, Kak. Semangat ya di divisi baru,"

Kirana tersenyum tulus sebelum melanjutkan langkahnya kembali ke mejanya, meninggalkan Sandra yang masih berdiri termenung di koridor, memikirkan kembali seluruh sikapnya selama ini.

Dengan berakhirnya drama Sandra, kehidupan kerja Kirana perlahan menjadi jauh lebih tenang.

Rekan-rekan kerja yang dulu ragu mendekatinya kini mulai lebih terbuka, bahkan beberapa di antaranya mulai mengajaknya makan siang bersama atau sekadar mengobrol santai di sela-sela pekerjaan.

Namun ada satu hal yang tidak berubah—bahkan semakin menjadi—yaitu kebiasaan Rangga yang terus mencari alasan untuk mampir ke lantai delapan, meski kali ini dengan sikap yang jauh lebih terbuka dibanding sebelumnya, tidak lagi berusaha keras menyembunyikan perhatiannya di balik topeng formalitas semata.

"Kirana, siang ini ada waktu?" tanya Rangga suatu hari, berdiri di dekat mejanya dengan tangan di saku celana, gestur santai yang jarang sekali ia tunjukkan di depan karyawan lain.

"Ada apa, Pak?" Kirana mendongak dari layarnya, penasaran.

"Ada rapat dengan klien besar sore ini, dan saya butuh orang yang paham detail data kampanye kita buat mendampingi presentasi. Kamu yang paling paham soal itu," jelas Rangga, meski Kirana tahu sebenarnya masih ada beberapa staf senior lain yang lebih berpengalaman untuk tugas semacam itu.

"Saya, Pak? Bukannya biasanya yang dampingi rapat klien besar itu manajer senior?" Kirana bertanya heran, meski dalam hati ia merasa bangga dipercaya untuk tugas sepenting itu.

"Kali ini saya yang tentuin siapa yang mendampingi," jawab Rangga singkat, nada suaranya tidak memberi ruang untuk dibantah, meski matanya menunjukkan kepercayaan yang tulus. "Saya yakin kamu bisa."

Kirana merasakan kehangatan aneh menjalar di dadanya mendengar kepercayaan itu. "Baik, Pak. Saya akan siapkan semua materinya."

Rapat sore itu berjalan lancar, bahkan lebih baik dari yang diharapkan. Kirana, meski awalnya gugup harus berbicara di depan klien besar, berhasil menjelaskan data dan strategi kampanye dengan detail dan percaya diri, mendapat pujian langsung dari pihak klien atas pemahamannya yang mendalam.

"Kerja bagus tadi," puji Rangga setelah rapat selesai, keduanya berjalan bersama menuju lift, suasana kantor sudah mulai sepi karena hari sudah larut sore.

"Makasih, Pak. Tadi saya sempet gugup banget, untung nggak keliatan," Kirana tertawa kecil, masih merasa lega rapat berjalan sukses.

"Kamu nggak keliatan gugup sama sekali. Malah keliatan meyakinkan banget," Rangga berkata jujur, menatap Kirana dengan pandangan yang penuh kekaguman yang tidak lagi ia sembunyikan.

"Bapak yakin bukan lagi ngasih pujian sopan doang?" goda Kirana, mulai berani bercanda dengan atasannya, kebiasaan baru yang terbentuk sejak kedekatan mereka semakin erat belakangan ini.

"Saya nggak pernah ngasih pujian kalau nggak sesuai kenyataan," Rangga menjawab tegas, meski ada senyum tipis yang menghiasi wajahnya, ekspresi yang semakin sering muncul setiap kali bersama Kirana.

Mereka berdiri berdampingan menunggu lift, suasana canggung namun hangat menyelimuti keduanya. Kirana mencuri pandang ke arah Rangga, memperhatikan profil wajahnya yang tegas namun entah kenapa selalu berhasil membuat jantungnya berdebar tanpa alasan jelas.

"Pak," panggil Kirana pelan, membuat Rangga menoleh.

"Kenapa?"

"Makasih ya, buat semuanya. Buat kepercayaan hari ini, buat pembelaan waktu acara gathering, buat... semuanya," ucap Kirana tulus, matanya menatap Rangga dengan pandangan yang penuh rasa terima kasih yang mendalam.

Rangga menatap balik Kirana lama, sesuatu yang hangat dan lembut terpancar dari matanya yang biasa terlihat dingin. "Kamu nggak perlu berterima kasih terus-terusan, Kirana. Saya melakukan semua itu karena saya mau, bukan karena kewajiban."

Pintu lift terbuka tepat saat itu, memecah momen intens di antara mereka. Keduanya melangkah masuk dalam diam, namun kali ini keheningan itu terasa penuh dengan hal-hal yang belum terucap—perasaan yang semakin sulit disangkal, semakin sulit disembunyikan di balik topeng profesionalisme yang selama ini mereka jaga.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!