Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Pertempuran di Bawah Bulan Pucat
Angin malam menderu kencang, membawa debu dan pasir yang menusuk kulit. Di atas dinding benteng, obor-obor bergoyang liar, seolah ikut gemetar melihat lautan pasukan yang mendekat. Ribuan kuda meringkik, pedang dan tombak berkilauan diterpa cahaya bulan yang pucat — pasukan Paman Mu datang bukan untuk berunding, melainkan untuk menghancurkan.
"Jangan biarkan mereka naik!" bentak Jenderal Wen, suaranya membelah kegelapan. "Pertahankan dinding! Setiap jengkal tanah ini dibayar dengan nyawa!"
Panah melesat beriringan dari arah pengepung, menari-nari di udara bagai hujan besi yang tak berujung. Prajurit di atas dinding menangkis dengan perisai kayu dan besi, namun teriakan kesakitan segera terdengar — satu demi satu tubuh jatuh ke bawah, menghantam tanah keras dengan bunyi yang mengerikan.
Ling Yue berdiri di sudut dinding yang agak terlindung, giok di dadanya berdenyut hangat. Ia tidak memegang senjata, namun matanya memandang setiap wajah yang lewat — prajurit muda yang masih berwajah anak-anak, kakek yang sudah memutih rambutnya, semua berdiri sama tegap.
"Mereka kalah jumlah," bisiknya pelan, menahan rasa sesak di dada. "Bagaimana kita bisa bertahan?"
Rouran muncul di sampingnya, napasnya memburu, tangan kanannya memegang busur yang sudah terpasang anak panah. "Kita tidak bertahan sendirian. Dinding ini tebal, persediaan air masih cukup, dan... ayahku tidak pernah kalah dalam pertahanan benteng." Ia mencoba tersenyum, namun bibirnya gemetar. "Tapi kita tidak bisa bertahan selamanya."
Di bawah, pasukan musuh semakin dekat. Mereka mendorong menara pengepungan kayu yang tinggi menjulang, mengisi parit dengan tumpukan kayu dan karung pasir. Dentuman keras terdengar — pintu gerbang dipukuli berulang kali dengan balok kayu besar.
Li An melompat ke atas dinding, pedangnya sudah berlumur darah. Lengan kirinya tergores dalam, namun ia seolah tak merasakannya. Ia berdiri di samping Ling Yue, menatap wajah gadis itu dengan cemas.
"Turun ke ruang bawah tanah," perintahnya tegas. "Tempat paling aman."
"Aku tidak pergi," jawab Ling Yue tenang namun mantap. "Aku bukan beban, Li An. Giok ini... ia merespons kehadiran orang-orang yang percaya. Selama aku di sini, mereka tidak akan menyerah."
Sebelum Li An sempat menjawab, suara dentuman dahsyat mengguncang benteng. Bagian dinding sebelah timur retak — ledakan kecil meletus di pangkalnya, mengirim debu dan batu beterbangan. Celah terbuka lebar, dan pasukan musuh menerobos masuk dengan teriakan mengerikan.
"Mereka masuk!" teriak seseorang.
Kekacauan melanda halaman dalam benteng. Prajurit yang bertahan di depan mundur terdesak, bertarung jarak dekat dengan musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak. Darah membasahi batu-batu yang kering.
Jenderal Wen berjuang di garis depan, pedang besar di tangannya berputar bagai kipas maut. Ia gagah, namun usia dan kelelahan mulai menampakkan tanda. Tiga prajurit musuh mengeroyoknya sekaligus — satu menyabet pinggangnya, satu lagi mengarah ke leher. Rouran melesatkan anak panah tepat menembus bahu penyerang itu, namun terlambat — Jenderal Wen terhuyung mundur, darah mengalir deras dari luka di lengannya.
"Ayah!" Rouran berlari ke arahnya, namun dua prajurit menghadangnya. Ia bertarung sekuat tenaga, namun semakin terdesak.
Ling Yue melihat semuanya. Rasa takut yang biasanya mencekamnya lenyap, digantikan sesuatu yang lebih besar — kepedulian, keberanian, tekad. Ia melangkah ke tengah halaman, ke tempat paling terbuka, dan mengangkat giok itu tinggi-tinggi.
"Cukup!" suaranya melengking, jernih, dan terdengar di atas segala keributan.
Cahaya keemasan memancar menyilaukan dari giok itu, menyebar ke seluruh penjuru benteng. Para prajurit musuh yang baru saja menerjang maju tiba-tiba berhenti — langkah mereka tertahan, senjata di tangan terasa berat tak terkira. Mereka menatap batu yang bersinar itu dengan wajah bingung, ragu, takut.
"Ini bukan perang kalian!" teriak Ling Yue, matanya berbinar seirama dengan giok. "Kalian diperintah oleh orang yang membunuh saudaranya sendiri, yang menindas rakyat yang seharusnya kalian lindungi! Apakah ini kebenaran yang kalian perjuangkan?"
Keheningan menyelimuti halaman benteng. Beberapa prajurit menurunkan senjata. Namun di antara kerumunan, seorang pemuda berwajah keras menerjang maju, mengacungkan pedang ke arah Ling Yue.
"Jangan dengarkan dia!" teriaknya. "Dia penyihir! Bunuh dia!"
Li An melesat bagai bayangan, menghadang serangan itu. Pedang mereka bertemu dengan bunyi nyaring, berbenturan berkali-kali dalam tarian maut yang cepat dan mematikan. Pemuda itu kuat, penuh amarah — namun Li An bertarung bukan untuk membunuh, melainkan melindungi. Setiap gerakannya terarah, teguh, tak tergoyahkan.
Akhirnya, dengan satu gerakan cekatan, Li An memutar pergelangan tangannya, melepaskan senjata lawan, dan menempelkan ujung pedangnya ke leher pemuda itu.
"Pergilah," ucap Li An pelan. "Kau tidak perlu mati demi kesalahan orang lain."
Pemuda itu menatapnya lekat-lekat, napasnya memburu. Ia melirik giok yang masih bersinar di tangan Ling Yue, lalu menatap wajah rekan-rekannya yang sebagian sudah menurunkan senjata. Perlahan, ia mundur, lalu berbalik dan pergi.
Satu per satu, prajurit lainnya ikut menurunkan senjata. Sebagian pergi, sebagian lain berlutut — memilih berdiri di pihak yang melindungi, bukan menghancurkan.
Namun di kejauhan, di atas bukit tempat pasukan komando berada, satu sosok masih berdiri tegak tak tergoyahkan. Paman Mu menatap segala yang terjadi di bawahnya, wajahnya dingin dan tak berperasaan. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada pasukan cadangan yang belum bergerak.
"Siapa pun yang mundur, keluarganya akan dibunuh," suaranya menggema ke seluruh lapangan, dibawa oleh pembawa pesan yang bersuara lantang. "Serang! Tidak ada ampun!"
Ancaman itu menimbulkan kegelisahan baru. Prajurit yang tadi ragu kini kembali mengangkat senjata — bukan karena mau, melainkan karena takut. Gelombang kedua menyerbu masuk, lebih besar, lebih ganas.
"Kita tidak bisa menahan mereka lagi," ucap Jenderal Wen pelan, meski ia tetap berdiri tegak meski darah merembes turun ke kakinya. "Mereka terdesak dan takut. Ketakutan membuat mereka kejam."
Ling Yue menurunkan gioknya, cahayanya perlahan meredup. Ia mengerti — kata-kata tidak cukup melawan ketakutan yang dipaksakan dari atas.
"Kita harus mundur," kata Li An tegas, berdiri di samping mereka. "Ada jalan rahasia di ruang bawah tanah yang menuju ke hutan di seberang bukit. Kita menyelamatkan orang-orang dulu."
"Dan benteng ini?" tanya Rouran, suaranya bergetar.
"Benteng bisa dibangun kembali," jawab Li An. "Nyawa tidak bisa."
Mereka bergerak cepat — mengumpulkan prajurit yang tersisa, merawat yang terluka, menuntun warga yang berlindung di ruang dalam. Jenderal Wen menolak pergi sampai orang terakhir keluar.
"Ayah, ayo!" tarik Rouran, matanya berkaca-kaca.
Pria tua itu menatap bendera yang masih berkibar di atas menara, lalu menatap putrinya. "Aku sudah tua, Nak. Aku tidak akan lari lagi. Tapi kalian... kalian masih punya masa depan. Bawa harapan ini pergi."
"Jangan bicara begitu!" Rouran memeluknya erat. "Kita pergi bersama!"
Jenderal Wen tersenyum pilan, mengusap pipi putrinya. "Jika aku pergi, mereka akan mengejar tanpa henti. Jika aku tetap di sini... mereka akan berpikir kita semua terjebak. Kalian bisa melarikan diri."
"Tidak!" potong Ling Yue. "Kita tidak meninggalkan siapa pun."
Sebelum Jenderal Wen sempat menjawab, dentuman keras mengguncang pintu gerbang — hampir roboh. Waktu habis.
Li An berpikir secepat kilat. "Kita pergi lewat jalan rahasia. Bersama-sama. Jika kita bergegas, mereka tidak akan sempat menyadari sebelum kita jauh." Ia menoleh ke arah Jenderal Wen. "Jenderal, pemimpin yang bijaksana tidak mati di tempat yang sia-sia. Ia hidup untuk memimpin lagi saat hari itu tiba."
Kata-kata itu menembus hati pria tua itu. Ia mengangguk pelan, menahan rasa sakit di luka-lukanya. "Baiklah. Ayo."
Mereka menyusuri lorong gelap di bawah tanah, diiringi suara benteng yang perlahan diserbu dan diduduki. Di belakang mereka, suara langkah kaki musuh terdengar semakin dekat, namun tidak ada yang berani menyimpang ke lorong gelap yang tak dikenal itu.
Ketika mereka akhirnya muncul di mulut gua di sisi lain bukit, napas mereka terengah, tubuh lelah, namun semua masih hidup. Mereka berbalik melihat ke arah benteng — api mulai menjilat dinding kayunya, asap hitam mengepul tinggi ke langit malam.
"Benteng itu jatuh," gumam Rouran, air matanya menetes perlahan.
"Tapi kita tidak jatuh," kata Ling Yue pelan, meletakkan tangan di bahu temannya. "Kita masih ada. Itu yang terpenting."
Jenderal Wen menatap benteng kesayangannya terbakar, lalu menatap kelompok kecil orang-orang yang berdiri di belakangnya — para prajurit yang setia, putrinya, dan dua orang muda yang membawa harapan baru.
"Paman Mu menang benteng ini," ucapnya lantang, suaranya penuh tekad. "Tapi dia belum menang hati rakyat. Selama kita masih berdiri, dia belum menang sama sekali."
Li An menunjuk ke arah hutan lebat yang membentang di depan mereka. "Ada desa persembunyian dua hari perjalanan dari sini. Aman, sulit ditemukan. Kita bisa menyusun rencana dari sana."
Mereka berjalan masuk ke dalam kegelapan hutan, menjauhi cahaya api yang memakan benteng. Langkah mereka berat, namun tidak ada yang tertinggal. Di depan mereka, jalan masih panjang dan berbahaya — namun untuk pertama kalinya, mereka tidak berjalan sendirian.