Sekuel SUAMIKU BERWAJAH CACAT
Novel ini, menceritakan kisah cinta segitiga. Jadi bijaklah, dalam membaca.
Haris Wilson, anak pertama dari pasangan Henri Wilson, dan Rania Cullen, tidak menyangkah hidupnya akan berakhir menikahi anak dari pelayannya sendiri Bibi Ana.
Apalagi saat itu, Haris Wilson mempunyai seorang kekasih yang begitu dicintainya, yaitu seorang supermodel, bernama Kenny.
Haris menentang keras perjodohan ini, karena
dia sudah mempunyai kekasih, dan yang membuat dia sangat menolak perjodohan ini adalah, anak dari pelayannya itu, adalah seorang gadis cacat.
Tapi Haris tak dapat menolak, karena ayahnya Henri Wilson mengancam, kalau dia tidak menikahi Vivian, maka jabatannya sebagai seorang CEO diperusahaan, akan dicabut.
Karena tidak ingin kehilangan jabatannya, dia menyetujui pernikahan ini, tapi dengan membuat kesepakatan pernikahan kontrak, yang dia buat bersama Vivian.
Tapi itulah cinta bisa tumbuh kapan saja, Harispun tak dapat menolak pesona Vivian, saat mendapati gadis itu sudah bisa berjalan, ditambah lagi dengan kelembutan, dan perhatian dari wanita itu, membuat ia terjebak dengan permainan yang dia ciptakan sendiri, hingga membuat ia harus memilih Vivian, sigadis cacat, atau Kenny wanita yang begitu dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.13.Pergi kerumah.
Setelah selesai dengan photonya, Vivian langsung berjalan menghampiri mereka yang sedang berbincang.
Terlihat disana Daren, Riana, dan juga Herry tengah berbincang-bincang.
"Daren" Sapanya.
"Ada apa?!" Tanya Daren, sambil tersenyum.
"Terimakasih untuk gaunnya. Aku suka." Jawabnya, sembari tersenyum.
"Kau menyukainya?"
"Tentu Daren, aku sangat menyukainya. Kalau tidak menyukainya, manamungkin aku memakainya. Kata Bibi, kau memberikan untuk hadiah pernikahanku."
"Aku senang, jika kau menyukainya."
"Daren, apakah kau tidak memberi padaku, juga?!" Tanya Riana, dengan sedikit merajuk.
"Tentu Riana, aku pasti akan memberikan padamu nanti."
Herry hanya memutar bola matanya malas, dan dia merasa jengah dengan tindakan adiknya, yang begitu tergila-gila dengan Daren.
Berjalan menghampiri istrinya, dan raut wajah tidak suka kembali melanda dirinya, saat melihat kedekatan Daren, dan juga Vivian.
"Ayo ikut aku." Titahnya, dengan langsung menarik tangan Vivian.
"Bisakah kau sedikit lembut Kakak?! kenapa kau selalu kasar dengannya." Seru Herry, saat melihat Haris, menarik tangan Vivian dengan sedikit kasar.
"Dia adalah istriku, dan aku minta kalian untuk ikut campur.
Ayo Vivian." Ucapnya, dengan menarik tangan Vivian, berlalu begitu saja mereka bertiga.
Daren hanya menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, dan raut wajahnya terlihat begitu memerah, tapi pria itu berusaha untuk menahan amarahnya, ditengah suasana resepsi.
"Tuan, kita mau kemana? bisakah kau sedikit bersikap lembut padaku?!"
" Bisa tidak, kau jangan banyak bicara." Pintanya, dengan menarik tangan Vivian, menuju Zain.
Zain terus menatap Vivian, dan dalam dirinya begitu mengagumi kecantikan, istri dari sahabatnya.
Saat sudah berhadapan bersama Zain, Haris langsung mengenalkan Vivian, pada sahabatnya.
"Sayang kenalkan ini Zain, sahabatku, dia anak dari paman Elmund, dan Bibi Tanti." Seru Haris, yang memperkenalkan Vivian, pada sahabatnya.
"Sayang, kenapa tiba-tiba dia memanggilku Sayang?" Bertanya dalam hati, dan dia terlihat begitu penasaran.
"Kenalkan Nyonya, aku Zain, sahabat baik dari Suami anda." Ucapnya, sembari mengulurkan tangannya.
"Nyonya, kenapa kau memanggilku Nyonya? apakah kau tidak tau, kalau aku hanya istri kontraknya."
Haris langsung merengkuh pinggang istrinya dengan begitu posesif, dan berbisik pelan ditelinga Vivian.
"Ingat kau harus menjawab, kenalkan Tuan, aku Vivian, istri dari Tuan Haris." Titahnya, dengan penuh penegasan.
"Kenapa aku harus bilang begitu Tuan? bukankah aku hanya istri kontrakmu?!" Bertanya, dengan setengah berbisik.
"Setidaknya, kita harus berakting didepan orang, kau mengerti?!"
"Ba..baiklah." Jawabnya, dengan nada gugup.
"Kenalkan Tuan, aku Vivian, istri dari Tuan Haris." Jawabnya, sembari membalas uluran tangan dari Zain.
Ketiga orang dewasa itu, terlibat perbincangan, dan tiba-tiba terdengar telepone masuk, diphonsel milik Haris.
Meraih dari saku jasnya, dan tertera nama Kenny disana.
Menghembuskan nafas dalam, dan memutuskan pamit pada Vivian, dan juga Zain.
"Maaf Zain, aku pamit kesana dulu. Ada telepone masuk, dari klienku." Bohong Haris, dengan berlalu begitu saja, tanpa jawaban dari Zain, ataupun Vivian.
"Kenapa mesti berbohong, aku tau itu pasti dari kekasihnya."
Percakapan lewat telepone.
"Haris: Hallo Sayang, ada apa?
Kenny: Kenapa kau menanyakan ada apa?! apakah aku salah, menghubungi kekasihku? dan kau mengatakan akan menghubungiku, tapi ini sudah jam begini, kau belum menelponeku juga, makanya aku dahulu yang menelponemu.
Menghembuskan, sembari mengusap kasar wajahnya.
Haris: Maafkan aku Sayang, aku sibuk melayani tamu, jadi lupa menghubungimu.
Kenny: Ya sudah, kalau begitu setelah selesai resepsinya, kau harus menghubungiku. Kalau tidak besok aku akan kerumahmu, kau tau Sayang, aku begitu rindu padamu.
Haris: Kalau begitu aku tutup teleponenya Sayang, bye." Sambil mengakhiri, panggilan teleponenya.
*******
Waktu terus berjalan, kini resepsi telah selesai.
Dan tampak disebuah ruang tamu, kediaman keluarga Wilson, Haris, dan Vivian, tengah duduk bersama keluarga besarnya.
"Kau yakin Haris? kau, dan Vivian akan tinggal sendiri?!"
"Iya Papa, sebelum menikah dengan Vivian, aku sudah membeli rumah untuk kami berdua, dan ini sudah keputusanku." Jawabnya, tegas.
Vivian hanya menunduk, dan dalam dirinya, begitu diliputi rasa khawatir, dan juga resah, dengan pernikahan seperti apa yang akan dia jalani nantinya.
"Tuhan, kuatkan aku, karena aku akan menghadapi rumahtangga yang penuh banyak drama, dan aku harus terbiasa dengan kehadiran Nona Kenny, diantara aku, dan Tuan Haris." Gumamnya, pelan.
"Kau baik-baik saja anakku?!" Tanya Ana, saat melihat anak angkatnya, tampak melamun.
"Iya Bibi, aku baik-baik saja." Jawabnya, dengan memaksa diri untuk tersenyum.
"Ya sudah ayo kita pergi, untuk persiapkan pakaianmu."
"Baik Bibi."
"Nyonya, Tuan, Nak Haris, Bibi, dan Vivian mau mengambil pakaiannya, Vivian dulu."
"Iya Bibi." Jawab Haris.
******
Vivian mulai mengambil baju-bajunya, dan memasukkan kedalam tas pakaiannya.
Ana menghampiri putrinya, sembari menyentuh lembut tangannya, saat melihat gadis itu tampak melamun.
"Bibi." Gumamnya, dengan wajah sendu.
Menatap penuh kelembutan, sembari membenahi setiap helaian rambut, yang menutupi wajah cantiknya.
"Walaupun kau tidak mencintainya, dan begitupun dirinya, tapi kau tetap harus lakukan kewajibanmu sebagai seorang istri.
Menyiapkan makanan, dan segala keperluannya, dan Bibi yakin, suatu saat kelembutan, dan sikapmu pada dia, mampuh membuatnya jatuhcinta padamu, dan buatlah ini menjadi pernikahan terakhir untuk kalian." Pinta Ana, dengan tatapan penuh harap.
Mendengar itu, Vivian hanya meneteskan airmatanya, dan dia begitu merasa bersalah karena sudah membohongi Ana.
"Doakan aku Bibi, semoga aku bahagia dengan rumahtangaku." Ucapnya, sembari mengusap airmatanya.
"Tentu anakku, Bibi akan selalu mendoakan engkau."
Terdengar suara ketukan pintu, yang membuat suasana Vivian, dan Ana teralihkan.
"Itu pasti Nak Haris, ayo kita keluar."
"Iya Bibi." Jawabnya, dengan mengambil tasnya, dan berlalu keluar dari kamar itu, mengikuti langkah kaki,Ana.
Pintu terbuka, dan tampak sosok Haris, yang sudah berdiri didepan pintu.
"Maaf Bibi, kami harus pergi sekarang."
" Tentu Nak Haris, dan Bibi titip Vivian."
"Iya" Ayo Vivian, kita pergi."
"Bibi, kami pergi dulu." Pamitnya, dengan mengecup singkat pipi Ana, dan berlalu pergi dari kediaman minimalis itu.
*******
Sepanjang perjalan suasana hening terus tercipta, dan tidak ada yang bersuara diantara keduanya.
"Kenapa dia diam saja? apakah dia merindukan Bibinya?!" Bathin Haris, sembari menatap Vivian yang sedang melamun.
"Apakah kau merindukan Bibi Ana?!" Tanya Haris, memecahkan keheningan.
"Tentu saja Tuan, aku pasti merindukannya. Karena ini pertama kalinya, aku tinggal terpisah darinya." Jawabnya tersenyum.
"Gaunmu sangat indah, apakah Ibuku yang membelikan untukmu?" Tanya Haris, yang terlihat begitu penasaran.
"Kau salah Tuan! ini bukan Nyonya Rania yang membelinya, tapi Daren yang membelikan buatku, dia mengatakan kalau ini, untuk hadiah pernikahanku." Jawabnya, tersenyum.
Mendengar ucapan Vivian kalau gaun itu pemberian dari Daren, membuat Haris langsung menginjak rem mobilnya tiba-tiba.
"Apa tadi kau bilang?! Daren yang membelikan, untukmu?!" Tanyanya memastikan, sembari menatap tajam Vivian.
"I..iya Tuan." Jawabnya, gugup.
"Kalau begitu, buka gaunnya sekarang juga" Titahnya, tegas.
"Tapi kenapa Tuan? kita masih dijalan, bisakah kalau sudah sampai di rumah, baru aku membukanya?"
"Yasudah kalau memang kau tidak bisa membukanya, biar aku yang membukanya." Jawabnya, dengan ingin membuka gaun yang dikenakan Vivian, tapi seketika gadis cantik itu langsung bersuara.
"Baiklah Tuan, aku akan menggantinya. Tapi aku harus mengambil bajuku dibagasi mobil, tasnya tadi aku simpan disitu."
"Kalau begitu,Pakai saja kemejaku."
"Tapi Tuan, mana mungkin aku ganti didepan anda."
"Kau bisa diam tidak..! apakah kau mau aku menciummu?! dan cepat pakai kemeja itu, kau bisa memakai gaun pemberian pria lain, kenapa pemberian suamimu, kau tidak bisa memakainya?! dan jangan berbicara lagi." Ucapnya, tegas.
aasyeiikk ... bakal makin posesif aja bos nya si james 😁👍🏻
bisaan ni author pilih visual nya
posesif tanda cinta .. ouw ouw oooo
sudah jelas vivian berstatus kan istri "sah"
kenny dasaarrr
gemesss gau thor aaaaa mantaff👍🏻🤣