cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24 — LIMA MENJADI TIGA
Kabut belum sepenuhnya turun, tapi hutan sudah kehilangan wajah aslinya. Batang-batang pohon berdiri seperti barisan saksi, diam, rapat, seolah menutup mata pada apa yang akan terjadi.
Raka berdiri di belakang semak, napasnya pendek-pendek. Dadanya naik turun, bukan karena berlari, tapi karena firasat yang menekan dada tanpa suara. Tanah di bawah telapak kakinya masih lembap oleh embun pagi, bercampur jejak darah yang belum sempat mengering dari bentrokan sebelumnya.
Mereka tidak bicara.
Tidak ada aba-aba.
Tidak ada teriakan.
Lima bayangan muncul dari sela pepohonan, satu demi satu, seakan hutan sendiri yang melahirkan mereka. Tubuh mereka tegap, langkah mereka terukur. Pedang dan pisau pendek berkilat sebentar saat cahaya terselip di antara daun.
Nenek melangkah maju setengah tapak.
Tongkat tua di tangannya tampak sederhana—kayu gelap, permukaannya aus, penuh gurat. Tak ada mata tombak. Tak ada bilah. Hanya tongkat.
Namun cara ia menggenggamnya membuat udara di sekitarnya berubah.
“Jangan ke mana-mana Raka, lihat dan perhatikan,” katanya pelan, tanpa menoleh ke Raka.
Bukan perintah.
Lebih mirip pesan terakhir.
Salah satu dari lima orang itu tersenyum miring. Senyum yang tidak pernah sampai ke mata.
“Sudah tua,” katanya. “Masih juga berdiri di depan.”
Nenek tidak menjawab.
Ia menggeser tongkat, ujungnya menyentuh tanah. Perlahan. Mantap.
Lima orang itu bergerak hampir bersamaan.
Yang pertama menyerang dari kiri, pedang melengkung mengarah ke leher. Yang kedua menyusul dari kanan, pisau pendek menusuk ke perut. Tiga lainnya menyebar, menutup jarak, memastikan tak ada ruang kabur.
Nenek melangkah satu langkah ke depan.
Tongkatnya naik—bukan untuk menangkis pedang, tapi menghantam.
Duk!
Ujung tongkat menghantam pergelangan tangan penyerang pertama. Bunyi tulang retak terdengar jelas, kering, membuat Raka bergidik. Pedang terlepas, jatuh ke tanah dengan suara logam mati.
Belum sempat tubuh itu jatuh, nenek berputar setengah lingkaran. Tongkat diseret rendah, menyapu kaki penyerang kedua.
Tubuh itu terpelanting. Pisau terlepas. Nafasnya pecah saat punggungnya menghantam tanah.
Tidak ada darah.
Belum.
Dua orang lainnya masuk bersamaan. Satu dari depan, satu dari belakang. Serangan silang.
Nenek berjongkok rendah, tongkatnya diputar cepat. Bukan menahan, tapi memukul. Ujung tongkat menghantam tulang rusuk lawan depan. Bunyi retakan lain menyusul, lebih dalam. Orang itu terbatuk, darah muncrat dari mulutnya.
Yang dari belakang berhasil menebas.
Bilah pedang menyayat perut nenek.
Darah langsung mengalir, membasahi kain lusuh yang ia kenakan.
Raka menutup mulutnya sendiri, menahan teriakan.
Nenek terhuyung satu langkah.
Lima menjadi tiga.
Dua yang jatuh tidak bangkit lagi. Satu memegangi tangan yang patah, menggeliat, satu lagi terdiam dengan mata terbuka, dada tak lagi naik.
Tiga sisanya berhenti sejenak.
Mereka menatap nenek dengan cara berbeda sekarang. Tidak lagi meremehkan.
“Tarik napas,” kata salah satu dari mereka pelan. “Dia telah berdarah.”
Nenek berdiri tegak kembali. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam. Ia menggeser kakinya, mencari tumpuan. Darah menetes ke tanah, satu per satu, membentuk titik-titik gelap.
“Masih belum,” katanya singkat.
Dua dari tiga penyerang menyerbu lagi.
Yang pertama menusuk lurus ke dada. Yang kedua membidik leher.
Tongkat nenek naik, menahan tusukan dada—bukan dengan ujung, tapi dengan batang, memanfaatkan tenaga lawan untuk dipantulkan. Seketika ia memutar tongkat ke arah leher penyerang kedua.
Prak!
Bunyi tulang leher terdengar memuakkan.
Tubuh itu roboh tanpa suara.
Tinggal dua.
Yang tersisa tidak langsung menyerang. Mereka bergerak memutar, menjaga jarak. Keringat mengalir di pelipis mereka, bukan karena lelah, tapi karena takut.
Nenek bernapas berat sekarang. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Darah dari perutnya terus mengalir, menghangatkan pahanya.
Raka ingin bergerak.
Ingin melakukan apa saja.
Tapi kakinya seperti tertanam di tanah.
Salah satu penyerang tiba-tiba melempar pisau.
Nenek mengangkat tongkat, menepis. Pisau melesat ke samping, menancap di batang pohon.
Terlambat setengah detik.
Pedang dari sisi lain masuk, menghantam bahu nenek.
Ia terjatuh berlutut.
Tongkatnya masih tergenggam, ujungnya tertanam di tanah, menahan tubuhnya agar tidak roboh sepenuhnya.
Dua orang itu mendekat.
Langkah mereka hati-hati.
Mereka tahu, satu kesalahan lagi bisa berarti mati.
Nenek mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan mata Raka.
Tatapan itu tenang.
Bukan meminta tolong.
Bukan memerintah.
Hanya seolah berkata: lihat baik-baik.
Salah satu penyerang mengangkat pedang tinggi-tinggi.
Saat itulah suara langkah terdengar dari kejauhan.
Bukan satu.
Dua.
Cepat.
Terlalu cepat.
Dua penyerang itu menoleh bersamaan.
Dan nenek—dengan sisa tenaga yang ia miliki—mengayunkan tongkatnya ke arah lutut penyerang terdekat.
Duk!
Lutut itu remuk.
Teriakan pecah.
Pedang jatuh.
Namun sebelum nenek bisa berdiri kembali, pedang terakhir sudah melayang ke arahnya.
Bilah itu mengarah tepat ke dadanya.
Raka menjerit.
Dan dari balik kabut—
Dua bayangan melesat masuk ke medan pertempuran.
Satu menghantam pedang itu dari samping.
Yang satu lagi menyerang tanpa ragu.
Darah muncrat ke udara.
Jeritan terputus.
Nenek roboh ke tanah, napasnya tersengal.
Kabut menutupi hutan kembali.
Raka tidak tahu siapa saja mereka.
Tidak tahu dari pihak mana.
Yang ia tahu hanya satu—
Jika mereka datang satu detik lebih lambat, nenek sudah mati.
Dan perang ini belum selesai.