Peringatan Misi Kematian! Sisa waktu: 10 menit.
Tugas: Hadapi Dewi Kuno, atau jantungmu meledak.
Sebagai murid buangan yang tertindas, Lin Huang mendadak memiliki kekuasaan instan berkat "Tanda Batas Batil" di pergelangan tangannya. Tidak butuh waktu ratusan tahun, kultivasinya meningkat eksponensial dalam hitungan detik—tetapi harganya adalah risiko nyawa yang mengerikan!
Setiap detik adalah pertarungan. Setiap misi adalah perjudian.
Fast-Paced Xianxia | Kultivasi Ekstrem | Romansa Paksaan Dewi
Rasakan adrenalin tanpa jeda di setiap bab!
"Ini bukan tentang menjadi abadi, ini tentang bertahan hidup di detik berikutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Tinju Perunggu, Langkah Bayangan Langit
Aroma debu batu yang pekat memenuhi udara koridor makam seiring dengan setiap hantaman yang dilepaskan oleh Lin Huang. Di bawah pendaran obor api biru, pemuda itu bergerak layaknya harimau kelaparan yang masuk ke tengah kawanan domba.
Brak! Juar!
Dua patung terakota kembali hancur berkeping-keping menjadi puing-puing batu setelah dihantam oleh sikut dan lutut perunggu Lin Huang. Evolusi Fisik Perunggu Kuno ke Fase 2 membuat setiap jengkal tubuh Lin Huang menjelma menjadi senjata tingkat tinggi. Tombak-tombak besi kuno yang menusuk punggung dan dadanya patah begitu saja, hanya menyisakan bunyi dentangan logam yang nyaring tanpa mampu menembus kulit keemasannya.
[Prajurit Terakota hancur: 64/100]
[00:32:15]
Lin Huang melirik angka di kesadarannya. Setengah jam telah berlalu, dan staminanya mulai terkuras. Gerakan seratus prajurit ini sangat terorganisasi; setiap kali ada yang hancur, barisan di belakangnya langsung menutup celah secara mekanis, memaksa Lin Huang terus mengeluarkan energi tanpa henti.
Ggrrrr—BOOM!
Merasakan pasukannya terus berkurang, sang Pemimpin Terakota raksasa yang berada di barisan paling belakang akhirnya bergerak. Patung kuda perang hitam yang ditungganginya meringkik nyaring—sebuah suara mekanis yang memekakkan telinga—lalu melesat maju, membelah barisan prajuritnya sendiri.
Pedang besar di tangan Pemimpin Terakota itu memancarkan pendaran cahaya merah tua yang bergejolak. Aura ketajaman Ranah Inti Emas tingkat menengah memotong udara, menciptakan gelombang tekanan yang membuat lantai batu makam di sekitar jalurnya retak-retak.
"Manusia, awas! Serangan boneka itu mengandung hukum berat bumi!" Ye Qingyue memperingatkan dari ujung koridor. Kedua tangan indahnya terlipat di dada, namun sepasang mata peraknya bergerak cepat, mengunci pergerakan sang Pemimpin. Jika Lin Huang menunjukkan tanda-tanda akan kalah, dia akan langsung memaksakan sisa energinya untuk mengintervensi, persetan dengan risiko segelnya kembali bergejolak.
"Datanglah, Dasar Batu Besar!" Lin Huang justru meraung gila. Sifat anti-hero miliknya yang keras kepala membuat darahnya semakin mendidih di ambang bahaya.
Wusss!
Sang Pemimpin Terakota mengayunkan pedang besarnya dari atas ke bawah, berniat membelah Lin Huang menjadi dua bagian. Tebasan itu begitu berat hingga menciptakan tekanan angin murni yang mengunci ruang di sekitar Lin Huang, membuatnya sulit untuk melompat menghindar.
"Siapa bilang aku mau menghindar?!" Lin Huang menyeringai tebal. Dia menancapkan kedua kakinya dalam-dalam ke lantai batu, mengambil kuda-kuda kokoh. Seluruh Qi murni dari Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Sembilan Sempurna miliknya dialirkan secara radikal ke tangan kanan, dipadukan dengan kekuatan fisik murni Fase 2.
"Tinjuan Penghancur Gunung!"
BOOOOOMMMM!!!
Kepalan tangan perunggu keemasan Lin Huang menghantam langsung mata bilah pedang raksasa milik sang Pemimpin. Benturan dua kekuatan ekstrem itu menciptakan gelombang kejut spasial yang teramat masif, menyapu bersih puluhan prajurit terakota tingkat rendah di sekeliling mereka hingga hancur menjadi debu dalam sekejap.
KREEEEKKK—PRANG!
Pedang besar milik Pemimpin Terakota retak, lalu hancur berkeping-keping. Namun, kekuatan Ranah Inti Emas tidak bisa diremehkan. Momentum dari sisa hantaman tersebut membuat Lin Huang terdorong mundur sejauh sepuluh langkah, meninggalkan dua jalur kikisan yang dalam di lantai batu. Mulutnya terasa asin saat seteguk darah segar kembali merembes di sudut bibirnya.
"Hahaha! Menyenangkan sekali!" Lin Huang menyeka darahnya, matanya menyala penuh kegilaan sejati. "Lagi!"
[00:15:02]
Waktu berkedip kejam. Lin Huang menyadari sisa prajurit biasa tinggal sedikit, namun energi di tubuhnya sudah tersisa kurang dari sepertiga. Dia harus mengakhiri ini dalam satu serangan fatal sebelum staminanya benar-benar habis, karena "Mode Kematian Berantai" tidak akan memberinya waktu untuk memulihkan diri setelah ini.
Lin Huang memejamkan matanya sejenak, memusatkan seluruh konsentrasinya pada Teknik Pedang Pembelah Langit. Kali ini, dia tidak membentuk bilah pedang di jarinya. Sebaliknya, dia membiarkan seluruh esensi pedang yang tajam itu meresap ke dalam struktur tubuh perunggunya sendiri.
Niat Pedang Menyatu dengan Tubuh!
Ketika Lin Huang membuka mata, pupil matanya memancarkan pendaran cahaya perak yang begitu tajam hingga sanggup menusuk ilusi ruang.
"Mati kau, Patung Sialan!"
Boom!
Lin Huang melesat maju, namun kali ini kecepatannya tiga kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Tubuhnya bertransformasi menjadi sebilah pedang manusia raksasa berwarna putih keperakan yang membelah sisa-sisa prajurit terakota yang menghalangi jalannya tanpa melambat sedikit pun.
Slas! Slas! Slas!
[Prajurit Terakota hancur: 99/100]
Dalam satu kedipan mata, Lin Huang sudah berada tepat di depan dada Pemimpin Terakota raksasa. Patung itu mencoba mengangkat perisai beratnya, namun Lin Huang sudah melayangkan tinju kanannya yang telah dilapisi Niat Pedang Pembelah Langit.
Duar!!!
Tinju Lin Huang menembus perisai batu tersebut seperti menembus lembaran kertas, lalu bersarang telak di tengah-tengah dada sang Pemimpin. Retakan demi retakan bercahaya merah menjalar ke seluruh tubuh patung raksasa itu sebelum akhirnya meledak hancur menjadi serpihan besar.
Dari balik reruntuhan batu dada sang Pemimpin, sebuah bola kristal berwarna biru tua seukuran telur ayam melayang keluar—Inti Jiwa Batu. Lin Huang dengan cepat menyambar bola kristal tersebut dengan tangan kirinya yang gemetar karena kelelahan.
[00:02:10]
[00:02:09]
Tato di pergelangan tangan kiri Lin Huang bergetar hebat, menyerap aura dari Inti Jiwa Batu tersebut sebelum teks digital hitam di kesadarannya berubah.
[Tugas Berantai Pertama Selesai Sempurna!]
[Keberhasilan 100%. Anda telah menghancurkan Formasi Seratus Prajurit Terakota.]
[Sinkronisasi Hadiah Berhasil: Menguasai 'Teknik Langkah Bayangan Langit (Fase 1)'!]
[Pemberitahuan Mode Berantai: Memulai hitungan mundur otomatis untuk Tugas Berantai Kedua...]
[00:59:59]
[00:59:58]
"Sialan... benar-benar tidak ada waktu untuk bernapas," Lin Huang jatuh berlutut, napasnya memburu dengan sangat rakus. Tubuh perunggunya terasa sangat pegal, dan energi Qi di Dantian-nya hampir kosong melongpong. Namun, di saat yang sama, sebuah pemahaman mendalam tentang teknik pergerakan mistis tiba-tiba tertanam di otaknya seiring dengan diterimanya hadiah sistem.
Ye Qingyue berjalan mendekat, menatap Lin Huang yang kelelahan dengan pandangan yang rumit. Dia bisa merasakan bahwa meskipun pemuda ini kehabisan energi, struktur meridian dan ototnya menjadi semakin padat dan terlatih akibat dipaksa melampaui batas secara konstan.
"Kau berhasil, Lin Huang," Ye Qingyue berkata pelan, berdiri di sampingnya sambil mengulurkan tangan jiwanya untuk menyalurkan sedikit hawa dingin murni guna meredakan ketegangan otot Lin Huang. "Tetapi jam pasir di tanganmu sudah mulai berdetak lagi untuk tugas kedua. Apa yang akan kau lakukan dalam kondisi tanpa energi seperti ini?"
Lin Huang mendongak, menatap wajah surgawi sang Dewi dari jarak dekat. Rasa dingin yang disalurkan Ye Qingyue membuat kesadarannya kembali segar. Khas seorang anti-hero bermuka tebal, Lin Huang tersenyum lebar dengan sisa tenaganya.
"Apa yang akan kulakukan? Tentu saja menggunakan hak istimewaku sebagai suamimu, Dewi," Lin Huang terkekeh pelan. "Teknik baru yang kudapatkan bernama Langkah Bayangan Langit. Benda ini memungkinkan aku bergerak menggunakan bayangan... termasuk bayanganmu. Jadi, untuk satu jam ke depan... aku terpaksa harus terus menempel sangat dekat di belakangmu agar energetikku bisa pulih."
Ye Qingyue membeku sejenak, pipinya yang seputih porselen kembali memancarkan rona merah samar akibat kelancangan kata-kata Lin Huang. Dia berniat mendengus dingin atau mengancamnya dengan belati es seperti biasa, namun melihat kondisi Lin Huang yang terluka demi membukakan jalan untuknya, sang Dewi akhirnya hanya memalingkan wajahnya yang anggun.
"Lakukan sesukamu, manusia bermuka tebal," bisik Ye Qingyue dingin, namun dia tidak melangkah menjauh.
Lin Huang tertawa puas di dalam hati. Dia bangkit berdiri dengan perlahan, memicu Seni Langkah Bayangan Langit yang baru dikuasainya. Tubuhnya seketika menjadi samar, menyatu dengan bayangan gaun biru milik Ye Qingyue saat mereka mulai melangkah lebih dalam memasuki labirin Makam Dewa Kuno yang dipenuhi oleh kegelapan dan bahaya yang siap meledak di jam berikutnya.