NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Siang pun tiba. Jarum jam hampir menunjukkan pukul dua belas saat bel pulang sekolah yang dinanti-nanti akhirnya berbunyi nyaring.

Di waktu yang sama, mobil hitam milik Regan kembali menepi dan berhenti di seberang gerbang sekolah. Regan mematikan mesin mobilnya, lalu mengembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggung ke jok.

Ia sendiri sampai heran dan geleng-geleng kepala dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini.

"aku ini sebenarnya bos perusahaan atau malah alih profesi jadi penguntit anak kecil sih?" gumamnya lirih pada diri sendiri.

Sejak bertatap muka dengan Arin di restoran beberapa waktu lalu, fokus Regan memang benar-benar terpecah. Pikirannya tidak pernah bisa tenang sebelum memastikan kondisi anak itu.

Tatapannya menyapu area depan sekolah. Di atas trotoar, beberapa pengemudi ojek *online* sudah berjejer rapi di pinggir jalan. Sebagian sibuk memeriksa layar ponsel mereka, sementara sebagian lagi asyik mengobrol santai menunggu murid-murid keluar.

Tiba-tiba, sebuah ide gila melintas di kepala Regan.

Tanpa pikir panjang, ia segera keluar dari mobil, menyeberang jalan, dan langsung menghampiri salah seorang pengemudi ojek yang berdiri di dekat motornya.

"Mas, permisi," panggil Regan.

Pengemudi itu menoleh. "Iya, Pak? Ada yang bisa dibantu?"

"Mas lagi nunggu jemputan anak sekolah?" Regan mengernyit sebentar, mencoba mengingat-ingat nama yang sempat ia dengar kemarin. "Siapa ya nama anak itu... Ah, Zayyan. Mas dapat pesanan jemputan atas nama Ibu Arin?"

Pengemudi pertama itu memeriksa layar ponselnya sekilas sebelum akhirnya menggeleng. "Oh, bukan saya, Pak."

"Oh, oke. Makasih, Mas."

Regan tidak menyerah. Ia langsung bergeser menghampiri pengemudi ojek kedua di sebelahnya. "Mas, dapet pesanan orderan atas nama Arin?"

"Bukan saya, Pak."

Regan kembali melangkah ke pengemudi berikutnya. Baru pada orang ketiga, pria berjaket hijau itu mengangguk setelah menatap ponselnya.

"Oh, iya, Pak, bener. Saya dapat orderan dari Bu Arin buat jemput anaknya yang namanya Zayyan."

Sepasang mata Regan langsung berbinar cerah. "Nah, bener! Itu dia."

Ia menatap pengemudi tersebut beberapa saat, menimbang kata-kata, sebelum akhirnya berucap pelan, "Mas... saya ada penawaran nih. Boleh gak kalau siang ini saya yang gantiin Mas buat jemput anak itu?"

Kening pengemudi ojek itu langsung berkerut dalam, menatap Regan dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh curiga. "Maksudnya gimana, Pak? Mau dibajak orderannya?"

"Nggak, orderannya tetep di Mas. Tapi saya mau pinjam motor, jaket, sama helm Mas sebentar buat anterin dia," jelas Regan.

Wajah pengemudi itu langsung berubah waspada, ia memundurkan langkahnya. "Waduh... gak bisa, Pak! Jangan ngaco. Nanti kalau motor saya dibawa kabur gimana? Saya nyari duit pake ini doang."

Regan mengangguk maklum, sudah menduga reaksi tersebut. "Gini aja. Kalau saya bayar sewa pinjamnya satu juta, gimana?"

Mata pengemudi ojek itu seketika membelalak sempurna. "Satu... satu juta, Pak?"

"Iya, satu juta bersih. Cuma pinjam sebentar buat nganterin anak itu sampai ke mes karyawan restoran depan."

Pria itu tampak menelan ludah, wajahnya bimbang setengah mati antara takut dan tergiur. "Bapak beneran? Gak lagi nipu atau nge prank saya, kan?"

Tanpa banyak bicara lagi, Regan merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet tebalnya, lalu menarik beberapa lembar uang ratusan ribu dan langsung menyodorkannya ke depan dada pria itu.

"Ini uangnya. Pegang aja dulu." Regan menunjuk ke arah seberang jalan dengan ibu jarinya. "bapak lihat mobil hitam yang terparkir di sana? Itu mobil saya. Bapak tunggu aja di situ atau di warung kopi sebelah sana sambil bawa kunci mobil saya kalau bapak masih takut. saya bukan penjahat."

Pengemudi ojek itu menoleh ke arah mobil mewah yang ditunjuk Regan, lalu kembali menatap lembaran uang satu juta di tangannya. Setelah menimbang risiko yang rasanya aman karena mobil jaminan jauh lebih mahal, ia akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Ya sudah, Pak. Boleh deh. Tapi beneran sebentar aja ya? Jangan sampai dibawa keliling Jakarta motor saya."

Regan tersenyum tipis, langsung menerima helm dan jaket hijau yang diserahkan pria itu. "Tenang aja. Urusan saya gak bakal lama."

Regan berdiri canggung di samping sepeda motor matik, mengenakan jaket hijau khas dan helm milik pengemudi ojek online yang aslinya sedang duduk santai di warung kopi seberang jalan setelah disuap selembar uang ratusan ribu. Jantung Regan mendadak berdetak jauh lebih cepat dari biasanya bahkan lebih tegang daripada saat ia harus memimpin rapat direksi.

Tak lama kemudian, bel pulang berbunyi. Zayyan berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama kerumunan murid lainnya. Bocah itu berhenti di pinggir trotoar, sepasang matanya yang bulat menyapu deretan pengemudi ojek yang sedang menunggu penumpang.

Regan menarik napas sedalam-dalamnya untuk menenangkan diri, lalu melangkah mendekat.

"Kamu... namanya Zayyan, ya?" tanya Regan, berusaha melembutkan suaranya yang berat.

Zayyan menoleh mendongak. "Iya, Pak. Benar."

Regan mengangguk pelan, sekuat tenaga menyembunyikan rasa gugup yang menjalar hingga ke ujung jari.

"Ayo, naik. Ibu kamu yang suruh jemput."

Namun, Zayyan tidak langsung mendekat. Bocah kecil itu justru memundurkan langkahnya satu depak, menatap Regan dengan dahi mengernyit curiga.

"Om beneran ojek yang mau jemput Zayyan, kan? Bukan penjahat yang mau culik Zayyan?" tanya bocah itu dengan kepolosan yang menohok.

Pertanyaan itu sukses membuat Regan hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka anak sekecil ini punya tingkat kewaspadaan yang tinggi.

Regan terkekeh pelan untuk mencairkan ketegangan. "Bukan, Zayyan. Om beneran tukang ojek kok. Ibu kamu pesen lewat aplikasi di ponselnya, terus minta Om buat anterin kamu pulang ke mes."

Zayyan tampak menimbang-nimbang jawaban itu, lalu mengangguk-angguk kecil dengan wajah lega. "Oh... gitu ya."

"Iya. Kalau gitu, sekarang boleh naik?" tanya Regan sabar.

"Boleh, Om."

Zayyan mulai bersiap menaiki motor, sedikit kesusahan karena tubuhnya yang masih mungil sementara jok motor agak tinggi. Regan yang memperhatikan dari kaca spion langsung menoleh ke belakang dengan sigap.

"Bisa naik sendiri gak? Mau Om bantu?"

"Bisa kok, Om! Zayyan udah gede," sahut bocah itu penuh percaya diri.

Benar saja, setelah sedikit berjuang, beberapa detik kemudian Zayyan sudah duduk rapi di jok belakang dengan tas ransel yang masih bertengger di punggungnya.

Regan kembali menoleh sedikit ke belakang. "Udah siap? Pegangan yang kuat ya."

"Udah, Om."

Regan melirik kaca spion. Kedua tangan kecil Zayyan ternyata hanya memegang erat besi behel di bagian belakang motor. Regan segera menggelengkan kepala.

"Jangan pegangan di situ, Zayyan."

"Hah? Terus di mana, Om?" tanya Zayyan bingung.

"Pegangan ke pinggang Om aja, peluk yang kuat," instruksi Regan.

"Nanti kalau di depan Om mendadak ngerem karena jalanan Jakarta macet, kamu bisa terjungkal ke depan."

Zayyan terlihat ragu sesaat, menatap punggung lebar pria asing di depannya.

"oh... peluk gini ya, Om?"

Perlahan tapi pasti, kedua lengan mungil itu melingkar, memeluk erat pinggang Regan dari arah belakang.

Deg.

Seketika itu juga tubuh Regan menegang kaku. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan, dan ada sebuah sengatan hangat yang mendadak menjalar hebat langsung ke dalam dadanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Regan merasakan pelukan sekecil itu namun dampaknya mampu memporak-porandakan pertahanan hatinya yang selama sembilan tahun ini membeku.

"Iya..." Suara Regan mendadak serak dan pelan, sarat akan emosi yang mati-matian ia tahan.

"Gitu. Pegangan yang erat dan jangan dilepas ya selama di jalan. Takut jatuh."

"Iya, Om!" sahut Zayyan riang dari balik punggungnya.

Regan tersenyum sangat lebar dibalik helmnya. Ia perlahan menarik tuas gas, melajukan sepeda motornya membelah jalanan kota Jakarta untuk mengantar pulang sang putra.

Sepanjang perjalanan, Regan sama sekali tidak menyadari bahwa senyuman hangat itu terus tercetak di wajahnya, enggan luntur sedikit pun selama sepasang tangan mungil itu masih mendekapnya dengan erat dari belakang.

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!