Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan
Keesokan paginya, Claire terbangun dengan sisi kasur sebelahnya yang sudah kosong. Di atas meja samping tempat tidur tergeletak secarik kertas bertuliskan tangan Jeremy.
"Aku harus segera ke markas pusat. Mungkin tidak pulang dua hari ke depan. Kunci pintu rapat-rapat, jangan nakal, jangan coba-coba bikin masalah yang aneh-aneh, dan hubungi aku jika ada apa-apa."
Claire tersenyum lebar begitu selesai membaca pesan itu. Baginya, kepergian Jeremy adalah kesempatan. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Kiara, Lordan, dan Kean lewat pesan.
Mereka sepakat akan segera bergerak. Bom buatan Claire kini sudah selesai. Ada alat-alat lain yang menunjang serangan diam-diam mereka juga.
Bukan untuk melukai orang atau menghancurkan bangunan sepenuhnya, mereka hanya ingin melampiaskan emosi pada polisi-polisi sombong itu, serta memberikan peringatan pada pihak yang selama ini menutup mata atas kejahatan yang terjadi di bawah pengawasan mereka.
Dua hari berlalu begitu cepat. Jeremy benar-benar tak pulang, bahkan pesan singkat pun jarang ia kirim, mungkin karena terlalu sibuk berkoordinasi dengan teman-teman mafianya menyusuri jejak senjata yang ternyata diselundupkan lewat jalur resmi.
Malam ini, Claire dan teman-temannya pun beraksi. Claire keluar diam-diam lewat lubang belakang rumah Jeremy yang dia buat sendiri tanpa pengetahuan laki-laki itu dan anak buahnya. Seorang Claire tentu saja punya banyak ide dan caranya sendiri. Otaknya selalu berpikir pintar jika ingin melakukan sesuatu.
Langit gelap pekat, hanya diterangi cahaya bulan yang samar tertutup awan tipis. Pukul dua pagi, saat kantor polisi biasanya berada dalam kondisi paling tenang, ke-empat sahabat itu bergerak senyap menuju lokasi.
Mereka sudah mempelajari setiap sudut kantor polisi daerah itu sejak seminggu lalu. Pintu utama dijaga ketat dengan kamera dan pos penjagaan, patroli berkeliling setiap lima belas menit di halaman depan. Namun di bagian belakang, dekat pintu akses pengiriman dapur, pengawasannya sangat minim, dindingnya tak terlalu tinggi, tertutup semak belukar rimbun, dan pintu ventilasi dapur seringkali lupa dikunci karena dianggap berada di area aman.
"Siap?" bisik Claire sambil memeluk ransel besar miliknya yang berisi semua peralatan anehnya. Termasuk bom yang dia bikin.
Teman-temannya mengangguk mantap tanpa ragu. Lordan memanjat lebih dulu dengan gerakan lincah, lalu membantu yang lain naik ke atas tembok sebelum turun perlahan ke halaman belakang yang gelap. Langkah kaki mereka hampir tak terdengar di atas rumput basah oleh embun.
Mereka bergerak merambat di sepanjang dinding bangunan, menghindari jangkauan lampu taman yang menyala redup. Sekali terdengar suara langkah patroli dari arah samping, mereka segera terpaku diam di balik tumpukan peti bekas dan menunggu sampai suara itu menjauh kembali. Kiara berjalan paling belakang untuk memantau situasi, sementara Kean memastikan tak ada jejak yang tertinggal di tanah.
Sesampainya di depan pintu akses dapur, Lordan mengeluarkan alat kecil buatan Claire dan menyambungkannya ke panel kunci elektronik. Dalam hitungan detik terdengar bunyi klik halus, pintu terbuka tanpa memicu alarm apa pun. Mereka menyelinap masuk satu per satu, lalu menutup pintu kembali perlahan hingga terkunci rapat seperti semula. Udara di dalam terasa sejuk, berbau sisa rempah masakan, lorongnya hanya diterangi lampu darurat berwarna hijau di ujung jalan.
Ke-empatnya mengendap-endap dengan gaya yang lucu seperti pencuri kurang terdidik. Claire yang berjalan paling depan tiba-tiba kabur dan masuk kembali ke dapur. Kean, Lordan serta Kiara yang bingung, tentu saja ikut berlari terbirit-birit. Mereka semua menempel di dinding dapur dengan berjejer.
"Ada apa, ada apa?!" Seru Kean pelan sekali. Matanya melirik ke kiri dan kanan dengan panik.
"Ada tikus, dua. Gue lihat mereka kejar-kejaran tadi. Gue takut mereka liat kita terus ngelaporin ada penyusup di sini. "
Kean, Lordan dan Kiara langsung memasang tampang cengo setengah kesal.
"Claire, mana ada tikus yang bisa ngomong."
"Ada. Di film banyak. Bisa aja mereka tikus mata-mata rahasia polisi. Siapa tahu mereka dilatih khusus buat melapor kalau ada orang asing!" jawab Claire dengan wajah serius sungguh-sungguh, membuat Kean hampir saja menepuk jidatnya sendiri karena tak percaya.
"Ya ampun Claire, ini kantor polisi bukan markas agen rahasia kartun!" desis Kiara sambil menahan geli sekaligus kesal.
Claire tertawa pelan. Tubuhnya masih menempel sempurna di tembok. Di depannya ia menggendong ransel besar yang dalamnya adalah bom hasil buatan mereka. Ada beberapa tipe. Dari yang seperti petasan hanya mengeluarkan asap tanpa merusak apapun, ada yang bunyinya kuat sekali namun masih tidak berbahaya, minimal orang yang kena gosong dan bisa serangan jantung, sampai jenis bom yang bisa merusak lapangan yang mereka targetkan.
"Cepat jalan lagi, nanti benar-benar ketahuan malah kita yang jadi bahan tahanan!" desis Kiara sambil menarik lengan baju Claire pelan. Gadis itu akhirnya mengangguk patuh, menahan tawanya sendiri sebelum kembali bergerak menyusuri lorong remang.
Mereka berjalan hati-hati menuju ruang arsip lama yang sudah ditandai. Di sana tersimpan berkas-berkas kasus yang sengaja dikubur, mulai dari penyelundupan senjata, pemerasan, hingga pembungkaman saksi yang tak pernah ditindaklanjuti. Lordan dengan cekatan membuka kunci pintu besi yang berat itu menggunakan alat buatan Claire, tanpa memicu alarm sedikit pun.
Di dalam ruangan yang pengap dan berbau debu itu, lemari besi besar di sudut ruangan menjadi sasaran utama. Claire mengeluarkan alat yang dirancang khusus, bukan untuk meledakkan bangunan, tapi memancarkan gelombang kejut terkendali yang cukup kuat merusak sistem kunci mekanis lemari itu dan mematikan sementara rekaman CCTV di area sekitar.
"Ini tipe yang paling aman," bisik Claire sambil memasang alat di sisi lemari.
"Nanti kuncinya akan hancur, pintu terbuka sendiri, pas ke buka, langsung ambil berkas yang sengaja mereka simpan itu lalu lanjut misi ke dua."
Semuanya mengangguk. Kean segera menyebar lembaran penanda di lantai, memastikan saat lemari terbuka berkas sasaran akan terlihat paling jelas. Sementara Lordan dan Kiara memantau pintu lorong, berjaga-jaga jika ada siapa pun yang lewat secara tiba-tiba. Setelah semua terpasang sempurna, Claire memeriksa kembali sistem pengaman berlapisnya, tak akan ada ledakan tak terduga, dan tak akan merusak berkas di dalamnya.
"Misi dua di lapangan depan, kan?" bisik Kiara saat mereka bergerak mundur perlahan. Claire mengangguk mantap.
"Iya, kita bikin mereka terkejut dan merusak lapangan mereka biar mereka ada kerjaan."
"Udah siap?" tanya Kean.
Semuanya mengangguk. Lemari terbuka. Kiara dan Lordan cepat-cepat mengambil berkas seperti yang mereka sepakati, lalu keluar dari sana secepat kilat.
"Kabur, kabur!"
Seru Claire dengan suara berbisik. Mereka segera berlari terbirit-birit dari sana dan masuk ke ruangan paling gelap untuk sembunyi sementara.
kirain bom rakitan claire berbahaya hanya bikin gosong, mom thalia dan claire dan sahabat-sahabatnya aja🤣
claire nanti ketahuan mister jem dihukum kamu nakal banget, diam-diam keluar dari rumah sama sahabat2 kamu tanpa ijin mister jem😄
mommy thalia bergabung aja geng mafia mommy thalia jadi ketuanya, claire dan teman2nya anak buahnya pasti sangat seru dan menarik🤣🤭
Thalia cocok ni ketemu Claire yg nakal dan unik 🤣🤣🤣🤣bisa bikin group mafia cewe ni🤣🤣🤣🤣