Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Ketukan palu penutup dari pembawa acara menandai berakhirnya pesta ulang tahun megah malam itu. Satu per satu tamu undangan penting, kolega bisnis, dan tetangga lama mulai meninggalkan ballroom hotel dengan wajah-wajah yang tampak puas. Mama Lastri, yang fisiknya sudah tidak lagi mampu menahan lelah terlalu lama di usianya yang ke-70, telah diantarkan pulang terlebih dahulu menggunakan mobil pribadi Mas Broto, ditemani oleh seorang sopir dan salah satu cucu tertuanya agar bisa segera beristirahat.
Namun, kepulangan Mama Lastri tidak serta-merta membubarkan seluruh isi ruangan. Di sudut ballroom yang kini terasa lebih lengang karena sebagian besar lampu sorot utama mulai dimatikan, menyisakan pendar lampu dinding yang temaram, seluruh anak dan menantu Mama Lastri masih berkumpul.
Mereka tidak beranjak dari tempat duduk masing-masing, melainkan membentuk satu lingkaran meja besar di barisan tengah. Di sana ada Mas Broto, Mbak Rika, Mbak Ambar beserta suaminya, anak-anak Mama Lastri yang lain, serta tak ketinggalan, Adinda dan Dimas yang diminta pindah dari meja nomor enam di barisan paling belakang untuk bergabung ke lingkaran utama.
Adinda melangkah dengan tenang, menggandeng jemari Dimas yang terasa hangat. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu sama sekali tidak terkejut dengan agenda kumpul setelah pesta ini. Sejak melihat rentetan hadiah mewah dipamerkan di atas panggung beberapa jam lalu, Adinda sudah tahu persis apa tujuan dari kumpul-kumpul larut malam ini. Ini adalah sidang pleno informal klan keluarga besar sebuah ritual wajib pasca-acara untuk membedah isi dompet dan membagi beban biaya.
Bagas, yang beberapa jam lalu memperlakukan Adinda dan Dimas layaknya pajangan tak kasat mata di barisan belakang, kini dengan santai berjalan mendekat. Tanpa ada rona cemas, kikuk, atau bahkan rasa bersalah sedikit pun di wajahnya, Bagas langsung menarik kursi kayu berukir emas dan duduk tepat di samping Adinda. Pria itu bertingkah seolah-olah pertengkaran hebat karena gengsi pakaian luar hotel tadi sore tidak pernah terjadi. Ia mengembuskan napas lega sembari melonggarkan ikatan dasinya, bersandar dengan angkuh pada sandaran kursi, merasa posisinya aman setelah sukses menunjukkan baktinya di depan panggung tadi.
Namun, Bagas tidak menyadari satu hal. Wanita yang duduk di sebelahnya malam ini bukan lagi Adinda yang dulu bukan lagi istri penurut yang akan menundukkan kepala sedalam-dalamnya saat dihardik, bukan lagi perempuan yang bersedia memendam tangis di sudut dapur demi menambal harga diri suaminya yang keropos. Kali ini, Adinda tidak akan tinggal diam. Di dalam benaknya, fondasi pertahanan sudah dibangun kokoh. Ia tidak akan lagi mengalah; ia siap untuk melawan dan menolak.
Di ujung meja, Dimas duduk dengan bersedekap dada. Remaja empat belas tahun itu melirik Abahnya dengan pandangan mata yang teramat dingin, lalu beralih menatap ibunya, memberikan isyarat bisu lewat kedipan mata bahwa ia akan selalu berdiri di belakang setiap keputusan Ibunya malam ini.
Suasana ruangan mendadak hening ketika Mas Broto berdeham keras. Sebagai anak tertua sekaligus figur pemimpin informal di keluarga ini, pria bertubuh tegap itu memajukan posisi duduknya, meletakkan kedua lengannya di atas meja bundar berlapis kain satin. Wajahnya tampak serius, memancarkan aura otoritas yang selama bertahun-tahun selalu dipatuhi oleh adik-adiknya tanpa terkecuali.
"Baik, karena Mama sudah pulang dan bisa istirahat dengan tenang, mari kita kumpul sebentar untuk menyelesaikan beberapa hal yang belum tuntas," buka Mas Broto dengan nada suara yang berwibawa, sengaja dibuat berat layaknya seorang direktur yang sedang memimpin rapat evaluasi kerja. "Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kerja keras kita semua. Acara malam ini berjalan dengan sangat luar biasa sukses. Rekan-rekan bisnis saya dari kantor pusat, kolega-kolega penting, sampai para tetangga lama, semuanya memuji kemegahan pesta ulang tahun Mama yang ke-70 ini. Ini semua adalah bukti nyata dari bakti kita sebagai anak-anak yang berbakti, yang tahu cara menghormati orang tua."
Mbak Rika di sebelahnya mengangguk-angguk anggun sembari mengipasi lehernya dengan kipas tangan kecil bermotif bulu. "Betul itu, Mas. Tadi Jeng maksudku, Ambar juga lihat sendiri kan, bagaimana senangnya Mama pas terima kado-kado dari kita? Harga diri keluarga kita benar-benar terangkat malam ini."
Adinda yang mendengarkan dari posisinya hanya bisa membatin dengan senyum sinis yang tersembunyi rapat di balik wajah datarnya. Menurutnya, rentetan kata sambutan panjang lebar dari Mas Broto itu hanyalah basa-basi busuk yang sama sekali tidak perlu. Itu semua hanyalah mukadimah manis yang sengaja dirancang untuk membius kesadaran adik-adiknya sebelum palu nominal anggaran diketuk dengan keras. Adinda sudah terlampau hafal polanya semakin besar pujian di awal, akan semakin dalam pula lubang tagihan yang digali di akhir.
Benar saja, setelah merasa pidato baktinya cukup membakar semangat ruangan, Mas Broto langsung mengubah nada suaranya menjadi lebih taktis. Pria itu merogoh saku jas hitamnya, mengeluarkan sebuah catatan kecil yang sudah penuh dengan deretan angka-angka tulisan tangan, lalu meletakkannya di samping sebuah kalkulator lipat.
"Nah, sekarang kita langsung saja ke hitungan akhir untuk seluruh biaya acara malam ini," ucap Mas Broto tanpa ragu, langsung menusuk ke inti masalah seperti yang sudah berputar di kepala Adinda sejak tadi. "Seperti yang kalian tahu, untuk mempermudah operasional sejak awal mulai dari pembayaran uang muka ballroom hotel, biaya katering per kepala yang menggunakan menu premium, sewa dekorasi bunga segar, undang vendor dokumentasi, sampai pembelian hadiah kejutan tas mewah Prancis dan perhiasan mutiara air laut untuk Mama tadi semuanya menggunakan uang saya terlebih dahulu. Saya yang meminjamkan dana talangan agar acara ini bisa berjalan mulus tanpa kendala."
Mas Broto menjeda kalimatnya, jemarinya mengetuk-ngetuk kalkulator di atas meja, menciptakan bunyi tik-tik yang teratur dan terasa intimidatif di tengah kesunyian ruangan.
"Total pengeluaran bersih setelah dikurangi iuran awal bulan lalu ternyata membengkak cukup banyak karena ada beberapa permintaan tambahan dari Mama dan juga penyesuaian menu makanan. Jadi, demi keadilan dan asas kebersamaan dalam berbakti kepada orang tua, sisa kekurangan biaya ini seperti biasa akan kita bagi rata untuk seluruh anak. Setelah saya hitung matang-matang, setiap orang setiap kepala keluarga anak Mama dikenakan biaya tambahan sebesar dua juta rupiah."
Kalimat Mas Broto jatuh layaknya sebuah maklumat mutlak yang tidak boleh diganggu gugat. "Biaya dua juta ini harus segera disetor ke rekening saya paling lambat dalam minggu ini, karena saya juga harus merapikan pembukuan keuangan pribadi saya. Saya rasa angka dua juta bukan masalah besar bagi kita semua, demi senyum dan kebahagiaan Mama di hari tuanya."
Begitu angka dua juta rupiah itu diucapkan secara lantang, atmosfer di sekitar meja bundar besar itu mendadak berubah drastis. Keheningan yang pekat langsung merayap. Beberapa anak Mama Lastri yang duduk di sisi kiri meja tampak terdiam seribu bahasa. Wajah mereka mendadak masam dan tegang.
Salah satu adik perempuan Bagas tampak saling melirik dengan suaminya, jemari mereka bertautan cemas di bawah meja, menunjukkan dengan jelas bahwa nominal dua juta rupiah di tanggal pertengahan bulan seperti ini adalah beban berat yang sangat mencekik leher dapur mereka.
Namun, meski keberatan itu terpancar nyata dari kerutan di dahi mereka, tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara untuk memprotes Mas Broto. Mereka semua memilih bungkam. Di satu sisi, mereka takut dicap sebagai anak yang pelit dan tidak berbakti kepada orang tua di hadapan keluarga besar.
Di sisi lain, ada rasa bersalah yang munafik sebab, sepanjang malam tadi, mereka semua ikut duduk di barisan depan, menikmati setiap suapan makanan premium, tertawa berderai di bawah sorot lampu mewah, dan ikut berfoto dengan bangga di samping hadiah-hadiah mahal itu tanpa memikirkan konsekuensinya. Mereka ikut menikmati pesta, maka malam ini mereka terpaksa menelan pil pahit tagihannya dalam diam.
Mendengar nominal dua juta tersebut, Bagas tidak menunjukkan tanda-tanda keberatan seperti saudara-saudaranya yang lain. Baginya, harga diri di depan Mas Broto adalah segala-galanya. Pria itu langsung memajukan tubuhnya, mencondongkan kepalanya mendekat ke arah telinga Adinda. Dengan volume suara yang sangat rendah, berupa bisikan setengah mendesak yang sarat akan perintah mutlak, Bagas berbisik di dekat jilbab Adinda.
"Din, denger kan kata Mas Broto? Dua juta. Kamu transfer sekarang saja pakai mobile banking-mu ke rekening Mas Broto. Langsung lunasin malam ini juga, biar kita kelihatan paling siap dan gak pakai nunda-nunda kayak yang lain. Buruan, buka hp-mu," perintah Bagas dengan nada yang sangat santai, seolah-olah meminta Adinda mentransfer uang untuk membeli keperluan dapur biasa.
Adinda tidak bergerak sedikit pun. Jemarinya yang bertumpu di atas pangkuan tetap tenang. Wanita itu perlahan memalingkan wajahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Bagas yang memancarkan tuntutan egois. Tidak ada kepanikan di mata Adinda, tidak ada pula gerakan merogoh tas untuk mengambil ponselnya.
Dengan suara yang jernih, datar, namun memiliki volume yang cukup tegas hingga bisa terdengar oleh Dimas di sebelahnya, Adinda menjawab langsung, "Aku enggak ada uang, Mas Bagas."
Bisikan balik dari Adinda itu seketika membuat tubuh Bagas menegang. Wajah suaminya yang semula tampak berseri-seri langsung berubah drastis menjadi kaku. Sepasang alis Bagas bertaut rapat, dan matanya melotot tajam menatap Adinda dengan pandangan tak percaya bercampur amarah yang mulai menyulut dadanya.
"Apa kamu bilang?!" desis Bagas dengan suara tertahan, giginya bergeletuk menahan geram agar suaranya tidak meninggi dan memancing perhatian Mas Broto di ujung meja. "Jangan bercanda kamu, Din! Gak ada uang gimana maksudnya? Kemarin-kemarin pesanan kue onlinemu kan banyak terus. Uang dari pelanggan pasti numpuk di rekeningmu! Cuma dua juta rupiah masa gak ada? Jangan bikin malu aku di sini, Din! Transfer sekarang, jangan banyak alasan!"
Mendengar desakan kasar dari bapaknya, Dimas yang duduk di samping Adinda langsung menatap Bagas dengan sorot mata yang tajam seperti belati. Remaja itu bersiap untuk membuka suara dan memotong kalimat Abahnya, namun Adinda dengan cepat meletakkan telapak tangannya di atas lutut Dimas, memberikan tanda agar putranya tetap tenang. Kali ini, Adinda sendiri yang akan menghadapi suaminya secara langsung.
"Aku tidak sedang bercanda, Mas Bagas. Aku memang benar-benar tidak ada uang," ulang Adinda, kali ini dengan nada suara yang sengaja tidak ia pelankan, membuat Bagas makin panik ketakutan jika pembicaraan mereka terdengar oleh Mbak Rika yang duduk tak jauh dari sana. "Uang modal kateringku yang tersisa di rekening sudah habis kamu ambil paksa lima juta rupiah semalam untuk tambahan sewa hotel ini. Uang kas yang ada di rumah habis untuk belanja bahan kue pesanan pelanggan minggu depan. Jadi, kalau kamu mau bayar iuran dua juta ini ke Mas Broto, silakan pakai uang tabunganmu sendiri. Jangan minta dari aku lagi."
Wajah Bagas seketika merah padam. Amarahnya sudah membubung tinggi hingga ke ubun-ubun. Tangannya yang berada di atas meja mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol. Pria itu sudah bersiap untuk berdiri, menggebrak meja, atau melayangkan makian yang lebih keras untuk menundukkan Adinda yang berani melawannya di tempat umum seperti ini. Bagas merasa otoritasnya sebagai kepala keluarga telah diinjak-injak dengan sengaja oleh istrinya sendiri.
Namun, tepat sebelum ledakan amarah Bagas pecah di lingkaran meja besar itu, suara Mas Broto kembali menggema, memotong ketegangan yang sedang merayap di antara pasangan suami istri tersebut.
"Ya sudah, karena malam sudah semakin larut dan wajah kalian semua sepertinya sudah pada lelah," ucap Mas Broto sembari merapikan catatan kecilnya dan memasukkan kalkulator ke dalam tas kerja. Pria itu berdiri dari kursinya, diikuti oleh Mbak Rika yang langsung membetulkan letak selendang payetnya. "Saya berikan waktu satu minggu untuk pelunasan. Silakan diatur keuangannya masing-masing di rumah, yang penting hari Sabtu depan semua uang iuran dua juta rupiah ini sudah masuk ke rekening saya tanpa ada yang menunggak. Paham ya, semuanya?"
"Paham, Mas," jawab beberapa anak Mama Lastri dengan nada suara yang lemah dan pasrah.
Bagas yang amarahnya sempat tertahan di tenggorokan terpaksa menelan kembali kata-kata makiannya. Ia ikut berdiri dengan terburu-buru, lalu mengangguk takzim ke arah Mas Broto dengan senyuman yang dipaksakan.
"Siap, Mas Broto. Aman, nanti minggu ini langsung beres semuanya dari pihak kami."
Mendengar ucapan suaminya yang penuh kepalsuan itu, Adinda hanya bisa mengembuskan napas panjang sembari bangkit dari kursinya. Ia merapikan gamis polosnya yang tanpa payet, lalu menggandeng tangan Dimas untuk melangkah pergi meninggalkan ruang ballroom hotel yang mulai gulita.
Adinda tahu persis apa arti dari tatapan mata tajam yang dilayangkan Bagas ke arah punggungnya saat mereka berjalan menuju area parkir luar. Keputusan Mas Broto yang memberikan kelonggaran waktu satu minggu itu bukanlah sebuah akhir dari masalah, melainkan sebuah penundaan badai. Adinda sangat sadar, kalimat penolakannya malam ini adalah sebuah deklarasi perang terbuka di dalam rumah tangga mereka. Satu minggu ke depan tidak akan berjalan dengan mudah. Akan ada rentetan drama panjang, sindiran-sindiran tajam, bentakan amarah, dan pertengkaran hebat yang akan meledak di dalam rumah kontrakan mereka yang sempit begitu mereka tiba di rumah nanti.
Namun, sembari melangkah di bawah temaram lampu jalanan kota malam itu, Adinda mengeratkan genggaman tangannya pada Dimas. Rasa takut yang biasanya menyergap hatinya kini telah sirna sepenuhnya. Ia sudah siap menghadapi drama apa pun yang akan dibawa suaminya pulang, karena malam ini, ia telah resmi merebut kembali hak atas harga dirinya sendiri.