Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
operasi black haven
Suara tembakan yang memecahkan jendela rumah tua Elena Hart masih terngiang di telinga semua orang.
Pecahan kaca berserakan di lantai.
Aaron segera memberi aba-aba kepada tim keamanan.
"Amankan seluruh perimeter!"
Dua orang pengawal bergerak keluar melalui pintu belakang, sementara yang lain menutup seluruh akses masuk.
Galaxy tetap berdiri di depan Grizella.
Meski bahunya terkena serpihan kaca, ia tidak bergeming sedikit pun.
"Anda terluka!"
Grizella meraih lengan Galaxy dengan wajah panik.
Galaxy hanya melihat luka kecil itu sekilas.
"Hanya goresan."
"Tidak ada waktu memikirkannya."
Namun Grizella tetap membuka kotak P3K yang ada di dalam ruangan.
"Diam."
Galaxy mengangkat alis.
"Apa?"
"Saya sedang mengobati luka Anda."
Nada bicara Grizella tetap tegas seperti biasanya.
Galaxy akhirnya menurut.
Alexander yang melihat mereka hanya tersenyum tipis.
Di tengah situasi berbahaya, keduanya masih saling mengkhawatirkan.
Aaron kembali masuk dengan wajah serius.
"Penembak jitu sudah menghilang."
"Tapi kami menemukan ini."
Ia menyerahkan sebuah selongsong peluru.
Galaxy memperhatikannya.
Di bagian bawah selongsong terukir lambang mahkota hitam.
"The Black Crown."
gumam Adrian.
"Mereka sengaja meninggalkan jejak."
Galaxy mengepalkan tangan.
"Artinya mereka ingin kita datang."
Kaset rekaman Elena masih berputar.
Suara lembut itu kembali memenuhi ruangan.
"Galaxy... jika kau mendengar suaraku, berarti kau telah memilih melindungi Grizella."
Galaxy terkejut.
Namanya disebut secara langsung.
"Aku tahu suatu hari kalian akan bertemu."
"Dan aku percaya hanya kalian berdua yang mampu menghentikan semua ini."
Grizella memandang Galaxy.
Lagi-lagi peninggalan Elena seolah telah mengetahui masa depan mereka.
Rekaman berlanjut.
"Jangan percaya semua yang dikatakan Leonard."
"Tetapi jangan pernah meremehkan Selena Ashcroft."
"Dia jauh lebih berbahaya."
Alexander menghela napas panjang.
"Elena benar."
"Selena tidak pernah bergerak tanpa rencana cadangan."
Galaxy mematikan kaset.
"Kita tidak punya banyak waktu."
"Selena meminta kita datang ke Pulau Black Haven besok malam."
Aaron segera membuka peta digital.
"Pulau itu dijaga sangat ketat."
"Hampir mustahil masuk tanpa diketahui."
Adrian menatap layar.
"Ada jalur bawah tanah."
Semua orang menoleh kepadanya.
"Aku yang membangunnya dulu."
Galaxy menatap Adrian beberapa saat.
"Kalau begitu..."
"Kau ikut bersama kami."
Adrian mengangguk mantap.
"Untuk pertama kalinya..."
"Aku ingin menebus semua kesalahanku."
Galaxy mengulurkan tangan.
"Bukan demi keluarga Wesley."
"Bukan demi warisan."
"Tapi demi Grizella."
Adrian menerima uluran tangan itu.
"Demi putriku."
Di sudut ruangan, Grizella memandang mereka dengan mata berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya sejak semua rahasia terungkap...
Ia melihat secercah harapan.
Namun tanpa disadari siapa pun...
Di layar komputer yang masih menyala, sebuah kamera tersembunyi mengirimkan gambar mereka secara langsung kepada Selena Ashcroft.
Wanita itu tersenyum tipis.
"Datanglah ke Black Haven, Galaxy."
"Di sanalah permainan ini akan mencapai babak berikutnya."
Malam mulai menyelimuti langit New York.
Di ruang rapat rahasia Wesley Corporation, hanya beberapa orang yang hadir.
Galaxy, Grizella, Aaron, Alexander, dan Adrian duduk mengelilingi meja digital yang menampilkan peta Pulau Black Haven.
Pulau pribadi itu tampak seperti benteng.
Dikelilingi tebing curam, kamera pengawas, serta dermaga yang dijaga ketat.
Aaron menunjuk sebuah titik di layar.
"Jalur utama tidak mungkin kita gunakan."
"Seluruh area dipenuhi sistem pengenal wajah."
Adrian kemudian menggeser peta.
"Masih ada satu jalan."
Sebuah lorong bawah tanah muncul di layar.
"Terowongan ini dulu dibuat sebagai jalur evakuasi."
"Namun hanya sedikit orang yang mengetahuinya."
Galaxy memperhatikan jalur itu.
"Apakah masih bisa digunakan?"
Adrian mengangguk.
"Jika belum ditemukan Selena, kita bisa masuk tanpa terdeteksi."
Grizella yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Kalau memang Selena ingin kita datang..."
"Kenapa dia tidak langsung menangkap kita?"
Alexander menjawab pelan.
"Karena dia membutuhkan sesuatu."
"Apa?"
"Buku harian Elena."
"Dan mungkin..."
Alexander menatap kalung di leher Grizella.
"Kalung yang kau pakai."
Grizella tanpa sadar menggenggam liontin peninggalan ibunya.
Benda itu terasa semakin berat.
Seolah menyimpan rahasia yang belum terungkap.
Galaxy memandang Grizella.
"Apa pun yang terjadi di Black Haven..."
"Jangan pernah lepaskan kalung itu."
Grizella mengangguk.
"Saya mengerti."
Namun di dalam hatinya muncul satu pertanyaan.
Mengapa ibunya rela mempertaruhkan hidup demi benda sekecil itu?
Beberapa jam kemudian...
Galaxy berdiri sendirian di balkon penthouse.
Lampu-lampu kota New York berkilauan di kejauhan.
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Jika misi ini gagal...
Ia bisa kehilangan perusahaan.
Keluarganya.
Bahkan Grizella.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Grizella datang membawa dua cangkir kopi.
"Saya tahu Anda belum tidur."
Galaxy menerima cangkir itu.
"Terima kasih."
Mereka berdiri berdampingan dalam keheningan.
Untuk beberapa saat, tidak ada pembicaraan tentang perang, warisan, ataupun The Black Crown.
Hanya dua orang yang sama-sama lelah.
Grizella memecah keheningan.
"Galaxy."
"Hm?"
"Kalau nanti sesuatu terjadi..."
Galaxy langsung memotong.
"Tidak akan."
"Anda bahkan belum mendengar pertanyaan saya."
Galaxy menoleh.
"Aku tidak suka kalimat yang diawali dengan 'kalau sesuatu terjadi'."
Grizella tersenyum tipis.
"Anda keras kepala."
Galaxy ikut tersenyum.
"Dan kau tetap suka membantah."
Mereka saling menatap.
Jarak di antara mereka terasa semakin dekat.
Galaxy perlahan menggenggam tangan Grizella.
"Aku pernah gagal melindungi orang yang kucintai."
"Sekarang..."
"Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."
Wajah Grizella memerah.
Ia tidak menarik tangannya.
Untuk pertama kalinya...
Ia membiarkan dirinya menikmati kehangatan pria yang selama ini selalu menjaga jarak.
Keesokan paginya...
Semua persiapan menuju Pulau Black Haven selesai.
Sebuah kapal cepat telah menunggu di dermaga pribadi keluarga Wesley.
Aaron memeriksa perlengkapan.
Alexander membawa dokumen penting.
Adrian menunjukkan jalur masuk ke pulau.
Galaxy berdiri di samping Grizella.
"Siap?"
Grizella mengangguk mantap.
"Siap."
Namun tepat saat mereka hendak menaiki kapal...
Sebuah mobil sport hitam berhenti mendadak di depan dermaga.
Pintunya terbuka.
Vanessa turun dengan napas memburu.
"Galaxy!"
"Aku baru menemukan sesuatu!"
Galaxy menoleh.
"Apa?"
Vanessa menyerahkan sebuah map cokelat.
"Waktu kita tidak banyak."
"Ada pengkhianat di antara kita."
Semua orang saling berpandangan.
Vanessa membuka halaman pertama.
Di sana terpampang foto seseorang yang selama ini selalu berada di sisi Galaxy.
Dan nama di bawah foto itu membuat semua orang membeku.
Aaron Mitchell.
Nama pada berkas itu membuat suasana dermaga berubah seketika.
Aaron Mitchell.
Semua mata langsung tertuju kepada Aaron.
Pria itu tampak sama terkejutnya dengan yang lain.
"Apa maksud semua ini?"
tanyanya sambil menatap Vanessa.
Vanessa menyerahkan map itu kepada Galaxy.
"Aku mendapatkannya dari server rahasia The Black Crown."
"Di sana ada daftar orang yang pernah berhubungan dengan organisasi itu."
Galaxy membuka halaman demi halaman dengan wajah serius.
Di salah satu lembar memang terdapat nama Aaron.
Namun ia tidak langsung mengambil kesimpulan.
Aaron menggeleng pelan.
"Tuan."
"Saya bersumpah, saya tidak pernah bekerja untuk mereka."
Galaxy mengangkat tangan, menghentikan semua orang.
"Cukup."
"Jangan ada yang menuduh sebelum kita memeriksa semuanya."
Grizella mengangguk setuju.
"Galaxy benar."
"Selama ini Aaron selalu melindungi kita."
Vanessa menatap Aaron.
"Aku juga berharap dokumen ini salah."
"Tapi seseorang sengaja menyimpan identitasmu di sana."
Alexander mengambil map itu.
Ia memperhatikan sebuah angka kecil di sudut halaman.
"Tunggu."
"Dokumen ini sudah berusia lebih dari dua puluh tahun."
Semua orang menoleh.
"Dua puluh tahun?"
Alexander mengangguk.
"Lihat tanggalnya."
Aaron ikut melihat.
Matanya langsung membesar.
"Itu tahun kelahiran saya."
Galaxy mengerutkan kening.
"Artinya..."
Alexander menutup map tersebut.
"Ini bukan data Aaron."
"Melainkan data ayahnya."
Suasana yang sempat tegang perlahan mereda.
Aaron mengembuskan napas panjang.
"Ayah saya?"
Alexander mengangguk.
"Ayahmu pernah menjadi penyelidik yang menyusup ke The Black Crown."
"Bukan anggota."
"Dia bekerja diam-diam untuk membongkar organisasi itu."
Aaron terduduk lemas.
"Jadi..."
"Itulah sebabnya ayah saya menghilang ketika saya masih kecil."
Alexander menatapnya dengan penuh penyesalan.
"Ya."
"Dan sejak saat itu namanya dimasukkan ke daftar musuh."
Vanessa menghela napas.
"Maaf."
"Aku terburu-buru menyimpulkan."
Aaron tersenyum tipis.
"Yang penting sekarang kita tahu kebenarannya."
Galaxy menepuk bahu Aaron.
"Aku tidak pernah meragukanmu."
Aaron mengangguk hormat.
"Terima kasih, Tuan."
Namun ketenangan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Ponsel Adrian bergetar.
Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah pucat.
Galaxy langsung menyadarinya.
"Ada apa?"
Adrian mengangkat pandangannya.
"Aku baru menerima pesan."
"Dari siapa?"
"Selena."
Semua orang langsung terdiam.
Adrian membaca isi pesan itu dengan suara pelan.
"Jika kalian tetap datang ke Black Haven, jangan salahkan aku atas apa yang terjadi pada Elena."
Grizella langsung melangkah maju.
"Ibu saya?"
Adrian mengangguk.
"Itu berarti Elena benar-benar masih hidup."
Harapan kembali muncul di mata Grizella.
Namun bersamaan dengan itu...
rasa takut juga semakin besar.
Galaxy menggenggam tangan Grizella.
"Kita tetap berangkat."
Grizella menatapnya.
"Anda yakin?"
Galaxy mengangguk mantap.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan ibumu sebagai ancaman."
Ia menoleh kepada semua orang.
"Mulai sekarang, misi kita bukan hanya menghentikan The Black Crown."
"Tapi juga membawa Elena pulang."
Semua mengangguk dengan tekad yang sama.
Kapal cepat mulai meninggalkan dermaga.
Ombak membelah lautan menuju Pulau Black Haven.
Di kejauhan, sebuah pulau kecil mulai terlihat.
Dari luar tampak indah.
Dipenuhi pepohonan hijau dan vila-vila mewah.
Namun di balik keindahan itu...
tersembunyi markas organisasi yang telah menghancurkan begitu banyak kehidupan.
Di puncak bukit, Selena Ashcroft berdiri menghadap laut.
Di sampingnya berdiri Leonard Wesley.
Selena tersenyum tipis.
"Mereka datang."
Leonard mengangguk.
"Dan kali ini..."
"Tidak ada satu pun dari mereka yang akan pulang dengan hidup yang sama."