Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35: Rasa Cemburu yang Tersamarkan
Penerimaan mutlak dari Nyonya Elena sore itu menjadi titik balik paling krusial di kediaman keluarga utama Arthur.
Sejak saat itu, label "dua orang asing" yang sempat tersemat dalam pernikahan kontrak ini menguap tanpa sisa.
Rahasia tentang buku catatan cokelat tidak lagi menjadi sumber kecurigaan, melainkan fondasi kepercayaan baru yang tak tertembus.
Adrian kini mengetahui dari mana asal kecerdasan istrinya, dan fakta bahwa Gisella rela menggunakan ingatan "fiksi"-nya untuk menjadi perisai masa depan sang profesor membuat dinding es pria itu meleleh seutuhnya.
Namun, hilangnya krisis masa lalu tidak lantas membuat dinamika di antara mereka menjadi membosankan.
Sebaliknya, ketika insting bertahan hidup Gisella mulai mereda, sebuah emosi manusiawi yang sangat primitif mulai tumbuh subur di dalam diri Adrian Arthur:
rasa kepemilikan teritorial yang absolut.
Hari itu adalah hari Jumat malam di minggu keempat.
Sesuai kalender, mereka kini berada di sisa waktu kurang dari sepuluh hari menuju batas akhir perjanjian.
Meski keduanya sama-sama tahu bahwa kontrak itu secara de facto sudah tidak berlaku, Adrian diam-diam mengembangkan sebuah kebiasaan baru yang sangat posesif namun dibalut dengan kedok "observasi ilmiah".
Aethelgard Grand Gallery malam itu dipenuhi oleh kaum elite kota. Ini adalah malam debut pameran seni musim gugur, dan Valerie Arthur memiliki satu sudut eksklusif untuk memamerkan lukisan cat minyaknya.
Sebagai bentuk dukungan penuh, Adrian dan Gisella hadir sebagai tamu kehormatan.
Gisella mengenakan gaun malam berbahan satin warna zamrud yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan selendang bulu putih yang menutupi bahunya.
Rambut cokelatnya disanggul elegan, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya.
Di sisinya, Adrian tampak luar biasa mengintimidasi namun menawan dalam balutan setelan jas tiga potong berwarna arang, lengkap dengan kacamata peraknya yang ikonik.
Sejak mereka melangkah turun dari kereta kuda, tatapan kagum—dan beberapa tatapan memuja dari para pria lajang—langsung tertuju pada Gisella.
Perubahan drastis dari Nyonya Arthur yang dulu dikenal pemalu dan canggung menjadi sosok wanita yang memancarkan aura wibawa dan keanggunan membuat banyak pihak terpesona.
Adrian menyadari setiap tatapan itu.
Dan secara refleks, tangannya melingkar posesif di pinggang ramping Gisella, menarik wanita itu sedikit lebih rapat ke sisinya.
"Kau meremas pinggangku terlalu kuat, Profesor,"
bisik Gisella seraya mempertahankan senyum aristokratnya ke arah para tamu.
"Apakah ada variabel berbahaya di ruangan ini?"
"Hanya kalkulasi standar pengamanan, Gisella,"
balas Adrian dengan nada bariton yang datar, pandangannya menyapu sekeliling ruangan dengan dingin.
"Rasio kelembapan di ruangan ini terlalu tinggi, membuat lantai marmer menjadi licin. Aku hanya memitigasi risiko agar kau tidak terjatuh."
Gisella menahan tawa renyahnya.
Dia tahu lantai galeri ini dilapisi karpet tebal yang sama sekali tidak licin.
Namun, sebagai manajer humas yang cerdas, dia membiarkan suaminya menggunakan "logika sains" untuk menutupi rasa protektifnya.
Setelah menyapa Valerie yang tampak berseri-seri di depan lukisannya, Adrian pamit sebentar untuk berbicara dengan dewan penyantun galeri di sudut ruangan, meninggalkan Gisella menikmati lukisan lanskap kota Aethelgard.
Tepat saat itulah, seorang pria muda dengan setelan jas warna burgundy dan rambut pirang yang ditata trendi mendekati Gisella.
Dia adalah Leonel Vance, seorang kritikus seni ternama dan kurator independen yang terkenal dengan lidah manisnya di kalangan sosialita.
"Sebuah ironi yang indah,"
sapa Leonel dengan suara dramatis, berdiri di samping Gisella dan ikut menatap lukisan.
"Karya seni terindah di ruangan ini ternyata tidak tergantung di dinding, melainkan berdiri menatap lukisan itu sendiri."
Gisella menoleh, insting profesionalnya langsung aktif. Dia memberikan senyuman sopan yang sangat terukur.
"Pujian yang berlebihan, Tuan...?"
"Leonel Vance. Kritikus seni utama untuk surat kabar Aethelgard Chronicle,"
Leonel membungkuk sedikit, mengulurkan tangannya.
"Dan Anda pasti Nyonya Gisella Arthur yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan elite karena transformasi Anda yang memesona."
Gisella menyambut uluran tangan itu sekilas saja, menariknya kembali sebelum Leonel sempat memberikan kecupan di punggung tangannya.
"Kehormatan bagi saya, Tuan Vance. Saya hanya seorang istri yang sedang mengagumi karya adik iparnya."
Alih-alih mundur, Leonel justru melangkah selangkah lebih dekat.
"Karya Nona Valerie memang bagus, tetapi sayangnya kurang eksposur. Galeri ini terlalu kaku dalam metode pemasarannya."
"Itu karena kurasi galeri masih menggunakan pendekatan top-down," balas Gisella lancar, jiwa manajer humasnya terpancing oleh topik pemasaran.
"Jika Anda ingin karya ini dikenal, pendekatannya harus diubah menjadi narasi storytelling. Lukisan ini bukan sekadar gambar lanskap, ini adalah representasi sejarah kelas pekerja kota. Jika Anda membingkainya dengan narasi sosial tersebut, nilai jual dan atensi publik akan meningkat drastis dalam dua minggu."
Mata Leonel membelalak.
Dia menatap Gisella tidak lagi sekadar sebagai objek visual yang cantik, melainkan dengan kekaguman intelektual yang meluap-luap.
"Luar biasa..."
gumam Leonel, wajahnya mencondong lebih dekat, matanya berbinar penuh minat.
"Nyonya Arthur, Anda memiliki intuisi yang sangat brilian! Sebuah kecantikan yang dipadukan dengan kecerdasan mematikan. Tolong, izinkan saya mengundang Anda minum teh besok sore untuk membahas gagasan revolusioner ini. Dunia seni membutuhkan sudut pandang Anda."
Leonel mengangkat tangannya, berniat menyentuh lengan Gisella untuk menekankan antusiasmenya.
Namun, sebelum jemari kurator itu sempat
menyentuh kain satin gaun Gisella, sebuah tangan besar dan kokoh telah menyela di udara, menepis pergelangan tangan Leonel dengan gerakan yang sangat dingin namun bertenaga.
"Sret."
Gisella tersentak pelan ketika tubuhnya tiba-tiba ditarik ke belakang, menabrak dada bidang yang sangat familier.
Aroma kayu cendana dan mint yang maskulin langsung mengunci indranya.
Adrian berdiri tepat di belakang Gisella, melingkarkan satu lengannya dengan sangat posesif di perut istrinya, sementara mata elangnya menatap tajam ke arah Leonel dari balik lensa kacamata perak.
"Tuan Vance,"
suara Adrian terdengar sangat rendah, berat, dan memancarkan aura ancaman yang sanggup membekukan seluruh galeri jika dia mau.
"Dalam prinsip fisika, jarak kurang dari tiga puluh sentimeter antara dua individu yang tidak memiliki ikatan kekerabatan diklasifikasikan sebagai pelanggaran batas privasi. Dan sebagai kritikus seni, saya berasumsi Anda memiliki cukup edukasi untuk tidak menyentuh properti berharga milik orang lain."
Leonel menelan ludah, wajahnya memucat seketika di bawah tatapan mematikan sang profesor jenius yang reputasinya memang terkenal tanpa ampun.
"P-Profesor Arthur,"
Leonel tergagap, mencoba tersenyum canggung.
"Saya sama sekali tidak bermaksud buruk. Saya hanya sangat mengagumi pemikiran brilian istri Anda mengenai strategi pemasaran seni."
"Istri saya memiliki banyak pemikiran brilian, dan semuanya didedikasikan secara eksklusif untuk manajemen keluarga Arthur,"
balas Adrian mutlak, tanpa memberikan celah diskusi.
"Dia tidak menerima undangan minum teh dari pihak luar, apalagi dari seorang pria yang tingkat kecerdasannya tidak sebanding dengan waktu luangnya. Selamat malam, Tuan Vance."
Tanpa menunggu balasan dari kritikus malang itu, Adrian memutar tubuh Gisella dengan lembut namun tegas, menuntunnya menjauh dari area tersebut menuju pintu keluar VIP.
Perjalanan pulang di dalam kereta kuda terasa sangat hening. Hujan gerimis mulai turun, mengetuk kaca jendela dengan ritme konstan.
Gisella duduk di seberang Adrian, menatap suaminya yang sejak tadi hanya terdiam sembari menyilangkan kaki dan memandang lurus ke luar jendela.
Rahang pria itu terlihat mengeras, dan postur tubuhnya sangat kaku.
Gisella tidak bisa lagi menahan senyum simpulnya.
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Adrian dengan tatapan menggoda.
"Jadi... apakah jarak kurang dari tiga puluh sentimeter benar-benar melanggar hukum fisika, Profesor?"
goda Gisella, suaranya mengalun lembut memecah keheningan.
Adrian melirik Gisella dari sudut matanya, mendengus pelan.
"Itu adalah protokol keamanan dasar."
"Atau mungkin..." Gisella memiringkan kepalanya, senyumnya semakin lebar. "...itu adalah taktik mitigasi dari seorang suami yang sedang terbakar cemburu karena seorang kritikus seni memuji istrinya?"
Adrian memutar kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Gisella.
Alih-alih membantah dengan gelagapan, sang profesor biokimia itu justru melepaskan kacamata peraknya dan meletakkannya di kursi sebelahnya.
Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan tidak terprediksi, Adrian menarik pinggang Gisella, memindahkan wanita itu dari kursi seberang hingga jatuh ke pangkuannya.
"Adrian!"
pekik Gisella tertahan, wajahnya merona merah saat mendapati dirinya kini duduk menyamping di atas pangkuan Adrian, terjepit di antara dada bidang suaminya dan sandaran kursi kereta.
Kedua lengan Adrian mengunci tubuh Gisella dengan sempurna.
Pria itu menundukkan wajahnya, mengikis jarak hingga napas hangatnya menyapu bibir Gisella.
Tatapan matanya tidak lagi dingin, melainkan gelap oleh hasrat dan kepemilikan yang mendalam.
"Aku seorang ilmuwan, Gisella. Aku tidak mengenal istilah cemburu," bisik Adrian, suaranya bergetar rendah di telinga Gisella.
"Namun, saat melihat pria amatir itu menatapmu seolah kau adalah mahakaryanya... sistem limbik di otakku memberikan sinyal ancaman yang sangat masif. Lonjakan kortisol dan adrenalin membuat logikaku lumpuh sesaat."
Adrian mengangkat satu tangannya, membelai pipi Gisella, ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah istrinya.
"Kau menantang logikaku, Gisella. Kau membuatku merasa perlu untuk mengumumkan kepada seluruh kota ini bahwa otak cerdasmu, senyum menawanmu, dan seluruh eksistensimu... secara absolut telah dipatenkan atas nama Adrian Arthur. Tidak ada yang boleh mengagumimu sedekat itu selain aku."
Mendengar pengakuan posesif yang dibalut dengan terminologi sains yang kaku itu, hati Gisella meleleh sepenuhnya.
Ini bukanlah cemburu yang beracun;
ini adalah deklarasi cinta yang paling tulus dari seorang pria yang tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya selain dengan menjaga wanitanya dengan nyawanya sendiri.
Gisella mengalungkan kedua lengannya di leher Adrian, membalas tatapan gelap suaminya dengan kelembutan yang menenangkan.
"Krisis cemburumu telah tertangani dengan baik, Profesor,"
bisik Gisella, tepat sebelum dia mengikis sisa jarak di antara mereka.
Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh gairah.
Adrian membalas ciuman itu dengan intensitas yang seolah ingin menelan seluruh kesadaran Gisella, membuktikan secara fisik bahwa rasa cemburunya bukanlah sesuatu yang bisa disamarkan lagi.
Di dalam kereta kuda yang melaju membelah rintik hujan Aethelgard malam itu, sisa-sisa batasan kontrak tiga puluh hari mereka hancur terbakar oleh hangatnya penyatuan dua jiwa yang telah menemukan rumah abadinya.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...