Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAJA ORDO NIHIL
Tujuh hari berlalu sejak kedatangan Ordo Nihil.
Alam Dewa kembali tenang, tetapi ketenangan itu terasa berbeda.
Bukan kedamaian.
Melainkan penantian.
Semua makhluk tahu...
sesuatu yang lebih besar akan datang.
Karena pemimpin tertinggi Ordo Nihil telah memberikan keputusan.
Ia akan turun langsung.
KEDATANGAN SANG RAJA
Di puncak Istana Langit, Atlas berdiri bersama Oliver, Aeron, dan Kael.
Mereka tidak lagi seperti dahulu.
Empat pewaris yang sebelumnya terpecah oleh sejarah kini menjadi simbol keseimbangan baru.
Namun mereka juga memahami satu hal.
Kekuatan mereka masih belum cukup untuk menghadapi sosok yang bahkan membuat Ordo Nihil tunduk.
Oliver melihat aliran waktu.
"Aku tidak bisa melihat kedatangannya."
Atlas menatapnya.
"Karena dia berada di luar waktu?"
Oliver mengangguk.
"Ya."
Aeron memandang langit.
"Dia bukan hanya penjaga aturan."
"Dia adalah seseorang yang ikut menentukan aturan itu."
GERBANG NIHIL TERBUKA
Tiba-tiba...
langit Alam Dewa terbelah.
Namun kali ini tidak seperti retakan kehancuran.
Gerbang itu terbuka dengan sempurna.
Tidak ada energi liar.
Tidak ada ancaman.
Justru terlalu tenang.
Dari dalam gerbang...
satu sosok berjalan keluar.
Seorang pria dengan pakaian sederhana.
Tidak memakai zirah.
Tidak membawa senjata.
Namun seluruh Alam Dewa langsung merasakan tekanannya.
Para dewa berlutut.
Bukan karena dipaksa.
Tetapi karena tubuh mereka mengenali keberadaan yang lebih tinggi.
NAMA SANG PEMIMPIN
Sosok itu berhenti di hadapan para pewaris.
"Aku datang bukan untuk perang."
Suaranya tenang.
"Aku hanya ingin melihat."
Atlas menatapnya.
"Siapa kau?"
Pria itu menjawab:
"Aku adalah pemimpin Ordo Nihil."
"Namaku..."
"Vael Arkhaven."
Nama itu membuat Aeron terdiam.
MASA LALU VAEL DAN AURELIAN
Kael memperhatikan ekspresi Aeron.
"Kau mengenalnya juga?"
Aeron menjawab pelan:
"Ya."
"Dia sudah ada sejak zaman Aurelian."
Atlas menatap Vael.
"Kalau begitu kau tahu tentang leluhur kami."
Vael tersenyum tipis.
"Aurelian bukan hanya seorang pewaris."
"Dia adalah satu-satunya makhluk yang pernah membuat Ordo Nihil mempertanyakan tugas kami."
PENILAIAN TERAKHIR
Vael berjalan mengelilingi mereka.
Ia melihat Atlas.
"Kau memilih dunia yang tidak sempurna."
Ia melihat Oliver.
"Kau menerima masa lalu yang menyakitkan."
Ia melihat Aeron.
"Kau melepaskan kebencian."
Ia melihat Kael.
"Kau memilih harapan setelah mengenal kehancuran."
Vael berhenti.
"Menarik."
PERTANYAAN VAEL
Vael menatap mereka.
"Aku ingin bertanya."
"Jika dunia kalian kembali melakukan kesalahan yang sama..."
"jika para dewa kembali jatuh..."
"jika manusia kembali menghancurkan apa yang mereka miliki..."
"apakah kalian masih akan melindunginya?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Karena pertanyaan itu bukan tentang kekuatan.
Tetapi keyakinan.
JAWABAN ATLAS
Atlas melangkah maju.
"Ya."
Vael menatapnya.
"Kenapa?"
Atlas menjawab:
"Karena tugas seorang penjaga bukan memilih dunia yang mudah dilindungi."
"Tugas seorang penjaga adalah tetap berdiri ketika dunia membutuhkan mereka."
Vael terdiam.
JAWABAN OLIVER
Oliver ikut berbicara.
"Dunia bisa salah."
"Tapi masa depan selalu memiliki kemungkinan berubah."
"Kalau kita menyerah hanya karena takut mereka gagal..."
"maka kita tidak memberi mereka kesempatan."
JAWABAN AERON DAN KAEL
Aeron berkata:
"Aku pernah membenci dunia."
"Tapi sekarang aku tahu."
"Kebencian tidak memperbaiki apa pun."
Kael menatap Vael.
"Aku pernah ingin menghancurkan semuanya."
"Tapi aku memilih bertahan."
"Karena masih ada sesuatu yang berharga."
KEPUTUSAN VAEL
Vael menatap empat pewaris.
Untuk waktu yang lama...
ia tidak berbicara.
Lalu akhirnya berkata:
"Kalian berbeda dari para pewaris sebelumnya."
Namun sebelum ia melanjutkan...
langit tiba-tiba berubah.
Sebuah alarm terdengar dari gerbang Ordo Nihil.
Vael menoleh.
Dan untuk pertama kalinya...
wajahnya berubah serius.
"Mustahil."
Oliver merasakan sesuatu.
"Apa yang terjadi?"
Vael melihat ke arah luar dunia.
"Laporan dari pusat Ordo."
"Tempat asal kami..."
"...telah diserang."
Untuk pertama kalinya...
Vael Arkhaven, pemimpin Ordo Nihil, menunjukkan kegelisahan.
Bukan karena pertempuran.
Bukan karena ancaman dari dunia lain.
Tetapi karena sesuatu yang bahkan Ordo Nihil tidak mampu prediksi.
SERANGAN DI PUSAT NIHIL
Gerbang komunikasi Ordo Nihil terbuka.
Sebuah gambaran muncul di udara.
Semua orang terdiam.
Pusat Ordo Nihil yang selama ribuan tahun tidak pernah tersentuh...
kini berada dalam kehancuran.
Menara pengawas antar dunia runtuh.
Kristal penilaian pecah.
Dan para penjaga tertinggi bertahan dengan seluruh kekuatan mereka.
Atlas menatap Vael.
"Siapa yang menyerang kalian?"
Vael tidak langsung menjawab.
Karena jawabannya bahkan sulit dipercaya.
"Makhluk yang seharusnya tidak ada."
MUSUH DI LUAR ATURAN
Oliver melihat gambaran itu.
"Aku tidak bisa membaca aliran waktunya."
Aeron memperhatikan energi yang muncul.
Wajahnya berubah.
"Ini bukan kekuatan pencipta."
"Bukan kekuatan kehampaan."
Kael bertanya:
"Lalu apa?"
Aeron menjawab:
"Sesuatu yang berada sebelum keduanya."
NAMA YANG TERKUBUR
Vael mengepalkan tangannya.
"Namanya..."
"Azrael Vorn."
Nama itu membuat Aeron membeku.
Atlas menyadarinya.
"Kau mengenalnya?"
Aeron mengangguk perlahan.
"Dia adalah salah satu alasan mengapa darah Aurelian dibagi."
KISAH AZRAEL VORN
Vael membuka catatan kuno.
Ribuan tahun lalu...
sebelum Ordo Nihil menjadi penjaga keseimbangan...
ada seorang penjaga pertama.
Ia percaya bahwa keseimbangan tidak bisa dijaga dengan melindungi dunia.
Menurutnya...
dunia yang selalu melakukan kesalahan harus dihentikan.
Oliver memahami.
"Jadi dia memiliki pemikiran yang sama seperti Ordo Nihil."
Vael menggeleng.
"Tidak."
"Dia lebih ekstrem."
PENJAGA YANG MENJADI MUSUH
Vael melanjutkan:
"Ordo Nihil menghapus dunia yang gagal."
"Tapi Azrael ingin menghapus kemungkinan kegagalan itu sendiri."
Atlas mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
Vael menjawab:
"Dia ingin menciptakan satu dunia."
"Satu aturan."
"Satu kehendak."
"Tidak ada pilihan."
BAYANGAN MASA LALU AURELIAN
Aeron membuka catatan darah Aurelian.
Di sana muncul sebuah peristiwa yang belum pernah diketahui.
Aurelian pernah bertarung melawan Azrael.
Namun ia tidak berhasil mengalahkannya.
"Jadi..."
Atlas berkata pelan.
"Aurelian tidak membagi darahnya hanya karena para dewa."
Aeron menggeleng.
"Benar."
"Dia membagi darahnya karena tahu suatu hari Azrael akan kembali."
AJAKAN VAEL
Vael menatap empat pewaris.
"Aku datang untuk menilai kalian."
"Tapi sekarang aku meminta bantuan kalian."
Atlas terdiam.
"Kau ingin kami membantu Ordo Nihil?"
Vael mengangguk.
"Karena kali ini..."
"bukan hanya satu dunia yang terancam."
KEPUTUSAN EMPAT PEWARIS
Oliver melihat kemungkinan masa depan.
Semua jalur menunjukkan kehancuran.
Namun satu jalur masih terbuka.
Atlas bertanya:
"Apa risikonya?"
Vael menjawab:
"Kalian harus pergi ke pusat Ordo Nihil."
"Tempat di mana bahkan para dewa tidak pernah masuk."
Kael tersenyum kecil.
"Sepertinya kita memang tidak pernah mendapatkan perjalanan yang mudah."
Aeron melihat Atlas.
"Kalau kita pergi..."
"kita mungkin tidak akan bisa kembali."
Atlas menatap saudaranya.
"Kita sudah terlalu jauh."
"Kita tidak bisa berhenti sekarang."
GERBANG ANTAR DUNIA
Vael membuka gerbang besar.
Untuk pertama kalinya...
empat pewaris Aurelian akan meninggalkan Alam Dewa.
Mereka akan menuju wilayah yang tidak mengenal hukum dunia mereka.
Namun sebelum masuk...
Vael mengatakan satu hal.
"Jangan anggap Azrael sebagai musuh biasa."
Atlas menatapnya.
"Kenapa?"
Vael menjawab:
"Karena dia tidak ingin menghancurkan kalian."
"Dia ingin membuktikan bahwa kalian tidak pantas ada."
Gerbang mulai terbuka.
Di baliknya terlihat sebuah dunia asing.
Dunia tempat hukum penciptaan tidak berlaku.
Dunia tempat sejarah tersembunyi.
Dunia tempat Azrael menunggu.
Empat pewaris melangkah maju.
Namun tanpa mereka ketahui...
seseorang dari masa lalu mereka telah lebih dulu berada di sana.
Seseorang yang membawa rahasia terbesar tentang darah Aurelian.
Gerbang antar dunia terbuka sepenuhnya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Alam Dewa...
para pewaris Aurelian meninggalkan dunia tempat mereka dilahirkan.
Atlas berjalan paling depan.
Oliver berada di sampingnya.
Aeron dan Kael mengikuti dari belakang.
Sementara Vael Arkhaven memimpin perjalanan menuju pusat Ordo Nihil.
DUNIA TANPA HUKUM
Saat mereka melewati gerbang...
tubuh mereka merasakan perubahan besar.
Tidak ada tekanan energi dewa.
Tidak ada aliran waktu normal.
Tidak ada hukum penciptaan.
Semuanya terasa asing.
Oliver mencoba membaca masa depan.
Namun ia hanya melihat kehampaan.
"Aku tidak bisa melihat apa pun."
Atlas menatapnya.
"Karena tempat ini?"
Oliver mengangguk.
"Tempat ini tidak mengikuti aturan dunia kita."
PUSAT ORDO NIHIL
Di hadapan mereka muncul sebuah dunia raksasa.
Berbeda dengan Alam Dewa.
Tidak ada istana.
Tidak ada gunung suci.
Hanya sebuah benteng besar yang melayang di tengah ruang kosong.
Itulah pusat Ordo Nihil.
Tempat para penjaga antar dunia menjalankan tugas mereka selama ribuan tahun.
Namun kini...
tempat itu hampir runtuh.
SISA-SISA PENJAGA
Ketika mereka tiba...
para penjaga Ordo Nihil langsung menghampiri Vael.
"Yang Mulia."
"Kami gagal menahan dia."
Vael melihat kehancuran di sekeliling.
"Berapa banyak yang tersisa?"
Penjaga itu menunduk.
"Hanya sebagian kecil."
Atlas melihat para penjaga yang terluka.
Untuk pertama kalinya ia melihat Ordo Nihil bukan sebagai pengawas.
Tetapi sebagai makhluk yang juga bisa kehilangan segalanya.
PESAN AZRAEL
Di tengah benteng...
sebuah layar kristal menyala.
Muncul wajah seseorang.
Azrael Vorn.
"Vael."
Suara itu tenang.
"Kau akhirnya kembali."
Vael mengepalkan tangan.
"Azrael."
Azrael tersenyum.
"Aku sudah menunggu."
TUJUAN AZRAEL
Atlas maju.
"Apa tujuanmu?"
Azrael menatapnya.
"Menarik."
"Jadi inilah pewaris Aurelian yang baru."
Azrael tersenyum.
"Kalian masih percaya bahwa pilihan adalah hal yang berharga."
Atlas menjawab:
"Karena memang begitu."
Azrael menggeleng.
"Itulah kesalahan Aurelian."
KISAH AURELIAN YANG HILANG
Azrael menunjukkan sebuah ingatan.
Bukan seperti catatan sejarah.
Tetapi kejadian yang sebenarnya.
Aurelian berdiri di hadapannya ribuan tahun lalu.
Azrael berkata:
"Aurelian melihat dunia penuh penderitaan."
"Ia tahu makhluk hidup akan terus mengulang kesalahan."
"Tapi ia tetap memilih memberi mereka kebebasan."
Bayangan Aurelian menjawab:
"Karena tanpa kebebasan..."
"...tidak ada kehidupan."
ALASAN AZRAEL MEMBENCI PILIHAN
Azrael menatap para pewaris.
"Kalian tidak mengerti."
"Aku pernah melihat ribuan dunia."
"Semua memiliki akhir yang sama."
"Perang."
"Kehancuran."
"Kehilangan."
Kael diam.
Karena ia memahami rasa lelah itu.
Azrael melanjutkan:
"Aku tidak ingin menghancurkan dunia."
"Aku ingin menyelamatkannya."
DUNIA TANPA PILIHAN
Oliver menatapnya.
"Dengan menghilangkan kehendak semua makhluk?"
Azrael menjawab:
"Ya."
"Tidak ada pilihan."
"Tidak ada kesalahan."
"Tidak ada penderitaan."
Atlas menggeleng.
"Itu bukan menyelamatkan."
"Itu hanya menciptakan penjara."
PERTARUNGAN YANG AKAN DATANG
Azrael tersenyum.
"Aurelian juga mengatakan hal yang sama."
"Dan akhirnya dia kalah."
Aeron langsung menatap tajam.
"Apa maksudmu?"
Azrael menjawab:
"Aurelian tidak pernah mengalahkanku."
"Dia hanya menyegelku."
Semua terdiam.
RAHASIA TERAKHIR
Azrael melihat ke arah Aeron.
"Kau ingin tahu kenapa darah kalian dibagi?"
Aeron tidak menjawab.
Azrael tersenyum.
"Karena Aurelian takut."
"Bukan padaku."
"Tapi pada dirinya sendiri."
Atlas terkejut.
"Apa maksudmu?"
Azrael menjawab:
"Karena kekuatan terbesar Aurelian..."
"...tidak pernah diwariskan kepada kalian."
Ruangan menjadi sunyi.
Empat pewaris saling melihat.
Jika perkataan Azrael benar...
maka masih ada satu bagian darah Aurelian yang belum mereka ketahui.
Bagian yang mungkin menjadi kunci kemenangan.
Atau justru...
alasan kehancuran mereka.
Azrael menatap mereka.
"Datanglah."
"Temukan kebenaran tentang leluhur kalian."
"Lalu pilih."
"Apakah kalian akan mempertahankan dunia ini..."
"...atau mengakhirinya bersama aku."