NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

“Kami pun tak tahu alasan pastinya. Ia hanya meninggalkan selembar surat yang mengatakan dirinya belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan,” tambah Sari dengan suara lirih.

Tangis Sari kembali meledak, teringat betapa sulit nasib putranya malam ini. Lina segera memeluknya, berusaha menenangkan dan menguatkan hati sahabatnya itu.

“Sabar ya, pasti ada jalan keluar untuk semua ini,” ujar Lina lembut.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa besok. Semua orang pasti akan menertawakan keluarga kami, karena calon istri Raka pergi begitu saja. Lina, tolong bantu kami,” pinta Sari dengan nada memohon.

“Tenang saja, kami akan berusaha mencarikan solusi terbaik,” jawab Darma menenangkan.

“Kamu benar, hanya kalian satu-satunya yang bisa menolong kami. Aku benar-benar memohon,” kali ini Bima ikut memohon, sama seperti istrinya.

“Baiklah, apa yang bisa kami lakukan untuk membantu?” tanya Darma, merasa iba melihat keadaan sahabatnya.

“Kami meminta izin agar Laras bersedia menggantikan Rara menjadi istri Raka dan menantu kami,” ujar Bima terus terang.

“Apa? Kamu sudah gila, ya Bima? Kamu kira putriku ini apa? Aku tidak mungkin menyerahkan anak satu-satunya untuk menggantikan calon menantumu, apalagi Raka sama sekali tidak memiliki perasaan pada putriku,” tolak Darma tegas.

“Aku paham, awalnya memang begitu. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, Raka pasti bisa menerima dan mencintai Laras. Lihat saja aku dulu, aku pun dijodohkan tanpa saling kenal, tapi akhirnya hidup rukun. Aku percaya hal yang sama akan terjadi pada putraku,” bujuk Bima.

“Tolong kami, Darma, Lina. Hanya Laras yang kami inginkan. Kalian tahu sendiri, sejak lama kami sudah menyukainya dan berharap dia menjadi istri Raka. Lagipula, Laras sendiri sudah lama menyimpan rasa pada putra kami. Apa salahnya mewujudkan harapannya itu?” tambah Sari untuk meyakinkan mereka.

Keduanya terus berusaha meyakinkan sahabatnya, berjanji akan menjaga kebahagiaan Laras dan meyakinkan bahwa Raka pasti bisa mencintainya nanti.

Darma terdiam dan merenung. Ia teringat saat putrinya mendengar kabar pernikahan Raka, wajahnya terlihat sangat murung dan sedih karena orang yang dicintainya akan segera dimiliki orang lain.

Hatinya terasa perih melihat kesedihan Laras. Mungkin ini memang jalan yang ditunjukkan Tuhan, agar putrinya bisa bersanding dengan lelaki yang sudah lama mengisi hatinya.

Malam sudah semakin larut, namun keempat orang yang duduk di ruang tamu itu masih terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius. Bima terus berusaha meyakinkan Darma agar menyetujui permintaannya. Tiba-tiba, dari arah tangga terdengar suara lembut memanggil kedua orang tuanya.

“Pa, Ma, ada tamu ya? Siapa di bawah?” tanya Laras.

Gadis itu pun turun menghampiri mereka. Tadi ia terbangun karena merasa sangat haus, lalu berniat mengambil air minum ke dapur.

“Selamat malam, Tante Sari, Om Bima,” sapa Laras sambil mencium tangan kedua orang tua lelaki yang selama ini ia kagumi.

“Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu? Wah, kamu makin cantik saja,” puji Sari ramah, sementara Bima hanya tersenyum tipis pada gadis yang sebentar lagi diharapkan menjadi menantunya.

“Tante ini bisa saja memuji. Kabarku baik, Tante,” jawab Laras sambil tersenyum malu.

“Kamu turun karena apa? Apakah suara kami mengganggu tidurmu?” tanya Sari khawatir.

“Tidak, Tante. Aku cuma kehausan, jadi ingin mengambil air minum saja,” jawabnya.

“Darma, bagaimana? Kamu setuju kan? Aku benar-benar memohon. Aku janji akan menjaga Laras dan berusaha membuatnya bahagia,” Bima kembali mendesak sahabatnya.

“Apakah kamu yakin putramu bisa melupakan kekasihnya dan menerima putriku nanti?” tanya Darma dengan ragu.

Laras hanya diam dan bingung mendengar percakapan itu. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud pembicaraan mereka.

“Ada apa, Pa? Kenapa bicara begitu?” tanyanya dengan rasa penasaran yang membuncah.

Sari segera mendekat, menggenggam tangan Laras, lalu mulai menjelaskan semuanya.

“Apa? Kok bisa begitu, Tante? Bukankah Kak Raka dan Rara sudah lama menjalin hubungan?” potong Laras dengan terkejut.

“Kami juga tidak menyangka Rara bersikap setega itu. Sayang, apakah kamu bersedia menggantikan posisinya menjadi istri Raka?” tanya Sari terus terang.

“Istri… aku… menjadi istri Kak Raka?” gumam Laras terbata-bata.

Ia sudah terkejut mendengar kabar kepergian calon istri Raka, namun kini rasa kagetnya berlipat ganda saat mendengar permintaan itu. Selama ini ia hanya bisa memendam rasa dan membayangkan bisa bersanding dengan lelaki yang dicintainya, tanpa berani berharap lebih.

“Tapi bagaimana kalau nanti Rara kembali lagi?” tanyanya dengan nada ragu.

“Meski dia kembali, posisimu tetaplah istri yang sah. Dialah yang melepaskan Raka dengan sendirinya. Secara hukum dan agama dialah yang salah. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Apakah kamu bersedia menerima lamaran ini, Nak?” tanya Bima untuk meyakinkannya.

Laras terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk. Pernikahan ini bukanlah awal dari kisah cinta yang indah, melainkan solusi mendesak. Meski hatinya sangat mencintai Raka, ia sadar bahwa lelaki itu belum memiliki perasaan yang sama padanya.

Ia sadar, selama ini Raka hanya menganggapnya sebagai adik semata. Namun di sisi lain, ia sangat ingin mewujudkan impiannya untuk menjadi istri lelaki yang sudah lama menguasai hatinya itu. Ia meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa membuat Raka jatuh cinta seiring berjalannya waktu.

“Saya bersedia, Om. Saya ingin menjadi istri Kak Raka,” jawab Laras dengan pipi yang memerah karena malu sekaligus gembira.

Semua orang di ruangan itu tertegun. Tak disangka, gadis itu menerima keputusan mendadak ini dengan begitu tegas, tanpa keraguan seperti yang dirasakan kedua orang tuanya.

“Syukurlah, terima kasih ya Tuhan,” seru Sari lega, lalu langsung memeluk Laras erat.

“Kamu yakin, Nak?” tanya Lina memastikan sekali lagi.

“Yakin, Ma,” jawab Laras sambil tersenyum tulus.

“Kalau begitu, besok acara pernikahan tetap dilaksanakan. Jangan pikirkan soal pakaian dan kebutuhan lainnya, biar kami yang mengurus semuanya,” ujar Bima dengan napas lega. Akhirnya mereka menemukan jalan keluar yang diharapkan.

Sejak dulu, Bima dan Sari memang sudah menyukai Laras. Pernah terlintas keinginan untuk menjodohkannya dengan Raka, namun waktu itu putranya menolak tegas karena sudah memiliki kekasih. Siapa sangka, Tuhan punya jalan lain untuk menyatukan mereka.

“Tunggu dulu. Aku minta agar keduanya menandatangani surat perjanjian pranikah terlebih dahulu. Aku tidak ingin putriku dirugikan di masa depan. Mengingat putramu bisa saja kembali pada kekasih lamanya jika gadis itu datang lagi. Aku ingin ada ikatan yang jelas, agar Raka tidak bisa mempermainkan hati Laras nanti,” tegas Darma tanpa bisa dibantah.

*****

Sesampainya di rumah Pak Bima..

Membaca isi perjanjian itu, Raka langsung menolak keras. “Untuk apa repot-repot membuat surat begini? Lebih baik dibatalkan saja kalau syaratnya begini. Dia ini gadis yang manja, hanya bisa bersembunyi di belakang orang tuanya saja.”

Raka tidak setuju karena seluruh ketentuan itu hanya memberatkan dirinya. Intinya, Laras akan menjadi satu-satunya istri yang sah, dan jika Raka terbukti memiliki hubungan dengan wanita lain, maka seluruh harta miliknya akan jatuh ke tangan Laras dan sebagian disumbangkan ke panti asuhan.

“Tanda tangan saja, atau kamu akan kehilangan segalanya. Masihkah kamu berharap pada gadis yang meninggalkanmu itu? Ingat, suatu hari nanti kamu pasti akan berterima kasih pada kami karena memilihkan Laras untukmu,” ujar Bima dengan nada tegas.

Akhirnya, hanya dengan keterpaksaan, Raka membubuhkan tanda tangannya pada lembar surat itu.

Setelah membubuhkan tanda tangan, Raka langsung berbalik dan pergi menuju kamarnya.

“Sial, kenapa nasibku jadi begini? Besok aku harus menikahi gadis yang manja itu. Andai waktu bisa berhenti saja. Rara… kenapa kamu pergi meninggalkanku? Kalau kamu masih di sini, pasti semua tidak akan berantakan. Kembalilah padaku,” gumamnya dengan penuh kekecewaan.

Keesokan harinya, kedua pihak keluarga sibuk menyiapkan segala kebutuhan. Di sebuah kamar hotel, Laras sedang dirias. Ibu calon suaminya sudah memastikan semua perlengkapannya lengkap.

Saat proses rias selesai, sang penata rias tak henti memuji. “Wah, cantik sekali pengantin kita ini. Tidak perlu banyak sentuhan tambahan, karena kecantikannya sudah alami. Senang sekali bisa merias mempelai secantik ini.”

Laras hanya tersenyum mendengar pujian itu, meski sebenarnya gelisah. Pernikahan yang terjadi secara mendadak membuatnya merasa cemas. Apakah Raka bisa menerimanya? Namun ia terus menenangkan diri, meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan baik. Lamunannya terhenti saat ibunya masuk.

“Sudah siap, Nak? Akad nikah akan segera dimulai,” ujar Lina lembut.

*****

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!