Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXIII - Semua… Terbuka
Pesan dari Radit datang pagi itu, tepat pada pukul 08.30, pesan yang singkat tapi cukup untuk membuat jantung Kirana berdegup tidak karuan sepanjang perjalanan ke kantor.
Bisa ketemu sore ini? Urusanku kemarin sudah selesai. Ada yang perlu aku ceritain. Bukan di kantor. Taman yang ada di deket Menteng, jam lima.
Ia tidak membalas dengan pertanyaan, cuma satu kata: Oke.
Taman itu kecil, jauh dari hiruk-pikuk gedung perkantoran tempat mereka biasa bertemu, dikelilingi pohon-pohon rindang yang meredam suara bising kota Jakarta. Kirana datang lebih awal, ia butuh waktu sendirian sebentar untuk menyiapkan diri untuk apa pun yang akan Radit sampaikan.
CKIT.
Bangku kayu itu berderit pelan saat ia duduk, suara yang aneh itu menenangkan dirinya di tengah kegugupan yang mengendap di perutnya sejak ia menerima pesan dari Radit pagi tadi.
Beberapa anak kecil tampak berlarian di kejauhan, tawa mereka terdengar sangat bahagia, dunia ini terus berputar seperti biasa, tanpa tahu betapa berat percakapan yang sebentar lagi akan terjadi di bangku ini. Kirana memeriksa jam tangannya tiga kali dalam sepuluh menit, ia merasa waktu berjalan jauh lebih lambat ketika hatinya terombang-ambing oleh rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
Radit datang tepat waktu, tepat pada pukul lima, wajahnya tampak tegang. Ia langsung duduk di samping Kirana tanpa basa-basi, jarak di antara mereka terasa sangat jauh walaupun sebenarnya mereka sedang duduk di bangku yang sama.
"Kamu bilang ini penting," Kirana berkata, suaranya tetap terdengar profesional meski ada getaran kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.
Radit menghela napas panjang, kedua tangannya saling bertaut gelisah di pangkuannya. "Aku nemuin sesuatu di ruang kerja ayahku beberapa hari lalu. Catatan lama, yang menjelaskan semuanya… alasan kenapa bisnis ayahmu hancur, dan kenapa aku pergi tujuh tahun lalu."
Mata Kirana membulat ketika mendengar pengakuan Radit. "Gimana? Coba jelasin."
Radit menatapnya lama, mencari keberanian di dalam dirinya. Ia menggosok telapak tangannya ke celana, gestur gugup yang tidak pernah Kirana lihat dari CEO Wibowo Group yang selalu terlihat yakin akan semua tindakannya, sebelum akhirnya mulai bicara, kata demi kata, tentang buku catatan ayahnya, tentang memo strategi akuisisi lahan pesisir utara, tentang bagaimana Hartono sengaja merancang skema investasi yang menghancurkan Pradipta Development untuk membuka jalan bagi aliansi keluarga Wibowo dengan keluarga Wijaya.
Kirana mendengarkan, merasakan tanah yang selama ini ia pijak perlahan runtuh di bawah kakinya dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut Radit.
"Aku udah tau soal keterlibatan ayahmu," Kirana berkata pelan ketika Radit berhenti sejenak. “Aku nemuin dokumennya sendiri beberapa minggu lalu. Seseorang ngirimin dokumen itu ke apartemenku."
Radit menatapnya terkejut. "Jadi… Kamu udah tau?"
"Aku tau soal keterlibatan Hartono," Kirana menjawab, matanya menatap Radit tajam.
"Kamu tau, siapa yang ngirim dokumen itu ke kamu?" Radit balik bertanya.
Kirana menggeleng pelan, ia memilih tidak menyebut nama Dimas untuk sekarang. Ada terlalu banyak yang harus ia proses, dan kecurigaannya pada sahabatnya sendiri belum jadi sesuatu yang siap ia bagikan pada siapa pun. "Nggak ada nama pengirim. Sekarang… Kamu cerita dulu, Radit. Ada hal yang perlu aku tau lagi?"
Radit merasakan tenggorokannya tercekat, menyadari bagian tersulit dari pengakuan ini baru saja tiba. "Kepergianku tujuh tahun lalu, Kirana. Itu bukan keputusanku sendiri. Ayahku yang maksa aku milih antara hubungan kita dan keselamatan bisnis ayahmu, ayahku ngancem bakal ngancurin Pradipta Development kalau aku nggak ngakhirin hubungan kita. Aku… Aku percaya kalau dengan pergi ninggalin kamu, aku bisa nyelamatin bisnis ayahmu."
BZZT.
Ponsel Radit bergetar di sakunya. Ia meliriknya sekilas, tertera jelas nama Valerie di layer ponselnya. Ia memutuskan untuk mengabaikan pesan dari Valerie tanpa menjawabnya, lalu ia Kembali memasukkan ponsel itu dalam-dalam ke saku jasnya.
Kirana terdiam, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Tapi ternyata… itu semua kebohongan dari ayahku," Radit melanjutkan, suaranya pelan dan penuh penyesalan. "Ayahku udah rencanain kehancuran bisnis ayahmu jauh sebelum dia minta aku mutusin hubungan kita. Kepergianku nggak akan bisa nyelametin apa pun. Itu cuma ‘pemanis’ dari rencana yang udah lama dia susun… itu salah satu cara buat ayahku, biar aku bisa dijodohin sama Valerie, buat memperkuat aliansi sama keluarga Wijaya."
Kirana teringat malam-malam ketika ia menangis diam-diam setelah kepergian Radit. Ia teringat bagaimana ia memaksa dirinya berhenti menangisi hubungan itu. Ia teringat ketika ia berusaha mengubah kesedihan menjadi tekad besar untuk membangun sesuatu yang bisa ia banggakan.
"Terus sekarang gimana?" Kirana bertanya, menatap Radit lurus. "Ayah kamu masih ngancem kamu buat diam, kan?"
"Iya," Radit menjawab dengan yakin, ia tidak mau menyembunyikan apa pun lagi dari Kirana. "Dia bilang kalau aku buka semua ini, dia bakal ngancurin Cipta Prada Land, ngancurin reputasiku sendiri, dan ngancurin semuanya yang ada di antara kita. Tapi aku udah capek nurutin dia. Aku ke sini hari ini bukan buat minta kamu diem dan Nerima kenyataan buruk ini bareng aku. Aku ke sini buat jujur, apa pun konsekuensinya. Aku mau kita bisa ngelewatin ini bareng-bareng, nggak kaya dulu."
"Jadi," Kirana berkata pelan, suaranya semakin bergetar hebat, "kamu pergi bukan karena kamu udah nggak cinta aku lagi. Kamu pergi karena ayahmu maksa kamu, dengan ancaman yang udah direncanain sejak awal, bagian dari skema yang sama yang ngehancurin ayahku."
"Ya," Radit menjawab, suaranya terdengar penuh dengan beban. "Aku minta maaf, Kirana. Aku seharusnya melawan, aku seharusnya nggak nurut begitu aja tanpa mempertanyakan lebih jauh. Tapi aku masih terlalu muda saat itu, aku terlalu takut kehilangan segalanya —"
"Kamu bilang ayahmu ngancem ngancurin bisnis ayahku kalau kamu nggak ngakhirin hubungan kita," Kirana berkata, ia merasa campuran emosi antara marah dan bingung. "Tapi ayahmu tetep ngancurin bisnis ayahku, kan? Walaupun kamu udah nurutin permintaan dia?"
Radit mengangguk pelan, matanya menunduk, tidak sanggup menatap wajah Kirana yang penuh luka. "Aku baru sadar itu setelah baca catatan ayahku. Kepergianku bukan satu-satunya syarat buat nyelametin bisnis ayahmu... Aku juga dikhianatin sama dia, kayak kamu, Kirana. Cuma dengan cara yang beda."
"Tujuh tahun," Kirana memotong, suaranya kini lebih keras. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. "Tujuh tahun aku hidup dengan kesedihan yang nggak pernah selesai. Tujuh tahun aku bangun kembali hidupku, aku selalu percaya semua itu cuma nasib buruk. Dan ternyata, selama ini, semuanya direncanain sama orang jahat. Setiap kepingan kehancuran hidupku direncanain sama orang yang seharusnya jadi calon mertuaku."
"Kirana, aku tau kata-kata nggak bisa ngembaliin tujuh tahun yang udah hilang," Radit berkata, suaranya penuh penyesalan. "Tapi aku di sini sekarang. Aku nggak akan lari lagi. Aku pasti bakal nemenin kamu sampai titik darah penghabisan."
"Gampang banget kamu bilang gitu," Kirana membalas. "Ayah kamu sampai sekarang masih idup, masih berkuasa, masih bisa ngehancurin apa pun yang kamu bangun kalau kamu berani ngelawan dia. Apa yang bisa bikin aku percaya, kalau kali ini… akhir dari ini semua bakal beda dari tujuh tahun lalu?"
"Nggak ada," Radit mengaku, ia berkata jujur meski menyakitkan. "Aku nggak bisa janji apa-apa selain aku nggak akan milih diam lagi kayak dulu."
"Aku tau kata maaf nggak cukup," Radit melanjutkan. "Tapi aku tetap harus bilang itu, Kirana. Maaf. Buat semuanya."
"Maaf nggak ngembaliin ayahku," Kirana menjawab, air matanya semakin deras. "Maaf nggak ngembaliin tujuh tahun yang udah aku habisin buat bangun ulang hidup aku sendirian."
Radit tidak menjawab, hanya menatapnya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca, tidak berani mendekat, tidak berani menyentuh, seolah tahu satu gerakan salah bisa membuat Kirana pergi sebelum ia sempat mendengar sisa penjelasannya.
Kirana berdiri dari bangku taman itu, mundur selangkah dari Radit. Ia merasa memberikan jarak yang lebih longgar di antara mereka bisa sedikit menenangkan dirinya.
SRAK. SRAK.
Angin sore berembus, menerbangkan beberapa helai daun kering yang jatuh dari pohon ke atas bangku itu, gemerisiknya satu-satunya suara yang mengisi keheningan di antara mereka.
"Jadi selama ini…" Kirana berkata, dengan suaranya yang bergetar hebat. Masih ingin memastikan bahwa semua ini hanya mimpi. "semuanya bener direncanain, ya? Sama ayah kamu?"
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪