"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Sigit
"Baca nak" bisik Dirga
"Lani bacanya bisik bisik saja kalena tidak hafal" jawab Rani
Dirga hanya tersenyum karena dia tahu Rani pasti tidak di ijinkan untuk mengaji di rumah Radini, jangankan mengaji, mengucap salam di dalam rumah saja Radiah tidak memperbolehkan itu. Rani juga masih di awasi Dirga di dalam kelas karena dia tidak mau mengobrol dengan teman temannya yang lain, bukan karena sombong tapi dia khawatir Luca akan melukai teman temannya nanti.
Tring.
Bel istirahat berbunyi, mereka memang baru selesai sekolah TK, untuk sekolah TK biasa itu adalah jadwal pulang tapi di sana para murid tidak akan pulang, mereka akan makan bersama dan di biarkan jika ingin tidur siang sampai nanti Dzuhur mereka akan di bangunkan untuk pembiasaan shalat berjamaah.
"Tata cara wudhu sudah hafal, tata cara shalat juga sudah hafal, tinggal bacaannya" ungkap Dirga
"Kami akan hafal juga pak guru" jawab semuanya
"Alhamdulillah, ayo makan dulu" jawab Dirga
"Wah... pak gulu makanan hali ini pepes ikan gulame" ucap seorang murid terlihat berbinar.
"Masya Allah Ranti, bukan wah" ucap Dirga
"Hehe.... Masya Allah pak gulu, lupa" jawabnya cengengesan
"Ayo mari makan, dan jangan lupa berdo'a supaya setan tidak ikut makan bersama kita" ucap Dirga
"Baik pak guru" jawab semuanya
"Om, ada awan mendung" bisik Rani
Dirga melihat ke arah tunjuk Rani, memang ada awan hitam di dekat lahan Bintang, tapi awan itu tidak memperlihatkan tanda bahaya jadi Dirga tidak terlalu khawatir, tapi dia yakin kalau itu adalah Luca yang sedang marah karena sesuatu.
"Apa mungkin Argadana dan Anggadana sudah membuat Luca marah di rumah Radini, tapi apa yang mereka lakukan, apa mereka sudah bisa masuk ke dalam rumah Radini?" batin Dirga
"Kak Dirga, ini makanan untuk kak Dirga" ucap guru perempuan bernama Husna menghampiri Dirga.
"Maaf ya Husna, malah jadi merepotkan, Rani tidak mau turun dari pangkuan saya makanya saya suapi Rani dulu" ungkap Dirga sopan.
"Tidak apa apa, saya lihat Rani masih malu malu karena ini hari pertama sekolah, juragan Roman juga jarang membawa Rani keluar rumah jadi pasti merasa risih di dekati banyak anak lain" jawab Husna.
"Iya, Rani memang agak sedikit penakut juga, dia hanya takut tidak bisa mengobrol akrab dengan mereka, Husna tahu sendiri kan aturan keluarga Sukarna katanya" jawab Dirga
"Iya, aturan dari nyai Radini katanya Rani tidak boleh berinteraksi dengan yang lain" jawab Husna yang sempat di datangi Radini tadi pagi untuk melihat sekolah Rani.
"Lani tidak apa apa Om, yang penting Lani sekolah dan teman teman Lani baik baik saja" jawab Rani
"Kamu pintar sekali Rani, kamu juga sangat tulus, andai saja nyai Radini tidak mendatangi sekolah ini, mungkin para ibu ibu tidak akan takut kalau anaknya mendekati kamu" ungkap Husna
"Tidak apa apa, Rani akan tetap ceria di sini" jawab Dirga
"Makan kak, karena ini sudah jam tidur siang anak anak, Rani biar Husna yang jaga" ucap Husna
"Iya, tapi aku sudah pesan kue untuk anak anak tadi pada kak Kenanga, untuk mereka pas bangun tidur siang nanti, mungkin sedang dalam perjalanan ke sini, aku mau tunggu kak Kenanga dulu di depan" jawab Dirga menitipkan Rani pada Husna.
"Baiklah" jawab Husna menghela nafasnya.
Rani hanya menatap keduanya dengan tatapan bingung, dia melihat Husna begitu antusias mengobrol dengan Dirga tapi Dirga bersikap biasa saja bahkan hanya menjawab karena itu kewajiban dia sebagai kepala sekolah di TK itu. Tapi Rani yakin kalau Husna gurunya itu menyukai Dirga tapi Dirga tidak.
"Kak Kenanga ko lama? apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Dirga khawatir ketika Kenanga sudah sampai bersama Sigit.
"Tidak ada apa apa, kamu tidak perlu khawatir, tadi kak Kenanga tunggu mas Sigit dulu pulang dari ladang dengan Om Bintang" jawab Kenanga memberikan kue pesanan Dirga.
"Syukurlah Dirga lihat ada banyak awan hitam di sekitar tanah papa" ungkap Dirga dan Kenanga hanya melirik Sigit yang sedang serius menatap Dirga.
"Kuenya masih hangat kak" ucap Dirga tersenyum manis pada Kenanga.
"Baru di angkat dari oven, langsung kak Kenanga kemas dan kirim ke sini" jawab Kenanga
"Terima kasih ya kak, kak Kenanga mau minum?" tanya Dirga langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari Kenanga.
Sigit menghela nafasnya, dia sudah berbincang dengan Badaruddin melalui batinnya dan mereka sepakat kalau pelet yang ada di sarung Dirga adalah untuk Kenanga, terlihat dari bagaimana Dirga bersikap begitu baik pada Kenanga dan begitu memperhatikan Kenanga.
"Harus apa kita ayah?" tanya Sigit
"Medianya saja ayah tidak tahu, tapi bagaimana mungkin Dirga yang punya ilmu putih terpengaruh dengan sihir Radini, apa mungkin Dirga memang tertarik pada Kenanga?" tanya Badaruddin
"Mungkin lebih tepatnya kagum karena Kenanga kan dulu pernah menolong kak Dimas dari bahaya, makanya Dirga memperhatikan Kenanga" jawab Sigit
"Ini minumnya kak, ini untuk kak Sigit dan ini kue nastar untuk Om Badaruddin, dari Husna tadi dia memberikan ini tapi Dirga masih punya di rumah" ucap Dirga memberikan dua botol air mineral dan satu toples kue nastar pada Sigit.
"Dia masih memperhatikan aku, jadi pasti dia masih sadar" ucap Badaruddin
"Tapi kenapa harus Kenanga? niat Radini sebenarnya apa" gumam Sigit
"Mungkin Radini sebenarnya naksir kamu" ucap Badaruddin
"Hahaha... tidak mungkin ayah, dia itu sukanya yang kaya raya, tampan dan punya ilmu tinggi" ungkap Sigit
"Ya itu kamu Sigit Rajasa" jawab Badaruddin
"Kak Sigit kenapa kak?" tanya Dirga karena Sigit terlihat serius menatap Dirga.
"Mas Sigit pasti sedang ngobrol sama ayah Badaruddin, mereka sering begitu, ngobrol lewat telepati" jawab Kenanga
"Jangan jangan mereka sedang membicarakan Dirga" ucap Dirga curiga
"Tidak, mereka pasti membahas senjata untuk menghadapi Luca, tadi Om Ireng datang bawa kayu jati dari hutan Sagara" jawab Kenanga
"Awan itu?" tanya Dirga serius
"Itu Luca yang mengejar Om Ireng dan kedua anak Sahara" jawab Kenanga membuat Dirga khawatir.
"Mereka terluka?"
"Iya, tapi sudah di bawa raja Gandra ke kerajaan miliknya, kami juga sedang menunggu mereka sadar dulu supaya tahu apa yang terjadi" jawab Kenanga
"Kalian, jangan terlalu dekat karena itu yang di inginkan Radini" ucap Sigit merangkul Kenanga.
Sahara ayo neng bales it si rudin