"Ahh!"
"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"
Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.
Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.
Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.
Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.
"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"
Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putraku, Targetku?
Tidak membutuhkan waktu lama, iring-iringan mobil mewah milik keluarga D'Alterio akhirnya tiba dan memasuki gerbang besi sebuah gedung pertemuan yang megah. Mobil yang ditumpangi Leon perlahan berhenti tepat di hadapan hamparan karpet merah yang membentang luas hingga ke pintu utama gedung. Belasan anak buah Leon yang berada di mobil pengawal segera turun terlebih dahulu, menyebar dan membentuk barikade ketat guna menjaga situasi sekitar.
Pintu mobil belakang pun dibuka lebar oleh Black. Pria itu dengan sigap membantu Enzo untuk turun terlebih dahulu dari kabin mobil, memposisikan tubuhnya sendiri sebagai tameng pelindung bagi sang tuan muda. Sementara itu, Leon baru melangkahkan kakinya keluar setelah memastikan bahwa putra tunggalnya telah menapakkan kaki di atas karpet merah dengan aman. Kehadiran mereka seketika mengundang atensi dari seluruh tamu undangan yang berada di sekitar pelataran gedung.
Orang-orang yang menyembunyikan identitas mereka sebagai tokoh penting dunia bawah menatap ke arah mereka dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa terkejut yang luar biasa. Bagaimana tidak? Selama bertahun-tahun memimpin, Leon D'Alterio tidak pernah sekalipun menunjukkan rupa ataupun keberadaan dari sosok pewaris tunggal tahta kekuasaannya kepada publik.
"Enzo, tempat ini adalah tempat yang teramat sangat berbahaya bagi anak kecil sepertimu. Jadi, ingat pesan Daddy, jangan pernah pergi kemana-mana sendirian tanpa berada di samping Daddy, mengerti?" peringat Leon dengan nada suara yang teramat serius sembari menggandeng erat tangan kecil putranya.
"Ciap Olang tua!" seru Enzo penuh semangat dengan sebelah tangannya terangkat membentuk gerakan hormat yang kaku.
.
.
.
.
Sementara itu, jauh di dalam area dalam gedung yang megah, Amoera tengah bergerak dengan sangat hati-hati di antara kerumunan manusia. Malam ini, ia berhasil menyusup masuk ke dalam gedung acara dengan menyamar sebagai salah seorang pelayan wanita yang bertugas mendorong troli makanan. Dengan menggunakan identitas palsu yang telah dipersiapkan dengan sangat rapi oleh jaringannya, Amoera berhasil melewati beberapa pos penjagaan ketat para pengawal bersenjata tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Raut wajah cantiknya tetap dipertahankan dalam ekspresi yang teramat santai dan tenang, seolah-olah ia memang bagian dari pekerja legal di tempat tersebut.
Saat langkah kakinya mendekati pintu tangga darurat yang terletak di sudut lorong yang sepi, Amoera menghentikan langkah jinjitnya sejenak. Matanya bergerak liar mengawasi situasi sekitar. Setelah memastikan keadaan benar-benar aman dan terbebas dari jangkauan manusia, wanita itu dengan gerakan secepat kilat langsung menyelinap masuk ke dalam lorong tangga darurat tersebut dan mengunci pintu kayunya rapat-rapat dari dalam. Dengan cekatan, ia membuka seragam pelayanannya yang kedodoran, menyisakan setelan pakaian taktis hitam tebal serta jaket kulit hitamnya yang melekat pas di tubuh indahnya.
Tak lupa, jemari tangannya bergerak memasang sebuah alat komunikasi berukuran mikro (earpiece) ke dalam lubang telinga kanannya, menyalakan dayanya hingga terdengar suara kresek sinyal bercampur vokal Fey dari seberang sambungan telepon.
"Amoe, bersiaplah di posisimu sekarang juga. Target utama kita baru saja tiba di lokasi gedung pertemuan, kita harus bergerak cepat mencari momen dan posisi yang paling pas untuk melakukan eksekusi mati," ucap Fey memberi instruksi dengan nada suara yang sarat akan ketegangan.
Amoera tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata. Ia memilih untuk memacu langkah kakinya menaiki anak tangga darurat dengan teramat cepat, bergerak menuju ke arah lantai atas gedung yang memiliki balkon terbuka menghadap langsung ke arah aula utama tempat berlangsungnya pesta. Setibanya di area lantai atas yang gelap dan sepi, ia lekas memposisikan tubuhnya di balik pilar beton besar, menjadikannya sebagai tempat persembunyian terbaik sembari menunggu perintah lanjutan dari Fey.
"Tamu undangan yang hadir di bawah sana sangat ramai dan padat, Fey," bisik Amoera rendah sembari memperhatikan lautan manusia dari balik celah balkon.
"Tentu saja ramai, Moe. Ini adalah acara perkumpulan besar tahunan para penguasa bawah tanah. Banyak pemimpin mafia kelas kakap yang hadir di sana malam ini, jadi kamu harus ekstra berhati-hati dalam bertindak. Perkumpulan bisnis legal yang mereka pamerkan di depan media itu hanyalah sebuah kedok belaka, malam ini mereka akan merencanakan sebuah proyek kerja sama ilegal yang jauh lebih besar dan mematikan," balas Fey panjang lebar dari seberang sambungan telepon.
Amoera memberikan anggukan kepala pendek menyetujui kalimat itu. Ia perlahan merosotkan tubuhnya berlutut di lantai balkon, membuka tas hitam besarnya, lalu mengeluarkan senapan laras panjang hitam legam miliknya. Ia memasang alat peredam suara di ujung moncong senapan, memastikan setiap komponen senjata berfungsi dengan sempurna di dalam keheningan malam yang sunyi.
"Amoera, bersiap! Target baru saja terdeteksi masuk ke dalam radar bidikan!" seru Fey tiba-tiba dengan nada suara yang meninggi, sebuah kalimat perintah yang seketika membuat Amoera lekas mengangkat tubuh senapannya, menyandarkan larasnya pada pembatas balkon, lalu mendekatkan sepasang matanya pada bagian teropong bidik lensa jarak jauh senjata tersebut.
"Sebentar, Amoe ... aku harus memastikan jalur pelarianmu aman terlebih dahulu," ucap Fey lagi dari seberang sambungan. Dari balik alat komunikasinya, Amoera bisa mendengar dengan jelas suara ketikan jemari tangan Fey yang bergerak dengan sangat cepat di atas papan ketik komputer monitornya di markas rahasia.
"Aku sudah berhasil meretas dan mematikan seluruh aliran kamera pengawas CCTV yang mengarah ke posisimu saat ini! Kamu bisa mengambil tindakan eksekusi sekarang juga, Amoe! Habisi targetnya!" ucap Fey memberikan komando penuh dengan nada suara yang berapi-api.
Amoera menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya secara perlahan guna menstabilkan detak jantungnya yang mendadak kembali berdegup kencang. "Katakan padaku di mana koordinat posisi tepat dari targetnya sekarang," ucap Amoera dingin sembari memfokuskan kembali pandangan matanya menembus lensa teropong bidik yang gelap.
"Arah jam 1 dari posisimu saat ini! Cari seorang anak kecil yang mengenakan setelan jas hitam formal, dia adalah satu-satunya anak kecil yang berada di dalam aula pesta malam ini!" teriak Fey memberikan instruksi koordinat dengan sangat jelas.
Amoera lekas menggeser arah moncong senapannya secara perlahan ke arah kanan, mengikuti aba-aba yang Fey perintahkan. Melalui lensa teropong bidiknya yang memiliki akurasi tinggi, pandangan mata Amoera akhirnya berhasil menangkap sesosok tubuh mungil dari seorang anak laki-laki yang saat ini posisinya sedang berdiri membelakanginya di dekat meja hidangan pencuci mulut. Jari telunjuk tangan kanan Amoera perlahan bergerak masuk ke dalam pelindung pelatuk, menempelkan permukaan kulit jarinya pada tuas pelatuk besi yang dingin, siap untuk ditarik kapan saja guna melepaskan timah panas pemutus urat nadi kehidupan.
"Situasi di sekitar target terpantau aman, Amoe ... ini adalah saat yang paling tepat! Tembak sekarang juga!" pekik Fey dengan nada mendesak dari seberang telepon.
Mendengar komando terakhir dari rekannya, Amoera mempererat genggaman tangannya pada gagang senapan. Ia mulai menambahkan sedikit tekanan pada jari telunjuknya, bersiap menarik pelatuk baja di tangannya untuk mengakhiri misi berdarah berimbalan 50 juta dollar ini.
Namun, tepat pada detik yang sama sebelum pelatuk itu tertarik sepenuhnya, anak kecil di bawah sana mendadak memutarkan tubuh mungilnya ke belakang dengan gerakan yang teramat riang. Bersamaan dengan berputarnya tubuh sang target, lensa teropong bidik Amoera seketika menangkap dengan sangat jelas rupa dan detail wajah dari bocah kecil tersebut. Sebuah wajah suci tanpa dosa yang saat ini tengah tersenyum teramat senang dan riang karena berhasil mendapatkan sepotong kue cokelat besar di dalam genggaman tangan mungilnya.
Sepasang mata bulat yang identik, bentuk hidung mungil yang sama, bahkan potongan rambut yang persis dengan putra kandungnya yang sedang tertidur di rumah.
"Eren?!"
Nama putra tercintanya seketika lolos begitu saja dari bibir Amoera yang mendadak bergetar hebat didera rasa syok yang teramat luar biasa. Kejutan visual yang mengerikan itu seketika meruntuhkan seluruh fokus dan konsentrasi di dalam kepalanya. Akibat rasa syok dan kepanikan yang datang mendadak secara ekstrem, jemari tangan Amoera yang semula menegang refleks menarik pelatuk senapannya tanpa sempat ia kendalikan lagi arah bidikannya.
PRANG!!
Sebuah bunyi ledakan tertahan yang diikuti oleh suara hancurnya kaca tebal terdengar menggema keras memecah kemeriahan aula pesta. Peluru kaliber besar yang dilepaskan dari senapan Amoera melesat menyimpang jauh dari target semula, menembus dan menghancurkan sebuah kaca hias besar yang tertempel kokoh di dinding semen tepat di samping posisi Enzo berdiri. Serpihan kaca tajam berhamburan ke segala arah, melesat hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari permukaan kulit kepala bocah mungil yang kini mendadak langsung diam mematung di tempatnya dengan tubuh gemetar hebat karena terkejut setengah mati.
Wajah cantik Amoera seketika berubah menjadi pucat pasi bak mayat, napasnya memburu tidak teratur dengan keringat dingin yang mulai membanjiri pelipisnya dari balik pilar balkon.
Di bawah sana, Leon D'Alterio menyadari arah datangnya lintasan peluru misterius tersebut. Sepasang matanya yang tajam bak elang segera mendongakkan kepalanya ke atas dengan gerakan cepat, menatap lurus ke arah balkon lantai atas yang gelap di mana siluet bayangan hitam seorang pembunuh bayaran dengan senapan laras panjang di tangan masih terlihat samar.
Rahang kokoh sang penguasa tertinggi Cosa Nero seketika mengeras hebat dengan urat-urat leher yang menegang kaku memancarkan hawa murka yang siap membakar siapa saja. Sementara itu, Black dengan sigap langsung merengkuh tubuh mungil Enzo yang tampak syok berat ke dalam dekapan dadanya, memposisikan dirinya sendiri sebagai perisai hidup bagi sang tuan muda dari kemungkinan adanya tembakan susulan.
"ADA PENYUSUP! TANGKAP DIA HIDUP-HIDUP SEKARANG JUGA!"
_______________
Dah ya tambahannya🤣