Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 1 Karang Bercahaya
Purwasaga adalah seorang pendekar muda nan tampan, gagah. Dia putra pejabat, yakni putra Demang Bungi Pitam yang diamanahi kekuasaan di Kademangan Kerangilo.
Rumah Demang Bungi Pitam tepat menghadap ke laut, berjarak hanya belasan tombak dari pantai.
Sebagai pendekar muda yang berambisi menjadi pendekar sakti yang digdaya, Purwasaga rajin berlatih, meski dia sudah dinyatakan lulus oleh gurunya.
Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu memilih malam sebagai waktu latihnya. Karena dia sudah pulang dari perguruan, jadi ia berlatih seorang diri. Pada awal-awal, ayah dan adik-adiknya suka menonton. Karena hanya menonton, akhirnya keluarganya pun lama-lama tidak antusias lagi. Jadilah Purwasaga berlatih seorang diri untuk malam-malam berikutnya.
Tidak hanya pasir pantai menjadi arena berlatih, tetapi Purwasaga juga sering berlatih di atas gugusan karang yang tersebar di pantai tersebut hingga di air laut.
Pada suatu malam, tepatnya di malam purnama penuh.
“Saga, apakah kau akan berlatih malam ini?” tanya Demang Bungi Pitam pada awal malam.
“Iya, Ayah,” jawab Purwasaga.
“Sepertinya akan ada badai malam ini,” kata Demang Bungi.
Memang, angin malam yang kencang dan tidak seperti biasanya memberi pesan awal bahwa kemungkinan akan datang badai dari lautan. Bagi orang pesisir, mereka semua tahu tanda-tanda awal akan datangnya badai, seperti salah satunya ombak tinggi dengan suara hantaman ke pantai dan batu karang terdengar kasar. Udara pun terasa lebih lembab dari malam-malam biasanya.
Biasanya tanda pun terlihat dari langit. Namun, karena malam hari, jadi tanda di langit tidak tampak.
“Tapi ini malam purnama sempurna, malam yang bagus untuk latihan, Ayah,” kata Purwasaga. “Jika badainya memburuk, tentu aku akan pulang.”
Maka, pada malam itu, Purwasaga tetap melakukan latihan di malam hari.
Benar kata Purwasaga, malam itu adalah malam bulan purnama. Namun, karena gelapnya langit oleh awan hitam, cahaya purnama hanya sesekali muncul, itupun mambayang di balik awan.
Betul juga kata Demang Bungi, badai mulai datang dengan kecepan angin yang setengah ekstrem dan hujan angin yang membuat menggigil. Namun, Purwasaga pantang mundur dan menyerah. Ia bertekad menyelesaikan latihannya dengan melakukan uji coba kesaktiannya.
“Hiat! Ciat ciat! Hiat!”
Di antara deru ombak yang keras, tiupan angin yang kencang, bisikan hujan yang menyiram, kebisingan suara dedaunan nyiur dan pohon pantai lainnya, terdengar pekik-pekik Purwasaga saat berlatih dan mengeluarkan tenaga ekstra.
Ternyata, semakin larut malam, badai semakin besar. Hantaman ombak ke batu karang semakin kencang dan semakin jauh naik ke pasir pantai.
Setelah cukup lama berlatih olah fisik, Purwasaga lalu berdiri memasang kuda-kuda di pasir pantai dan menghadap ke arah laut lepas yang tanpa cahaya lampu nelayan.
Sepasang batang tangan Purwasaga menyala kuning.
“Hiaaat!” teriak Purwasaga sambil menghentakkan kedua tinjunya lurus ke depan, ketika ombak tinggi melompat hendak menerkam garis pantai.
Meski kedua tangan Purwasaga menyala kuning, tetapi yang melesat dari kedua tinjunya adalah bola sinar hijau sebesar bola kaki. Kedua bola sinar hijau itu melesat secepat kilat menghantam ombak.
Ada fenomena yang terjadi dan terlihat sekilas saja. Ombak yang gelap itu terlihat sekejap membeku padat dengan warna hijau menyala. Namun, setelah sinar itu padam, hanya kegelapan yang tersisa.
Itu adalah ilmu Tinju Dingin Sunyi.
Setelah itu, Purwasaga berlari di dalam kegelapan pantai di bawah guyuran hujan deras. Ia berlari menuju gugusan batu karang.
Sezz!
Sambil berlari kencang seperti itu, Purwasaga mengeluarkan garis-garis sinar hijau seperti aliran listrik yang tidak mau tenang.
“Hiaat!” teriak Purwasaga sambil melempar tangan kanannya ke arah gugusan batu karang yang terlihat berupa siluet hitam yang lebih hitam di dalam kegelapan.
Serzz!
Yang melesat cepat dari tangan kanan Purwasaga adalah seperti kumpulan tali sinar hijau yang kusut, tetapi seperti sebuah gulungan bola.
Bluarr!
Sinar itu menghantam dan menghancurkan gugusan batu karang, tetapi hanya sebagian kecil karena itu batu karang yang besar.
“Apa itu?” tanya Purwasaga seraya berhenti berlari dan memusatkan arah netranya memandangi batu karang yang dihantam ombak.
Hal yang dilihat oleh Purwasaga dan menarik perhatiannya adalah keberadaan cahaya biru redup di batu karang, tetapi semuanya terendam oleh ombak yang menghantam.
“Bagaimana mungkin karang bisa mengeluarkan cahaya? Yang mungkin adalah benda atau binatang laut bercahaya yang sedang tersangkut di batu karang,” pikir Purwasaga di dalam hati.
Pemuda tampan itu lalu berlari naik ke gugusan batu karang untuk pergi melihat dengan jelas cahaya biru.
Bruss!
Ombak besar menghantam gugusan karang itu. Air laut datang dan merendam kaki Purwasaga sebatas betis. Ia terus mendekati posisi cahaya biru yang terendam air secara penuh ketika ombak datang menghempas.
Ketika air laut itu bergerak menarik diri, maka tampak jelas sisi atas cahaya.
Purwasaga akhirnya berada hanya beberapa langkah dari cahaya biru redup yang menyala.
Cahaya biru itu bukan binatang, tetapi sebuah lubang atau bolongan batu karang. Uniknya, bolongan itu sempurna seperti lubang cincin raksasa dan pinggiran lingkarannya menyala biru. Diameter lubang batu karang itu sepanjang satu depa.
Purwasaga jadi penasaran ingin menyentuh bagian lubang karang yang bercahaya seperti batu alam yang unik.
Brusss!
Ombak keras kembali datang menghantam gugusan karang tersebut. Air sampai merendam Purwasaga sepinggang dan mendorongnya dua tindak, tetapi hantaman ombak tersebut tidak sampai menghanyutkan si pemuda.
“Jangan-jangan ini pintu gerbang siluman,” pikir Purwasaga mulai mengada-ada.
Dia lalu maju dan turun demi menyentuh bibir lubang karang. Sebelum ombak datang lagi, Purwasaga bergerak tergesa-gesa turun ke air lebih dalam dan bergerak masuk ke dalam lubang. Air laut hingga sedada.
Namun, tidak ada hal aneh yang terjadi. Purwasaga bahkan menyentuh bagian batu karang yang bercahaya redup seperti batu fosfor. Rasanya biasa saja, tidak ada yang aneh.
Purwasaga buru-buru kembali naik saat mendengar suara ombak besar datang mendekat, lalu menghantam.
Brusss!
Purwasaga terhempas oleh ombak hingga jatuh terduduk di batu karang.
Posisi duduk itu ternyata tidak memberi Purwasaga daya bertahan. Ia terkejut saat air menarik dirinya. Tubuhnya terbawa dan jatuh ke dalam air yang ada lubang karang bercahayanya.
Karena tubuhnya terbawa hanyut, Purwasaga hanya mengikuti kehendak arus. Ia sampai tenggelam di sekitar cincin karang yang menyala.
Dug!
“Aklelep!” pekik Purwasaga saat dahinya menghantam batu karang. Pekikan di dalam air laut itu membuat si pemuda kemasukan air asin di dalam tenggorokannya dan dilanda kepanikan.
Brusss!
Di saat tubuh Purwasaga dipermainkan arus air di sekitar lubang karang bercahaya biru, datang lagi ombak yang lebih kecil, tetapi cukup untuk menghempaskan tubuh pemuda itu menghantam karang lagi.
Tiba-tiba, cincin karang yang bercahaya biru itu menyala kian terang, lalu muncullah lapisan sinar biru yang benar-benar adalah cahaya. Cahaya baru yang muncul itu kemudian memenuhi lubang meski ada air laut yang bergerak menenggelamkannya.
Sementara Purwasaga hanya melihat warna biru dari cahaya yang baru muncul tanpa mengetahui apa yang terjadi. Namun kemudian, tubuhnya lenyap di dalam air. (RH)
hahhhh