NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Kesempatan Kedua

Malam itu, langit kota seakan ikut menumpahkan kemarahan. Hujan turun sangat deras, membasahi bumi dengan kasarnya disertai kilatan petir yang menyambar bergantian. Di atas atap gedung pencakar langit lantai lima belas yang sunyi dan dingin, napas Nadia tersengal-sengal. Tubuhnya lemas, berlutut di atas beton yang basah. Gaun putih yang dikenakannya kini telah koyak di beberapa bagian, ternoda oleh pekatnya darah dan dinginnya air hujan.

Di hadapannya, berdiri dua orang yang paling ia percayai di dunia ini. Seseorang yang selama ini ia sebut sebagai kekasih hati, kini menatapnya dengan pandangan yang begitu asing. Di sebelahnya, sahabat baik yang sudah ia anggap seperti Saudara kandung sendiri, justru mengulas senyum sinis yang penuh kemenangan.

"Kenapa... kenapa kalian tega melakukan ini padaku?" bisik Nadia lirih. Suaranya serak, bergetar menahan perih di dada yang jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik di tubuhnya. Suara parau itu hampir tenggelam oleh gemuruh petir yang menggelegar di angkasa.

Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Tanpa ragu, ia mencengkeram rahang Nadia dengan sangat kasar, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang kosong tanpa emosi.

"Kenapa, kamu tanya? Karena kamu sudah tidak berguna lagi, Nadia," bisik pria itu dengan nada yang sangat kejam. "Kamu terlalu naif. Semua aset perusahaan peninggalan orang tuamu kini sudah sepenuhnya berpindah tangan atas namaku. Surat kuasa yang kamu tanda tangani kemarin adalah tiket kematianmu. Sekarang, lenyaplah dari dunia ini."

Tanpa belas kasihan sedikit pun, sebuah dorongan kuat menghantam dada Nadia. Tubuh gadis itu terjerembap ke belakang, melewati pembatas atap gedung yang rendah. Nadia melayang jatuh bebas dari ketinggian lantai lima belas. Angin malam yang kencang menusuk kulitnya, merobek sisa-sisa kesadarannya. Saat tubuhnya melesat cepat menuju aspal dingin di bawah sana, air mata Nadia menyatu dengan air hujan. Di dalam detik-detik terakhir sebelum kegelapan total merenggut nyawanya, Nadia bersumpah di dalam relung hatinya yang paling dalam: Jika Tuhan memberikan aku kesempatan dan kehidupan kedua, aku bersumpah akan kembali. Aku akan membuat kalian membayar setiap tetes darah dan air mata yang mengalir malam ini!

Bip... Bip... Bip...

Suara monoton dan teratur dari mesin pendeteksi jantung perlahan-lahan menembus pendengaran Nadia. Rasa sakit yang luar biasa hebat, seolah seluruh tulangnya telah remuk, menjalar ke sekujur tubuhnya. Dada Nadia terasa sesak, seakan ada batu besar yang menghimpit pernapasannya.

Nadia membuka kelopak matanya dengan sentakan kaget. Ia menarik napas dalam-dalam secara terengah-engah, seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam begitu lama. Namun, hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya bukan hamparan langit malam yang gelap ataupun jalanan kota yang dingin. Ia melihat langit-langit putih bersih dari sebuah kamar yang sangat luas dan mewah. Bau menyengat khas obat-obatan dan antiseptik langsung menusuk indra penciumannya.

"Nona? Oh Tuhan! Dokter! Cepat kemari, Dokter! Nona Chelsea sudah sadar dari komanya!" Seorang wanita paruh baya berpakaian perawat berteriak histeris di samping ranjangnya. Saking terkejutnya, perawat itu tidak sengaja menjatuhkan papan jepit yang dipegangnya sebelum akhirnya berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa.

Nadia mengerutkan keningnya dalam-dalam. Kepalanya mendadak berdenyut sangat nyeri, seperti dihantam oleh ribuan jarum. Nona Chelsea? Siapa itu? Dan bagaimana bisa aku masih hidup setelah jatuh dari gedung lantai lima belas? tanya Nadia dalam hati, penuh dengan kebingungan.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Nadia memaksakan dirinya untuk turun dari ranjang rumah sakit yang empuk. Kakinya terasa lemas seperti jeli saat menyentuh lantai marmer yang dingin. Sambil memegangi tiang infus sebagai penyangga, ia berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan.

Begitu berhasil menyalakan lampu dan melihat pantulan dirinya di cermin wastafel, Nadia langsung mematung. Seluruh tubuhnya menegang, dan jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.

Sosok yang ada di dalam cermin itu sama sekali bukan dirinya. Wajah bulat telur dengan kulit seputih porselen, sepasang mata bulat yang indah namun sayu, serta rambut bergelombang berwarna cokelat madu yang berantakan. Wanita di dalam cermin ini luar biasa cantik, seperti sebuah boneka kaca yang sangat mahal namun rapuh.

Nadia menyentuh pipi asing itu dengan jemarinya yang gemetar hebat. "Ini... ini bukan wajahku. Ini bukan aku! Siapa wanita ini?!" pekik Nadia tertahan.

Tepat setelah kalimat itu terucap, sebuah kilasan memori asing yang bukan miliknya tiba-tiba berputar paksa di dalam kepalanya. Rasa sakit yang luar biasa membuat Nadia terpaksa mencengkeram tepi wastafel agar tidak terjatuh. Informasi-informasi baru mulai membanjiri otaknya.

Nama wanita ini adalah Chelsea Latief. Dia adalah putri tunggal dari keluarga konglomerat terkaya di kota ini. Namun, di balik kekayaannya, Chelsea adalah gadis yang manja, labil, dan selalu dinilai buruk oleh orang-orang di sekitarnya. Tiga hari yang lalu, Chelsea dinyatakan koma akibat overdosis obat penenang setelah melakukan percobaan bunuh diri karena patah hati.

Nadia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna keajaiban—atau kegilaan—yang baru saja menimpa dirinya. Jiwanya yang baru saja mati, kini telah berpindah ke dalam tubuh wanita lain bernama Chelsea.

Nadia perlahan menegakkan tubuhnya. Ia menatap lurus ke arah cermin, menembus manik mata sosok Chelsea. Perlahan, gumpalan rasa takut dan bingung di matanya berganti menjadi kilat ketegasan yang sangat dingin. Kelembutan khas Chelsea yang asli telah menguap, digantikan oleh ketangguhan jiwa Nadia.

Nadia mengulas senyum tipis yang penuh misteri pada pantulan dirinya sendiri. "Chelsea... ternyata nasib kita tidak jauh berbeda. Kita sama-sama dikhianati oleh orang yang kita sayangi hingga hampir kehilangan nyawa," bisik Nadia dengan suara yang terdengar rendah namun berwibawa.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. "Mulai hari ini, aku akan hidup sebagai Chelsea Latief. Tenang saja, Chelsea, aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak nama ini lagi. Aku akan menggunakan tubuh ini untuk membalaskan dendamku, sekaligus mencari tahu siapa orang yang sudah membuatmu menderita. Mereka semua... harus membayar mahal."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!