NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

"Buka mulutmu lebih lebar, Leo. Bagaimana bisa seorang genius siber kalah menghadapi satu sendok sup ayam?"

Devran meniup perlahan sesendok kuah sup hangat di tangannya, lalu menyodorkannya ke depan wajah Leo.

Pria yang biasanya ditakuti oleh ratusan karyawan di Adhitama Tower itu kini duduk dengan santai di tepi tempat tidur sayap medis mansion, melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku tanpa peduli citra elegannya jatuh.

Leo yang sedang sibuk mengetik sesuatu di tablet mini barunya mendongak, melirik sendok itu dengan malas.

"Supnya kurang garam, Om seram. Dan Leo sedang menyusun enkripsi baru, jangan diganggu."

"Panggil aku Papa, Leo. Kita sudah sepakat soal taruhan catur kemarin," koreksi Devran, nadanya melembut namun tetap terdengar posesif.

Ia tetap menahan sendok itu di udara. "Ayo cepat makan, atau aku akan menyuruh Reno memutus jaringan internet di kamar ini sekarang juga."

"Ih, Om ancamannya main fisik digital terus!" gerutu Leo, akhirnya menyerah dan membuka mulut mungilnya. Nyam.

"Hmm... tapi kalau disuapi begini, rasanya jadi lumayan enak sih."

Alana yang baru saja masuk membawa nampan berisi vitamin Leo seketika menghentikan langkahnya di ambang pintu. Pemandangan di depannya membuat hatinya menghangat, sebuah perasaan asing yang selama lima tahun ini coba ia kubur dalam-dalam.

Melihat bagaimana Devran, pria yang ia cap sebagai monster tanpa hati begitu telaten dan sabar menghadapi sifat keras kepala Leo, perlahan-lahan meruntuhkan dinding pertahanan di dadanya.

"Sudah jam makan siang, Tuan Adhitama. Bukankah Anda ada rapat dengan investor dari Jepang?" tanya Alana, melangkah mendekat dan meletakkan nampan di atas nakas.

Devran menoleh, menatap Alana dengan binar mata yang berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi tatapan intimidasi yang menekan, yang tersisa hanyalah tatapan hangat seorang pria pada wanitanya.

"Rapat itu bisa diwakili oleh Reno. Menyuapi anakku jauh lebih penting daripada investasi asing mana pun, Alana."

"Mommy, lihat! Om kaku ini pintar menyuapi, tidak tumpah sama sekali!" seru Leo polos, memamerkan mulutnya yang bersih pada Alana.

Alana tersenyum kecil, mengusap rambut lembut Leo. "Tentu saja, dia kan punya banyak asisten yang mengajarinya cara melakukan segalanya dengan sempurna."

"Aku tidak butuh asisten untuk belajar menyayangi anakku sendiri, Alana," sahut Devran rendah, matanya mengunci pandangan hazel Alana, membuat wanita itu mendadak salah tingkah dan membuang muka.

"Sudahlah, berikan mangkuknya pada saya. Biar saya yang melanjutkan," ujar Alana, mencoba meraih mangkuk sup dari tangan Devran.

"Tidak perlu. Duduk saja di sini dan temani kami," tolak Devran lembut namun tegas, menahan pergelangan tangan Alana sesaat sebelum melepaskannya.

"Aku mulai menyukai suasana seperti ini. Rumah ini... sudah terlalu lama terasa seperti kuburan mewah yang dingin."

"Ini bukan rumah kami, Devran. Kami hanya menumpang sampai proyek restorasi dan operasi Leo selesai," bisik Alana, mencoba mengingatkan dirinya sendiri dan juga Devran tentang batas-batas kontrak mereka.

"Kita lihat saja nanti, Alana. Apakah kamu benar-benar bisa melangkah keluar dari gerbang mansion ini setelah semuanya selesai," balas Devran dengan senyuman tipis yang sarat akan rencana jangka panjang.

Leo yang memperhatikan interaksi keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala kecilnya.

"Mommy dan Om seram ini kalau bicara suka pakai kode sandi terus. Leo yang jenius saja kadang pusing mendengarnya."

Devran terkekeh rendah, suara tawa tulus yang kini semakin sering terdengar di Adhitama Mansion sejak kehadiran ibu dan anak tersebut. Ia kembali mengambil sesendok sup, bersiap menyuapkannya lagi pada Leo.

Kehangatan yang menjalar di dalam ruangan medis itu terasa begitu nyata, membuat Devran benar-benar merasa nyaman dan melupakan sejenak badai konspirasi tentang The Old Adhitama yang masih diselidiki oleh Reno di luar sana.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.

BRAAK!

Pintu ganda ruang medis privat itu mendadak didorong terbuka secara kasar dari arah luar, menghantam dinding dengan bunyi dentuman yang sangat keras.

"Devran! Apa-apaan semua ini?!"

Sebuah teriakan melengking yang sarat akan amarah dan histeria memecah keheningan.

Siska Lorenza berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Penampilannya tampak sangat kontras dengan Siska yang biasanya selalu rapi, rambutnya sedikit berantakan, riasan wajahnya agak luntur oleh tangis, dan pakaian mahalnya tampak kusut.

Di belakangnya, dua orang penjaga keamanan mansion tampak kewalahan dan ketakutan karena gagal menahan langkah wanita itu.

"N-Nona Siska memaksa masuk, Tuan Besar. Kami sudah mencoba menahannya, tapi..." salah satu penjaga terbata-bata dengan wajah pucat.

"Keluar," perintah Devran dingin, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es, memotong kalimat penjaga tersebut tanpa menoleh. Aura membunuh yang mengerikan seketika kembali menyelimuti tubuh tegap sang petinggi.

Alana secara refleks langsung bergerak maju, berdiri di depan tempat tidur Leo untuk menyembunyikan putranya dari pandangan Siska.

"Siska... bagaimana bisa kamu masuk ke sini?"

"Tutup mulutmu, jalang!" bentak Siska, matanya yang merah melotot tajam menatap Alana dengan kebencian yang mendalam.

Ia melangkah masuk dengan langkah besar, mengabaikan tatapan mematikan dari Devran. "Jadi karena ini?! Karena wanita murah ini kamu menghancurkan bisnis keluargaku, Devran?!"

Devran perlahan meletakkan mangkuk sup ke atas meja nakas, gerakannya begitu lambat namun memancarkan ancaman yang teramat nyata.

Ia berdiri tegak, membalikkan tubuhnya untuk menghadapi Siska. "Jaga bicaramu, Siska Lorenza. Ini adalah properti pribadiku, dan kamu baru saja melakukan pelanggaran hukum dengan masuk tanpa izin."

"Aku tidak peduli dengan hukum sialanmu, Devran!" teriak Siska histeris, air matanya menetes merusak riasan wajahnya.

"Ayahku terkena serangan jantung sore ini karena kamu membatalkan seluruh kontrak pasokan baja kami! Keluargaku di ambang kebangkrutan! Dan kamu... kamu malah bersembunyi di sini bersama desainer melarat ini?!"

"Keluargamu hancur karena ulahmu sendiri yang berani menyusup ke server pribadiku," sahut Devran datar tanpa belas kasihan sedikit pun.

"Urusan bisnis kita sudah selesai. Pergilah sebelum aku menyuruh pengawal melemparmu ke jalanan."

"Aku tidak melakukan peretasan itu! Aku sudah katakan padamu itu jebakan!" Siska menjerit frustrasi.

Namun, saat ia hendak melangkah lebih dekat untuk menggapai jas Devran, matanya tidak sengaja menangkap celah di balik tubuh Alana.

Di atas tempat tidur, Leo sedang duduk sembari menatap Siska dengan pandangan polos namun tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Wajah mungil anak itu, sepasang mata bulatnya, hingga garis rahangnya... tampak begitu familier di mata Siska.

Siska seketika membeku di tempatnya. Napasnya tertahan di tenggorokan saat pandangannya beralih dari wajah Leo ke wajah Devran, lalu kembali ke wajah Leo lagi. Kesadaran visual yang luar biasa besar menghantam otaknya bagai gada besi.

"Anak... anak itu..." suara Siska mendadak bergetar hebat, jarinya yang gemetar menunjuk ke arah Leo.

"Devran... siapa anak itu?! Kenapa wajahnya... kenapa matanya mirip sekali denganmu?!"

Alana mengepalkan tangannya erat-erat, bersiap menghadapi badai terbesar yang selama lima tahun ini paling ia takuti.

"Siska, jangan berani-berani kamu mendekati anakku..."

"Anakmu?!" Siska tertawa sumbang, sebuah tawa histeris yang terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan medis tersebut.

Ia menatap Devran dengan pandangan tidak percaya yang bercampur dengan rasa syok yang teramat sangat.

"Devran! Katakan padaku ini tidak benar! Kamu... kamu menyuapi anak ini dengan tanganmu sendiri?! Pria sedingin kamu tidak akan pernah sudi menyentuh anak kecil, kecuali... kecuali dia adalah..."

Devran tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru melangkah maju, berdiri tepat di samping Alana, lalu dengan gerakan posesif yang sangat kentara, ia meletakkan tangan kekarnya di atas bahu Alana, menunjukkan pada Siska secara terang-terangan di mana posisi dan keberpihakannya berada.

"Dia adalah Leo Adhitama, putra kandungku," ucap Devran dengan nada suara yang sangat tenang, berat, dan penuh dengan kebanggaan mutlak yang langsung mengunci takdir semua orang di dalam ruangan itu.

"Dan mulai hari ini, siapa pun yang berani menyentuh atau mengusik ketenangannya di rumah ini akan berhadapan langsung dengan seluruh kekuatan Adhitama Group."

Siska melangkah mundur beberapa langkah, wajahnya mendadak kehilangan seluruh darahnya, berubah menjadi sepucat kain kafan.

Rahasia gelap masa lalu yang selama lima tahun ini coba ia kubur bersama pelarian Alana ke Swiss, kini telah berdiri tegak di hadapannya dalam wujud seorang pewaris murni darah Adhitama yang siap menghancurkan seluruh hidupnya tanpa sisa.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!