Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Lin Ye segera memutar energi di dalam dantiannya, menggunakan Seni Pengendali Hantu Purba untuk secara paksa menyerap dan mengubah energi Yang tersebut menjadi energi Yin.
Danau spiritualnya bergemuruh pelan saat memproses energi murni itu, membuat hawa dingin di tubuh Lin Ye kembali mendominasi dan mengusir rasa menyengat di kulitnya.
Ia mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan, di mana Puncak Awan Emas berdiri menjulang tinggi menembus lapisan awan malam bagaikan pedang raksasa yang menantang langit.
Istana-istana megah yang terbuat dari giok dan emas berjejer rapi di sepanjang lereng gunung, memancarkan cahaya kemewahan yang sangat menyilaukan mata.
Namun, tujuan Lin Ye bukanlah istana-istana mewah tempat para petinggi sekte sedang berkumpul dalam kepanikan malam ini.
Berdasarkan memori yang ia ekstrak secara paksa dari jiwa Chu Yan, target utamanya terletak di bagian paling belakang dari gunung raksasa tersebut.
Sebuah kawah gunung berapi mati yang dijaga oleh kerahasiaan absolut, tempat di mana Kolam Darah Spiritual Purba menyembunyikan dosa-dosa terbesar Sekte Pedang Surgawi.
Lin Ye kembali meleburkan tubuhnya ke dalam bayangan dan mulai melesat cepat menyusuri jalan setapak rahasia yang tidak banyak diketahui orang.
Ia bergerak menghindari area pemukiman murid pelataran dalam dan pos-pos penjagaan yang dipenuhi oleh aura kultivator tingkat tinggi.
Sesekali ia harus berhenti dan menahan napasnya saat formasi pemindai roh menyapu area tempatnya bersembunyi, mengandalkan sistem untuk menetralkan frekuensi deteksi tersebut.
Perjalanan diam-diam ini memakan waktu lebih dari dua jam karena ia harus sangat berhati-hati untuk tidak memicu satu pun perangkap spiritual di sekitarnya.
Akhirnya, Lin Ye tiba di wilayah pegunungan belakang yang sangat sunyi dan dikelilingi oleh hutan pohon pinus hitam berduri yang beracun.
Aura di tempat ini sangat berbeda dengan kemewahan di bagian depan gunung, di sini suasananya terasa sangat suram, lembab, dan dipenuhi oleh hawa kematian yang tertahan.
Jalan setapak berbatu yang ia lewati kini ditutupi oleh lumut darah yang akan menghisap esensi kehidupan siapa pun yang berani menginjaknya tanpa perlindungan.
Namun lumut-lumut haus darah itu justru langsung layu dan menghitam menjadi abu saat bersentuhan dengan aura energi Yin murni yang memancar dari telapak kaki Lin Ye.
Di ujung jalan setapak yang panjang itu, Lin Ye melihat sebuah mulut gua raksasa yang menganga lebar menyerupai rahang seekor binatang buas kuno.
Mulut gua itu ditutupi oleh sebuah pintu batu raksasa yang diukir dengan berbagai macam formasi penyegel berwarna merah darah yang sangat rumit dan menyeramkan.
Dua buah patung gargoyle iblis yang terbuat dari baja hitam berdiri kokoh menjaga sisi kiri dan kanan pintu batu tersebut dengan mata yang menyala merah.
"Mendeteksi Formasi Kunci Darah Ilahi tingkat tinggi pada pintu batu utama, hanya bisa dibuka dengan mengorbankan esensi darah dari garis keturunan murni keluarga Chu."
"Selain itu, kedua patung penjaga di samping pintu memiliki kesadaran buatan yang akan bangkit dan menyerang siapa pun yang bukan merupakan keturunan Pemimpin Sekte atau Tetua Agung."
Lin Ye membaca peringatan dari sistem dengan sangat saksama, menyadari bahwa kakek tua itu benar-benar mengunci tempat ini dengan paranoid tingkat dewa.
"Jika aku memaksakan diri menghancurkan pintu batu ini, fluktuasi energinya pasti akan langsung dirasakan oleh Chu Zhen di istana utamanya," pikir Lin Ye menganalisis situasi.
Ia berjalan mendekati pintu batu raksasa itu dengan sangat pelan, membiarkan energi kematiannya mengalir membungkus seluruh tubuhnya untuk mencegah patung penjaga mendeteksi hawa kehidupannya.
Lin Ye mengeluarkan Botol Penampung Jiwa dari dalam ruang penyimpanannya dan menatap bola jiwa Chu Yan yang masih merintih kesakitan di dalamnya.
"Kau bilang esensi darahmu adalah satu-satunya kunci untuk membuka pintu ini," ucap Lin Ye kepada jiwa yang ketakutan itu.
"Tentu saja aku tidak memiliki tubuh fisikmu lagi, tapi jiwa milikmu masih merekam jejak garis keturunan yang sama persis dengan darahmu."
Lin Ye tidak menunggu jawaban dari jiwa Chu Yan dan langsung meremas botol giok itu hingga retak, memaksa sedikit esensi asal dari jiwa Chu Yan untuk merembes keluar.
Ia mencampurkan esensi jiwa Chu Yan itu dengan energi Yin miliknya sendiri, menciptakan sebuah simulasi energi darah yang sangat identik dengan milik keluarga Chu.
Lin Ye mengangkat telapak tangannya yang kini memancarkan cahaya merah darah palsu dan menekankannya kuat-kuat ke bagian tengah pintu batu raksasa tersebut.
Formasi Kunci Darah Ilahi itu seketika merespons simulasi energi tersebut, mengira bahwa cucu kesayangan Tetua Agung baru saja datang berkunjung secara diam-diam.
Cahaya merah dari ukiran formasi di pintu batu itu perlahan berubah menjadi hijau terang, menandakan bahwa proses otentikasi garis keturunan telah berhasil dilewati.
Kedua patung gargoyle iblis yang tadinya sudah bersiap untuk menyerang kini kembali memejamkan mata merah mereka dan tertidur dalam posisi semula.
Suara gemuruh batu yang sangat berat terdengar bergema pelan saat pintu raksasa itu perlahan terbelah menjadi dua dan bergeser terbuka ke samping.
Hembusan angin panas yang membawa aroma darah busuk yang sangat kental dan menyengat langsung menerjang keluar dari dalam kegelapan gua.
Bau anyir ini ratusan kali lipat lebih mengerikan daripada lautan mayat di Jurang Kematian, membuat Lin Ye harus mengerutkan keningnya untuk pertama kalinya.
Ia melangkah masuk ke dalam perut gunung berapi mati tersebut, dan pintu batu di belakangnya kembali tertutup rapat seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Lorong gua di dalamnya diterangi oleh kristal-kristal batu darah yang menancap di dinding, memancarkan pendaran cahaya merah yang sangat suram dan menyeramkan.
Setiap langkah kaki Lin Ye bergema memantul di dinding gua, membawanya semakin dalam menuju inti dari rahasia paling memalukan Sekte Pedang Surgawi.
Setelah berjalan menurun selama hampir lima belas menit, ruang pandang Lin Ye tiba-tiba terbuka lebar saat ia memasuki sebuah rongga bawah tanah raksasa.
Di tengah rongga raksasa yang terbentuk dari sisa-sisa kawah vulkanik itu, terhampar sebuah danau kecil yang sama sekali tidak berisi air jernih.
Danau itu sepenuhnya dipenuhi oleh cairan kental berwarna merah kehitaman yang terus menerus mendidih dan meletup-letup mengeluarkan gelembung udara beracun.
Ini adalah Kolam Darah Spiritual Purba, tempat yang secara rutin menyedot nyawa para jenius sekte luar untuk dikonversi menjadi umur panjang bagi para penatua serakah.
Di atas permukaan kolam darah yang mendidih itu, mengapung ribuan tengkorak dan tulang belulang manusia yang masih memancarkan sisa-sisa energi spiritual tingkat tinggi.
Tulang-tulang itu adalah bukti bisu dari ribuan murid berbakat yang selama ratusan tahun berpikir bahwa mereka telah terpilih untuk menjadi murid inti, padahal mereka hanya digiring menuju meja jagal.
Tiga buah pilar batu raksasa berdiri di tengah kolam, di mana rantai-rantai besi berkarat masih menggantung menjuntai, digunakan untuk mengikat para korban hidup-hidup saat darah mereka dikuras.
Aura keputusasaan, kebencian, dan penderitaan yang sangat purba menguar dari dalam kolam darah tersebut, menciptakan sebuah pusaran energi Yin buatan yang sangat masif.
Bagi seorang kultivator aliran lurus, berada di tempat ini selama beberapa menit saja sudah cukup untuk membuat mereka gila atau kesurupan oleh iblis hati.
Namun bagi Lin Ye, pemandangan neraka berdarah ini terlihat jauh lebih indah dan menggoda daripada taman surgawi yang dipenuhi bidadari.
Sepasang mata hitamnya membelalak lebar, memancarkan keserakahan dan ambisi gelap yang tak terbatas saat ia merasakan kemurnian energi di dalam kolam tersebut.
"Sungguh luar biasa," puji Lin Ye sambil tertawa terbahak-bahak, tawanya menggema memenuhi seluruh kawah berdarah itu.
"Sekte yang menjunjung tinggi keadilan dan pedang lurus di mata dunia, ternyata membangun singgasananya di atas tulang belulang generasi muda mereka sendiri."
Lin Ye melebarkan kedua tangannya seolah ingin memeluk seluruh udara beracun di ruangan itu, menikmati ironi yang sangat lezat ini dengan segenap hatinya.
"Tidak ada yang abadi di dunia ini selain kematian, dan hari ini aku akan membantu kalian semua untuk beristirahat dengan tenang di dalam dantianku," teriak Lin Ye kepada ribuan tengkorak yang mengapung.
Sistem di dalam benaknya mulai membunyikan peringatan dengan frekuensi yang sangat cepat, menandakan bahwa jumlah energi di depan mata mereka sudah melampaui batas kewajaran.
"Mendeteksi Kolam Darah Spiritual Purba dengan tingkat kepadatan energi Yin dan Esensi Darah yang mencapai tingkat ekstrem."
"Peringatan: Menyerap energi ini secara langsung dapat menyebabkan tubuh fisik inang meledak berkeping-keping karena tidak mampu menampung kapasitas yang berlebihan."
"Sistem menyarankan inang untuk membentuk Formasi Penahan Jiwa di sekeliling kolam sebelum memulai proses terobosan ke Alam Pembentukan Inti."
Lin Ye segera menghentikan tawanya dan menganggukkan kepala setuju, ia tahu bahwa keserakahan yang bodoh hanya akan membawanya pada kehancuran dirinya sendiri.
Terobosan dari Alam Pengumpulan Qi menuju Alam Pembentukan Inti adalah sebuah lompatan yang memisahkan manusia fana dengan kultivator sejati.
Proses ini membutuhkan fokus absolut, di mana ia harus memadatkan danau spiritualnya menjadi sebuah inti emas padat yang menyimpan hukum langit dan bumi.
Namun karena kultivasi Lin Ye adalah jalur kematian, ia tidak akan membentuk inti emas biasa, melainkan sebuah Inti Yin Sempurna yang berwarna hitam pekat.
Lin Ye mengusap cincin penyimpanannya dan mengeluarkan puluhan keping batu spiritual tingkat menengah yang sebelumnya ia rampas dari kediaman Zhao Ming.
Ia melesat ke udara dengan Langkah Hantu Bayangan dan mulai melemparkan batu-batu spiritual itu ke berbagai titik strategis di sekeliling tepi kolam darah.
Setiap batu yang jatuh langsung menancap ke dalam tanah bebatuan dan memancarkan pendaran garis-garis energi biru yang saling terhubung satu sama lain.
Hanya dalam waktu singkat, sebuah Formasi Penahan Jiwa tingkat menengah berhasil ia dirikan dengan bantuan kalkulasi matematis dari sistem.
Formasi ini tidak digunakan untuk bertahan dari musuh, melainkan untuk mengunci agar energi dari kolam darah tidak meledak keluar secara liar saat ia mulai menyerapnya nanti.
Setelah memastikan formasi itu aktif dengan sempurna, Lin Ye mendarat di atas sebuah batu datar yang agak menonjol tepat di tepi kolam darah yang mendidih.
Ia melepas jubah abu-abunya yang mulai terasa berat, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang kurus namun dipenuhi oleh bekas luka siksaan yang mengerikan.
Aroma darah yang mendidih menerpa wajahnya, namun ia hanya menarik napas dalam-dalam seolah sedang menghirup wewangian bunga surgawi.
Lin Ye duduk bersila dengan punggung yang tegak lurus, menempatkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya dengan posisi menghadap ke atas.
Matanya perlahan tertutup, memutuskan hubungannya dengan dunia fisik di luar dan menarik seluruh kesadarannya masuk ke dalam pusaran danau spiritual di dantiannya.
"Sistem, lepaskan seluruh batas penyerapan dan aktifkan pusaran ekstraksi dengan kekuatan maksimal," perintah Lin Ye dengan nada yang sangat tegas dan final.
"Perintah diterima, melepaskan batas perlindungan inang dan mengaktifkan Penyerapan Kolam Darah Skala Penuh."
"Semoga berhasil, Inang Lin Ye."
Seketika itu juga, dua buah pusaran energi raksasa berwarna hitam legam meledak dari kedua telapak tangan Lin Ye yang terbuka.
Pusaran hisapan itu berputar dengan kecepatan yang sangat mengerikan, menciptakan gaya tarik magnetik yang langsung merobek permukaan kolam darah di hadapannya.
Dua pilar darah kental raksasa terangkat ke udara, menentang gravitasi bumi, dan melengkung deras menuju langsung ke arah tubuh pemuda pucat tersebut.