Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Menapaki jalan halal.
Bang Riegan terhenyak sejenak saat mendengar persyaratan yang di ajukan seniornya. Bang Reigar menyetujui pernikahan mereka, namun dengan syarat tertentu.
Setelah anak itu terlahir ke dunia, Bang Riegan harus segera menceraikan Phia dan perkenalan mereka hanya sebatas sampai disitu saja.
"Bagaimana?? Kamu sanggup??" Tanya Bang Reigar. "Satu bulan setelah Phia melahirkan anakmu, saya akan membawanya. Ceraikan dia, dan selama pernikahanmu.. Kamu di larang berhubungan badan dengannya, karena pernikahanmu hanya atas dasar kehidupan anakmu, bukan atas dasar perasaan." Kata Bang Reigar.
Bang Riegan memejamkan matanya, nafasnya terasa berat tercekat. Ia mengepalkan jemarinya dengan kuat, lalu setelah perasaannya di rasa siap, ia menatap mata seniornya dengan tegas. "Baik. Saya terima perjanjian tersebut."
***
"Panggil Abang lah, kami-kami ini Abangmu." Kata Bang Rakit.
Bang Huda, Bang Marshall, Bang Rakit menyambut ipar mereka. Hanya Bang Reigar saja yang masih sedikit dingin dan kaku.
"Siap, Bang." Bang Riegan yang tidak pernah canggung untuk berinteraksi langsung bisa membaur bersama para Abang ipar.
"Ini berarti nanti malam langsung lajur ke Timur ya, Le?" Tanya Bang Huda.
"Siap, betul Bang." Jawab Bang Riegan.
"Hati-hati kau disana, ya. Jaga Phia baik-baik..!!" Pesan Bang Marshall, apapun keadaannya.. Ia juga sangat menyayangi adiknya itu.
"Aman, Bang. Ada saya disana. Tapi saya balik minggu depan, lumayan.. Cuti sebentar lah." Kata Bang Rakit.
Tak ada ucap apapun dari Bang Reigar. Ia malas menanggapi apapun yang saudaranya bicarakan, yang ia tau.. Ia ingin adiknya segera berpisah dengan Riegan usai melahirkan nanti.
...
Phia menghapus air matanya, ia bahkan tidak pulang ke rumah dulu untuk berpamitan pada Mbok Sum yang selama ini selalu menjaganya. Bang Reigar langsung membawa kopernya dan menyerahkan pada Bang Riegan.
"Ini pakaian Phia. Nggak banyak, sebentar lagi juga tidak akan terpakai, kan." Wajah datar Bang Reigar masih terus membayang.
Isak tangis Phia terdengar jelas. Di antara semua Abangnya, ia memang lebih dekat dengan Bang Reigar. Abang yang selalu memanjakan dirinya karena usia mereka terpaut sangat jauh.
Mengerti Abangnya sedang marah besar, Phia turun perlahan dari ranjang kemudian memeluk Bang Reigar. "Phia minta maaf ya, Bang. Phia tau, Phia salah. Tapi sekarang Phia mau pergi jauh, nggak ada Abang lagi di samping Phia. Phia pasti sendirian, rindu sama Abang."
"Kalau kau tau berpisah dan rindu itu menyakitkan, kenapa kau pilih datang ke konser itu. Sengaja atau tidak, kenyataannya kamu hamil, hamil di luar pernikahan." Bentak Bang Reigar. Ia melepas paksa pelukan adik perempuannya.
Phia panik, ia merosot bersujud di kaki Abangnya, memeluknya dengan tangis sesenggukan. "Phia tau, Phia salah."
Bang Reigar menarik kakinya. "Pergilah kesana, bukankah dia... Laki-laki itu yang lebih pantas mendapatkan semua rasa hormatmu."
"Nggak, Phia nggak mau. Phia nggak mau ikut diaa.. Phia mau ikut Abaaang." Jerit Phia sesenggukan.
Bang Reigar tidak peduli, dengan langkah tegap ia meninggalkan kamar rawat Phia, beriring derai tangis Phia. Ekor mata itu sempat melirik ke arah Bang Riegan.
Secepatnya Bang Riegan membantu Phia untuk berdiri. Tapi keadaan Phia masih begitu emosional, ia meluapkan segala amarahnya pada Bang Riegan.
"Kenapa???? Kenapa kamu buat aku hamil???? Apa tidak ada perempuan lain selain aku??????" Pekiknya.
Bang Riegan tidak melawan, ia tidak peduli apapun yang di lakukan Phia padanya hingga lama kelamaan, Phia merasa lelah dan bersandar pada dada bidangnya. "Kenapa??? Kenapa harus aku?????"
-_-_-_-_-_-
Penerbangan malam menggunakan pesawat militer memang luar biasa. Selama ini dirinya belum menyadari bagaimana rasanya ikut dalam penerbangan militer.
Phia sungguh syok, sejak tadi ia mual dan lebih banyak diam tapi tidak mau bicara dengan Bang Riegan.
"Pusing? Mau tidur??" Tanya Bang Riegan tapi Phia memiringkan badannya dan memalingkan wajahnya.
Bang Riegan hanya bisa menghela nafas tapi tidak sedikit pun berniat menjauh dari Phia.
"Sabar sebentar lagi kita transit di kota kuda." Kata Bang Riegan.
~
"Sudah saya transfer ya. Nanti kalau saya butuh susu lagi, tolong di titipkan saat anggota saya ada penerbangan lagi." Kata Bang Riegan.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak.
Bang Riegan langsung menghampiri Phia sambil membawa sebotol kecil susu kuda liar.
"Coba minum sesendok, dek. Mudah-mudahan rasa mualmu ikut berkurang." Bang Riegan menuang sedikit susu pada tutup botolnya tapi Phia menepisnya hingga tumpah dari tutup botol tersebut.
"Nggak usah pura-pura peduli. Aku menyesal tidak ikut kata Abangku. Seharusnya sejak awal anak ini ku buang." Ujar Phia di depan mata Bang Riegan.
Ekspresi wajah Bang Riegan mendadak berubah drastis. Raut wajah itu nampak tegas penuh ancaman. "Jaga bicaramu..!! Kalau tidak sedang di pesawat, saya pasti sudah menghajarmu..!!"
Daripada berdebat dengan Phia, ia memilih untuk sejenak menjauh.
Phia meliriknya dengan sinis. "Aku akan membuatmu susah." Gumamnya.
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍