"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32.Hari yang berwarna.
Upacara kelulusan akhirnya usai. Suara tepuk tangan yang bergema di lapangan sekolah perlahan mereda, digantikan oleh riuh rendah percakapan siswa yang saling berpelukan, bertukar tanda tangan di seragam, dan berfoto bersama untuk mengabadikan momen terakhir mereka di bangku sekolah.
Ivy berdiri sedikit terpisah dari kerumunan, tangannya meremas lembaran piagam kelulusan yang masih terasa halus dan baru, serta memeluk erat seikat bunga matahari segar yang baru saja diberikan kepadanya oleh wali kelasnya, Bu Ratna.
“Selamat ya, Ivy. Kamu adalah siswa yang paling tekun, paling cerdas, dan—yang paling penting—memiliki hati yang jauh lebih kuat daripada yang kamu kira,” ucap Bu Ratna tadi sambil menepuk bahunya dengan penuh kasih sayang, sebelum tersenyum dan berjalan pergi untuk menyapa siswa lain.
Ivy menatap bunga itu, senyum tipis terukir di bibirnya, namun matanya sedikit sayu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok yang paling ia harapkan hadir di hari bahagia ini. Namun, wajah ibunya tak terlihat di antara para orang tua yang sedang berkumpul dan tersenyum bangga pada anak-anak mereka.
Mama… batinnya pelan. Ia tahu persis alasannya. Dalam pesan singkat yang diterimanya pagi tadi, ibunya menulis dengan nada penuh penyesalan “Sayang, maafkan mama ya, tidak bisa menghadiri acara kelulusan mu. Mama masih sibuk dengan urusan perusahaan kakek,sebagai gantinya mama akan rayakan kelulusan mu dirumah.”
“Aku mengerti...” gumam Ivy pelan, napasnya terhela lembut. “Semua yang mama lakukan untuk memulai hidup baru tanpa bantuan ayah.”
Setelah acara kelulusan, semuanya meninggalkan aula sekolah. Termasuk Ivy, dia hanya seorang diri tidak punya seorang teman saat sma ini karena Oliv.
Ia berdiri diam di tengah halaman sekolah yang luas itu sejenak, membiarkan angin sore menerpa rambutnya yang terurai rapi. Pandangannya menerawang jauh, seolah melihat bayangan dirinya sendiri selama bertahun-tahun yang silam.
Selama ini aku seperti boneka, pikirnya getir. Diam saja saat Oliv menjelekkan namaku, diam saat ia mengambil kesempatanku, diam saat Ayah selalu membelanya dan menganggapku tidak berguna. Aku menelan semua rasa sakit itu demi sebuah kata ‘keluarga’ yang ternyata hanya kosong belaka. Kebodohanku memang tak terhitung jumlahnya. Tapi mulai hari ini, tak ada lagi yang akan menyiksaku dengan cara seperti itu.
Ivy menghela napas panjang, membuang semua rasa sesak yang tertahan di dadanya selama bertahun-tahun. Ia mengangkat kepalanya tegak, menatap langit biru yang mulai berubah warna menjadi jingga, lalu melangkah perlahan menuju tangga batu yang cukup tinggi untuk turun ke gerbang sekolah.
Langkah kakinya mantap, namun baru saja ia menapaki anak tangga yang kedua, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap melaju perlahan dan berhenti tepat di bagian bawah tangga—tepat di jalan yang menjadi satu-satunya jalan keluar yang harus dilewati Ivy.
Mobil Mercedes itu terlihat sangat istimewa, bodi mobilnya berkilau dipantulkan cahaya matahari sore, dan yang paling mencolok adalah plat nomornya yang unik dan cantik, angka dan hurufnya tersusun rapi yang hanya dimiliki oleh kalangan terpandang.
Ivy tertegun sejenak, langkah kakinya terhenti di udara. Matanya membelalak sedikit tak percaya.
Bukankah itu mobil Rama? batinnya berteriak kaget. Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah dia seharusnya sibuk bekerja setelah baru saja kembali ke kota ini?
Belum sempat Ivy melanjutkan pikirannya, pintu pengemudi terbuka, dan sosok Larry—asisten pribadi yang selalu sopan dan rapi itu—keluar dengan sigap. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia bergegas melingkar ke sisi kanan mobil, membuka lebar pintu penumpang belakang dengan sikap yang sangat hormat dan rapi.
Saat itulah, sosok Rama melangkah keluar dari dalam mobil.
Seluruh pandangan mata yang ada di halaman sekolah seketika terpusat padanya.
Rama tidak mengenakan setelan jas kaku yang biasa ia pakai untuk bekerja. Hari ini, ia mengenakan kemeja katun berwarna biru dongker yang kancing atasnya dibuka sedikit, memperlihatkan sedikit lekukan leher yang gagah, dipadukan dengan celana kain berwarna krem dan sepatu kulit yang polos namun berkelas. Penampilannya sederhana, namun setiap inci pakaian yang ia kenakan terlihat sangat mahal dan pas di badan. Rambutnya yang selalu disisir rapi kini sedikit berantakan secara sengaja, membuatnya terlihat jauh lebih muda—tepat seperti usia pria berusia dua puluh lima tahun—namun tetap memancarkan wibawa dan kemewahan yang tak bisa disembunyikan. Di tangannya, ia memegang erat sebuah buket bunga mawar merah yang sangat besar, indah, dan harum semerbak.
“Wah… siapa itu? Ganteng sekali ya!” bisik seorang gadis di samping temannya, matanya tak berkedip menatap Rama.
“Belum pernah lihat dia di sekolah kita sebelumnya. Dia tamu siapa ya?” timpal yang lain sambil membetulkan rambutnya dan tersenyum malu-malu, berharap pandangan pria tampan itu jatuh padanya.
“Lihat pakaian dan mobilnya… pasti orang yang sangat kaya! Kalau dia menoleh ke sini, aku pasti langsung sapa dia!” celetuk gadis lain sambil tertawa genit, bahkan ada yang sengaja berjalan melewati depan mobil sambil memperagakan senyum tercantik mereka.
Di antara kerumunan itu, Oliv yang sedang berdiri sendirian dan merasa kesepian, dia merasakan apa yang dirasakan Ivy selama ini dan karena perbuatannya semua temannya menjauh darinya.Matanya seketika berbinar cerah. Ia mengira pria tampan yang berdiri tegak di samping mobil mewah itu sedang menunggu seseorang, dan siapa tahu keberuntungannya sedang berpihak padanya hari ini. Dengan senyum yang dibuat-buat paling manis, ia melangkah mendekat, memutar-mutar ujung rambutnya sambil tersenyum genit.
“Hai, cowok ganteng,” sapa Oliv dengan suara yang dikeraskan agar terdengar merdu, matanya menatap genit ke arah Rama. “Lagi tunggu siapa di sini sendirian? Mungkin yang kamu tunggu itu aku?”
Rama tidak langsung menjawab. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan melepas kacamata hitam mewah yang menutupi matanya. Saat bola matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arah Oliv, senyum gadis itu perlahan kaku di bibir.
“Minggir,” ucap Rama singkat, nada bicaranya sangat datar namun sedingin es di puncak gunung. Tanpa mempedulikan ekspresi Oliv yang kaget, ia mengeluarkan ponsel canggih dari saku celananya, mencari sebuah nama dalam daftar kontak, lalu menekan tombol panggil sambil tetap berdiri tegak di hadapan Oliv.
Panggilan terhubung tak lama kemudian.
“Brian,” ucap Rama dengan suara tenang namun penuh penekanan, matanya tak berkedip menatap Oliv yang mulai merasa tidak nyaman. “Datanglah ke sini secepatnya. Tunanganmu sedang mencoba menggodaku sekarang.”
Wajah Oliv seketika berubah pucat pasi, darah seolah mengalir keluar dari seluruh wajahnya. Ia mundur selangkah, mulutnya terbuka sedikit tak percaya mendengar ucapan itu.
Rama menyodorkan layar ponselnya tepat ke depan wajah Oliv. “Dia ingin bicara denganmu.”
Dengan tangan yang gemetar hebat dan jantung yang berdegup kencang seolah mau melompat keluar, Oliv menerima ponsel itu. Ia menempelkannya ke telinganya, suaranya tercekat saat ia menyapa dengan gugup, “H… Halo?”
“DASAR CEWEK TIDAK TAHU DIRI!” suara Brian meledak dari seberang telepon, begitu keras hingga Rama yang berdiri di sampingnya pun bisa mendengarnya dengan jelas. “Beraninya kau mengoda pamanku?! Apa kau kira semua pria mau denganmu? Kalau kau tidak sadar diri, lebih baik hubungan kita akhiri saja sekarang juga!”
Klik. Sambungan telepon langsung terputus.
Ponsel itu terlepas dari genggaman tangan Oliv yang gemetar, namun Rama dengan sigap menahannya agar tidak jatuh ke tanah. Oliv berdiri terpaku, kakinya terasa lemas tak bertulang. Ia akhirnya sadar siapa pria tampan yang berdiri di hadapannya ini. Dia adalah Rama Cahya—paman Brian, pria yang jauh lebih berkuasa dan terpandang daripada tunangannya sendiri.
“Maaf… maafkan saya, Tuan Rama… saya tidak tahu… saya sungguh tidak tahu…” suara Oliv bergetar hebat, air mata mulai menggenang di matanya karena ketakutan. “Saya akan hubungi Brian sekarang juga, saya akan jelaskan semuanya…”
Tanpa menunggu jawaban Rama, Oliv berbalik badan dengan terhuyung-huyung, berlari menjauh secepat mungkin sambil sibuk menekan layar ponselnya kembali, takut sekali jika benar-benar ditinggalkan oleh Brian maka dia tidak punya sandaran kuat.
Melihat sosok Oliv yang pergi terburu-buru itu, Rama tidak lagi menoleh padanya. Ia segera mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah tangga, di mana Ivy masih berdiri mematung melihat kejadian itu. Senyum lembut yang tak pernah ditunjukkan pada orang lain perlahan terukir di bibirnya. Ia mengangkat tangannya perlahan, melambaikan tangan kecil menyapa Ivy.
Melihat itu, hati Ivy yang sempat berdebar kaget perlahan tenang. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah turun menuruni tangga dengan tenang dan mendekat ke arah pria itu.
“Rama,” panggilnya pelan namun jelas, tanpa sebutan ‘Tuan’ yang selama ini selalu ia selipkan. “Sedang apa kau ada di sini?”
Mendengar namanya dipanggil begitu langsung oleh Ivy, mata Rama bersinar hangat. Ia menyodorkan buket bunga mawar merah yang besar dan indah itu ke depan dada Ivy, senyumnya tulus dan menenangkan.
“Selamat atas kelulusanmu, Ivy,” ucapnya lembut namun tegas. “Aku datang untuk menyambutmu.”
Ivy tertegun sejenak, lalu perlahan menerima buket bunga itu. Aroma mawar yang sangat wangi dan segar langsung tercium memenuhi hidungnya, membuat hatinya terasa hangat dan nyaman—perasaan yang sudah sangat lama tak ia rasakan. Matanya menatap dalam ke mata Rama, ada rasa terima kasih yang begitu besar di sana. Terima kasih karena dia datang, terima kasih karena dia peduli, di saat orang lain yang seharusnya hadir justru tak ada di sisinya.
“Terima kasih, Rama,” ucapnya tulus, lalu ia mendekatkan wajahnya sedikit dan mencium kelopak bunga itu perlahan, seolah menyadari rasa syukurnya lewat bunga yang indah ini. “Ini bunga yang sangat cantik. Aku sangat menyukainya.”
“Bunga itu tidak seindah pemiliknya,” jawab Rama pelan, membuat pipi Ivy terasa sedikit merona merah.
Rama kemudian mundur selangkah dan membuka lebar pintu mobil Mercedes itu. Ia menatap Ivy dengan tatapan lembut dan penuh perhatian.
“Silakan masuk, Ivy. Kita pulang.”
Saat Ivy hendak menundukkan kepalanya untuk masuk ke dalam mobil, Rama dengan sigap mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas bingkai pintu mobil, melindungi kepala Ivy agar tidak terbentur pinggiran pintu yang keras. Gerakannya begitu luwes, penuh kelembutan dan kesopanan yang tulus.
“Berhati-hatilah,” bisiknya pelan.
Ivy tersenyum malu-malu, lalu duduk di bangku empuk di dalam mobil. Tak lama kemudian, Rama pun masuk dan duduk di sebelahnya. Larry yang melihat semua kejadian itu dari kursi pengemudi tersenyum kecil dalam hati, matanya sedikit terbelalak kagum. Selama bertahun-tahun aku melayani Tuan Rama, baru kali ini aku melihatnya begitu lembut, begitu perhatian, dan begitu tulus pada seorang wanita, batin Larry takjub.
Pintu mobil tertutup rapat, menyisakan keheningan yang nyaman di dalam kabin yang sejuk itu. Mobil mewah itu pun perlahan melaju meninggalkan halaman sekolah, melesat menjauh menembus kerumunan siswa yang masih terpaku memandang mereka.
“Wah… ternyata itu tunangan Ivy ya?” ucap salah satu siswi sambil menepuk tangannya kagum.
“Katanya di forum sekolah itu sudah tua dan kaku? Mana ada! Dia jauh lebih tampan dan berwibawa daripada cowok-cowok di sekolah kita!” sahut yang lain dengan nada kagum.
“Benar sekali! Ivy memang beruntung sekali. Dia cantik, pintar, dan dapat suami calon yang begitu baik, tampan, serta kaya raya. Pantas saja Oliv cemburu buta.”
Di dalam mobil, Ivy memeluk erat bunga mawar dan bunga matahari pemberian gurunya di pangkuannya. Ia menoleh ke arah Rama yang sedang duduk tenang menatap jalanan di luar jendela, lalu tersenyum bahagia. Angka yang melayang di atas kepalanya—angka yang menandakan sisa waktu hidupnya—seolah terasa lebih ringan beban nya, karena kini ia tahu, ia tidak lagi berjalan sendirian menghadapi masa depan yang tak pasti itu.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉